Kejadian beberapa menit lalu bagai mimpi buruk bagi Zea. Zea berusaha bangkit. Jantungnya masih berdegub kencang, mengingat kejadian mengerikan ini yang terjadi begitu cepat. Sebuah ledakan terdengar jelas meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat Zea berdiri. Zea rasa telinganya sudah tidak berfungsi akibat suara ledakan itu. Darah mengaliri sekujur tubuhnya, ia pun heran kenapa masih bisa hidup setelah mengalami kejadian ini.
Berita pesawat jatuh di hutan Kalimantan sudah menyebar dalam beberapa jam saja. Tim sar, pemadam kebakaran dan petugas dari rumah sakit terdekat sudah berjalan menuju tempat kejadian. Mayat berserakan bersama puing-puing pesawat dan juga kobaran api di bagian tubuh pesawat masih begitu besar.
****
Zea mendesis saat menyirami seluruh bagian tubuhnya dengan air. Darah yang tadi memenuhi tubuhnya kini sudah tersiram oleh air sungai. Kepala Zea masih pusing, rasa perih di sekujur tubuhnya begitu menyayat. Zea meminum sedikit demi sedikit air sungai untuk memulihkan energinya. Zea mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya yang begitu sepi.
"Kenapa tidak ada orang disini? dan kenapa tidak ada puing-..."
"Astaga! Bodohnya aku, aku malah mengambil arah yang salah, pasti ledakan yang sangat memekakan telinga tadi itu ledakan pesawat yang aku tumpangi"
"Aku harus kembali, aku tidak mau terjebak dihutan ini" Zea memandang sekitarnya sekali lagi, tidak ada tanda kalau hutan ini dekat dengan permukiman. Menunggu sampai tim sar menemukannya disini itu tidak mungkin, Zea takut sendirian disini.
Zea berjalan ke arah berlawanan saat ia datang ke sugai. Setidaknya energinya sudah kembali dengan meminun air sungai tadi walaupun kepala masih terasa pusing. Sudah berjalan jauh Zea tidak juga menemukan lokasi dimana pesawat itu jatuh. Apa mungkin ia tersesat?
Zea berjalan dengan selalu memasang pendengaran dan menajamkan matanya, ia tidak boleh melewatkan apapun. Ia harus keluar dari hutan ini. Harus.
"Shh! Akhhh!" Desisan kesakitan itu sempat membuat Zea terkejut. Pasti itu suara salah satu korban yang selamat. Zea mendekat ke suara itu, Zea bersembunyi dibalik pepohonan yang besar dan tinggi.
"Diamlah! aku sedang mengobati lukamu" Bukan salah satu, tetapi ada dua. Zea kembali berjalan dengan hati-hati untuk memastikannya. Ada seorang perempuan yang sedang mengobati seorang laki-laki. Zea terus mengamati mereka.
"Pelan-pelan, kau membuatnya tambah sakit" Ucap laki-laki itu menahan sakit.
"Tidak ada pengobatan yang tidak sakit" Perempuan itu membuang daun, kalau Zea tak salah lihat. Ya mungkin benar itu daun.
"Sudah ku obati, pergilah mencari pesawat itu"
"Lalu kau?" Tanyanya tanpa melihat perempuan dihadapannya. Ia fokus pada tanganya yang tadi diobati oleh perempuan itu.
"Aku ingin mencari air"
"Dengan keadaan seperti ini? Kau mau berjalan sendiri?"
"Kau meremehkanku" Perempuan itu berdiri, saat ia berjalan Zea menahan keterkejutannya. Perempuan itu menyeret kaki sebelah kanannya. Zea melangkah selangkah, namun ia teringat dengan keadaannya sekarang, bajunya sobek. Memalukan sekali jika muncul didepan laki-laki dengan keadaan kacau.
"Kakimu, mau kubantu?" Laki-laki itu beranjak.
"Tak apa, kakiku ada dua, satunya masih berfungsi, jangan mengkhawatirkanku, aku tak suka!" Perempuan itu menekankan kata 'aku tak suka', lalu ia berjalan semakin jauh. Laki-laki yang berdiri jauh didepannya masih memandang jalan yang dilewati perempuan tadi. Sementara Zea masih berdiri di tempatnya tadi dengan perasaan bingung. Laki-laki tersebut berbalik lalu berjalan ke arah persembunyian Zea sambil terus memegangi tangan kanan.
Zea mundur dan bersandar di pohon yang kokoh itu. Ia bimbang, haruskah ia menemui laki-laki itu dan berjalan bersamanya untuk menemukan dimana tepatnya pesawat itu jatuh. Atau ia harus mencari sendiri.
"Ah ya!" Gumam Zea ketika ia teringat sesuatu. Laki-laki tadi semakin dekat.
"Maafkan aku!"
"Apa Itu!?"
Zea dan laki-laki tadi berteriak secara bersamaan. Laki-laki itu terkejut saat seseorang menarik jaket dipundaknya, dan ia lebih kaget lagi saat mendengar suara perempuan. Zea menemui laki-laki itu dengan pandangan tertuju pada dedaunan yang dipijaknya.
"Maafkan aku, aku mengambil jaketmu tanpa izin dan sekarang izinkan aku meminjam jaketmu" Hening. Zea melirik takut pada lelaki dihadapannya. Zea menunduk lagi ketika lelaki itu bicara.
"Siapa kau?"
"A-aku...Aku..."
"Ya, pakailah" Setelah mengucapkan dua kata itu, lelaki tadi berjalan meninggalkan Zea. Zea mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Ia melangkah mengikuti laki-laki tadi.
"Hei, boleh aku ikut bersamamu? Aku korban pesawat dari Sumatera menuju Kalimantan, Kurasa ini sudah di Kalimantan?" Zea setia menunduk mengikuti laki-laki yang baru dijumpainya.
"Aku Mark, aku juga korban dari pesawat itu"
"Aku pinjam jaketmu untuk menutupi tubuhku, aku malu mengatakan alasannya padamu" Mark tidak membalas ucapan Zea. Ada beberapa pertanyaan yang berterbangan dikepala Zea.
"Kau mau kemana?" Mark tiba-tiba berbalik, Zea yang terus menunduk tidak sadar sehingga ia menabrak Mark. Zea segera mundur.
