"Tidaaaaakkkk.. jangan.. jangan..tolooong..tolooong...," teriak seorang gadis dalam ketakutannya yang sangat.
"Hahahaha.. diam gadis manis.. jangan melawan. Lebih baik diam saja, dan nikmati saja," rayu seorang bandit tua yang sudah terpengaruh alkohol.
"Udah, jangan banyak omong. Sikat aja
Mumpung sepi. Apalagi malam malam begini, mana dingin lagi. Nemu cewek cantik gini hari, itu berkah," seloroh satu orang lagi dengan jalan sempoyongan dan lagi, bau alkohol di mulutnya.
"Dieemm, setan. Biar gua nikmati dulu muka ketakutannya. Udah gitu baru gua pake nih bocah. Hahaha,"
"Gua dulu, setan yang make..kan gua yang nemu duluan ini bocah. Kenapa jadi lu yang ngeduluin bangs*t," kawannya bandit tak mau kalah.
"Dieeeem lu!!!
"Ampuuun bang.. ampuuuun.. jangan sakitin aku, bang. Aku cuma mau pulang. Hiks..hiks..," berkata gadis itu sembari meringis ketakutan dengan posisi terduduk dan dengan tubuh gemetaran.
"Apa lu bilang? Ampun? Enak aja lu bocah. Kita udah capek capek seret lu ke semak semak gini, lu bilang ampun? Nanti dulu, setelah lu puasin kita berdua, baru lu boleh pulang," bandit tua mengintimidasi dengan muka mes*m dan sembari membuka resleting jeansnya yang lusuh.
"Jangan bang.. jangan.. lepasin aku bang," iba gadis itu menutup mukanya sembari terus mundur ke semak semak. Tapi naas, usahanya gagal, karena punggungnya terpentok batang pohon yang besar.
Kedua lelaki itu terus mendekati gadis itu bersama nafsu yang membuncah sampai ubun ubun.
Tak lama kemudian, bandit tua itu mulai berjongkok, lalu mendekati gadis itu. Sesaat kemudian badannya sudah mulai menindih gadis itu di semak semak.
"Akkhhhkk..." teriak gadis itu seraya menendang dan memukul lelaki itu. Tapi apa daya, tenaga lelaki itu jauh lebih besar dibanding gadis malang itu. Tak lama kemudian, lelaki itu membentangkan kedua tangan gadis mencoba membuka kancing gadis itu tanpa melepaskan jilbabnya.
Gedebug..
Tiba tiba kawan bandit itu jatuh pingsan tanpa suara teriakan.
Bandit itu terkejut mendengar suara jatuh dan segera menunda aktifitas laknatnya itu sembari menoleh ke belakang ke arah kawannya yang terjatuh.
Ketika dia menoleh ke belakang. Tiba tiba dia melihat sesosok bayangan hitam yang tidak jelas mukanya karena terhalang masker.
"Sapa lu, berani beraninya ganggu kesenangan kami," hardik bandit itu sambil berdiri dan menghadap orang misterius itu.
Tak lama kemudian, orang misterius itu berlari kecil ke arah kanan, dengan maksud menghidari gadis itu sedikit lebih jauh, agar lebih leluasa berkelahi dengan manusia tanpa adab itu.
"Mau lari kemana lu, setan kecil," teriak bandit itu seraya mengejar orang misterius itu.
Tak berselang lama, bandit itu berhenti, karena melihat orang itu sedang berdiri memunggunginya.
"Akhirnya lu berhenti juga, b*jing*n," gerutu bandit itu.
Orang misterius itu diam saja tak berkata, lalu membalikkan badannya agar berhadapan dengan bandit tua itu.
Bandit tua itu mulai tak sabar, lalu melepaskan sabuk di celananya sebagai senjata.
Orang misterius itu tetap berdiri dengan santainya.
"Nyari mati lu ya. Ciiiaaattt," bandit itu meloncat sembari mengayunkan sabuknya ke arah orang misterius itu.
Tak pelak, sebelum sabuk itu menyentuh tubuh orang misterius itu, sebuah tendangan belakang telak mengenai muka bandit itu.
Sedetik kemudian, robohlah tubuh bandit tua itu.
"S*al*n.." maki bandit itu menunjuk lelaki misteriua dan berusaha berdiri, tapi gagal dan malah dia pingsan karena tak kuasa menahan nyeri di hidung dan mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Badan doang lu gede, berantem kagak bisa," cerocos lelaki misterius itu sambil menyepak kaki bandit itu perlahan.
Lalu..