1
Sejak pulang dari Jakarta dengan membawa kegagalan dan luka hati yang teramat dalam, hari-hari yang berempedu dilalui Rina. Gadis yang berbadan dua itu menjadi pemurung sepanjang hari. Jarang sekali memperlihatkan senyumnya yang semanis dulu. Jarang seceria waktu lalu. Bahkan sekarang dia jadi merasa gampang rendah diri. Dia pun jadi menjauhi teman-teman pergaulan yang terdekat sekalipun.
Aku harus menggugurkan bayi ini. Aku tidak ingin membuat malu nama baik keluargaku. Itulah tekad Rina, karena sudah tak punya harapan lagi untuk minta perlindungan siapapun. Jangankan minta perlindungan, memberi tahu keadaannya yang hamil saja sudah memalukan. Lantas bagaimana caranya dia bisa menggugurkan bayinya itu?
Setiap, hari dia termenung memikirkan nasib- nya. Nasib yang tidak berketentuan lantaran hamil diluar pernikahan. Lelaki yang diharapkan ternyata ingkar dari tanggung jawabnya. Sementara ayah dan ibunya tidak mau lagi mengurursnya. Sedih sekali nasib yang dia alami. Tapi semuanya itu memang kesalahannya. Penyesalan itu datangnya memang selalu terlambat.
Ya, sekarang Rina menyesal. Tidak sedikit pengorbanan Rina terhadap Gunawan. Rumah pemberian ayahnya sudah terjual. Belum lagi uang ayahnya yang dipakai untuk keperluan Gunawan membeli buku-buku. Membiayai lelaki itu dalam banyak hal. Sampai mendapat titel, kemudian uang sogokan supaya bisa diterima bekerja di kantor, di Jakarta. Tapi sekarang, balasan yang diterima dari lelaki itu terlampau kejam. Agaknya. inilah ironisnya kehidupan seorang gadis desa. Orang tuanya kaya. Terkenal sebagai pengusaha tembakau dan cengkeh. Punya perkebunan luas. Tapi nasibnya cuma dijadikan batu loncatan oleh Gunawan untuk meraih cita-citanya. Rina yang lugu dan polos telah menjadi korban janji palsu. Rina yang belumbtahu kemunafikan cuma percaya rayuan gombal Gunawan. Nyatanya semuanya itu menjadikan nasib gadis desa ini tak berktentuan. Hilang semua kepercayaan pada diri sendiri.
Dan di sore yang murung itu, semurung wajah Rina. Dia sudah punya tekad untuk menggugurkan bayi itu. Maka tanpa pikir panjang lagi, dia pergi ke dokter.
"Sakit apa. Dik?" tanya dokter itu.
"Saya..." ucapan Rina tehenti. Keronkongannya bagai tersekat.
"Kenapa?"
Rina menundukkan muka. Malu bersitatap dengan dokter itu.
"Saya hamil," suaranya lirih. "Jadi mau periksa kehamilan? Sudah berapa bulan terlambat menstruasinya?"
"Empat bulan."
Dokter itu bangkit dan menganjurkan Runa untuk berbaring di atas tempat tidur. Tapi Rina menggelengkan kepala dengan wajah gelisah. Dokter itu jadi heran.
"Ada apa?"
"Saya... saya ingin menggugurkan janin dalam perut saya, Dok," kata Rina dengan suara terbata.
Dokter terperanjat mendengar permintaan Rina.
"Di mana Suamimu?"
Rina menggelengkan kepala. Kedua matanya sudah merembes air mata.
"Jadi kamu hamik sebelum menikah?"
Rina mengangguk sembari terisak.
"Saya tidak mau melakukan itu. Menggugurkan bayi dalam kandungan adalah perbuatan keji dan berdosa."
"Tapi dokter, tolonglah saya. Saya malu dan takut diketahui orang tua," pinta Rina memohon belas kasihan.
"Saya tetap tidak mau menolong."
"Dokter, saya mohon belas kasihan. Tolonglah saya," isak tangis Rina makin berkepanjangan.
Dokter itu merasa iba. Lantas dipegangnya bahu Rina lembut.
"Betapa kejamnya seorang ibu yang tega membunuh bayi dalam kandungannya. Bayi uang tanpa dosa."
"Saya tahu hal itu, Dokter. Tapi tidak ada jalan lain, karena lelaki yang menghamili saya tidak mau bertanggung jawab. Tidak mau mengakui bayi ini. Saya tidak ingin setalah bayi ini lahir, mendapat hinaan dari orang lain, sebagai anak jadah, anak haram," kata Rina sembari bangkit dan mengusap air matanya.
"Dengan menyesal sekali saya tidak bisa membantumu."
