FITNAH
Pada pertengahan bulan desember, angin memang bertiup sangat kencang dan basah membuat efek dingin yang sangat menusuk kulit, banyak orang menjadi betah berlama-lama di balik sarung, tapi tidak untuk Darsih, dadanya meluap, emosinya sampai pada ubun-ubun, sumpah serapah keluar dari lidahnya yang panas.
Memang beberapa minggu ini keluarganya menanyainya mirip copet pasar yang tertangkap, tapi sore itu kediaman Darsih selama ini pecah, teriakan itu lirih, tapi memekakkan telinga nurani.
“Aku bukan lonthe!!, apa kalian menganggap semua janda itu bangsat?? sampai kapan kalian menuduh aku mencari nafkah yang haram?? malam ini aku akan minggat dari hidup kalian semua, aku akan keluar dari rumah dan kampung ini, aku kira kalian keluargaku yang bisa mempercayaiku, ternyata pikiran kalian sama saja dengan mereka, aku muak untuk mengemis kepercayaan dari kalian, pikiran kampungan!!” teriak Darsih pada keluarga yang sedang mengepungnya.
Darsih masuk kekamarnya, meratap menangisi keadaan, dia menyebut nama almarhum suaminya yang ikut tewas dalam ledakan tabung elpiji di pabrik roti tempatnya bekerja, sejak saat itu Darsih harus menanggung tugas sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.
“Mas, kenapa kamu harus mati, aku tidak menangisi kematianmu mas, sebab aku tahu kematian adalah kehakikian hidup, penunaian panggilan untuk memulai hidup baru, tapi mengapa rutukan banyak datang setelah keberangkatanmu kealam kekal?? apakah kamu mengisyaratkan aku sesuatu??”ratap darsih.
Darsih mengelus upik, dia menyanyikan lelaguan manis yang bernada sendu untuk menidurkan anaknya, disampingnya Marwan anak laki-lakinya telah lelap bermain di alam mimpinya, alam yang masih sama dengan alam kenyataan anak-anak yang penuh kegembiraan, malam semakin menebar sepi yang telah jadi capuk menahun di hati Darsih, Ia menggumam “ nak, betapa ayah kalian meninggalkan kita dengan ketenangan, andai saja kita tidak diharamkan menyusulnya, aku akan mengajak serta kalian berdiam di bawah bayang kamboja, maafkan ibu yang tidak mampu melayap keseluruh relung hati orang kampung untuk menjelaskan kehalalan hidup kita” airmatanya menetes, Darsih berharap airmatanya menjelma menjadi rayap, yang bisa menggerogoti fitnah yang selama ini menjadikan dia dan anak-anaknya pesakitan, dikucilkan.
Ini lantaran omongan orang sekampung yang dimulai candaan kuli pasar yang terlalu ngawur, saat kongkow bareng teman-teman sejawatnya di warung kopi depan tikungan.
“Lihat, berapa uang yang didapat Darsih setelah diangkut mobil itu?” kata Marji sembari tertawa.
Memang kebetulan waktu itu Darsih pulang bareng dengan seorang langganan kateringnya, mereka tak sengaja bertemu di pasar raya, ketika Anwar menawarkan tumpangan ikut mobilnya, karena memang mereka searah pulang, Darsih memang sering menumpang untuk pulang sehabis mengantar catering ke toko bangunan depan kantor kecamatan, dari penghasilan catering itu Darsih menggantungkan sambungan nafasnya, Lumayanlah daripada naik ojek uangnya bisa buat jajan Upik dan Marwan, pikir Darsih mengiyakan, tapi apa lacur pikiran munafik dari orang kampung yang religius itu mengartikan lain, fitnah telah ramai berdengung-dengung di kampungnya.
Malam itu tak ada yang tahu, ketika di warung kopi tengah ramai menerbangkan fitnah tentang Darsih, Darsih sendiri menenggelamkannya di bawah bayang-bayang pohon kamboja, menjemput kehidupan lain yang sebenarnya belum waktunya dijalani, mati terjun di jurang dekat warung kopi,meninggalkan Upik dan Marwan.
“ Emak kemana bulik?” Tanya Upik dan Marwan, buliknya memeluk keduanya dan menangis sesenggukan.(Kra)