Waffy adalah gadis berusia 15 tahun. Ia kini hanya tinggal bersama pelayannya yang sangat setia pada keluarganya. Ibu Waffy meninggal sebulan yang lalu dengan kematian yang mendadak. Pihak rumah sakit mengatakan ibunya terkena serangan jantung. Sedangkan ayahnya kini justru sudah menikah lagi dengan seorang wanita yang ternyata selama ini adalah selingkuhannya semasa ibunya masih hidup.
Ayah Waffy kini tinggal di rumah baru bersama keluarga barunya, sedangkan Waffy tidak diinginkan ayahnya sendiri dengan alasan takut mengganggu ketenangan keluarga barunya.
Sungguh menyakitkan bagi Waffy karena tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri. Pelayan yang setia inilah yang meminta pada ayah Waffy untuk menjaga dan membesarkannya.
Malam itu, Waffy tak bisa tidur. Ia terus mengingat kematian ibunya yang secara mendadak. Ia membuka matanya lalu turun dari ranjangnya. Waffy keluar dari kamarnya menuju ruangan kosong tak berpenghuni. Rumah besar itu menjadi lengang setelah keluarganya menjadi hancur.
Waffy melangkahkan kakinya dengan perlahan, ia tak ingin membangunkan pelayannya. Tapi Waffy justru terkejut saat memasuki ruang keluarga. Mbok Yuk ternyata masih terjaga dan sedang menonton televisi sendirian.
"Mbok..." sapa Waffy.
Mbok Yuk seketika menoleh ke belakang. "Loh... non...Kok belum tidur?" tanyanya.
Waffy mendekati wanita separuh baya itu dengan langkah yang lemah. Wajahnya tertunduk lesu dan sangat terlihat sedih.
"Ada apa non cantik?" tanya mbok Yuk lagi.
Waffy duduk di samping wanita itu seraya menyenderkan kepalanya di bahu mbok Yuk. "Aku kangen sama mama." jawabnya sedih.
Mbok Yuk mengusap kepala Waffy dengan lembut. "Masih ada mbok disini. Non jangan sedih lagi."
"Mama kenapa sih pergi tidak pamit atau mengajak Waffy sekalian."
"Huuussss... tidak boleh bicara seperti itu. Jika non ikut kembali ke pangkuan Tuhan. Lalu mbok Yuk bagaimana?"
"Waffy tidak diinginkan. Papa bahkan..." suara Waffy mulai bergetar, tangisannya kembali meledak sebelum menyelesaikan ucapannya.
Dengan sigap mbok Yuk memeluk gadis itu. "Ya Allah non... jangan bersedih lagi. Mbok yakin setelah non besar nanti, non pasti akan mendapatkan kebahagiaan kembali. Biarkan Tuhan yang membalas semua perbuatan papa."
"Waffy tidak mengganggu, Waffy janji tidak akan mengganggu. Tapi papa tetap saja tak mau membawa Waffy bersamanya." ujarnya masih terisak.
"Masih ada mbok Yuk, mbok sangat menyayangi non Waffy." jawab wanita itu.
Waffy mengangkat kepalanya, ia menatap mbok Yuk dengan tatapan sedih. "Mbok janji ya tidak akan pernah meninggalkan Waffy sendirian."
Mbok Yuk menghapus air mata Waffy dengan jari keriputnya. "Tentu saja, gadis cantik seperti ini bagaimana bisa mbok tinggalkan."
"Tapi mbok, Waffy hanya punya sedikit tabungan. Waffy pasti tidak bisa bayar gaji mbok selamanya." ujarnya polos.
Mbok Yuk tersenyum. "Tunggu sebentar." ujarnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
Waffy menatap wanita itu yang memasuki kamarnya. Ia menunggu beberapa menit sampai akhirnya mbok Yuk kembali menemuinya. Wanita itu duduk kembali di samping Waffy lalu menyerahkan amplop coklat pada Waffy.
"Non bukalah." perintah mbok Yuk.
Waffy masih kebingungan, tapi ia akhirnya membuka amplop coklat itu. Ada 2 tabungan atas namanya dengan jumlah dana yang fantastis.
"Apa ini?" tanya Waffy.
Bersambung...