Rina menelan air ludahnya yang dirasa amat getir. Lalu dia meninggalkan kamar periksa itu. Beberapa, pasien yang duduk menunggu giliran sempat memandang Rina. Sempat melihat Rina yang keluar dari kamar periksa dengan raut yang sedih. Kecewa.
Sekarang apa yang musti dilakukan. Helaan napas Rina tersendat sembari melangkah. Kepada siapa dia minta tolong. Di sepanjang jalan yang sepi itu dia tampak melangkah sendiri. Angin senja yang meniup menyapu kesedihan di wajah Rina. Di antara kesedihan, pikirannya terus melayang. Dia mengingat satu teman ke teman lainnya. Barangkali satu di antara mereka ada yang bisa memberinya jalan. Memeberinya petunjuk bisa menggugurkan kandungannya. Mendadak terlintas dalam pikirannya. Erna. Ya, Erna. Barangkali sehabatnya itu bisa memberi pertolongan. Dia mengenal sifat sahabatnya itu. Sebab selama ini Erna pun tahu jalinan hubungannya dengan Gunawan. Tapi di hati Rina tetap ada rasa malu yang menyelimuti. Tak lain soal dia mengandung atas perbuatannya dengan Gunawan. Siapa pun tak akan menyangka, Rina yang terkenal pendiam, Rina yang tak pernah meninggalkan shalat lima waktu, sampai melakukan perbuatan zinah dan mengandung.
Lebih baik malu menghadapi seseorang, ketimbang semua orang akhirnya tahu. Nama baii keluargaku yang terkenal taat pada agama dan disegani penduduk di desa jadi bahan cemoohan. Biarlah apa pun yang akan terjadi kutanggung sendiri.
Agak jauh rumah yang dituju. Kendati Rina sengaja menempuhnya dengan berjalan kaki. Dia mengayunkan langkah sembari merenungi nasib- nya. Memikirkan sikap kedua orang tuanya yang selama inu tidak pernah memperhatikan. Apalagi sampai menegurnya. Dan terlintas bayangan wajah Gunawan bersama istrinya. Wajah yang munafik dan menyebalkan.
Maka Rina berusaha mengusir semua bayangan dari kepalanya. Sementara dendam yang membara mengobrak-abrik hatinya. Takkan kucari lelaki itu. Takkan kukenal lagi bajingan itu.
Dan tanpa disadari ayunan langkahnya sampai di depan ruman Erna. Ada semacam kebimbangan bercampur keragu-raguan. Mau menemui Erna atau tidak? Kalau tidak berarti harus menanggung malu. Sedangkan kalau ya, tetap juga malu. Namun malu mengutarakan kepada Erna tidaklah melebihi malu kepada semua orang. Baik. Akan kutemui Erna.
Baru saja menginjak teras rumah, Erna telah ke luar.
"Haii... Rina. Apa kabat?" sapa Erna girang sekali.
Rina memaksakan diri untuk tersenyum. Dia mengamati gadis itu dengan sorot mata sendu. Lalu segera menarik lengannya dan mengajak duduk di badukan teras rumah setinggi setengah meter. Tembok yang memang sengaja dibuat mengelilingi teras untuk duduk santai.
"Aku mau minta tolong," kata Rina dengan binar-binar mata basah.
"Soal apa?"
Rina mengedarkan pandangan sesaat ke dalam rumah Erna. Tak ada orang yang tampak satupun.
"Kemana orang tuamu?"
"Sedang pergi ke Tegal. Ke rumah paman. Kenapa sih?"
Rina menarik napas berat. Dia tertunduk sambil menimbang-nimbang lagi. Kuutarakan atau tidak? Pikirnya masih ragu-ragu.
"Apakah kau sudah dengar kalau Gunawan menikah dengan gadis lain?" tanya Rina tanpa disadari. Seolah-olah ucapannya itu begitu saja ke luar.
Erna terperangah. "Kau tahu dari siapa?"
"Aku... aku menyusulnya ke Jakarta. Pak Sadikun yang memberiku alamat. Lantas aku membujtikannya ke sana. Tak tahunya dia sudah menikah. Hidupnya sekarang kaya. Pantas kalau dia melupakan aku."
"Tidak kusangka," desah Erna.
"Kurasa sejauh mana hubunganku dengan Gunawan kau tahu betul. Soal dia sekejam itu padaku, aku rela. Tapi ada suatu hal yang memberatkam pada diriku. Maukah kau menolongku, Erna?" suara Rina mulai parau.
"Tentu saja aku mau, asalkan bisa melakukannya. Soal apakah itu?"
"Aku harap jangan ceritakan kepada siapapun hal ini. Cuma kau saja yanga tahu. Maukah kau berjanji?"