"Ah maaf. Aku ingin kembali ketempat saat aku jatuh, aku dengar suara ledakan meskipun cukup jauh dari sana" Zea memperhatikan Mark.
"Boleh aku bertanya?" Mendapatkan persetujuan Zea menarik nafas dalam.
"Siapa perempuan tadi? Dia kelihatan tidak baik-baik saja" Zea meringis mengingat bagaimana perempuan tadi berjalan.
"Angel, dia menemukanku di tempat tadi, saat aku sadar, tanganku sedang diobati olehnya. Dia sama seperti kita, mungkin?" Zea kebingungan dengan kata mungkin yang diucapkan oleh Mark.
"Ahhh!" Zea meringis kesakitan, ia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Mark merasa sungkan menyentuh Zea. Namun melihat Zea begitu kesakitan, Mark membawanya duduk.
"Telingaku sakit sekali" Zea memejamkan matanya rapat-rapat. Mark yang tidak tau apa-apa kebingungan.
Sakit sekali, dengungan itu sangat memekakkan telingaku.
"Apa yang harus kulakukan?" Mark merasa bersalah karena sedari tadi ia hanya diam.
"Tak perlu. Aku rasa ini efek dari ledakan yang kudengar tadi, suaranya begitu keras" Zea menghirup udara sebanyaknya. Sakit itu mulai menghilang. Ada suara 'nging' yang sangat panjang sebelum semuanya hilang. Mark bernafas lega saat melihat senyum dari Zea yang menandakan dia baik-baik saja.
"Kita disini saja untuk beberapa saat" Zea malu mengatakan dia ingin beristirahat sebentar, mengetahui mereka baru berjalan beberapa meter saja. Mark duduk disamping Zea, punggung tangan kanan Mark berwarna merah, mungkin itu karena dedaunan yang dipakai perempuan tadi untuk mengobatinya.
"...Mark, aku ingin menemukan puing pesawat itu, tapi aku bingung menunggu sampai kita ditemukan atau aku akan berjalan sendiri mencarinya" Zea teringat sesuatu. Ia tidak akan melupakan apa tujuannya yang mengharuskan ia menaiki pesawat itu. Zea tidak bisa menyalahkan siapapun untuk saat ini.
"Aku akan menemanimu" Zea menatap Mark. Cukup lama sampai Mark melirik, Zea mengalihkan pandangannya.
"Apa kau bisa dipercaya?" Tidak ada jawaban. Zea dengan cepat meluruskan ucapannya. "Maksudku, aku bertemu lelaki yang tidak kukenali sebelumnya dan dengan tiba-tiba ia akan ikut bersamaku untuk menemukan pesawat itu...apakah pantas?"
Ah salah lagi. "Mark maksudku..."
"Kau bisa mempercayaiku. Aku seorang lelaki tidak mungkin membiarkan seorang perempuan berkeliaran sendiri di hutan ini" Senyum mengembang dibibir Zea.
"Sudah cukup istirahatnya?" Zea memalingkan muka, ia malu Mark mengetahui niatnya.
"Hari semakin sore, kita mencari tempat yang cocok untuk bermalam" Zea mengangguk mengerti maksud Mark. Tidak mungkin mereka berjalan mencari puing-puing pesawat itu dikegelapan tanpa berbekal penerang.
****
Mark berusaha menghidupkan api dari dua buah batu berukuran sedang. Tumpukan kayu tersusun rapi diatas tanah lembab. Aku meringkuk bersandar di pohon besar. Jika kudongakkan kepala keatas, aku tidak dapat melihat apa-apa kecuali ranting yang diselimuti dedaunan. Angin berhembus tanpa henti, nyanyian hewan bersahutan disekeliling kami. Entah kulitku yang sensitif dengan dingin atau memang udara disekitarku yang dingin. Yang jelas aku kedinginan.
"Mark, tak apa kalau aku memakai jaketmu? kaos yang kau pakai sangat tipis, kau pasti kedinginan?" Tanyaku saat api berhasil dinyalakan Mark.
"Pakai saja, kau bilang bajumu robek" Aku salah tingkah. Tadi saat kami mencari kayu dan ranting, aku memberitahu kenapa aku harus meminjam jaket Mark.
"Apa kita akan aman disini?"
"Kurasa begitu, aku akan berjaga malam ini" Laki-laki sejati, dia rela akan berjaga malam ini. Tapi tentu saja tidak kuizinkan.
"Tidak Mark, besok kita akan mencari pesawat itu, kau juga harus istirahat" Mark terkekeh pelan. Menyebalkan. Kenapa dia tertawa?.
"Istirahatlah, hari mulai gelap" Aku merubah posisiku. Kakiku terjulur kedepan agar aku tidak kesemutan saat bangun karena kakiku yang terlipat sepanjang malam. Dingin menusuk sampai tulangku. Kulirik lelaki disebelahku, 3 meter disebelahku tepatnya.
"Mark bisa kau bergeser kesini lagi? Kau terlalu jauh dari api, kau pasti kedinginan"
Mark mengikuti ucapanku. Setelah memastikan Mark mendapat hangat api, aku memejamkan mata. Mencoba memasuki alam mimpi yang mampu melupakanku sejenak saja tentang ketakutanku saat ini. Ya, aku sebenarnya takut. Meski Mark sudah bilang kalau dia dapat dipercaya aku tetap saja takut. Wanita normal tentu saja takut jika bersama lelaki yang tidak dikenalnya sedang berada di hutan. Berdua. Aku terlelap karena lelah memikirkan hal aneh yang malah menjadi penghantar tidurku.
****
Aku terbangun dengan nafas tak beraturan. Mimpi yang menemaniku malah membuatku semakin ketakutan. Aku menangis mengingat mimpi tadi.
"Kenapa?" Aku terperanjat kaget, Mark mengagetkanku dengan pertanyaan tiba-tibanya. Cepat-cepat kuhapus air mata dan sisanya yang tadi mengalir dipipiku.
"Kau sudah bangun?" Oh tidak, suaraku sangat kacau.
"Ini hampir jam 5 pagi, sejam yang lalu aku terbangun karena kau berteriak lalu tiba-tiba menangis, tetapi matamu masih tertutup. Kau bermimpi apa?"
Mark! Bisakah kau tidak membuatku malu sekali saja? Apa tadi? Aku berteriak lalu menangis tiba-tiba? Zea kau sangat memalukan.
