Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumh merah di dekat rumahnya.
Kakaknya meminta Azlen untuk tinggal diluar, sedangkan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba Kakaknya berteriak "Ah" , dan tidak bersuara lagi. Azlen berteriak "Kakak! Kakak! "
Azlen lantas memutuskan masuk ke dalam, memberanikan diri meski sebenarnya ia begitu takut, apalagi hari sudah mulai senja. Ia mulai menaiki anak tangga, mencari kakaknya di setiap ruangan, Namun ia malah tertuju pada satu ruangan yang berada di ujung.
Ia begitu tertarik dengan bunyi piano yang dimainkan dengan merdunya, Ada gadis yang tengah memainkan piano itu, gadis itu menoleh pada Azlen lantas menghilang.
Azlen yang begitu ketakutan lantas berlari menuju keluar rumah, anehnya pintu yang semula tak terkunci tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Azlen terus menggedor pintu dengan paniknya, Sampai ia lupa dengan tujuan utamanya.
Azlen terus menggedor pintu, ia dikagetkan dengan sosok pria paruh baya yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Azlen lantas berteriak dengan kencangnya.
" ahh... A... Ampun" ucapnya sambil menutup mata, badannya bergetar ketakutan.
" dek kamu gpp" ucap sang kakak yang mencoba menenangkannya.
" kak, kita pulang yuk, aku takut" rengek azlen.
" abis ini kita pulang" ucap sang kakak.
******
" maaf ya pak, kami jadi menganggu" ucap kakak azlen pada pria paruh baya itu.
" tak apa, jarang yang mau mampir kesini" ucap laki-laki itu.
" oh ya, saya azka, ini adek saya azlen" ucap azka memperkenalkan.
" saya pak iwan, saya sudah kenal kalian kok yang baru pindah minggu lalu kan." ucapnya lalu tersenyum.
" iya pak, oh ia bapak tinggal disini berdua doang? " tanya azka kembali. Azlen dari tadi hanya memperhatikan sekitar, sesekali menyimak pembicaraan mereka berdua.
" silahkan diminum dulu" tawar pak iwan. Mereka hanya mengangguk dan sesekali tersenyum.
" sebenarnya saya tinggal sendiri" ucap pak iwan yang membuat mereka berdua terkejut.
" lantas gadis itu? " tanya azlen, sambil menunjuk kursi kosong.
" mungkin kalian bertemu dengan almarhum anak saya, Namanya sara. Dia memang sering mengajak orang baru untuk bermain" ucapnya.
" oh begitu" jawab azka seolah paham dengan ucapan pak iwan.
" maafin anak saya ya, dia memang begitu. Kalo masih hidup mungkin seusia kalian"
" mohon maaf, anak bapak meninggalnya kenapa? " tanya azlen sungkan.
" dia jatuh dari lantai 3 saat bermain" ucap pak iwan yang terlihat merasa bersalah.
Mereka mengobrol lumayan lama, Mereka akhirnya pamit pada pak iwan dan gadis kecilnya, gadis yang hanya bisa di lihat oleh azlen dan azka saja. Semenjak kepindahan mereka seminggu lalu, mereka berdua sebenarnya sudah mulai penasaran dengan sosok gadis kecil yang sering tersenyum dan melambaikan tangan padanya.