Erna mengangguk. Dia memperhatikan di kedua mata Rina mulai menangis. Perasaan Ertna jadi ikut sedih.
"Aku sudah hamik empat bulan," suara Rina lirih di sela isaknya. Erna jafi terkejut.
"Itu hasil hubunganmu dengan Gunawan?"
"Ya."
"Rina, Rina... Kenapa hal ini sampai terjadi? Itukah pengorbananmu terhadap Gunawan?"
"Aku menyesal. Pengorbananku sia-sia. Maka bisakah kau memberi petunjuk bagaimana aku bisa menggugurkan kandunganku ini?"
Erna terbelalak.
"Menggugurkan kandunganmu? Kau tega berbuat begitu?"
"Demu nama baik keluargaku. Demi kelangsungan hidupku agar tidak semakin dibenci orang tuaku. Aku tidak tahu apa yang akan terkadi, cuma kengerian yang ada dalam benakku. Pasti aku akan diusir dari rumah dan tidak akan diakui lagi sebagai anaknya. Aku sudah banyak menghabiskan uang ayahku. Rumah pemberian ayahku ikut terjual hanya demi pengorbananku terhadap Gunawan. Dan kalau mereka tahu aku mengandung atas perbuatan Gunawan, sedangkan Gunawan sudah menikah dengan gadis lain, apa jadinya, Erna? Apa jadinya?" tutur Rina dengan terisak-isak.
Erna jadi ikut menangis. Dipeluknya Rina bagai ikut merasakan penderitaan sahabatnya itu.
"Kau sudah mencoba minta tolong kepada dokter?"
"Dokter itu menolak. Barangkali saja kau tahu di mana ada dukun pijit yang bisa menggugurkan kandunganku. Tolong aku. Erna."
Erna sesaat diam. Dia memang kenal seorang. dukun pijat bayi. Rumahnya tidak begitu jauh. Tapi apakah dukun itu bisa melakukannya?
"Aku memang kenal seorang dukun pijat. Tapi dia bisa melakukan itu atau tidka?" desah Erna bimbang. "Sebab yang kuketahui, sewaktu kakakku hamil waktu itu jatuh terpeleset di kamar mandi. Lantas perutnya sakit. Dukun pijat itulah yang mengurutnya sampai kembali baik."
"Kalau begitu kita coba saja ke sana. Kau mau mengantarku ke sana bukan?"
"Tentu. Kau maunya kapan?"
"Sekarang juga. Aku takut kalau lama-lama orang tuaku jadi tahu."
"Baiklah. Tunggu sebentar aku beri tahu adikku," kata Erna sembari bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Rina duduk menunggu dengan perasaan sedikit lega. Dia berdoa semoga dukun pijat itu bisa menolongnya. Tak ada jalan lain lagi yang diharapnya baik, selain bisa menggugurkan kandungannya. Sekalipun itu perbuatan dosa. Erna ternyata cuma berpamitan pada adiknya. Setelah itu bersama Rina meninggalkan halaman rumah.
Di sepanjang jalan kampung, angin menerpa- nerpa dingin sampai ke dalam pori-pori kulit. Rina tidak merasakan hal itu. Yang dirasakan cuma kegetiran hidupnya. Bahkan sekalipun malam itu turun hujan, dia tak peduli. Dia harus bisa bertemu dengan dukun pijat itu. Harus bisa menggugurkan kandungannya.
"Apakah kau tidak beri tahu Gunawan hal ini?" tanya Erna sambil mengayunkan langkah. Memperhatikan Rina sesaat.
"Sudah."
"Lantas tanggapannya bagaimana?"
"Dia tidak mengakui. Di depan istrinya dia berlagak alim dan dermawan. Tak kusangka Gunawan semunafik itu. Bahkan mereka menuduhku ingin memfitnah dan menghancurkan rumah rangga mereka. Apakah ini tidak terlalu menyakitkan? Mereka malah tega mengusirku," tutur Rina. Setetes air mata jatuh di sudut matanya. Buru-buru siusapnya. Dia berjalan menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya. Menatap jalanan pasir yang hendak dipijaknya. "Makanya aku bertekad untuk menggugurkan kandunganku ini, dari pada akhirnya menanggung mali. Dan anak itu lahir tanpa ayah."
"Mudah-mudahan dukun pijat itu bisa melakukannya. Itu rumahnya..." Rina menunjuk sebuah rumah yang agak reyot.
Rumah itu dihunu seorang perempuan tua yang rambutnya sudah memutih. Badannya kurus. Dan perrmpuan itulah yang menyambut kedatangan Rina bersama Erna.
"Selamat malam, Mbah."
Perempuan tua itu menyambutnya terkekeh.
"Mari silahkan masuj. Oo, Erna. Sama siapa?"
"Teman saya, Mbah."
