'Tok... Tok... Tok...'Suara pintu kamar diketuk. Diikuti dengan suara orang yang memanggil. "Prol! Saprol! Bangun loe! Prol!"
"Masih subuh!" sahut yang di dalam kamar.
"Subuh nenek loe! Ini udah sore bego!" gerung orang yang di luar.
"Sore?!" Dengan mata yang menyipit mencoba untuk memandang ke langit kamar.
"Iya Sore!" seru yang di luar.
"Belum subuh?!" Balik memejamkan mata.
"Belum!!" sahut yang di luar.
"Iya udah gue tidur lagi belum subuh ini." ucap yang di dalam kamar dengan santainya, menarik selimut, tubuh menyamping kiri ranjang, telinga dibekap dengan bantal.
"Gila loe! Mau sampai berapa jam loe tidur!?" orang yang di luar sewot.
"Iya jam-jam-an!" yang di dalam menyahut dengan entengnya.
"Bangun Woii!!!" pekik yang di luar.
"Mau apa!?" masih mencoba untuk menyahut, antara sadar dan tidur.
"Mau apa!? Loe kagak gawe emang!?" tanya yang di luar.
"Gawe?! Dimana!?" suara yang di dalam sudah seperti orang yang meracau.
"Gawe dimana!?" yang di luar malah balik nanya.
"Gue udah diblacklist!!" sahut yang di dalam.
"Blacklist! Apa BlackBerry!?" ledek yang di luar.
"Blacklist!!!" seru yang di dalam
"Kenapa?!"
Menunggu jawaban, beberapa menit namun tak mendapatkan sahutan. Balik teriak, sambil pintu digedor-gedor. "Woii Saprol...! Saprol...!"
Sekonyong-konyong orang yang di dalam teriak, dengan mata yang membelalak. "Saprol udah mati!"
"Kualat loe!"
"Ini semua gara-gara Cindy!"
"Cindy? Cindy siapa?"
"Cindy Tralala Trilili..."
"Sarap loe!"
"Biarin...!"
"Kampret...!"
"Cebong...!"
"Setan...!"
"Laknat...!"
"Ngalah loe...!"
"Ogah...!"
"Awas loe ya kapan loe gak berak malam!" Yang di luar kamar mundur teratur dengan lebih dulu menggebrak pintu kamar. Yang di dalam kamar teriak kegirangan sambil mengepal-ngepalkan tangan. "Yes... Yes... Gue menang...!" Selang kemudian ia pun balik memejamkan mata.
Pukul dua belas malam, ada yang melompat dari ranjang, buru-buru berlari keluar kamar, dengan wajah yang pucat gemetaran, ia bergidik takut.
"Dul, Dul..."
"Mati...!"
"Dul, buka, Dul!"
"Loe pikir gue homo!"
"Dul, buka, Dul! Gue takut, Dul!"
"Ogah...! Gue ngantuk...!"
"Please, Dul..."
"Please, plase, please, kepala loe...!"
"Gue mohon, Dul."
"Kayak orang ngelamar aja loe,"
"Dul, gue kagak bercanda nih. Beneran, Dul!"
"Password nya apa?!"
"Adul ganteng... Huek... Adul cakep... Huek... Adul..."
"Satu lagi Adul apa...?"
"Adul manis!'
"Loe kata gue permen!"
"Adul bohai...!'
"Loe kata gue wadam!"
"Adul..."
"Ayo kamu bisa..."
"Adul semekot!"
"Sekate-kate loe..." Yang di dalam amuk, meloncat dari ranjang, bergegas engsel pintu di buka, tanpa bak-bik-buk yang di luar langsung menghambur masuk, apes, kontan jidat seluas lapangan bola menyundul daun pintu, pun kaki kejepit daun pintu bagian yang bawah, seperti seekor guguk sekonyong-konyong ia pun terkaing-kaing. "Setan! Kira-kira dong loe!"
"Satu, dua, ti..."
"Maksud gue..."
"Dul gue lihat setan!"
"Loe yang setan!"
"Di kamar, Dul!'
"Iya loe tuh setan! Masuk kamar gue main selonong boy aja! Mateng nih kepala gue!"
"Di rujak aja,"
"Kepala loe yang gue rujak!"
"Dul, di kamar gue ada setan!"
"Ngomong setan jangan ke muka gue dong! Pake nyembur lagi, loe kata gue kesurupan apa pake disembur-sembur!"
"Serius, Dul!"
"Udah bubar!"
"Siapa!?"
"Serius Band!"
"Yang nanya,"
"Setan loe!"
"Di kamar gue!"
"Makanya tadi gue omong apa, jangan tidur sore-sore!"
