Pagi itu aku terbangun agak kesiangan, bukan karena keluyuran yang tidak jelas melainkan aku mengerjakan tugas berupa laporan yang harus aku kumpulkan hari ini ke dosen. Hari ini jadwal kuliahku jam 10.00, dengan waktu yang lapang itu aku masih mencoba untuk mengumpulkan niatku untuk beranjak dari kasur empukku di rumah kontrakan sederhana ku yang tidak jauh dari kampus.
Aku bangun meraih gelas yang di samping kasurku dan memencet tombol pada peghisap air galonku namun teryata air pada galonku sudah habis. Kenapa harus habis pada saat-saat begini sih, batinku mengomel di pagi hari. Kepalaku langsung mengingat-ingat sesuatu, semakin lama semakin mendekati solusi dari air galon habis ini, dan aku telah mengingatnya bahwa aku pernah dikirimi nomor kontak dari abang tukang galon yang ada di lorong sebelah. Akupun menghubunginya segera.
Sambil menunggu tukang galon tersebut aku meminum minuman jeruk yang aku sisa kemarin, hal itu agar kerongkongan tetap basah dan aku tidak dehidrasi sehabis tidur.
Akupun melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka, dan saat aku telah selesai dan membuka pintu kamar mandi, tukang galon itupun membuka pintu kontrakan dan terkejut melihat penampilanku yang berpakaian tidur dengan tidak memakai hijab, aku terkejut dan diapun begitu, mata kami terbelalak satu sama lain. Aku tersipu malu. Dia meminta maaf dan segera pulang setelah kejadian itu.
Namaku Intan Arunika seorang mahasiswi semester 4 jurusan pertanian di salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini. Selain kuliah aktivitas sehari-hariku adalah nongkrong di sekretariat Himpunan Jurusan bersama dengan teman-teman seangkatan maupun dengan adik tingkat yang aku kader kemarin. Aku adalah ketua HMJ pertanian di kampus ini. Sekret adalah tempat pelarianku setelah menjalani kuliah yang monoton, disini aku dipertemukan dengan berbagai macam watak dan sikap yang berbeda membuatku mendapat pengalaman baru yang tidak aku dapat saat sekolah dulu.
“Mau saya buatin kopi tidak Tan?’’ ucap Dika menawari.
“Ya boleh, seperti biasa tidak pakai gula ya, awas loh kalo pake gula aku semprot kopinya ke muka kamu’’ Balas ku dengan nada bercanda dan menyetujui awaran Dika.
Tiga kopi hitam sachet terhidang di atas meja. Asapnya masih mengepul saking panasnya, aku meniup-niup supaya aku bisa menikmatinya segera. Sungguh nikmat kopi hitam di sore hari yang teduh, lelah pikiran akibat tugas kuliah seakan hilang akibat efek nikmat dari kopi yang dinikmati di sekret.
Dika dan Suci asyik mengbrol di depanku, mereka adalah temanku juga penghuni setia sekret. Mereka berdua asyik bercerita tentang kebijakan birokrasi di kampus kami. Baru-baru ini bidang kemahasiswaan mengeluarkan surat edaran yang kontroversial bagi kalangan mahasiswa organisasi, bagaimana tidak jika kampus yang harusnya mewadahi mahasiswa mengembangkan potensi dirinya dengan berasaskan kebebasan berakademik malah mengebiri hal tersebut dengan mengeluarkan surat edaran yang isinya ingin mengosongkan sekret jika poin-poin pada surat tersebut tidak diindahkan.
Tak terkecuali bagi HMJ ku, ancaman tidak bisa lagi menempati sekret jelas semakin mendekatiku. Aku sebagai ketua umum sangat khawatir akan hal ini.
“Si ibu bidang kemahasiswaan makin keras aja ya?’’ kata Suci.
“Iya nih, pikiran mereka sebagai birokrasi memang akademisi banget, nggak mau melihat kita berorganisasi secara bebas di kampus’’ Balas Dika.
“Apa karena indeks prestasi dibawah 3,0 membuat seseorang tidak bisa menjadi pengurus di organisasi? Kan nggak masuk akal banget, terlebih kita di negara demokrasi, kebebasan berpendapat dan berserikat harusnya dijunjung tinggi dong bukannya diinjak-injak kayak gini?’’ Ucap Dika kembali.
Aku tertegun mendengarnya, jiwa idealisku meronta ingin melakukan protes terhadap kebijakan yang mengintimidasi kami ini.
“Kumpulin anak-anak yang lain besok, kita bahas masalah ini’’ Ucapku meninggalkan sekret menyisahkan ampas pada gelas kopiku.