"Aku kepirikan sesuatu sebelum tidur, mungkin karena terlalu memikirkannya jadi terbawa mimpi" Dan ini satu. Suaraku parau, tenggorokanku kering. 12 jam lebih tidak menyentuh air, terakhir aku minum disungai tidak banyak pula.
"Aku ingin mencari sungai, setidaknya kita mendapatkan dua ekor ikan untuk bekal" Bagus sekali, aku sangat haus, dan lapar tentunya.
"Mark boleh aku bertanya?"
"Apakah harus bagimu untuk meminta izin dulu sebelum bertanya?" Aku terdiam menerima tatapan malas darinya.
"Maafkan aku. Kemarin aku ke sungai, aku ingin bertanya kita ada dimana sekarang, tunjukkan saja arah mata anginnya agar aku bisa menuntunmu menuju sungai"
"Kurasa kita berada dibarat" Aku berfikir sejenak mengingat lagi letak sungai.
"Oke sudah, aku tau dimana, kita pergi sekarang?" Mark beranjak. Aku ikut beranjak dan meregangkan otot-otot tubuhku sejenak. Setelah itu aku dan Mark berjalan menuju sungai. Aku sendiri masih ragu apakah benar atau tidak, dan semoga saja benar.
****
Sesuai petunjuk Zea, mereka akhirnya sampai di sungai. Zea membasuh muka dan membersihkan tangan dan kakinya. Sementara Mark, ia berusaha mencari ikan. Selesainya, Zea meminum banyak-banyak air sungai yang mengalir itu.
Samar-samar Zea mendengar suara tawa. Zea melirik Mark. "Bukan, dia terlihat serius mencari ikan."
Zea beranjak mendekati suara itu. Zea mendengar lagi seperti ada orang yang mengobrol. Zea berjinjit, ia melihat dua orang sedang mengobrol santai.
"Perempuan itu, dengan siapa lagi dia?" Zea berusaha berjalan di atas tanah yang tidak rata, tadi saja saat ia turun dibantu oleh Mark. Zea memberanikan diri bertemu mereka.
"Hei, Angel?" Sapa Zea. Angel yang dipanggil kebingungan.
"Aku Zea, kau yang kemarin bersama Mark bukan?" Angel mengangguk pelan sambil menyambut tangan Zea yang terulur. Laki-laki disebelah Angel merampas tangan Zea.
"Argo, aku Argo" Zea tersenyum kaku. Lelaki itu melepaskan tangan Zea. Bersemangat sekali dia, ucap Zea dalam hati.
"Aku korban pesawat dari Sumatera menuju Kalimantan, kurasa kau juga?"
"Ya, itu benar, kalian mau kemana?" Tanya Zea sesekali memperhatian Angel yang hanya terdiam menatap kosong kebawah.
"Aku ingin mencari puing-puing pesawat itu, ada sesuatu yang harus kutemukan" Zea bergeming mendengar penjelasan Argo. Hal yang sama terjadi oleh Zea.
Bagaimana kabarmu? Sesuatu yang kau minta sudah kubawa, tetapi maaf, barang itu tidak tahu ada dimana. Maafkan aku.
Zea teringat kembali, ia berada di pesawat itu untuk berjumpa dengan seseorang. Sesuatu yang dipinta olehnya sudah Zea bawa. Tetapi barang itu hilang, bukan hanya itu saja, semua barang yang dibawa Zea tidak tahu apakah masih utuh atau hancur, atau mungkin sudah tidak ada.
"Hei!?" Zea tersadar karena Argo menepuk pelan pundaknya. Zea tersenyum. "Ya?".
"Apa ada masalah?" Zea melirik Angel dan Argo bergantian. Mereka berdua menatapnya menunggu jawaban.
"Aku teringat adikku. Dia minta sesuatu padaku. Sudah 5 tahun tak bertemu dengannya, terakhir aku dikabari oleh pamanku kalau ia berada dirumah sakit dalam keadaan kritis, ia mengalami kecelakaan. Aku tak mau sampai barang itu hilang dan akan mengecewakannya" Zea mengusap matanya yang hampir mengeluarkan air mata.
"Tenanglah, kita akan keluar dari sini" Zea tak membalas ucapan Angel.
"Kau dimana!" Teriakan itu membuat Zea tersadar. Zea menepuk dahinya. "Mark, aku melupakannya"
"Kalian ikut saja bersamaku, Mark berada disungai mencari ikan, kalian belum makan kan?"
Angel ragu-ragu mengikuti Zea. Tetapi karena Argo merangkulnya dan memaksa untuk ikut, Angel pasrah saja. "Bisa hati-hati? Kakiku terombang ambing" Kesal Angel karena Argo terlalu bersemangat. Argo tertawa mengejek Angel, tetapi dalam hatinya berkata Angel wanita kuat, dengan kondisinya sekarang ia masih bertahan.
Keempat remaja tersebut makan hasil tangkapan Mark. Awalnya Mark tidak setuju mereka akan memakan ikan yang Mark temukan. Tetapi karena bujukan Zea, Mark terserah saja. Mereka makan tanpa bicara hanya ditemani suara hewan dan gemercik suara air yang mengalir mengikuti arus. Sinar matahari mulai menerangi, hangat yang diberikannya membuat Zea merasa tenang. Semalaman ia begitu kedinginan walau sudah ada hangat api yang menemani.
****
Di sela istirahat aku menilai tiga orang yang dijumpainya. Argo seorang yang ceria, dia juga sangat bersemangat dalam segala sesuatu, dan tentu saja Argo lah yang paling banyak bicara, Argo bilang ia merupakan ahli dibidang komunikasi, aku pun bingung harus percaya atau tidak. Tetapi melihat ia sangat aktif bicara dan sangat cepat berinteraksi mau tidak mau aku percaya.
Mark, bukan seperti Argo yang baru saja kujumpai tetapi aku sudah mengetahui bagaimana sifatnya. Mark cukup sulit untuk dinilai, sejauh ini Mark selalu menampilkan ketenangan. Satu kali aku melihatnya kesakitan hanya itu ekspresi yang kulihat selain ketenangan yang selalu menyelimuti dirinya.