"Emang loe tadi ada ngomong gitu,"
"Emang gak ada ya?"
"Kagak,"
"Oh, berarti gue omong ke elo sekarang,"
"Telat!"
"Berapa bulan,"
"Dul, beneran ini..."
"Loe kata ujian,"
"Setan, Dul!"
"Loe yang setan! Pake ngegas lagi!"
"Lihat sono, Dul."
"Gila loe!"
"Kok gila!?"
"Segala setan loe lihat, apa loe mau nyuruh gue kenalan sama tuh setan!?"
"Terus?"
"Loe usir!"
"Lah itu bukannya teman loe?!"
"Becanda kira-kira dong loe,"
"Loe juga segala kenalan,"
"Terus sekarang gimana?"
"Iya serem..."
"Ihhh Serem... Gitu?!"
"He-eh...!"
"Kok bisa setan takut sama setan?Loe kalah serem kali ya sama tuh setan!?"
"Iya kale! Buruan, Dul..."
"Buruan apaan!?"
"Tuh setan diusir!"
"Loe kata gue dukun, jelek-jelek gini..."
"Loe memang tuyul!"
"Sialan loe..."
"Secara kepala loe... Terus..."
"Apa! Loe mau bilang badan gue!?"
"Bukan! Jenggot loe!"
"Gue berarti jenglot dong!?"
"Loe yang ngomong!"
"Pergi loe ah..."
"Setannya, Dul..."
"Loe ajak begadang aja... Main kartu kek catur kek... ntar bosen dia juga balik ke markasnya... Gue ngantuk...!"
"Kok loe tahu? Jangan-jangan loe sekutunya!?"
"Gue iparnya! Puas loe!"
"Belum juga keluar,"
"Sarap loe!"
"Bubur ayam satu..."
"Bubur ayam!?"
"Sarapan kan loe kata,"
"Sarap! Bukan sarapan, tuyul...!"
"Tuyul ngomongin tuyul, loe yang sarap!"
"Loe mbah-nya tuyul...!"
"Awas loe ya kapan loe nggak berak malam!"
"Pake ngancem loe, loe kata gue takut,"
"Dul, setan, Dul...!"
"Pake nunjuk muka gue loe! Loe yang setan...!"
"Loe...!"
"Loe...!"
"Loe...!"
"Loe, loe, loe...."
"Gak ada ngalahnya ya loe jadi orang,"
"Gue setan apa orang!?"
"Setan..."
"Terus yang di kamar gue!?"
"Kakek moyang loe..."
"Kok loe tahu? Temanan loe ya..."
"Loe kata gue manusia purba!?"
"Lah bukannya asal loe dari Purbalingga!?"
"Asal gue dari tanah!"
"Cacing kremi dong!"
"Suka-suka loe dah cabut loe..."
"Udah kerasa emang!?"
"Nih orang gak ada selesainya..."
"Loe kata gue pedofil homreng apa.."
"Maksud loe?"
"Pake nanya loe,"
"Sedari tadi loe mainannya fisik mulu loe ya,"
"Loe kata gue, Archimedes! Gue eks anak sosial!"
"Fisik! Bukan Fisika! Ngajak gelut loe!?"
"Loe jual, gue beli."
"Sejak kapan loe jadi orang Bali!?"
"Beli! Bukan Bli..!"
"Oke...!"
"Ayo...!"
"Pasang PS-nya."
"Gue pake Real Madrid."
"Gue Barcelona..."
"Siapa takut..."
Sialan benar nih dua bocah tua nakal, di kamar tuh setan berkepala dan bertanduk kambing sudah siap pasang aksi, semaksimal-maksimalnya tuh setan sudah bersiap-siap untuk mencekik, sekurang-kurangnya iya menyeringai-lah, akan tetapi yang ditunggu nggak juga pada nonggol! Mana nunggunya udah jam-jaman lagi, sampai-sampai kaki si setan pada kesemutan! Bukannya masuk, eh, dia-nya malah adu tanding main PS! Kagak ada penghargaan sama sekali! Yang setan siapa sih sebenarnya!? Dasar tidak berperi kesetanan loe pada! Kasihan kek!?
Lah, begini ini kali ya hidup di jaman pandemi, yang nganggur itu bukan cuma orang, setan juga dipaksa nganggur!
Terus bagaimana? Apa iya si setan mesti balik kanan? Bisa-bisa sebagai satu dari sekian dedengkotnya para setan bakal tengsin dia! Gimana nggak, lebih-lebih saat ini, si setan sedang menjalankan tugas negara, memberikan pelatihan dan seminar bagi para setan-setan junior, kali ini pas lagi praktek lapangan pula.