Mereka diterima oleh Sarti perempuan tua itu dengan duduk di balai.
"Ada perlu apa?" tanya Sarti.
"Teman saya ini mau minta tolong, Mbah."
Sarti mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah agak kabur sembari memperhatikan Rina.
"Temanmu ini cantik sekali, Erna."
Sarti terkekeh lagi.
Sedangkan jantung Rina berdebar-debar.
"Cepat bicarakan," kata Rina mendesak Erna agar cepat-cepat mengatakannya.
"Teman saya ini hamil, Mbah. Tapi dia minta tolong supaya bisa digugurkan kandungannys," kata Erna berbisik di telinga perempuan tua itu.
Sarti terjengah.
"Sudah berapa bulan umur kandunganmu?" tanya Sarti.
"Empat bulan, Mbah."
Sarti manggut-manggut.
"Suaminya mana?"
Rina menggeleng.
Sarti senyum-senyum. Mengerti kalau gadis itu hamil di luar nikah. Rupanya perempuan tua ini sudah sering menghadapi hal-hal semacam itu.
"Saya minta tolong supaya embah mau menggugurkan kandungan saya. Saya takut diusir orang tua, Mbah," pinta Rina memohon belas kasihan.
"Iya, iya. Berbaringlah di sini. Tapi sebelumnya apakah sudah kau pikirkan masak-masak?"
"Sudah, Mbah." Rina membaringkan tubuhnya di atas balai.
"Kuat menahan sakit?"
"Saya sudah pasrah, Mbah. Lakukanlah..."
Sarti masuk ke kamarnya. Sedangkan Rina yang berbaring di atas balai memandang Erna. Di mata Rina mengalir air mata. Dan pandangan Rina seolah-olah minta kekuatan pada Erna. Sehingga Erna ikut menangis sedih dan cemas.
"Kuatkan hatimu, Rina. Karena menggugurkan kandungan adalah sisksaan rasa sakit yang teramat berat," kata Erna sambil memegangi kuat-kuat jemari tangan Rina.
"Betapapun sakitnya, aku pasrah, Erna. Dan bila sampai terjadi apa-apa, secepatnya bawa aku ke rumah sakit. Tapi jangan ceritakan kepada siapapun kalau keadaanku hamil." Pinta Rina sembari menahan isaknya. Air matanya terus mengalir. Erna membasuh dengan sapu tangannya.
Sarti datang membawa bak berisi ramuan- ramuan yang tidak diketahui oleh Rina. Lantas sesaat perempuan tua itu membuatkan segelas air sesaat perempuan tua itu membuatkan segelas air minuman yang harus diminum oleh Rina.
"Ini diminum dulu," perintah Sarti.
Tanpa ragu-ragu lagi Rina menerima gelas yang berisi air yang dicampur ramuan-ramuan. Sambil memejamkan mata, diminumnya jamu itu. Tangannya gemetar sewaktu meneguk minuman itu sampai habis. Lalu dia berbaring lagi. Rasa pahit menyerang tenggorokannya.
"Tolong tutup pintu rumah."
Erna melakukan perintah Sarti. Setelah itu dia duduk di sebelah Rina yang disuruh membuka pakaiannya. Erna ikut membantunya. Dan detik-detik yang mencemaskan akan segera berlangsung, Rina terlebih dahulu berdoa sebelum perempuan tua itu memijit perutnya. Rina menahan napas ketika tangan Sarti sudah mulai menyentuh perutnya. Semula pelan-pelan jari tangannya mengurut perut Rina. Tapi setelahnya, tubuh Rina jadi kejang lantaran menahan rasa sakit. Dia tak mau melepaskan pegangannya pada tangan Erna. Keduanya saling berpegangan kuat-kuat. Sedangkan tubuhnya menggeliat-geliat kenjang keringan semakin deras membasahi tubuhnya.
Suara rintihan Rina bagai menyayat-nyayat hati Erna.
Tuhan, lindungilah dia. Selamatkan dia yang sudah banyak menderita, doa Erna sambil meneteskan air mata. Tak tega melihat Rina yang sedang memerangi rasa sakitnya.
Oh Tuhan, betapa sakitnya. Selama hidup baru sekali ini Rina mengalami rasa sakit yang begini berat. Seolah-olah perutnya dilindas bouldoser dan diremas-remas oleh mesin yang ujungnya meruncing. Dan jiwa Rina bagai terbang melayang, sementara desah napasnya tersedat-sendat. Bagai dicekik.