Angel, perempuan itu sangat misterius. Aku saja sebagai perempuan tidak begitu mengerti dengan sifatnya. Dia pendiam tetapi dari sorot matanya seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dia perempuan yang kuat, buktinya saja ia mampu bertahan dengan keadaan seperti ini. Dan satu lagi, dia terlihat aneh.
"Sampai kapan kita berjalan? Kakiku rasanya ingin lepas" Huh! Laki-laki ini, dia tidak melihat perempuan yang berjalan disampingnya? Ia hanya menggunakan satu kaki untuk berjalan, dan satunya lagi berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tidak bersyukur sekali.
"Aku tidak tahu lagi, aku buta arah, tadinya aku mengetahui dimana suara itu tetapi karena sudah berkeliaran terlalu jauh aku melupakannya" Aku berjongkok lemah, apakah masih ada harapan aku menemukan barang untuk adikku? Aku ingin kembali.
"Bukan salahmu, kita tehempas ke hutan ini tanpa kita minta, jadi mulai sekarang kita akan mencarinya bersama-sama, katamu kau harus menemui adikmu jadi bertahanlah" Mark menuntunku beranjak.
"Kau bilang kau juga ingin menemukan sesuatu apa itu?" Argo tidak bisa tenang saat kutanya tentang itu. Ia melirik kesana sini dan sesekali cengengesan. Angel dan Mark hanya memperhatikan kami berdua.
"Itu...Emm itu bukan hal yang penting" Aneh. "Baiklah kalau kau belum ingin mengatakannya"
Kami melanjutkan perjalan sangat berharap akan menemukan puing-puing itu. Atau, apa aku salah mengambil keputusan?. Apa seharusnya aku menunggu saja disana sampai aku ditemukan oleh tim sar?.
"Jangan dipikirkan, kau mengambil keputusan yang tepat. Tidak mungkin kau akan bertahan disana cukup lama. Urusan kau lupa arah dari suara itu, lupakan saja kita akan cari sama-sama" Seperti yang kubilang. Pembawaan Mark begitu tenang sehingga mampu menyalurkan aura positif padaku. Aku akan berusaha menghapus fikiran-fikiran negatif itu.
****
"Argo!" Suaraku tercekat. Mataku membulat. Jantung rasanya ingin keluar dari tempatnya. Kakiku lemas. Tanganku gemetar. Kulihat Mark berhati-hati menuruni jurang. Angel terduduk meratapi jurang. Aku tidak tau apa yang terjadi, semuanya berlalu begitu cepat.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku gemetar pada Angel. Angel menggeleng lemah. "Tiba-tiba saja dia jatuh".
"Akh!" Aku mendekat dan berhati-hati melihat kebawah. Tidak ada apa-apa.
"Mark, jawab aku jika kau baik-baik saja" Teriakku dari atas. Aku lega mendengar sahutan dari Mark. Aku duduk kembali disebelah Angel.
"Kita harus melakukan sesuatu, kau turun saja kebawah, aku akan mencari bantuan"
"Ya... Apa?" Aku menatap bingung setelah sadar kalau kami sedang berada dihutan. "Maksudku, aku akan mencari daun-daun obat siapa tau Argo membutuhkannya" Jawab Angel cepat. Aku membantunya beranjak.
"Segera kembali" Ucapku sebelum meninggalkannya menuruni jurang. Tidak terlalu buruk, jurang ini tidak terlalu tinggi. Tapi mengapa aku tidak melihat Mark dan Argo saat diatas?.
"Mark!" Aku bergegas saat menemukan Mark yang sedang memapah Argo. Aku menyuruh mereka duduk.
"Apa yang terjadi? Ada yang luka?" Argo terus meringis kesakitan membuatku semakin khawatir. "Dimana yang sakit?".
"Aku tak mengerti apa yang terjadi. Padahal aku tidak berjalan didekat jurang tetapi mengapa aku jatuh, semua terjadi begitu saja" Apa? Dia pun tidak tau apa yang terjadi padanya.
"Tapi kau baik-baik saja kan?" Mendapat anggukan aku bernafas lega. Kata Argo ia merasakan nyeri di bagian pinggang dan kepala. Tidak ada luka lain, hanya lecet sedikit di kulit tangan dan wajahnya.
"Mana perempuan itu?" Aku sempat melupakan Angel. Saat Mark bertanya kujawab seadanya saja.
"Apa yang harus diobati? Aku baik-baik saja" Sahut Argo. "Berjaga saja, siapa tau kau membutuhkan obat sebab itu ia mencarinya"
"Sekarang kita bagaimana?" Aku menatap langit, matahari bersembunyi dibalik awan. Berada tepat di atas kepalaku. "Hari cepat sekali berlalu, aku tidak ingin menambah waktu berada disini, tetapi mengetahui kecil kemungkinan keluar dari sini, aku ikut saja dengan kalian" Aku dapat mendengar Mark menghembus nafas kasar. Sedangkan Argo mendesis pelan menahan nyeri kepalanya.
"Begini saja, tunggu sampai Angel kembali" Aku mengambil posisi tiduran di atas tanah memandangi awan yang semakin menjauh dari matahari. Aku menyipitkan mata menahan silau kemudian melirik Argo. "Argo istirahatlah sebentar, apa perlu aku pijat kepalamu?" Tanyaku tanpa terusik dengan sinar matahari yang menyorot tepat ke arahku.
"Tidak perlu. Zea kemari, jangan panas-panasan" Aku tersenyum sebelum beranjak.
Aku masih membuka mata setelah beberapa lama menutupnya menghindari silau cahaya matahari. Disebelahku Argo tertidur lelap. Di sebelah Argo, Mark duduk memainkan bekas daun obat di punggung tangannya. Aku beranjak duduk.
"Belum pulang juga Mark?" Tanpa menoleh Mark menggeleng kepala. Aku menghela nafas kasar. Kemana anak itu? Sudah lebih setengah jam tidak juga kembali. Apa terjadi sesuatu dengannya?.
"Apa sebaiknya kita mencarinya?" Mark langsung berhenti memainkan punggung tangannya dan menatapku sekilas.
"Lebih baik kita lanjutkan perjalanan" Tidak. Bagaimana dengan Angel, ia seorang perempuan kondisinya tidak baik. Tidak mungkin jika meninggalkannya sendiri disini.
"Benar, anak itu memang aneh, biar saja dia" Tidak!.