Ngomong-ngomong, pelatihan dan seminar itu juga jadi 'barang dagangan' yang laris loh di dunia persetanan, bukan cuma di dunia fana saja ternyata.
Bahkan, katanya, di sana hukumnya wajib!
Setiap peserta yang mengikuti dan menyelesaikan program pelatihan dan seminar tersebut kelak akan mendapatkan sertifikat dan surat jalan untuk: seminimal-minimalnya menakut-nakuti manusia, ya, semaksimal-maksimalnya kalau tuh setan bisa membawa manusia ke jalan yang di ridhoi ketua para setan, dia bakal naik tingkat. Dan yang lebih hebatnya lagi kalau si setan itu berhasil membujuk si manusia untuk membujuk manusia lainnya mengikuti jalan yang diridhoi ketua setan, si setan ini bakal diguyur dengan kenaikan tingkat dua kali lebih cepat juga diberi bonus tambahan, setahun penuh cuti dari dunia persetanan, uang makan dan jajan ditanggung oleh koperasinya para setan, kalau tidak salah singkatan dari nama koperasi mereka adalah KSE ( Koperasi Setan Eksis) yang mana ujung-ujungnya si setan bisa bobo tenang dalam kungkungan api neraka, itu juga kalau bisa!
Untungnya, di dunia persetanan istilah downline atau upline tidak dikenal, coba kalau dikenal, bisa pusing tujuh keliling para malaikat, harus bekerja lebih keras, bahkan lebih, lebih, lebih keras dari para setan bekerja.
Dan sertifikasi dan surat jalan tersebut harus diperbaharui setiap 5 tahun sekali, tahunnya para setan loh!
Sorry ngelanturnya kebanyakan, sekarang kita balik maning nang laptop! Si setan pun meradang, geram, suntuk, dia melirik ke jam dinding ternyata sisa waktu untuk menakut-nakuti anak manusia kurang lebih tinggal setengah jam-an lagi, di kanan-kiri para setan junior bersiap ketawa-ketiwi, itu perut udah pada dicengkeram, itu mulut udah pada dikekep!
Gimana lagak mereka nggak kayak begitu, selain melihat lagak si dedengkot yang sewotnya udah ampun-ampunan, mereka harus pula mendengar percekcokan antara si Adul dan si Saprol di depan monitor televisi.
"Curang loh! Masak Ronaldo berubah jadi Ironman!"
"Eh, Tuyul gimana ceritanya Ronaldo jadi Ironman!?"
"Lah tuh si Mesi kakinya bolak balik patah! Loh kata si Mesi Gatotkoco apa?!"
"Makanya loe panggil tuh si Tsubasa!"
"Tsubasa!? Apa Ultraman!?"
"Kalau perlu semuanya, iya Tsubasa, iya Ultraman, iya Ksatria Baja Hitam, kalau perlu Gaban sekalian loh panggil!"
"Apa loe kata!?"
"Bolot loe!? Sekalian si Malih noh loh panggil, Bokir, Nirin, Komeng, Mandra panggil noh!"
"Berani loe lawan tuh semua orang!?"
"Lah kan ada Ronaldo!"
"Maksud gue di dunia nyata!"
"Dari dunia akhirat kalau perlu!"
"Sama setan aja loe takut!! Bacrit loh...!"
"Bacrit itu sebangsa apaan!?"
"Banyak cerita...!"
"Lah belum tahu ini orang,"
"Maksud loe berani sama setan!?"
"Loe berani emang!?"
"Berani!!!"
"Gue juga berani,"
"Maksud loe!?"
"Iya seenggak-enggaknya yang berhadapan sama tuh setan loe duluan dah, ntar gue bantu gebukin, kayak di tivi-tivi."
"Kalau gue mati, dicekik gimana!?"
"Emang ada sejarahnya manusia bisa mati dicekik setan!?"
"Emang kagak ada!?"
"Lah setahu gue tuh orang matinya karena ketakutan. Begini nih, seumpamanya waktu dia jalan sendirian noh malam-malam dia ketemu setan tuh kan, dia kaget, terus ketakutan, terus lari terpontang-panting, terus waktu dia lari dia nggak lihat kanan kiri ya kesamber deh sama motor yang lewat, mati deh!"
"Loe kata petir kesamber?! Lagi nemu setan kayak nemu uang lima puluh ribuan aja loe."
"Emang loe kalau nemu uang lima puluh ribuan kaget!?"
"Emang Loe kagak!?"
"Iya kagaklah. Yang ada gue lirak-lirik kanan kiri, muka belakang, lalu satu kaki gue majukan ke depan, tuh hepeng gue injek, gue seret mendekat ke gue, pelan-pelan gue nunduk, terus gue ambil deh."
"Itu namanya tindakan loe itu mubazir goblok!"
