7 Mei 2021. Hujan deras sedang menyelimuti kota, petir kilat datang dalam sekejap. Rasanya dingin untuk sebuah pagi di hari Jumat. Oh aku baru sadar, aku belum mematikan AC nya. Setelah aku mematikan AC kamarku, aku berjalan ke arah kamar mandi dan bersiap untuk memulai hari.
Saat kutatap cermin di depanku hanya wajah lesu seperti tidak berjiwa yang kulihat. Mencoba tersenyum hanya membuatku seperti pembohong Tapi apa boleh buat, fisika bukan pelajaran kesukaanku. Huh... Hari berganti tak ada yang berbeda.
.
“Adit“
“Hadir Bu“
“Bayu“
“Hadir Bu“
Layaknya gembala yang meniupkan peluit, domba-domba pasti menyahutnya. Untuk apa melakukan presensi, lagipula tidak semua kami akan mengikuti kelas mu.
“Oh ternyata Bu Siska ganti kacamata lagi ya?” seperti yang kubilang, tidak ada yang spesial hari ini.
“Ibunya kayaknya moodnya lagi bagus nih” balasku, walaupun pelajaran sudah mulai, aku hanya berfokus pada WA ku saja.
“Celly” dengan segera aku langsung memencet tombol mic dan mengatakan “Hadir”. Saat aku mengucapkan itu, aku juga menyalakan kameraku. Sedikit senyum mengembang saat kuucapkan kata itu. Waktu presensi pun berakhir tanpa kusadari.
“Ok, cah bagus, kemarin materi kita sampai mana ya?” hening, tidak ada suara ataupun kamera yang dinyalakan. Aku tidak kaget, ini bukan hal baru juga.
“Halo?”
“Materi gaya magnet bu!”
“Gaya magnet? Ok, jadi gini cah bagus hari ini kita akan membahas penerapan gaya magnet, jadi tolong siapkan catatan kalian” tak ada gunanya, pikirku. Kami bahkan tidak membuka kamera, Ibu tidak bakal tahu apa yang kami lakukan. Kenapa harus sampai segitunya sih Bu.
Aku sudah tau kalau kelas ini tak ada gunanya, toh aku juga harus belajar sendiri lagi untuk ujian. Yaudahlah, aku nonton youtube aja, siapa tahu bisa bagusin mood-ku.
.
“Nah, cah bagus karena sesi ini udah selesai kita lanjutin pertemuan selanjutnya ya! Oh ya jangan lupa tugas kelompok yang ada di GC” semua mulai mengucapkan terimakasih, tapi aku tidak karena ada atau tidak, suaraku tidak mempengaruhi.
Eh, tunggu… Tugas kelompok!? Aduuhhh, kenapa tugas lagi sih. Tugas minggu lalu aja belum selesai.
“Rena, lu belum ada kelompok kan? Sekelompok aja yuk“
“Eh, maap banget nih, aku udah diajak sama Naura“ pengkhianatan, batinku
“Okk, yaudah ndak apa kok sans“ bohong
Aku hanya bisa menghela napas, apa boleh buat, dia memang punya hak untuk ganti teman kelompok. Yaudahlah, aku pikirin nanti aja. Istirahat 15 menit, setiap sesi bukannya kurang, tapi gak cukup buat redain emosiku. Waktu pun berlalu dan kelas berikutnya sudah mau dimulai.
Aku tidak menemukan hal menarik saat belajar sejarah karena tidak ada gunanya memahami apa yang terjadi dahulu. Kita hidup sekarang untuk maju ke depan, tanpa harus melihat kebelakang. Ya… setidaknya gitulah pendapatku tentang sejarah.
“Hmm, apa ini? Quiz pengganti pelajaran!“ mataku bergetar hebat, aku nggak percaya apa yang kulihat barusan. Tapi kemarin bapaknya gak bilang apa-apa, haduh gimana ini. Waktu quiz bahkan tidak lebih dari 30 menit, apa-apaan ini kenapa spontan begini. Aku membuka grup Whatsapp kelasku, melihat bagaimana reaksi yang lain.
Kosong…
Tak ada pendapat, tak ada komentar bahkan ketua kelas tidak menginfokan apa-apa. Tubuhku mulai berkeringat, pikiranku mulai kacau. Apa-apaan ini, kalian semua setuju quiz dadakan begini? Tanpa sadar jari-jemariku sudah mulai mengetik beberapa kata dan dengan penuh emosi aku mengirimkannya.
.
3 menit
.
5 menit
.
10 menit
.
“Pesanku hanya dibaca?” suaraku menciut,
“K-kenapa… apa salahku?” tepat sedetik sebelum berbutir, kuangkat wajahku.