"Tidak!" Ugh! Kesal sekali aku dengan mereka. Aku sebagai perempuan bisa merasakan bagaimana Angel sendirian di hutan ini. Tidak ada apa-apa dan siapa-siapa. "Kalian tega membiarkan dia sendirian?" Tanyaku kesal.
"Terserah kau saja" Argo beranjak meninggalkan kami. "Ayo" Aku melirik Mark sekilas lalu menyambut uluran tangannya.
"Tidak punya perasaan" Aku berjalan malas saat melewati Argo.
****
Sudah jauh berjalan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Jalan untuk kembali dan juga puing-puing pesawat tidak mereka jumpai. Zea sudah hilang harapan, ia berdoa semoga ia dan adiknya selamat. Ya, adiknya yang berada dirumah sakit sedang berjuang juga tentunya.
"Apa kalian mendengar sesuatu?" Tanya Mark. Zea dan Argo menajamkan pendengaran mereka. Zea berteriak senang setelah mengetahui suara apa itu.
"Dimana? Diamana? Kita harus menghentikan helikopter itu, cari tempat terbuka agar mereka menemukan kita" Zea memandang sekelilingnya, karena pepohonan yang tinggi dan dedaunan yang lebat menutupi pandangan mereka ke langit luas sana. Mereka berpencar mencari tempat yang sedikit terbuka agar orang yang berada di helikopter itu melihat mereka.
"Kemari!" Teriak Argo. Mark dan Zea berlari menghampiri Argo namun sesuatu menghentikan langkah Zea. Zea menarik tangan Mark.
"Hei! Kemarilah!" Teriak Argo lagi. Mark menatap Zea bingung. "Ada apa?" Tanya Mark. Zea meletakkan jari telunjuknya dibibir mengisyaratkan untuk diam.
"Apa aku salah dengar?" Zea menyuruh Mark diam lagi saat ia akan bicara. Argo menghampiri mereka karena lama menunggu tetapi tidak juga ada pergerakan dari mereka.
"Ada ap-"
"To-long!"
"Benarkan! Itu Angel, kita harus temui dia" Zea menarik kedua tangan lelaki tersebut. Dengan keras Argo menghempaskan tangan Zea.
"Helikopter tadi sudah lewat, harusnya kita menghentikan mereka. Biarlah saja perempuan itu!" Perasaan Zea bercampur.
"Zea, Argo benar. Kita pergi saja ketempat tadi siapa tau helikopter itu akan kembali lagi, ada kesempatan untukmu kembali" Zea menatap sayu pada Mark. Selalu saja lelaki ini bisa menenangkan. Dari nada bicaranya dan pergerakannya sangat tenang.
"Mark, aku ingin kembali. Aku ingin. Tetapi ada perempuan lain yang juga sama seperti kita, berjuang untuk pulang, apa tega membiarkan dia sendirian? Kalian dengar bukan kalau dia minta tolong?" Ucap Zea lemah. Mark menatap Zea lembut.
"Kita bisa meminta petugas untuk menemuinya disekitar sini, tapi kita harus bertemu dulu dengan mereka" Zea menghembus nafas panjang. Argo menarik Zea agar kembali ketempat Argo saat memanggil mereka tadi.
"Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri" Pinta Zea lemah.
"Tolong!" Zea berhenti dan menoleh ke arah suara, meski ia tidak tau tepatnya dimana tetapi arah suara itu menunjukkan ke jurang yang 2 jam lalu mereka masuki.
"Ayo" Zea ditarik paksa oleh Argo. Mereka mendongak saat sampai di tempat yang dimaksud Argo.
"Tunggu saja, aku yakin helikopter itu akan kembali" Suara teriakan minta tolong terus terdengar. Mereka sudah lama disini tetapi tidak ada juga helikopter itu. Zea yang kesal beranjak.
"Bisakah kita membantu Angel dulu? Helikopter itu tidak akan ada, apa kalian tidak mendengar teriakan darinya? Tidak ada niatan untuk membantu?" Argo beranjak juga. Zea dan Argo berhadapan saling melemparkan tatapan tajam.
"Susah sekali bicara denganmu! Aku kira kau akan menurut dengan Mark ternyata sama saja, keras kepala!"
"Kau yang tidak pu-" Suara helikopter kembali terdengar, Argo dengan cepat melambaikan tangannya. Mark yang sedari tadi duduk menonton pertengkaran Argo dan Zea kini berdiri ikut melambaikan tangan.
"Mereka belum lewat" Ucap Zea karena kedua orang di hadapannya ini terlalu bersemangat, padahal helikopter itu belum terlihat dan tidak tau juga mereka dari arah mana. "Ayo lambaikan tanganmu" Argo menarik tangan Zea keatas.
"Ayo lambaikan tanganmu" Zea mengulang ucapan Argo pelan. Argo yang diejek menatap tajam Zea. Zea melambaikan tangannya malas. Ia membalikkan tubuh saat mendengar suara yang begitu keras menghatam air.
"ANGEL!" Zea dengan cepat berlari menuju jurang dimana tidak jauh dari sana terdapat sungai yang mengalir panjang. Fikiran negatif mulai bermunculan.
"Zea!" Teriak Argo. Argo menahan Mark yang akan menyusul Zea.
"Kau tak akan menyusulnya kan?" Mark menoleh sebentar lalu melanjutkan mengejar Zea.
"Argh!" Argo mau tak mau menyusul mereka. "Hilang harapan!" Teriak Argo kesal.
Zea menuruni jurang dengan hati-hati, jalan ini yang mereka lalui saat naik tadi, karena jalan ini tidak terlalu curam. Zea mencari-cari saat sampai di tepi sungai. Air mengalir begitu deras. Zea terduduk air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Andai aku tidak terlambat" Lirih Zea bersamaan dengan air matanya yang jatuh. Mark mendekati Zea, berjongkok di sampingnya. Argo diam saja di kejauhan, ia masih kesal dengan Zea.
"Apa hewan itu sudah pergi?" Zea menghapus air matanya mendengar suara itu.
"Angel kau dimana?" Zea menemukan Angel bersembunyi di balik gundukan tanah tinggi. Angel membersihkan pakaiannya karena tadi ia hampir tiduran di balik tanah itu. Zea menghampiri Angel diikuti oleh Mark, sementara Argo memilih berteduh di tempat yang cukup jauh dari mereka. Ia lebih memilih mendengarkan gemercik air daripada mendengarkan obrolan ketiga manusia itu.
