Saat mengingat kejadian hari itu rasanya hatiku sangat sakit bagai digores puluhan pisau secara bersamaan. Hari itu semua orang yang sangat kupercayai menghianatiku. Kutulis kata demi kata, baris demi baris kejadian hari itu dengan air mata yang terus membanjiri pipiku.
Kubulatkan tekadku kuambil sebuah benda panjang, pipih, dan lancip dari dapur. Kututup pintu kamarku rapat-rapat. Kutulis beberapa pesan lewat smart phoneku kepada Ayah dan ibuku, teman-temanku, dan orang yang menghianatiku. Kutulis juga sebuah pesan diselembar kertas menggunakan bolpoin merah.
Kutarik napasku dalam-dalam, kupejamkan mataku, dan kutarik bibirku tinggi-tinggi. Kutancapkan benda yang kuambil dari dapur tadi keperutku. "Terimakasih atas semuanya", ucapku lirih dengan senyum yang masih menghiasi bibirku.
Cairan merah kental keluar dari bekas tusukan itu. Tubuhku ambruk dan pandanganku memburam. Cairan merah kental itu semakin banyak bahkan sampai menggenang dilantai kamarku. Lama kelamaan kepalaku menjadi sakit dan pandanganku semakin memburam. Lalu kegelapan mulai menggampiriku.
TAMAT