Aku mengambil penerbangan pertama dari London menuju Dublin Irlandia, setelah mendapat banyak hujatan karena novel horror ku dianggap gagal. Aku kehabisan ide, dan memaksakan ending cerita. Benar-benar bodoh!
Aku menuju rumah besar keluarga ayahku di pinggiran kota Dublin. Ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di rumah kakekku. Sebuah kastil tua yang tampak sepi.
"Apa benar ini alamatnya?" tanyaku pada supir taxi yang mengantarkanku.
"Benar nona" ujarnya sopan.
Aku turun dan berusaha meyakinkan diriku bahwa alamat yang diam-diam kusobek dari buku harian ayahku adalah alamat yang benar.
Kastil tua itu tidak memiliki gerbang. Namun halamannya luas dipagari dengan tanaman bonsai yang di pangkas rapi. Aku menuju pintu kastil itu dan membunyikan lonceng yang ada di depan pintu.
Dentingan lonceng itu sungguh memekakan telinga. Rasanya gendang telingaku akan robek jika aku membunyikannya lagi.
"Selamat datang Miss Jilian Ronan, kami sudah lama menunggu anda" ujar seorang wanita paru baya yang tiba-tiba berada di sampingku.
Aku cukup kaget, namun berusaha menahan ekspresiku.
"Silakan masuk" ujarnya membukakan pintu.
Aku berjalan mengekorinya melewati ruang tamu, aku merapatkan jaket yang kukenakan. Udara di sini sangat dingin dan lembab. Kami berhenti di ruang keluarga.
Wanita paru baya itu memintaku menunggu dan berbicara dengan seseorang dibalik sofa yang menghadap ke perapian.
"Selamat datang cucuku" ujar pria yang muncul dari balik sofa.
Aku tercekat, tidak mempercayai penglihatanku. Ayah dan ibuku benar, aku tidak seharusnya kabur dan datang ke tempat ini.
"Aku kakekmu dan kau adalah cucuku" ujarnya tersenyum memamerkan sebagian giginya.
Aku terdiam. Wajahku pucat. Pria yang katanya kakekku ini tampak seperti ayahku waktu muda.
"Oh rupanya instingmu belum terasah. Tidak masalah, aku akan mengajarkan banyak hal padamu. Tidak, tidak! Theo akan mengajarkannya padamu" ujarnya sambil berjalan mendekat.
Aku mundur selangkah demi selangkah.
"Hey perhatikan langkahmu. Keramik di belakangmu harganya mahal" ujarnya
Aku menoleh melihat keramik yang dimaksud. Belum sempat aku menemukan letak keramik pria itu telah berada persis di hadapanku.
"Gotcha, kena kau" ujarnya seraya mencengkram lenganku.
"Kau memiliki mata berwana hazel seperti ibumu" ujarnya menelisik.
Aku balas menatap wajahnya. Dia memiliki mata amber dan ada sebagian warnaya tampak lebih menonjol.
"Ah ya, aku lupa. Namaku Benjamin dan pelayanku Isabele. Nenekmu Welma, sedang dalam perjalanan menuju Alaska"
"Isabele antarkan dia menuju kamar. Tiga puluh menit lagi aku menunggumu kembali ke sini. Kita makan bersama" perintah Benjamin.
"Apa aku benar cucunya?" tanyaku pada Isabele
"Tentu saja, baumu khas keluarga Ronan" ujar Isabele.
"Sudah sampai. Rapikan barang-barangmu. Setengah jam lagi temui tuan untuk makan siang"
Setengah jam kemudian kami makan siang. Aku menatap hamparan hidangan di hadapanku.
"Kakekmu ini tidak tahu kesukannmu. Makanlah sebanyak yang kau mau" ujar Benjamin.
Aku menatap piring Benjamin. Ada hati segar dan segelas anggur merah.
"Ah, ya kami punya peternakan sapi. Kami mengonsumsi hati sapi segar dan dagingnya akan kami jual dengan harga murah di pasar. Jangan tanya kenapa bukan daging sapi. Baunya sangat menyebalkan" celoteh Benjamin.