"Kau tidak apa-apa? Tadi ada suara keras yang menghantam air apa itu?"
"Ada ular besar yang melilit kakiku saat aku berjalan mencari kalian. Sudah kucoba berkali-kali melepaskannya tapi susah sekali, aku terduduk di balik tanah tadi. Saat lilitan ular itu mengendur aku buang saja kesungai aku kesal ia hampir melilit seluruh tubuhku" Zea mengangguk paham. Syukurlah kalau ia tak apa-apa.
"Maafkan aku daun yang aku bawa berserakan entah kemana karena ular tadi"
"Tidak apa, asalkan kau selamat, lagian Argo tidak apa-apa" Mark mendongakkan kepalanya, lalu melihat jam tangan yang sudah pecah kacanya. Jam itu sedari kemarin menempel ditangan Mark.
"Sudah sore, sebaiknya cari tempat aman untuk bermalam" Mereka bertiga menghampiri Argo. Saat Zea dan Angel berbicara Argo tidak pernah menjawab.Ia hanya mau bicara dengan Mark. Zea sudah malas menghadapi sikap Argo yang seperti anak kecil.
****
Tidur Zea terusik. Suara rintihan memaksa membuka matanya. Untuk kedua kalinya Zea melihat Mark kesakitan. Mark memegang lehernya. Zea langsung beranjak saat melihat ada darah disana.
"Mark, Mark apa yang terjadi?" Tanya Zea gemetar. Zea menjauhkan tangan Mark dari lehernya perlahan. Zea menganga terkejut.
"Mark, bagaimana bisa?" Mark mendesis kesakitan.
"Aku terbangun saat ular itu menggigit leherku, aku tidak tau apa yang terjadi" Zea memunggungi Mark, ia membuka resleting jaket Mark yang hampir tiga hari ini membalut tubuhnya.
"Zea jangan, bukannya bajumu-"
"Tidak Mark, tunggu" Mark melihat Zea sedang berusaha untuk sesuatu. Beberapa menit menunggu, Zea menarik kembali resleting jaket itu. Zea berbalik, ia memperlihatkan sobekan bajunya lalu membersihkan darah-darah di leher Mark.
"Kau tidak perlu melakukannya Zea"
"Tidak apa Mark" Zea membalas sambil tersenyum.
"Terimakasih" Zea mengangguk. "Simpan saja kain itu, aku tidak bisa membalutnya ke lehermu, bisa-bisa kau tercekik nanti" Zea terkekeh pelan.
"Besok pagi aku akan meminta Angel mengobatimu, tidak enak jika membangunkannya sekarang" Zea kembali ketempatnya, memejamkan mata dan tertidur oleh nyanyian hewan-hewan di hutan.
Zea terbangun, mengedarkan pandangannya tetapi tidak ada siapa-siapa. Zea duduk memeluk kakinya yang menekuk. Apakah tiga orang yang bersamanya beberapa hari ini meninggalkannya sendirian? Tega sekali mereka. Zea ketakutan. Langit masih gelap, dingin menyentuh kulitnya menerobos masuk sampai ketulang. Tangannya gemeraran, air matanya sudah tumpah. Zea semakin ketakutan ketika mendengar suara langkah yang mendekat, suara langkah yang bercampur dengan suara dedaunan kering yang diinjaknya.
Zea bingung harus pergi atau diam saja. Tetapi jika memilih diam ia pasti tidak akan selamat. Zea memberanikan diri berbalik. Zea terkejut sangat terkejut ketika melihat siapa yang ada dihadapannya. Seorang perempuan berkuncir kuda yang berjalan pincang dimana di tangannya terdapat sebuah pisau lipat yang mengarah tepat pada Zea. Seluruh tubuh Zea gemetaran hebat. Untuk berdiri saja ia tidak sanggup. Zea mundur saat Angel semakin dekat dengannya.
"Munafik. Sial sekali bertemu denganmu, kau kira aku wanita lemah?" Angel tersenyum miring. Kejadian beberapa tahun lalu muncul lagi dikepalanya.
"Aku tidak pernah melupakan siapa yang membuat hidupku begini" Nama Zea berterbangan difikirannya. Angel kembali mendekat dengan menahan sakit dikaki kanannya yang ia paska berjalanz tangannya semakin kuat menggenggam pisau. Zea mundur perlahan.
"An..Angel...apa...apa itu kau?" Tanya Zea gemetar. Angel tertawa terbahak-bahak. Dengan cepat Angel mencengkam kedua pipi Zea. Angel berjongkok di hadapan Zea. Jantung Zea berdegub kencang, nafasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Kita bertemu lagi, aku tidak menyangka kau sudah lupa denganku, akan kuberi waktu untukmu mengingat siapa aku" Zea menggeleng, fikiran Zea terpecah kemana-mana, untuk mengingat saja ia tidak bisa.
"Masih tidak ingat?" Angel melepaskan cengkamannya dengan kasar. Ia kembali memperlihatkan pisau lipat dihadapan Zea.
"Baiklah, aku akan membuatmu mengingatnya" Angel beranjak, ia mengelilingi Zea sambil menjelaskan semuanya sambil memainkan pisau ditangannya.
"Jika kau lupa siapa namaku, aku Angel. Wanita 19 tahun yang kehidupannya berubah saat seorang pengusaha bernama Indra datang dan menggusur rumahku" Zea membulatkan matanya. Indra, papa Zea. Angel? Ingatan itu tiba-tiba saja muncul dikepala Zea. Zea menatap tajam Angel. Zea berdiri berhadapan dengan Angel.
"Kau pembunuh!" Angel tersenyum. "Ya memang aku pembunuh" Angel dengan bangga menyebutnya pembunuh.
"Kau tidak seharusnya berkeliaran disini, Pembunuh!" Zea mendorong Angel membuat Angel kehilangan keseimbangan. Ia berusaha menahan tubuhnya dengan kaki kanannya, terasa sakit lebih sakit daripada ia memaksa berjalan.