Kemudian Rina tak ingat apa-apa lagi. Puncak dari segala rasa sakit telah dialami. Sekarang gadis itu tergolek bagai tak berdaya lagi. Pegangan pada tangan Erna semakin mengendur dan akhirnya terlepas. Erna memekik tertahan dan menubruk kepala Rina. Dia menangisi sahabatnya yang malang itu. Sementara itu Sarti menarik napas lega. Segumpal darah yang berbentuk bayi kecil telah berhasil dikeluarkan dari perut Rina.
"Bagaimana keadaan Rina, Mbah?" tanya Erna dilanda cemas dan ketakutan.
"Tenang saja. Dia cuma pinsan."
Sarti dengan cekatan membersihkan darah yang ada di balai.
Waktu terus berlalu, namun tak ada tanda-tanda kalau Rina akan segera sadar. Bahkan hingga larut malam tiba. Rina belum juga siuman. Semua itu membuat Erna bertambah cemas dan ketakutan. Apalagi ketika diperhatikan muka sahabatnya pucat bagai tak dialiri darah. Pada jari-jari tangannya mulai membiru.
"Mbah, bagaimana kalau sebaiknya dia kubawa saja ke didokter. Lihat, semua badannya sudah mulai membiru. Lihat, Mbah," kata Erna gemetar.
"Tenang saja, tidak apa-apa."
"Tapi dia bisa mati nanti, Mbah. Biar sekarang juga akan saya bawa dia ke rumah sakit."
"Ini hari sudah larut malam. Besok pagi-pagi saja kita bawa dia ke rumah sakit."
Sebenarnya Erna sudah tak bisa menunda lagi keinginannya. Tapi ingat hari sudah tak bisa menunda lagi keinginannya. Tapi ingat hari sudah larut malam, susah mencari kendaraan untuk membawa Rina ke rumah sakit, maka yang bisa dilakukan cuma berdoa sambil tak henti-hentinya memandang dada Rina. Jika dada itu masih bergerak naik turun, berarti Rina masih hidup. Dan jari tangannya tak mau lepas memegangi urat nadi di tangan sahabatnya. Kalau masih berdenyut maka hati Erna agak lega. Kendati begitu masa tegang terus saja di lalui sampai menunggu matahari terbit. Dan begitu matahari terbit, tanpa membuang waktu lagi Erna dibantu Mbah Sarti membawa Rina ke rumah sakit.
***
Angin yang berhembus sejuk menerobos masuk melalui jendela yang terpentang. Gordin yang berwarna putih bergoyang-goyang karena hembusannya. Aroma bunga ikut menyeruak bersama hembusan angin dan terhirup oleh napas Rina yang kala itu sudah terbaring di sebuah kamar rumah sakit. Lantas dihirupnya sekali lagi udara itu sepenuh dadanya. Perlahan dia membuka kelopak matanya dan menatap langit-langit kamar. Lalu menoleh ke samping dilihatnya Erna duduk menungguinya. Dan Erna melepaskan senyuman gembira.
"Dimana aku sekarang?" tanya Rina yang suaranya lemah.
"Ada di rumah sakit."
"Kandunganku?"
"Sudah digugurkan," kata Erna lirih.
Sepasang mata Rina yang kuyu itu mengalirkan air mata lagi. Masih dirasakan sisa-sisa sakit di dalam kandungannya. Masih terbayang saat-saat yang teramat menyiksa itu. Dan semuanya itu hanya karena Gunawab. Lelaki itulah yang membuatnya jadi menderita seperti sekarang ini. Menjadi seorang ibu yang teramat kejam membunuh bayinya. Menjadi seorang ibu yang teramat berdosa.
Erna mengusap air mata yang membasahi pipi Rina.
"Bagaimana keadaan tubuhmu?"
"Kandunganku masih sakit. Tubuhku lemas sekali," kata Rina setengah mengeluh dengan napas agak tersedat-sendat.
"Bersyukurlah tidak sampai terjadi apa-apa pada dirimu."
Rina cuma bisa mengangguk. Air matanya terus merembes.
"Kau sudah memberi tahu keluargaku?"
"Belum,"
"Memang sebaiknya jangan. Mereka tidak perlu tahu apa pun yang terjadi pada diriku."
"Lalu soal biaya perawatanmu selama di sini siapa yang akan membayar?" tanya Erna.
Rina termenung. Dibuang pandangannya ke luar jendela. Di luar matahari bersinar terik. Pohon flamboyan daunnya melambai-lambai digoyang-goyangkan angin. Lantas pikiran Rina tertuju pada adiknya. Rani. Hanya Rani yang bisa menolong membayar biaya selama dia dirawat di rumah sakit ini.
Rina mengalihkan pandangan ke Erna lagi. Dia melihat sepasang mata Erna yang kuyu selalu bergenang air mata. Pasti semalaman dia tidak tidur menunggui dirinya sampai sadar. Kasihan Erna. Dia memang sahabat yang baik.
"Maukah kau menemui Rani?"
