Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak ‘’Ah’’, dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak : ‘’Kakak! Kakak!’’
Azlen mulai panik dan langsung masuk begitu saja.
CEKLEK!
Azlen tersentak karena pintu rumah itu tertutup sendiri setelah dirinya masuk. Ia menatap ke sekeliling sambil mengedipkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, sebab seluruh isi rumah itu berwarna merah neon.
‘’Kakak!’’ teriaknya namun tidak ada jawaban.
Pandangan Azlen mengarah ke sebuah patung tanpa kepala sambil memegang sabit. Ia berjalan mendekati patung itu.
SYUT!
Beruntung reflek Azlen bagus, ia berhasil menghindari tebasan tadi. Azlen mulai panik karena patung yang memegang sabit itu hidup. Ia mendongakkan kepala melihat lorong membentang ke atas dan sebuah tangga yang ikut membentang.
Dengan cepat Azlen berlari menaiki tangga. Suara sabit yang terseret terdengar begitu keras disela larinya. Ia melihat sosok tanpa kepala itu mengikutinya.
"Ha..huhahuha..kakak..hikss..tolong aku..kakak di mana?"
Rasa takut, frustasi, gemetar bercampur aduk di sela larinya.
Namun Azlen merasa bingung, semakin ia menaiki tangga, semakin jauh pula ujungnya.
"Rumah ini hanya terlihat 2 lantai dari luar, tapi kenapa aku tidak menemukan ujungnya?"
Kepala Azlen kembali menoleh ke belakang saat tidsk mendengarkan suara sabit yang diseret. Matanya membulat besar karena sosok tanpa kepala itu menempel di pegangan tangga menghampirinya.
"Eek!" pekik Azlen ngeri, ia mempercepat larinya.
Butuh beberapa jam Azlen akhirnya sampai di ujung tangga sekaligus puncak rumah itu. Ia terengah-engah dan menjatuhkan dirinya untuk mengambil nafas.
"Hhah? Huhahuha..mustahil! Meskipun aku tidak menghitungnya, tapi merasakan sensasi ini, aku bisa memastikan lantai yang aku lewati berjumlah 100!"
"Hahuhahuha..sensai ini sama persis saat aku pernah mengikuti panjang tebing yang setara 100 lantai, dan yang lebih aneh, kenapa ada rumah di puncak rumah ini sendiri?"
BLAP!
Azlen tersentak karena sesuatu dari atas jatuh tepat di samping kepalanya. Bersamaan jantungnya yang berdegup kencang, Azlen menolehkan kepalanya pelan-pelan.
DEG!
"AHHHHH!!" serunya melihat kepala manusia, membuat Azlen spontan bangkit.
Yang lebih kagetnya, kepala itu menggelinding ke kanan dan ke kiri. Bisa dipastikan, tangan Azlen gemetar bukan main, ditambah sosok tanpa kepala yang sudah tiba dan juga menuju ke arahnya.
Azlen hanya menangis dalam diam melihat keduanya menghampiri dirinya. Ia memejamkan mata disela nafasnya yang sudah tidak karuan.
Merasa tidak mendengar suara menggelinding dan sabit yang terseret, membuat Azlen membuka matanya perlahan.
Tiba-tiba kedua sosok menyeramkan itu hilang. Azlen mencari-cari disela nafasnya yang masih tidak karuan. Ia menatap ke segala arah dan tidak menemukan apapun.
Azlen mengontrol nafas, namun tepat saat dia berbalik, ia terkejut hebat melihat sosok tanpa kepala itu sudah ada di belakangnya.
BUGH!
Sosok tanpa kepala itu mendorong tubuh Azlen hingga terjatuh ke bawah. Azlen hanya menatap sosok tanpa kepala dan kepala yang menggelinding di samping tanpa berdaya.
BUGH!
Azlen membentur dasar lantai. Tubuhnya remuk bersamaan keluarnya banyak darah. Ia bisa merasakan kepalanya pecah dan isinya mengalir keluar.
1 detik sebelum kesadarannya hilang, Azlen sempat melihat sosok laki-laki terbaring dengan tubuh yang ditebas beberapa kali terpaku ke dinding.
"Itu kakak.."