Suatu hari , Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakak nya minta azlen untuk tinggal diluar , dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba tiba kakak nya berteriak "ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak: "kakak! kakak!"
Azlen berteriak sambil berlari masuk kedalam tanpa menghiraukan perintah kakak nya tadi, saat didalam yang didapati Azlen hanya kegelapan.
Tangan kecil Azlen meraba dinding , berusaha untuk mencari tombol lampu.
KLEK,,
lampu menyala dengan sendirinya, membuat bulu kuduk Azlen berdiri " kakak apa itu kamu, kakak aku takut, kakak dimana hhhuuu,,," terdengar suara nya bergetar dan air mata ketakutan mulai mengalir dari matanya.
Azlen menguatkan hatinya yang ketakutan dan terus berjalan masuk menyusuri lorong rumah. sunyi, senyap, tidak ada suara sedikitpun tapi tiba tiba.
DEBRUKK,,,,, suara apa itu
Suara yang terdengar dari ruangan yang berada tepat di samping Azlen
Dengan penuh rasa ketakutan Azlen masuk kedalam ruangan itu mata Aslen melotot seperti hampir keluar.
Rasa tidak percaya dan ketakutan menyelimuti Aslen
Dia melihat kakak laki laki kesayangan nya sedang membunuh seseorang, darah menyiprat keseluruh ruangan.
Warna merah mendominasi ruangan tersebut rasanya Azlen ingin muntah melihat darah dimana mana.
" Yo,,,,,,, lihat siapa yang datang" kakak Azlen berjalan mendekati Azlen dengan pisau bersimbah darah yang barusan ia gunakan.
" Ka-kak, kenapa, kenapa kakak membunuh!! "
Rasa takut tidak percaya dan kecewa tengah dirasakan Azlen saat ini, bagai mana tidak kakak yang ia kenal dengan pribadi yang baik ternyata seorang pesikopat
Kakak Azlen memegang pipi Azlen dengan tangan nya yang bersimbah darah
" Adikku sayang sudah kubilang jangan masuk kedalam kenapa kamu masuk " kata kata kakak Azlen lembut tapi terkesan mengerikan dan penuh tekanan.
" Jika dalam hitungan ke 3 kamu tidak lari maka jadilah pelengkap tantangan seratus nyawa yang orang itu berikan ahahahahaha. hitungan dimulai,,,,, 1,,,,,,,,2,,,, dannn,,,,,,, tttii,,,,,"
Azlen mulai berlari tanpa arah dalam kegelapan
" Heh dasar bodoh, walau kau lari aku akan tetap membunuhmu " kakak Azlen mulai mengejar Azlen
Bbrrraaakkkk bbbraak buk suara Azlen menabrak barang barang disekitarnya
" Ooooo Azlennn adikku sayang dimana kamu, sini dong tenang aja aku usahakan ngak sakit kok " kata kakak Azlen yang berteriak sambil berjalan santai mendekati Azlen
Azlen terus berlari hingga terpojokkan di sebuah ruangan buntu
Disana terdapat banyak foto yang disilang dengan sepidol merah, terdapat foto Azlen juga disana tapi belum disilang
Azlen menggenggam foto miliknya " a-pa ini ?", " Bum ketemu" suara kakak nya mengagetkan Azlen
"Ahahaha adikku sayang apa kau melihat semua ini mereka adalah orang yang akan melengkapi tantangan seratus nyawa yang orang itu buat, harusnya kau senang menjadi bagian dari ini, adikku Azlen!"
" Tadinya aku mau membiarkanmu hidup dan tetap berada diluar rumah tapi betapa bodohnya kamu hingga masuk kemari hihihi " dengan nada mengejek
Pisau bersimbah darah mengarah ke leher Azlen, " matilah Azlen adikku "
"Jleppp,,,,, maaf kakak aku masih ingin hidup" Azlen menusuk kakak nya dengan pisau yang ia temukan di ruangan ini
" Ahahahaha selamat selamat anda telah menjadi salah satu peserta dari permainan ku permainan seratus nyawa " suara misterius mengema di seluruh penjuru rumah
" Aa-pa " Azlen terkejut dengan hal ini
" Permainan seratus nyawa tapi aku tidak mau menjadi pembunuh ini hanya sebuah kecelakaan " pembelaan Azlen yang sia sia
"Bukankah kau tadi baru saja membunuh kakak mu?" pertanyaan suara misterius yang tidak dapat dijawab oleh Azlen.
" Selamat selamat jika anda tidak membunuh seratus orang dalam waktu lima hari maka anda akan langsung kami lempar ke neraka! , SEMOGA BERHASIL!!! "
Jangan lupa like dan komen ya#