Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah berwarna merah di dekat rumahnya. Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba tiba kakaknya berteriak "Ah" , dan kemudian tidak ada suara lagi.
Azlen berteriak "Kakak! Kakak!"
Tidak ada jawaban dari sang Kakak. Azlen yang panik dan takut tidak tau harus berbuat apa dengan semua ini. Dengan berat hati dia pulang ke rumah. Dia pikir Kakaknya sedang menjahilinya dan akan kembali ke rumah sendiri
Keesokan harinya Azlen datang kembali ke rumah merah tersebut. Dia hanya sanggup memanggil sang Kakak dari luar karena dia sama sekali tidak punya nyali untuk sekedar membuka pintu itu. Kakaknya sama sekali tak muncul di rumah.
Azlen menangis keras, dia sangat frustasi dengan suasana hening ini. Dia memanggil Kakaknya dengan begitu lirih dengan air mata yang mengalir. Azlen mengusap air matanya dan hendak menyerah, namun sebuah suara sukses membuat Azlen menoleh ke arah rumah merah tersebut.
"Huuu...."
Terdengar suara lenguhan halus yang lebih terdengar seperti suara angin. Namun Azlen sudah begitu familiar dengan suara lembut tersebut. Suara milik Kakaknya! Kakaknya masih hidup!
Akhirnya dengan memgumpulkan keberanian, Azlen hendak membuka pintu itu, namun sebuah suara membuat gerak tangan kanannya berhenti. Hanyalah suara, dia sama sekali tidak melihat rupa.
"Knock.. Knock.." Telinga Azlen mendengar suara serak itu dengan sangat jelas. Azlen menelan ludahnya dengan susah payah, lalu dia mencoba untuk membuka pintu itu kembali.
"Knock.. Knock.."
Suara yang serak, dingin, dan berat. Entah harus dengan kata mengerikan apa lagi yang harus Azlen keluarkan untuk mendeskripsikan bentuk suara ini. Azlen menarik nafas yang sangat panjang.
"Who's there?" Tanya Azlen dengan suara gemetaran. Terdengar geraman rendah yang dingin setelah Azlen mengucapkan dua kata tersebut. Tak lama suara itu terdengar kembali.
"M-Me?" Jantung Azlen berdegup dengan begitu kencangnya. Entah karena angin yang bertiup dengan sangat kencang pertanda akan datangnya hujan, atau karena suara yang sedang berbicara dengannya.
Sekali lagi Azlen bertanya. "Who's There!!?" Terdengar marah dari suara Azlen. Suasana hening setelahnya, dia tidak menjawab pertanyaan Azlen yang membuat Azlen merasa muak dengan semua ini. Tak lama mata Azlen terbelalak.
"Hahahhahahahhahahahhahahah!!!!" Tertawa itu menggetarkan seluruh bagian tubuh Azlen. Rasanya badan Azlen melemas dan dan hampir terjatuh, suara ini benar benar mengerikan.
Tak lama terdengar sesuatu dari dalam pintu. Seperti suara pintu sedang di kunci atau sebaliknya. Azlen bingung, jika pintu ini di kunci lalu kenapa Kakaknya bisa masuk dengan begitu saja.
Pintu merah tersebut mulai terbuka dengan sendirinya. Azlen mendongakan kepalanya hanya untuk sekedar mengintip, namun ia sangat menyesali tindakannya. Karena ada sesosok yang juga sedang mengintipnya dengan wajah sama dengannya, wajah Azlen.
"Hihihihihihi... Knock.. Knock.." Kata Makhluk itu masih dengan suara berat dan seraknya. Azlen yang melihat itu memasang seringai begitu lebar di bibirnya. Dia menatap makhluk itu dengan mata membelalak dan bibir memasang seringai.
"Who's there? Who's there? Who's there? Who's there?" Azlen terus mengulang ngulang dua kata tersebut di depan makhluk yang sedang tertawa melihat tingkah Azlen. Sedangkan Azlen hanya tertawa sambil terus mengucapkan dua kata tersebut.
Terpaan angin kencang di rumah merah. Langit mendung pun mulai menutup cahaya matahari di sana. Jendela tua yang tidak di tutup dengan baik malah membuat suara suara yang membuat suasana semakin mencekam.
Azlen masih dengan kikikan dan seringainya terus mengulang ngulang kata tersebut, bahkan ia menggoyangkan bahunya seakan akan sedang bernyanyi lagu yang ia sukai. Dia terus lakukan itu, terus, terus, dan terus...
Knock!! Knock!!