“Tidak apa, hari ini mungkin bukan hariku“ bohong
“Mungkin jika aku bertahan, aku akan beruntung besok“ dusta
Aku melanjutkan quiz tersebut, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Rasanya sakit, tapi ini bukan masalah. Walaupun aku tahu, aku akan mendapat nilai jelek, setidaknya usaha yang penting.
.
.
.
“Iya kan?“
JANGAN! Jangan berpikir lanjutkan saja, jangan menyesal, batinku.
45 menit telah berlalu dan kelas akhirnya berakhir. Napasku terengah-engah, aku bahkan tidak berlari, tetapi rasanya paru-paruku ingin meledak. Hanya tersisa 1 lagi dan ini akan berakhir. Bahasa Inggris bukanlah minatku dan aku tak punya mimpi untuk menggunakannya, lagian aku akan melanjutkan studiku di negara ini saja kok.
Seperti yang direncanakan minggu lalu, Miss Emily akan melakukan tes lisan. Aku tidak pernah setuju dengan tes ini karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan secara spontan. Ruangan virtual masih sepi, hanya ada Miss Emily di sana. Tapi aku tidak kaget, tidak ada berani berduaan dengan guru juga. Setelah 1 hingga 2 menit murid-murid sekolah mulai masuk.
“Okay, all of the students already here so, Good Morning students“ aksennya bahkan tidak sebagus pemeran di film barat, tapi aku harus belajar darinya.
“So today, we’re going to do an oral test, like I already told you last week. So prepare yourself, I will call your name randomly!”
“Celly”
“Ah… yes Miss?”
“So, you already prepare for the test right?”
“… y-yes Miss”
“Hmm… Then present your topic, that you choose to our class” aku tidak mempersiapkan apa-apa. Nomor presensiku bahkan bukan di awal, tapi kenapa aku, batinku.
Panik
Bingung
Frustasi
Solusi! Aku harus nemuin solusi secepat mungkin! Oh ya, Rena! Jariku bergerak secepat kilat, tanpa peduli ejaannya benar atau tidak. Sesaat setelah pesan terkirim, pesan tersebut langsung terbaca, aku sempat ragu dia akan mengabaikanku.
“Maaf ya. Cel aku gak bisa bantu, nanti kalo aku dipilih aku gak punya bahan presentasi jadinya“ harapan terakhir, kesempatan satu-satunya hilang dalam sekejap. Sekarang tak ada pilihan lain, selain mengakuinya kan?
“E-excuse me Miss, but I h-haven’t done my h-homework yet” ucapku terbata-bata. Matanya melihatku dengan tatapan kecewa. Aku tahu aku salah oleh karena itu, cepat selesaikan ini.
Walaupun begitu, Miss Emily bukan hanya marah padaku, tetapi juga kecewa. Dia menceramahiku dan kelasku sepanjang jam pelajaran. 1 jam penuh penyiksaan membuatku bertanya-tanya
Apakah ini sebanding?
Setelah 1 jam berlalu, Miss Celly akhirnya memberi hukuman, yang sudah aku tahu pasti akan terjadi. Akhirnya, jam pelajaran sekolah selesai, setidaknya hari ini tidak mungkin ada masalah lagi, seharusnya…
“Cel, ini salahmu kita dimarahin sama Miss Emily, aku jadi gak isa presentasi nih!”
“Heh, cel kalo lu bisa belum kerjain tugas sih? Kan dah dibagi minggu lalu!“
“Tuh kan gara-gara Celly kita ada tugas tambahan juga jadinya“
“Cel, kok kamu gak mikirin kami sih, kami kena dampaknya juga tau gak!”
Ribuan chat berdatangan, semua nya sama, hanya kata-kata negatif yang ada. Harus gimana, harus gimana, harus gimana. Minta maaf? tidak mungkin, maaf nggak bakal selesain masalahnya. Atau dibiarin? nggak, aku bakal dijauhin satu kelas nanti. Aku harus gimana...
Panik
Takut
Kesal
Marah
Sedih
Semua emosi berampur di dalam kepalaku, aku ingin meluapkannya, hanya perlu menuliskan beberapa kata saja dan semua emosi akan tercurahkan.
Tapi…
Aku takut, apa yang bakal terjadi selanjutnya. Kepalaku mulai pusing, pandanganku mulai kabur. Tubuhku bergerak dengan sendirinya, kakiku berjalan ke arah jendela. Tanpa kusadar jendela tersebut kubuka.
“Haha… hari yang sama seperti biasanya”
lalu terdengar pecahan kaca