"Bagimana dengan hati ayam?" tanyaku
"Oh dear, hati ayam terlalu kecil untuk pria berusia ribuan abad"
Aku suka selera humor kakekku. Tidak semenyeramkan yang ada di pikiranku.
"Bagimana dengan hati kelelawar?" tanyaku penasaran.
"Semua orang di selatan berburu kelelawar saat malam. Ku dengar hati kelelawar memiliki banyak khasiat"
Benjamin membelalakan matanya dan cepat-cepat meminum anggur merahnya.
"Itu sebabnya kami sangat berhati-hati di selatan" ujar Benjamin sambil mengusap anggur merah yang menetes di sudut bibirnya.
"Ada apa? apa kau punya alergi terhadap kelelawar?" tanyaku lagi.
"Aku akan mati jika memakannya"
"Benarkah?"
"Tentu saja cucuku. Ku harap kau tidak menyentuh kelelawar seumur hidupmu"
"Baiklah. Aku berjanji"
"Bagus gadis pintar. Selesaikan makanmu dan kita akan berjalan-jalan melihat kasti"
Dua puluh menit kemudian....
"Kakek apa kau baik-baik saja?" tanyaku saat melihat kakek mengenakan coat, boots, sarung tangan dan kaca mata hitam dengan payung yang terbuat dari kulit hewan.
"Aku benci terik matahari. Payungku di desain dengan bahan yang tidak menyerap cahaya matahari" ujar Benjamin bangga.
"Aku suka kau memanggilku kakek, Theo biasanya memanggilku pria tua".
"Siapa Theo?"
"Kau akan tahu sendiri" ujar Benjamin senang.
Malam pun tiba pria bernama Theo itu muncul di jendela kamar Jilian.
"Hei, bangun! ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan"
Jilian menuju jendela kamarnya.
Theo menarik tangannya cepat dan mereka kini berada di sebuah tebing.
Jilian tidak mampu berkata-kata kejadiannya sangat cepat. Apa yang baru saja terjadi batinnya.
"Kami, termasuk ayahmu adalah vampir" ujar Theo
"Hah?!" ujar Jilian tampak bodoh.
Theo menarik tangan Jilian dan menjorokannya ke pinggir tebing. Reruntuhan tebing jatuh di bawah kaki Jilian menuju ke aliran sungai di ujung tebing tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" ujar Jilian panik sambil menarik tangan pria tersebut.
Ekspresi panik Jilian membuat Theo semakin tertawa lebar.
"Tenangkan dirimu dan tatap mataku" ujar Theo lalu menarik Jilian mendekat.
"Kakek nenekmu, ayahmu, dan aku kami adalah vampir" ujar Theo memperjelas.
"Benarkah?" ujar Jilian dengan wajah berbinar. Inspirasi baru muncul di otaknya.
"Baiklah aku ganti pertanyaanku barusan. Apa kalian makan bawang, menghisap darah manusia dan takut cahaya matahari?" Jilian memberondong Theo dengan pengetahuannya tentang Vampir yang dia baca pada novel-novel fiksi.
"Omong kosong! Spesies kami tersebar di seluruh negara, kami bisa makan apapun yang kami suka, hidup di manapun yang kami mau hanya saja hutan dan tempat lembab adalah favorit kami"
"Darah manusia hanya jika kau menandai mangsamu" Theo menatap Jilian jenaka
"Apa itu lelucon?" tanya Jilian memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.
Theo mengangkat bahunya.
"Kalau ayahku vampir, bagaimana dengan aku dan ibuku?" tanya Jilian lagi.
"Apa kau penasaran?"
"Tentu saja"
Theo tidak menjawab pertanyaan Jilian melainkan melangkah meninggalkan tebing tersebut. Jilian mengikuti langkah Theo berusaha menyamakan langkah mereka. Theo membawa mereka ke pinggir sungai.
"Mau berenang?" tanya Theo.
Berenang tengah malam? siapa takut batin Jilian.
Mereka melepaskan pakaian dan berenang. Dingin menyelimuti tulang Jilian. Perutnya keram dan persendianya seolah kaku.