Erna mengangguk.
"Beri tahu dia dan suruh datang kemari."
"Sekarang?"
"Terserah kau."
"Sebaiknya sekarang saja," kata Erna sembari bangkit.
"Tunggu dulu."
Erna menahan langkahnya. Memandang wajah Rina yang pucat bagai kapas itu.
"Tadi kau beritahu dokter, aku sakit apa?"
"Hanya mengalami pendarahan."
"Tidak bilang aku menggugurkan kandungan?"
"Tidak."
Bibir Rina yang pucat tersungging senyuman. Baru kemudian Erna melangkah pergi. Meninggalkan kamar yang dihuni Rina yang menyusuri lorong rumah sakit. Semua kejadian yang dialami Rina bisa merupakan contoh, bahwa hal itu jangan sampai terjadi pada dirinya.
Erna ke luar dari gedung rumah sakit. Langkahnya agak lesu karena keletihan. Perutnya juga perih lantaran dari semalam dia belum makan. Semuanya itu dilakukan hanya untuk menolong sahabatnya. Merasa kasihan pada nasib Rina yang telah menjadi korban rayuan dan janji palsu Gunawan.
Erna lantas naik omprengan menuju Bumiayu. Selama di perjalanan dia memanfaatkan waktu yang beberapa puluh menit itu untuk tidur. Dia tidak perduli dengan penumpang lainnya. Karena rasa kantuknya sudah tak bisa ditahan lagi.
Kenek mobil itu membangunkan Erna. Erna kaget dan cepat terbangun. Dia melangkah turun ketika mobil itu sudah berhenti di dekat lapangan sepak bola. Lalu Erna naik becak menuju ke rumah Rani.
Becak itu berhenti di depan rumah Rani. Erna segera turun dan melangkah menuju teras rumah. Kebetulan Rani ada di luar, pikir Erna yang menuju ke teras. Sembari melangkah dia mengedarkan pandang ke sekeliling, khawatir ada ayah Rani.
"Rani," panggil Erna sembari menghampiri.
"Mbak Erna. Wuaah sudah lama tidak pernah main kemari ya?"
"Di rumah selalu repot," Erna duduk di sebelah Rani.
"Mau ketemu kak Rina?"
Erna menggeleng.
"Aku perlu sama kau."
"Aku?" Rani agak heran.
"Ya."
"Ada apa, Mbak?"
Rina sekarang ada di rumah sakit, kau diminta untuk datang ke sana," kata Erna setelah berbisik pada Rani.
"Sakit apa dia?"
"Sssst... jangan keras-keras. Kakakmu berpesan supaya keluargamu jangan sampai ada yang tahu selain kau. Ayo aku antar sekarang," ajak Erna.
"Tunggu sebentar."
Rani buru-buru masuk ke rumah. Terus masuk ke kamar dan membuka lemari. Dia mengambil uang untuk ongkos. Lalu ke luar lagi dan berpapasan denggan ibunya.
"Bu, Rani pergi dulu ya," pamit Rani sambil melangkah.
"Mau ke mana?"
"Ke rumah teman. Sebentar saja."
Rani tak sabar lagi menarik tangan Erna. Erna masih sempat berpamitan pada ibu Rani. Lantas mereka menyetop becak yang kebetulan kosong. Tanpa menawar Rani langsung naik bersama Erna.
"Sebenarnya mbak Rina sakit apa?"
"Pendarahan terus menerus."
"Pantas saja semalam dia tidak pulang. Aku cemas memikirkannya."
"Orang tuamu tidak menyuruhmu mencarinya?"
"Kedua orang tuaku sudah tak mau memperhatikannya lagi. Sebab mbak Rina tidak mau dengar nasihat mereka yang melarang hubungannya dengan Gunawan," Aku jadi kasihan juga memikirkan nasib mbak Rina. Malah sekarang dia ditinggal kawin oleh Gunawan," keluh Rani.
Seandainya kau tahu, tidak cuma begitu saja penderitaan yang dialami kakakmu. Kakakmu telah menggugurkan kandunganya. Gara-gara itulah sekarang dia dirawat di rumah sakit. Lelaki yang bernama Gunawan itu memang bajingan! Mudah-mudahan disambar gledek! Runtuk Erna dalam hati saking jengkelnya.
Kalau tadi Erna berangkat meninggalkan rumah sakit di bawah teriknya sinar matahari, tapi sekarang kembali ketika matahari sudah tinggal separuh di ufuk barat. Dan tidak sendiri, melainkan bersama Rani. Keletihan gadis itu berangkali sudah tak terkira. Cuma lantaran dia menolong tanpa pamrih, maka hatinya tetap saja senang. Tanpa mengeluh sedikit pun.