"Kok mubazir!?"
"Lah secara loe sendiri, ngapain loe capek plengak-plengok, pake seret tuh duit lagi pake sebelah kaki loe, terus pelan-pelan loe nunduk, baru loe ambil. Itu kan tinggal loe pungut!"
"Itu, itu gobloknya elo!"
"Maksud loe apa Setan!?"
"Tumben baru gue katai goblok, langsung pinter aja loe, keren juga ya omongan gue!"
"Loe punya maksud apa sih?"
"Lah sampeyan tadi neriaki Setan toh!"
"Emang,"
"Musuhnya setan siapa?!"
"Maha pengasih dan pemurah-lah."
"Anak buahnya Maha pengasih dan pemurah siapa?!"
"Iya Malaikat."
"Nah, sekarang gue tanya, loe percaya nggak dengan kalimat, kalau mata Maha pengasih dan pemurah itu ada dimana-mana, percaya nggak loh."
"Percaya,"
"Itu maksudnya apa?!"
"Sesungguhnya Maha pengasih dan pemurah itu melihat apa yang kita perbuat meski itu tersembunyi sekalipun."
"Melalui siapa?"
"Maksud loe?"
"Emang Maha pengasih dan pemurah itu matanya semilyar?!
"Melalui Malaikat iya, kan setiap manusia itu punya malaikat penjaganya iya,"
"Itu loe tahu,"
"Terus apa hubungannya dengan tuh hepeng?"
"Lah ya ada dong, pasti tuh malaikat berseru-seru ke telinga kita,"
"Kayak di film-film ya,"
"Lah iya,"
"Berarti setan juga dong,"
"Lah iya,"
"Terus gimana?"
"Iya tergantung loe, loe mau dengar seruan siapa."
"Lah itu duit kan nggeletak kalau ndak diambil kan sayang, bukannya kita mencuri ini."
"Lah terus apa yang bakal loe lakuin?"
"Emang tuh duit ada tanda pengenalnya, lagian lima puluh ribu ini, iya diembatlah."
"Pantes loe kagak takut sama setan, loe sekutunya. Segala duit orang loe main embat. Apa coba kalau bukan setan!?"
"Sekate-kate loe ya, emang kalau loe apa yang bakal loe lakuin, hayo apa yang bakal loe lakuin?"
"Santai bro,"
"Santai kepala loe pitak!"
"Nah loe tuyul!"
"Ngajak gelut loe?!"
"Siapa takut!"
"Loe jual, gue beli!"
"Lah tadi gue yang jadi orang Bali, kok sekarang jadi elo!?"
"Kagak usah banyak bacot! Gue pegang AC Milan!"
"Gue Inter Milan dong!"
"Oke!
"Oke...!"
Di dalam kamar si dedengkot setan menggerung sejadi-jadinya, ada nyala api yang terlihat di kedua bola matanya, bulu di badannya sontak berdiri kaku, kuku kaki dan tangannya meruncing tajam, sepertinya ia bakal siap-siap menerkam, lebih-lebih saat ia melirik ke jam di dinding tersisa cuma sedikit waktu, pun kala ia juga melirik ke krucil-krucil juniornya, yang ngakak habis-habisan, menikmati tingkah pola dua anak manusia tersebut, makin bertambah panas si dedengkotnya para setan.
Si dedengkotnya para setan menghambur ke luar kamar, disertai dengan teriakan pembangkit semangat dari para krucil: Ayo Kamu Bisa...!
"Dul kita sembahyang dulu sudah masuk waktu shalat subuh tuh."
"Masak!? Bukannya..."
"Tuh jam dinding gue cepetin lima menit."
"Sialan loe..."
Dan bersamaan itu suara dari arah surau pun berkumandang mengajak para kaum untuk sejenak bertamu ke rumahnya sang Maha pengasih dan pemurah.
"Panaaaas....." Di belakang kedua anak manusia itu ada yang berteriak kesakitan. Kedua anak manusia pun saling beradu pandang, beberapa menitan, sampai salah seorang dari mereka buka suara. "Emang loe masak air, Dul?"
Disahut dengan gelengengan kepala, perlahan-lahan.
"Oh, paling-paling tetangga sebelah noh lagi nonton si Sapri lagi berbalas pantun dengan si Oppie kumis. Tuh yang di tivi..."
"Masak air biar matang..."
"Kalau sudah matang pastinya...." Kedua anak manusia pun berteriak dengan serentak. "Panaaaas..." Para krucil balik kanan dengan terbahak-bahak. "Panaaaas..." Dan nasib si dedengkot setan pun sudah mengering menjadi abu, dan sebentar lagi bakal di sapu, lalu dibuang kecomberan...
Bauuuu....