"Pakailah pakaianmu" ujar Theo yang melihat wajah Jilian tampak pucat dan bibirnya mulai tampak keunguan.
Setelah berpakaian Theo membawa Jilian menuju tebing pertama yang mereka datangi. Anginnya cukup kencang di sana.
"Manusia sering memeluk manusia lainnya jika mereka kedinginan. Secara teori mentransferkan panas tubuh untuk mencegah hipotermia. Itu tidak berlaku pada vampir. Kami sedingin es" ujar Theo
"Aku ingin kembali ke kamar dan berganti pakaian" ujar Jilian.
"Tidak masalah. Instingmu perlu dipancing. Mungkin Uria bisa menjelaskan kepadamu" ujar Theo
Mereka tiba secepat kilat di jendela kamar Jilian. Theo mengucapkan selamat tidur dan meninggalkan Jilian. Sayang sekali Jilian masih ingin menanyakan beberapa pertanyaan. Sudahlah besok pria itu pasti muncul.
Malam berikutnya seseorang duduk di ranjangnya sambil membaca tulisan Jilian tentang vampir.
"Theo!" ujar Jilian menghardik pria tidak sopan yang membaca bukunya.
"Apa kami terlihag mirip?" tanya pria tidak sopan itu.
"Perkenalkan namaku Uria. Malam ini aku ingin mengajakmu berkeliling di bukit-bukit yang ada di Irlandia"
"Kemana Theo"
"Hahaha apa Theo memberikan kesan yang baik? sayang sekali kau harus bertemu tiga pria lainnya. Ayo"
Secepat kilat Uria membawa mereka ke sebuah bukit yang letaknya beratus-ratus meter dari kastil kakeknya.
"Ini bukit perjanjian. Kami melaksanakan perjanjian antara vampir dan werewolf di bukit ini" ujar Uria menunjukan lokasi yang dia maksud.
"Bukankah ini terlalu jauh dari kastil?"
"Tentu saja. Vampir dan werewolf berbagi kekuasaan di hutan. Bukit ini yang paling cocok sebagai tempat netral untuk sebuah perjanjian"
Jilian mengingat informasi ini untuk ditulis sebagai latar novelnya.
"Apa kau tahu sesuatu tentang aku dan ibuku?"
"Kalian manusia. Bukankah itu jelas?"
Sepanjang 23 tahun hidupnya Jilian tidak pernah mengalami hal aneh yabg berhubungan dengan vampir. Sangat jelas dirinya manusia.
"Berarti ayahku bukan vampir?"
"Paman Warren adalah vampir berdarah murni" ujar Uria meyakinkan Jilian.
"Hey ada satu kastil yang bersejarah, kita akan ke sana"
Uria dan Jilian tiba di sebuah kastil tua yang tampak lapuk. Sebagian bangunannya telah hancur dan ditumbuhi lumut dan rumput.
Uria menarik tangan Jilian menuju undakan tangga kastil itu hingga tiba di tempat yang paling tinggi dari bangunan itu.
"Wahhh" Jilian kagum dengan pemandangan malam yang dia lihat dari kastil itu. Pemukiman warga dan lampu-lampu indah di rumah penduduk.
"Dahulu kala seorang putri raja menolak untuk dinikahkan dengan seorang bangsawan. Dia kabur dari rumahnya di hari pernikahan dengan pacarnya yang adalah pengawal pribadinya. Mereka kabur ke benteng ini dan memulai hidup baru" ujar Uria mendekatkan wajahnya ke arah Jilian.
Jilian yang hanyut dalam cerita itu ikut mendekatkan wajah ke arah Uria. Semakin dekat, sangat dekat. Jilian menutup matanya sambil memajukan bibirnya.
Uria mengetuk dahi Jilian.
"Apa kau kira pasangan itu adalah kita?" ujar Uria sambil menoyor dahi Jilian.
Wajah Jilian memerah, sial!
"Ayo pulang. Sudah hampir pagi" ajak Uria.
"Hey kita belum selesai!" ujar Jilian.
"Kalau lebih lama di sini kita tidak akan selesai" ujar Uria membawa Jilian pulang.
