Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak "Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak : "Kakak! Kakak!"
Azlen terus menyusuri setiap sudut dan lekuk rumah merah untuk mencari kakaknya. Keadaan rumah yang tamaram membuatnya merasa takut dan kesulitan mencari jalan.
Hingga akhirnya ia menemukan kakaknya di sebuah ruangan tanpa ada pintu yang menutupinya, ia melihat kakaknya sudah terbujur kaku dengan tubuh yang penuh darah.
Azlen berlari dan memeluk kakaknya, mencoba membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dari awal Azlen sudah merasa ada yang tidak beres dengan rumah ini saat kakaknya mengajaknya main disini, awalnya dia menolak, tapi karena kakaknya memaksanya, ia mau tidak mau harus menurutinya jika tidak ingin dibilang pengecut dan semacamnya.
"Kak! Bangun kak! Jangan tinggalin Azlen! Azlen butuh kakak! Kakak!!" Azlen menangis sesegukan disamping tubuh kakaknya yang sudah tidak bernyawa. Ia memutuskan untuk keluar dan mengatakan kejadian ini pada ayah dan ibu dirumah. Akan tetapi, saat ia akan keluar dari ruangan. Ia dicegat oleh seseorang berjubah hitam dengan garis merah dibawahnya. Logo serigala yang seakan sedang melolong, juga tergambar sempurna di tempat biasanya terletak name tag anak sekolah.
"Mau pergi kemana?" tanya sosok tersebut. Dapat dipastikan jika dia manusia, bukan hantu. Azlen bukanlah manusia indigo, jadi sosok di depannya pasti manusia.
"Siapa kamu?" tanya Azlen dengan rasa takut yang sudah menjalar ke seluruh tubuh.
"Namaku Gala, orang yang akan membawamu mengikuti kakakmu" jawab Gala dengan seringai seramnya. Gigi-giginya tajam seperti gigi serigala.
"Jangan! Jangan!" Azlen berjalan mundur. Sesekali menengok ke belakang, untuk memastikan lajunya berjalan. Tapi sialnya, ia malah tersandung kaki kakaknya. Ia terjatuh dan mengesot untuk menghindari Gala yang kini tengah berjalan kearahnya. Kuku-kuku Gala yang mulanya panjang layaknya kuku manusia biasa kini berubah menjadi lebih panjang, tajam dan hitam seperti serigala. Apa dia titisan serigala? Entahlah, yang ada dipikiran Azlen sekarang hanya berusaha untuk menyelamatkan nyawanya dan mengadu pada kedua orang tuanya.
"Jangan! Jangan bunuh aku!".
Sia-sia, Gala tidak memedulikan ucapannya. Ia butuh manusia, makanannya. Gala berjalan semakin dekat kearah Azlen yang sudah terpojok.
"Kata-kata terakhir?" tanya Gala dengan nada lembut penuh penyiksaan.
"Semoga kau bisa musnah!" karena ucapan Azlen yang membuat Gala marah. Gala segera melayangkan sebilah tombak setelah mengangkat tubuh Azlen dan menempelkannya ke dinding. Ia tusukan tombak tersebut dengan kerasnya tepat diperut Azlen hingga menembus ke belakang. Perlahan tapi pasti, Azlen meregang nyawa di rumah merah. Gala melepaskan cengkramannya, membiarkan tubuh Azlen menempel di dinding karena tombak yang menusuk perutnya.
Gala berjalan meninggalkan Azlen dan memakan beberapa bagian jasad kakaknya. Ia lapar, lapar sekali. Makanannya kini sedang sangat terpenuhi. Ia senang, begitu senang.
Sedangkan di rumah, kedua orang tua Azlen dan kakaknya yang khawatir karena anak-anaknya tak kunjung pulang sedangkan siang mulai berganti sore memutuskan untuk mengecek mereka di rumah merah. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat kedua anaknya sudah dalam kondisi tak bernyawa. Apalagi kakak dari Azlen, ia sudah seperti zombie. Gala hanya memakan organ dan matanya saja jika mangsanya masih dalam kondisi baru mati. Sedangkan Azlen masih seperti tadi, menempel di dinding dengan tombak yang menancap di perutnya, seperti figuran yang belum selesai di paku.
Kedua orang tua mereka menangis sedih dan melaporkan kejadian ini pada polisi dan rt/rw setempat. Polisi masih melakukan pencarian, hingga pada hari ke seribu kematian Azlen dan kakaknya. Polisi menemukan seseorang yang terbujur kaku dengan kondisi seperti serigala di ruangan di mana Azlen dan kakaknya meninggal. Dia Gala, dia sudah meninggal karena di bunuh oleh seseorang. Siapa yang membunuhnya? Tidak ada yang tahu.
Rumah merah itu kini dipagari dengan pagar listrik tinggi, sekitar tiga kali tinggi orang dewasa. Pagar yang di pesan khusus untuk mengamankan rumah tersebut. Di bawah pagar tersebut juga di tambahi batang pohon buah salak untuk meningkatkan keamanan. Kedua orang tua Azlen dan kakaknya memutuskan untuk pindah.
____________________TAMAT______________________