Aku berdecak kesal, berkacak pinggang menatap ke arah tumpukan sampah yang di hasilkan oleh penghuni rumah ini.
Mata ku menatap tajam, ke arah satu bocah laki-laki yang sibuk memakan camilan di meja makan.
Ah, bocah itu!
Lihat saja bungkusan-bungkusannya dari makanan yang di makan nya itu.
Ck, menyusahkan.
Bungkusan-bungkusan itulah yang menyebabkan tempat sampah di rumah ini penuh dan akhirnya tertumpuk.
Bahkan, beberapa sudah berserakan di lantai.
"ABANGGGG!!!" teriak ku menggema.
Laki-laki tampan, tinggi, dengan wajah kesal nya memasuki dapur. "Kenapa lo teriak kayak gitu, hah?"
Aku cemberut, "Lihat!" aku menunjuk ke arah tempat sampah itu. "Gara-gara dia, sampah ini jadi bertumpuk. Abang buang, deh. Busuk, tahu!" Aku menutup hidung.
Kakakku mengernyit. "Lo aja deh. Gue sibuk!" Kakak berbalik, namun cepat-cepat aku berbicara kembali.
"Abang.. ini udah jam 8 malam, loh. Gak takut apa kalau adik kakak ini di culik?" Aku memasang raut lesu.
Kakak ku terkekeh. "Pede juga lo pengen di culik. Dah, mumpung belum malam banget, lebih baik lo cepat buang sana. Byee.."
Ck, memang tidak bisa di harapkan.
Dengan wajah suram, aku memutuskan memungut sampah-sampah itu lebih dahulu, lalu beralih mengangkat tempat sampah itu.
Aku menurunkannya sebentar untuk membuka kunci pintu utama. Aku membuka pelan pintu, lalu mengintip keluar.
Sepi, sunyi, dan gelap.
Tanpa sadar, aku menelan saliva. Namun, cepat-cepat aku menggeleng.
Tidak boleh. Aku tidak boleh takut.
Aku berjalan keluar, membuka gerbang rumah.
Aku melangkah ke sebelah kanan rumahku, yang di mana di sana ada tempat sampah besar, tempat di mana para tetangga membuang sampahnya. Termasuk keluarga ku tentunya.
Aku mengikat kantong sampah itu, lalu membuang nya. Angin dingin menerpa kulit ku. Aku bergidik, lantas mengelus lengan ku.
Aku mengangkat kembali tempat sampah yang ku bawa, lalu dengan sedikit berlari memasuki gerbang.
Aku menghela nafas lega. Jika kakak laki-laki ku itu melihat ini, di pastikan dia akan tertawa dengan ejekan khasnya itu.
Mengingat saudara satu ku itu, aku mendengus kesal.
Baru saja ingin melangkah ke pintu, mata ku baru saja menangkap sesuatu di pohon halaman rumah.
Aku mengerjap.
T-tadi.. ranting nya bergerak sendiri!
Apa mungkin angin??
Ck, bodoh. Mana mungkin angin bisa menggerakkan ranting tebal seperti itu?!
Lagipula, sejak tadi aku tidak merasakan angin apapun.
Apa itu.. hantu?!
Aku melotot. Hey, pemikiran apa itu?!
Aku menghela nafas. Menenangkan diri, dan dengan perlahan mendekat ke pohon.
Aku menggunakan tempat sampah sebagai senjata.
Ck, aku lupa jika saat ini gelap. Bahkan, jika aku berjarak satu senti dengan pohon tidak akan terlihat.
Aku berbalik, memilih tidak peduli. Padahal jarak ku dengan pohon saat ini tinggal dua langkah.
Dukh.
Aku seketika menegang. S-suara apa itu?
Aku menelan saliva.
Baru saja ingin menolehkan kepala, angin dingin tiba-tiba saja terasa di bagian leher ku.
"My Pure Blood.."
Aku menutup mata, gemetar.
"S-siapa?" Hey, suara ini seperti cicitan burung!
Benda tajam dan dingin, terasa di area leher ku. Aku menjatuhkan tempat sampah di tangan ku, lalu sebuah tangan terasa memeluk tubuhku dari belakang.
Terakhir kali yang ku ingat adalah.. Benda tajam itu menggores kulit ku, dan dapat kurasakan darah ku yang seperti di hisap.
Itu.. menyakitkan.
Namun, ada satu hal janggal lagi yang ku rasakan.
Kenapa.. aku seperti menyukainya?!
****
T.A.M.A.T
Cerpen > Fresh Blood
Selesai > Jum, 16 Juli 2021
****
Terima kasih untuk waktunya!
Semoga terhibur, ya!
Maaf kalau ceritanya tidak jelas ༎ຶ‿༎ຶ
Oke, terima kasih banyak!