Malam ketiga seorang pria bergabung dalam makan malam. Pria itu memperkenalkan diri namanya Virgo. Setelah makan malam Virgo mengajak Jilian menuju ruang bawah tanah kastil itu.
Virgo memperlihatkan lukisan yang tampak pada sepanjang lorong.
"Ini lukisan abad pertengahan. Zaman dahulu kala vampir diburu oleh manusia" ujar Virgo
"Sayang sekali manusia menghabiskan banyak uang hanya untuk memburu vampir. Sementara kami adalah mahluk abadi yang hidup berpindah dimensi"
"Hidup berpindah dimensi? bukankah kalian tertidur dalam peti dan akan bangun pada saatnya?"
"Itu hanya khayalan fiktif di film dan novel. Kami mahluk abadi yang ada diantara kematian dan kehidupan" ujar Virgo bangga.
Virgo dan Jilian masuk ke sebuah ruangan. Virgo mengeluarkan banyak peta, dan artikel tentang perburuan vampir.
"Ini peta yang kami buat, tempat rahasia klan vampir. Vampir-vampir baru perlu diselamatkan"
"Hey bagaimana dengan aku dan ibuku? apakah kami termasuk klan vampir" tanya Jilian penasaran.
"Ibumu sedang berproses sedangkan kau spesies baru, sedang dalam penelitian" jawab Virgo.
"Sudah cukup! waktunya kau istirahat. aku akan mengantar kembali kau ke kamar"
"Hey, jelaskan padaku!"
Seketika Jilian merasa seluruh tubuhnya lemas setelah Virgo mengeluarkan tabung asap dari balik jaketnya.
Malam ke empat Jilian duduk di hadapan Wayne. Seorang pria lainnya yang sedang meracik minuman dan memasak sesuatu untuk dicobai Jilian.
"Ini rum dengan ekstrak darah sapi dan anggur merah. Ini hati angsa dan apel bakar" ujar Wayne sambil meletakanbya di hadapan Jilian.
"Silahkan dicoba. Percayalah rasanya tidak seburuk namanya" Wayne meyakinkan Jilian yang tampak ingin muntah.
Jilian meneguk minuman itu. Rasa hangat menjalari tenggorokannya. Diluar dugaan minuman memiliki rasa manis di awal dan rasa pahit after taste.
"Tidak bau darah sama sekali" ujar Jilian mencium gelas minuman tersebut.
"Tentu saja! darah sapi diolah dan diekstrak dengan baik agar tidak meninggalkan bau mentah di minuman"
Jilian mengangguk paham dan mulai mencoba hati angsa.
"Hmm luar biasa. Rasanya benar-benar enak" Jilian takjub dengan rasa hati angsa yang dipanggang bersam apel.
"Habiskan" ujar Wayne mengingatkan Jilian.
"Apa aku termasuk vampir?" tanya Jilian sambil menyesap rumnya.
"Belum pasti sampai taring mudamu tumbuh" ujar Wayne.
"Wow, kapan taringnya akan tumbuh?" tanya Jilian lagi merekam semua informaso di otaknya.
"Ini bukan soal usia. Pada spesies campuran pertumbuhan taring akan lebih lambat dari pada Vampir yang sesungguhnya. Kecuali ada cukup stimulus untuk merangsang taring itu tumbuh"
"Stimulus?" Jilian binggung.
"Temui Xavier besok dan dia akan menjelaskan secara rinci. Berhenti bertanya, habiskan minumanmu dan aku akan mengantarmu kembali" ujar Wayne membereskan piring sisa makan Jilian.
Malam kelima Benjamin mengantar Jilian menuju sebuah tempat rahasia di pinggir kota Dublin. Benjamin meninggalkan Jilian di sebuah hutan Berbekal instruksi Benjamin Jilian menemukan tempat yang dimaksud. Sebuah pintu kecil yang tertutup semak dan Jilian meluncur masuk ke ruangan tersebut.
"Brakkk" Jilian jatuh diatas tumpukan peralatan tidak terpakai di ruangan tersebut.
"Surprise" ujar seorang pria yang mengenakan kaca mata dan jas laboratorium.