Sekarang, Rani sudah melihat tubuh kakaknya berbaring pucat di atas tempat tidur. Keadaan itu membuat Rani lansung berlari menubruk Rina. Memeluknya sembari menangis. Sedangkan Erna ikut terharu.
"Rani minta mbak Rina harus bisa melupakan Gunawan. Sakit yang diderita kakak, pasti karena memikirkan lelaki itu," keluh Rani.
Rina membalas pelukan adiknya. Cuma dia satu-satunya yang tahu dan mengasihi Rina.
"Berjanjilah mbak Rina mau melupakan Gunawan," sekali lagi pinta Rani yang nadanya menyarankan.
"Mulai saat ini akan kulupakan Gunawan. Lelaki itu telah banyak membuatku hidup menderita," ujar Rina dengan menyimpan rasa dendam.
Rani melepaskan pelukannya. Dipandang wajah kakaknya yang pucat. Bibirnya juga pucat. Matanya tampak kuyu dan membengkak. Rani tahu kalau semuanya itu akibat goncangan batin, sehingga jatuh sakit dan terlalu banyak menangis. Kasihan sekali bila Rani memikirkan nasib kakaknya ini.
"Rani,, apakah kau punya uang tabungan?"
"Punya. Kakak memerlukannya?"
"Ya. Untuk biaya pengobatanku selama dirawat di rumah sakit ini. Aku sudah malu karena seringkali meminta uang kepada orang tua. Dan tidak sesikit uang ayah telah kuhabiskan. Untuk itulah aku pinjam uang tabunganmu," kata Rina sedih. Kalau saja tidak terpaksa, tak ingin rasanya mengganggu Rani. Rani sudah terlalu banyak menolongnya. Bahkan seeingkali membelanya jika dimarahi ayahnya. Semuanya itu cuma lantaran pengorbanannya demi Gunawan. Semuanya demi lelaki itu. Namun sekarang, dia ditinggal kawin.
"Mbak tidak perlu khawatir. Biaya di rumah sakit, Rani yang akan membayarnya."
"Tapi hal ini jangan sampai diketahui ayah dan ibu," pinta Rina.
Rani mengangguk.
***
2
Setelah enam hari tinggal di rumah sakit, oleh dokter yang merawatnya Rina diperbolehkan pulang. Kesehatan Rina sudah pulih. Cuma tubuhnya tampak lebih kurus. Pipinya sedikit cekung. Selama dirawat di rumah sakit, hampir setiap jam besuk Erna bersama Rani yang setia menjenguknya. Ya, cuma dua orang itu saja yang tahu Rina dirawat di rumah sakit.
Tapi sekarang, setelah dua hari berdiam diri di. rumah menimbulkan kebosanan. Tak ada kesibukan apa-apa selain mengurung diri di kamar.
Ayah dan Ibunya tak mau menegur sapa. Jadi makin terasa asing saja berada di rumah. Kecuali Rani yang menemani ngobrol sekali waktu. Lantas bagaimana caranya agar kedua orang tuanya mau memaafkan semua kesalahannya? Rasa-rasanya untuk menebus kesalahan itu terlampau sulit. Sedangkan untuk menceritakan keadaan Gunawan, itu sudah tidak mungkin. Bisa-bisa malah dicemooh. Itulah lelaki pilihan hatimu? Lelaki yang kau bela mati-matian? Apa saja telah kau korbankan, tapi apa balasannya? Kau malah ditinggal kawin dengan gadis lain.
Maka Rina membuang semua bayangan apa saja yang pernah dialami. Terutama yang masih ada kaitannya dengan lelaki bajingan itu. Lebih baik membuka lembaran baru. Meniti hari-hari selanjutnya dengan mencari kesibukan.
Setelah kesehatannya pulih, Rina pun berusaha mencari pekerjaan. Dia tak mungkin berdiam diri saja, yang akan membuatnya terus terhanyut dalam kesedihan dan kenangan pahit perjalanan hidupnya. Dengan tekad bulat, Rina pun menemui saudara sepupunya. Dia mengutarakan keinginannya untuk bekerja pada Harnoto.
"Kau mau kerja sebagai pelayan di restauran?" tanya Harnoto.
"Apa saja, Mas. Yang penting halal. Apa mas bisa membantu saya?"
"Kebetulan manajer hotel itu teman baik saya. Cobalah kau kesana menemuinya. Nanti aku akan coba menghubungi dia," kata Harnoto.
"Baik, Mas."
Hari itu juga, Rina pun pergi ke tempat dimaksud.