"Apa kau lupa? Ayahmu juga pembunuh. Ia membunuh kami secara perlahan. Kami tidak ada rumah, tidak ada tempat tinggal, kami hanya kaum miskin yang hidup paspasan. Yang paling menyakitkan, keluargaku memilih mati daripada hidup dengan cara seperti itu" Zea terdiam matanya terus menatap tajam Angel. Angel berkeliling lagi memutari Zea.
"Aku melarikan diri dari penjara. Saat dipesawat identitasku terbongkar oleh pramugari sialan itu. Tapi aku tidak bodoh, aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku meletakkan bom yang kubawa di toilet pesawat..." Zea dibuat terkejut untuk kesekian kalinya.
"Kau sudah gila!" Angel tak menghiraukan Zea. Ia terus bercerita dengan bangganya.
"Saat bom itu mulai meledak, dan peswat terbelah menjadi beberapa bagian, kakiku malah terjepit, dan lagi seseorang malah mendorongku sehingga kepalaku terbentur keras, dan orang itu adalah kau!" Apa? Orang itu adalah Zea? Tidak mungkin, Zea saja tidak ingat dengan itu. Angel mendekat kearah Zea.
"Beberapa kali aku mencoba untuk kabur dari kalian, tetapi kau selalu menggalkannya. Jadi, aku bisa menyebutmu munafik? di depan lain dan dibelakang lain" Angel mendorong Zea dengan kasar. Zea merintih kesakitan. Angel berjongkok, mengambil tangan Zea lalu menyingkirkan lengan jaket yang sudah tidak utuh karena terbakar, kemudin mengoreskan pisau yang sedari tadi ia pegang ke lengan mulus Zea. Zea berteriak kesakitan. Darah segar mengalir.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi, izinkan aku mengukir karyaku dilenganmu sebelum kau lenyap dari dunia ini" Semakin Zea berontak pisau tajam itu malah membelah lengannya semakin dalam.
"Angel, kau wanita gila! Pembunuh! Namamu tak sebaik sifatmu!" Teriak Zea disela rintihan sakitnya. Sakit sekali, perih. Angel berhenti melukai lengan Zea. Zea menahan perih yang semakin menjadi di lengannya. Air mata tak berhenti keluar dari matanya.
"Darahmu sepertinya enak" Zea membulatkan matanya, lagi. Angel benar-benar gila. Zea mundur perlahan saat Angel dengan santainya menjilati darah Zea yang tersisa di pisau.
"Hei, mau kemana?" Angel mendekat lagi pada Zea.
"Apa pesan terakhirmu Zea? Akan kusampaikan pada adikmu. Ups, tidak. Simpan saja pesan itu, kau bisa bicara sendiri dengan adikmu nanti saat kau sudah. Mati" Angel menekankan kata mati diakhir kalimatnya. Perasaan Zea semakin tak karuan. Ia melupakan adiknya yang kritis dirumah sakit, ia tidak tahu keadaannya sekarang.
Angel menahan kaki Zea dengan kaki kirinya. Angel geram sedari tadi Zea terus menghindar. Zea berusaha menarik kakinya tetapi susah sekali, karena takut tenaganya terkuras. Angel mengarahkan pisau tersebut tepat kearah dada Zea.
"Selamat tinggal Zea" Nafas Zea tak beraturan melihat pisau itu dihadapannya. Zea berusaha melepaskan kakinya tapi kenapa rasanya susah sekali.
"Aku cukup senang bermain denganmu" Angel tersenyum, kemudian dengan cepat senyum itu berganti dengan senyuman yang menakutkan. Angel menarik pisau tadi kebelakangnya kemudian dengan cepat ia mengarahkan pisau itu kepada Zea.
"AAAAAGHH!" Pisau tadi terjatuh tepat disebelah Zea. Mata Zea membuka lebar. Ia tak lagi bernafas.
"Kepalaku! Arghh!" Angel berteriak histeris, bagian kepala kanannya mengeluarkan darah. Kepala itu kembali terluka akibat lemparan batu yang cukup keras mengenainya.
"Zea!" Zea tersadar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia masih syok saat pisau itu sedikit lagi menyentuh dadanya. Mark menarik tubuh Zea menjauh. Argo memegangi tangan Angel.
"Sudah kuduga kau tidak waras" Argo memukul bagian belakang leher Angel membuat Angel hilang kesadaran didepakan Argo. "Jangan bangun, kau berisik"
Mark membersihkan darah disekitaran lengan Zea. Kemudian ia membalut lengan Zea menggunakan potongan baju yang semalam Zea berikan padanya. Walau tidak tertutup sempurna karena luka itu memanjang di lengan Zea, tetapi setidaknya bisa menghentikan pendarahannya.
"Hari mulai terang, kita cari bantuan atau jalan keluar secepatnya, aku takut Angel akan melakukan hal gila lagi" Mark membantu Zea berdiri karena ia masih ketakutan. Argo menggendong tubuh Angel.
****
Hari akan menjelang sore lagi, mereka belum juga menemukan bantuan atau jalan keluar dari hutan. Beberapa kali Argo mengulangi hal sama dengan memukul tengkuk Angel agar Angel diam. Argo lebih memilih ia lelah menggendong Angel daripada lelah mendengarkan ocehan tak jelas Angel. Sudah lebih 3 jam mereka menyusuri sungai. Tadi Argo bilang ia teringat satu scene dalam sebuah film dimana seorang ayah berpesan pada anaknya jika ingin kembali ikuti sungai. Mark dan Zea menyetujui untuk menyusuri sungai siapa tahu mereka akan dibawa ke permukiman.
"Hari akan gelap beberapa jam lagi, aku tidak ingin disini lagi, sehari pun aku tidak mau" Zea trauma dengan Angel, ia takut Angel akan berbuat sesuatu lagi padanya.
"Ada aku dan Argo yang menemanimu, kita berusaha keluar dari sini, berdoa saja" Zea dibuat tenang oleh Mark. Argo juga sudah mulai berubah seperti semula. Ia tidak kesal, emosi dan cuek lagi kepada Zea. Zea juga sudah minta maaf pada Argo.
"Ayo ikuti terus sungai ini, aku capek menggendong makhluk ini" Rasanya punggung Argo tertimpa puluhan batu besar. Zea tertawa pelan.
"Salah siapa membuatnya tak sadar, lebih baik ia berjalan sendiri" Argo mendengus kesal.