Jilian tampak berantakan. Dia berdiri, merapikan pakaiannya dan mendekat ke arah pria itu.
"Hai, aku Xavier. Kemarilah akan ku periksa gigimu" ujarnya menyuruh Jilian mendekat.
Xavier mensenter seluruh bagian mulut Jilian.
"Rumnya tidak cukup banyak. Kau harus meminumnya lagi"
"Untuk apa?"
"Salah satu bentuk stimulus. Itu minuman yang kami pakai untuk menstimulasi spesies sepertimu. Tampaknya tidak mempan atau kurang banyak"
"Hentikan. Rasa pahit di pangkal lidah sangat tidak enak"
"Sejauh ini berhasil untuk beberapa spesies"
"Bisa kau jelaskan tentang aku dan ibuku. Apakah kami vampir?"
"Ibumu manusia yang diberi stimulus oleh ayahmu. Proses ibumu menjadi vampir tidak serumit keturuan campuran" jelas Xavier.
"Bisa kau jelaskan lebih rinci?" tanya Jilian.
"Jadi ada tiga jenis campir di era baru. Vampir murni, manusia vampir dan keturunan manusia vampir. Kami belum menemukan sebutan yang cocok untuk dua spesies itu. Untuk mendapat keturunan vampir perlu menstimulus manusia dan lahirlah keturunannya. Perbedaan spesifik ketiga jenis ini jelas. Vampir memiliki semua keahlian vampir. Manusia vampir memiliki sebagian keahlian vampir dan keturunan vampir memiliki porsi 80 % keahlian vampir murni dan dapat dimodifikasi"
Jelas Xavier panjang lebar.
Jilian tidak bisa menangkap semua informasi itu.
"Baiklah ini sulit dicerna. Seperti apa stimulus yang kalian masuk"
"Tentu saja, gigitan dan bercinta" ujar Xavier.
"Shit!" maki Jilian yang dari tadi mendengarkan penjelasan Xavier seperti orang bodoh.
"Di mana aku bisa mencari vampir yang bersedia untuk memberi stimulus?"
"Kelima pria yang bertemu denganmu sejak kau datang. Bukan kakekmu. Mereka bersedia dengan senang hati. Tinggal kau tentukan pilihanmu. Akan lebih bagus jika kau berdiskusi dengan kakekmu"
Xavier mengantar Jilian pulang setelah menjelaskan keuntungan menjadi Vampir. Tidak buruk, yang sedang dipikirkannya bahwa kelima pria itu sempurna dia tidak mungkin meminta kelimanya melakukan stimulus secara bergantian.
Benjamin membawa Jilian ke perpustakaan keluarga yang ada di ruangan terdalam kastil. Dia memperlihatkan buku yang berisi silsilah keluarga kelima pria tersebut lengkap dengan informasi kepribadian mereka.
Jilian memutuskan menyerah setelah berhari-hari menghabiskan waktu membaca silsilah mereka. Benjamin yang mengetahui kegalauan cucunya menyarankan satu hal.
"Pria seperti apa yang ingin kau nikahi" tanya Benjamin. Dia tidak mengizinkan cucunya terburu-buru menerima stimulus tanpa ikatan resmi.
Jilian menyodorkan kriteria yang dia tulis pada sepotong kertas.
"Baiklah aku akan mempermudakanmu mencari jodoh. Sekarang dengarkan dengan baik"
Jilian akan menikah dengan seorang pria. Ia harus memilih satu dari antara 5 pria Theo, Uria, Virgo, Wayne, dan Xavier.
Profesi : 3 CEO, 2 Dosen
Hobby : 3 Hiking, 2 membaca
Xavier dan Virgo punya hobby yang sama. Uria dan Theo salah satunya hobby membaca. Wayne dan Uria mempunyai profesi yang sama. Theo dan Xavier salah satunya bukan Dosen.
Jika Jilian menyukai calom suami yang berprofesi sebagai Dosen dan hobby Hiking maka ia akan menikahi........
A. Theo
B. Uria
C. Virgo
D. Wayne
E. Xavier
maukah kalian membantu Jilian menemukan pasangan yang akan memberinya stimulus?
________________________________