Matahari pagi telah menyingsing bumi. Seorang wanita paruhbaya mengetuk pintu rumahnya beberapa kali dengan barang belanjaan di tangan kirinya. Dia terus melakukan itu hingga akhirnya dia menyerah.
Dia menuju pintu belakang rumahnya dan syukurlah pintu itu tidak terkunci. Wanita tersebut meletakkan barang belanjaannya ke dalam sebuah keranjang, dia menatap lantai atas dengan pandangan sulit di artikan.
Wanita tersebut kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya yaitu membersihkan dan memasak untuk sarapan pagi. Setelah akhirnya masakan sederhananya telah selesai, dan rumahnya rapih.
Sekarang dia menuju lantai dua untuk membersihkan ketiga kamar di sana. Kamar satu adalah miliknya dan suaminya, sementara dua lainnya adalah milik anak-anaknya.
Wanita tersebut lanjut ke kamar kedua milik anak laki lakinya, setelah di buka ternyata kamar tersebut kosong. Wanita itu menjatuhkan sapunya dan bergegas lari menuju kamar mandi, dia juga tidak di sana. Wanita itu menarik nafas.
Wanita itu melangkahkan kakinya menjauh dari rumah. Dia secara sengaja masuk ke area hutan yang begitu lebat dan dingin, bahkan matahari tidak di izinkan memberi sinarnya pada hutan ini.
Langkahnya berhenti setelah dia melihat sebuah rumah dari jauh. Rumah dengan cat berwarna merah tua yang dominan, jendela dan pintu kayu yang termakan usia, dan seorang anak laki laki yang sedang berdiri tegak di depan pintu.
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya setelah berdiri sekian lama. Dia menatap anaknya yang sedang menyeringai di depan pintu yang sedikit terbuka dengan bibir terus menggumamkan sesuatu. Wanita itu menangis.
Dia berlari ke arah anaknya dan memeluknya. Anaknya sama sekali tak bergeming, dia sama sekali tak menganggap ibunya ada dan terus melakukan hal mengerikan yang sama berulang kali. Wanita itu kembali meneteskan air mata.
Menangis dengan air mata yang sungguh deras. Dia tak kuat melihat anak-anaknya menjadi seperti ini. Dia mengusap bahu putranya. "Azlen, pulang... Kakakmu sudah tidak berada di sini lagi..."
Pergerakan Azlen berhenti, lalu dia menatap ibunya dengan mata melotot mengerikan. "Kakak.. gak ada?" Tanya Azlen masih menatap ibunya. Wanita itu mengangguk dengan bulir di pelupuk matanya.
"Kakak sekarang udah tenang.. ini bukan salah Azlen.." Kata wanita itu lirih. Azlen tertawa keras dan kembali menatap pintu kayu itu, melakukan hal yang sama secara terus menerus.
"Who's there, Who's there, Who's there! hahahaha!" Tawaan lepas di keluarkan Azlen. Wanita itu tak punya pilihan lain, dia mengambil balok kayu dan memukul kepala anaknya hingga dia tidak sadarkan diri. Wanita itu menyeret anaknya kembali ke rumah.
Semenjak kejadian itu Azlen menjadi seperti ini. Saat Kakaknya dan Azlen bermain di sekitar rumah merah, lalu perhatian mereka terpaku oleh rumah berusia ratusan tahun tersebut. Mereka masuk ke sana dan bermain sebuah lelucon.
"Knock! Knock!" Kata sang Kakak dengan nada ceria. Azlen cekikikan. "Who's there...?" Tanya Azlen kembali, namun tidak ada jawaban dari sang Kakak. Azlen menunggu kode sang Kakak namun juga tak kunjung ia dapatkan.
Karena letak sang Kakak yang berada di dalam sedangkan ia di luar membuat Azlen gelisah. Dia mengetuk pintu itu kembali. Berkali kali sampai ketukan berubah menjadi gedoran keras.
Kriett...
Azlen membesarkan pupil matanya, kulit putihnya perlahan mengeluarkan banyak keringat dingin. Dia menatap pria tua yang sedang menatapnya melotot di balik pintu tersebut. Azlen memundurkan langkahnya.
Sekarang Azlen hanya bisa melihat bagian rambut sang Kakak yang sedang di tarik oleh si kakek tua.
Pria keriput itu menyeringai dan menjawab ketukan Azlen dengan lelucon yang selalu di mainkan oleh Kakaknya setiap mereka bermain bersama.
"Whooo's Thereee?"
The End.
#horror #thriller #tekateki