"Asap apa itu?" Tanya Mark saat melihat kepulan asap di langit. "Kebakaran!" Teriak Zea.
"Menurutku bukan, tidak mungkin asap kebakaran setebal itu" Sahut Argo.
"Kita ikuti saja, sepertinya tidak jauh" Zea dengan semangat berjalan.
Satu jam berjalan, Zea terduduk lemas. Akhirnya ada harapan ia akan keluar dari sini. Mark dan Argo tersenyum senang. Mereka menemukan sebuah pabrik besar di tengah hutan. Mark menuntun Zea berjalan, sedikit lagi mereka akan sampai dan akan meminta bantuan.
Mereka sampai di depan pabrik itu. Tembok besar yang menjulang tinggi menghalangi pandangan mereka kedalam pabrik. Mereka berjalan lagi hingga ke gerbang depan. Mark berjalan ke pos jaga. Argo menurunkan Angel karena sudah lelah, pingganya terasa sakit sekali. Zea dan Mark terduduk puas, Angel yang pingsan dipangkuan Zea mulai bergerak. Argo dan Zea panik melihat itu.
"Dudukkan dia" Seru Argo. Karena panik Zea menuruti ucapan Argo. Argo mengambil ancang-ancang. "Lagi?" Tanya Zea tak percaya. Bugh..
"Untuk yang terakhir kalinya" Zea menanggapinya dengan tawa pelan. Angel kembali tidak sadar, Zea mengambil tubuh Angel, meletakkan kepala Angel di pahanya.
Mark berjalan dengan dua orang yang tidak mereka kenal. Argo langsung berdiri saat Mark dan dua orang asing itu sampai di depan mereka.
"Kalian benar tidak apa-apa?" Ketiganya menggeleng semangat. "Mereka bisa membantu kita" Zea mengangguk senang.
"Mari ikut kami ke pos jaga, kami sudah menelepon polisi dan tim medis" Argo menatap Angel.
"Tidak jauh, tolong ya" Ucap Zea. Zea membantu tubuh Angel berdiri agar Argo bisa dengan mudah menggendongnya.
****
Zea merasa ia bermimpi bisa keluar dari hutan itu. Beribu kali Zea mengucap syukur. Mereka dibawa ke rumah sakit saat polisi dan tim medis datang. Petugas tersebur bahkan tidak percaya kalau 4 orang tersebut selamat. Ternyata saat Argo jatuh pinggang Argo membentur sesuatu sehingga menyebabkan keretakan pada tulang belakangnya. Tetapi sekarang ia sudah baikan.
Luka bakar di tangan Mark sudah diobati tetapi bekasnya tidak bisa hilang. Dan gigitan ular itu untung tidak berbisa, karena itu Mark tidak bereaksi apa-apa selain kesakitan saat digigit ular itu.
Dan Angel. Tim medis melakukan tindakan operasi pada kepala Angel, Sekarang Angel dalam masa pemulihan, Kaki Angel yang patah sudah di beri gips. Angel dibawa oleh polisi setelah perawatan hampir sebulan, hukuman Angel bertambah berat. Argo menyerahkan bukti bahwa Angel telah berusaha membunuh Zea. Pisau yang Angel gunakan sempat Mark bungkus dengan potongan kain baju Zea. Mark dengan malu-malu meminta Zea merobekkan bajunya lagi agar sidik jari Mark tidak menempel pada pisau tersebut. Eksperi ketiga selain ketenangan dan kesakitan, yaitu malu.
Zea membawa kembali hadiah yang ingin diberikan pada adiknya, yaitu seset alat lukis dan boneka yang sudah lama ia inginkan. Walaupun tidak sempurna lagi bentuknya adik Zea bersyukur kakaknya bisa selamat. Masih ingat dengan sesuatu yang dimaksud Argo? Argo menyembunyikan seekor kucing, ia menangis tersedu-sedu karena tidak menemukan kucing itu. Zea dan Mark tertawa terbahak-bahak, mereka sangat puas melihat Argo menangis. Argo menanyai satu persatu tim sar yang ia temui di rumah sakit, tetapi mereka tidak menemukan kucing yang dimkasud Argo.
Zea tersenyum lagi mengingat kejadian 2 bulan lalu dimana ia terjebak dihutan karena Angel. Dan bertemu dua lelaki yang kini menjadi teman dekatnya. Seakan punya kontak batin, kedua lelaki tersebut mengirimi pesan pada Zea.
Mark
Apa tanganmu masih sakit?
Tidak, ini sudah mendingan dibanding saat pertama aku mendapatkannya
Bagus kalau begitu
Selamat menikmati liburanmu Zea
Kau juga Mark
Zea beralih membuka pesan dari Argo. Argo sangat bawel dan ia semakin banyak bicara. Apa saja ia ceritakan pada Zea.Waktu itu mereka punya grup chat bertiga tetapi karena Argo yang banyak omong Mark meninggalkan grup itu.
Argo
Aku tahu kau memikirkannya tetapi jangan terlalu sering, atau lupakan saja karena wanita itu sudah dipenjara lagi, aku melihat beritanya tadi di TV
Kau sungguh perhatian Argo, aku sudah memaafkannya, tak perlu khawatir
Aku menemukan kucing baru yang mirip seperti kucing lamaku, aku memberinya kalung yang kutulis namanya dan namaku aku tidak mau lagi kehilangan kucingku
Kau penyayang sekali Argo, jaga dia baik-baik
Kau tidak ingin melihatnya? Ia sangat lucu
Tidak
Benar? Akan kukirim fotonya padamu
Tidak Argo!
Tunggu sebentar, ia berada disebelahku. Uh gemas sekali, akan kufoto spesial untukmu
Argo! Aku bilang tidak
Zea mematikan layar ponselnya. Bagaimana Argo, banyak bicara bukan? Dia sangat bawel. Berbanding balik dengan Mark. Zea ingin sekali bertemu dengan mereka lagi. Dan yang membuat Zea semangat ingin bertemu mereka adalah, ia ingin mengumpulkan ekspresi lain dari Mark, dan mendengar celotehan Argo secara langsung.
"Kakak, semenjak pulang dari hutan itu kenapa kakak jadi aneh?" Zea tersenyum lalu mengelus rambut adiknya. "Oh ya? perasaanmu saja" Zea kemudian mencium hangat puncak kepala adiknya.