Hotel dan restauran itu sangat mewah bangunannya. Letaknya di pinggir jalan besar masuk kota Yomani. Sejak bangunan itu mulai didirikan, Rina pernah melihat, tapi kurang diperhatikan. Dan sekarang, di bawah sengatan matahari siang dia mengayunkan langkahnya memasuki pintu resturan. Interior restauran itu sangat mewah. Bersih dan luas. Sepatu Rina yang menapak di lantai suaranya berdetak-detak. Berirama di ruangan itu. Dia menghampiri bar kecil yang kebetulan ada seorang perempuan di situ. Rata-rata pelayan wanitanya mengenakan pakaian hitam dan putih. Rapi-rapi sekali.
"Selamat siang, Mbak," sapa Rina ramah.
"Siang,"
"Bisakah saya bertemu pak Karnoto?"
"Sebentar ya," kata perempuan itu, lalu mengangkat intercom. Dia berbicara menanyakan Pak Karnoto. Dan dari balasan intercom itu agar Rina dipersilahkan menghadap. "Nona yang bernama Rina?" tanya perempuan muda itu.
"Ya,"
"Silahkan menghadap pak Karnoto. Mari saya antarkan."
Perempuan itu jalan dibarengi Rina. Di sebuah ruang pimpinan Rina dipersilahkan masuk. Dengan jantung berdebar-debar Rina mendorong pintu ruang itu dan melangkah masuk. Dilihatnya seorang lelaki yang berbadan gemuk duduk di belakang meja. Usianya sekitar tiga puluh tahun.
"Selamat siang, Pak,"
"Silakan duduk. Adiknya mas Noti, ya?"
Rina mengangguk takzim, lantas duduk di kursi menghadap manager itu.
"Sebelum menjadi karyawati di sini harus mengikuti training, Apakah anda bersedia mengikutinya?" tanya Karnoto sambil mengelus-elus kumisnya. Cantik juga adiknya Noto ini, pikir lelaki itu.
"Bersedia, Pak."
"Ada enam karyawan baru yang mengikuti training. Jadi anda bisa menggabung dengan mereka."
"Kapan saya bisa mengikuti training itu, Pak."
"Besok."
"Persyaratan lainnya tidak ada lagi, Pak?"
"Besok bawalah surat-surat lamaran. Dan apabila anda tidak lulus mengikuti training berarti tidak akan diterima sebagai karyawati di sini."
"Saya mengerti, Pak."
Rina segera mohon diri setelah tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan. Hawa sejuk di dalam gedung yang megah itu telah ditinggalkan. Dan sengatan matahari menyentuh kulitnya. Hawa yang panas menerpa kulit wajahnya. Lantas dia naik colt omprengan menuju ke terminal.
***
Rina dinyatakan lulus. Maka mulai saat itu hari yang dilalui Rina penuh kesibukan. Dari pagi sampai malam mengikuti training itu, hingga seminggu lamanya. Rina akhirnya dinyatakan lulus. Rina diterima menjadi pelayan direstauran yang mewah itu. Hari pertama dia bekerja masih tampak gugup dan kikuk. Namun setelah seminggu lama-nya rutin melayani para tamu jadi terbiasa.
Pada suatu ketika restauran itu disewa untuk pesta ulang tahun. Dan memang di restauran itu sering disewa untuk pesta ulang tahun ataupun pesta perkawinan. Malam itu dimeriahkan oleh sekelompok group band. Suasananya meriah sekali. Dan di malam yang meriah itu Karnoto mulai mendekati Rina.
"Malam ini kau tampak cerah," kata karnoto.
"Ah, biasa-biasa saja, pak."
"Aku kan selalu memperhatikanmu, jadi tahu setiap perubahan."
Rina terjengah. Dan Karnoto tersenyum. Matanya yang hitam, begitu menikam. Maka Rina segera mengalihkan pandangan ke arah group band yang sedang main di atas panggung.
"Habis jam kerja nanti, aku ingin mengajakmu nonton, bagaimana?" tanya Karnoto setengah meminta.
"Maaf, saya tak bisa," kata Rina tergesa-gesa. Sampai napasnya jadi agak sesak.
Karnoto tersenyum lagi.
"Kenapa?"
"Tidak... tidak kenapa-kenapa."
"Takut sama mas Toto?"
Rina gelagapan, tak bisa menjawab.
"Aku teman bak mas-mu. Jangan takut, tidak apa-apa."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa,"
Rina melangkah pergi karena ada seorang tamu yang minta dilayani. Aku tidak mau membuat persoalan baru di sini, kata Rina dalam hati. Sebab dia tahu kalau Karnoto pacarnya Winda. Dia tak mau merusak hubungan mereka. Dan di dalam hatinya sudah berjanji, kalau dia tidak akan jatuh cinta lagi terhadap lelaki manapun setelah mengalami derita karena cinta. Dia sudah jera karena cuma menjadi permainan nasib kaum Adam. Hatinya sudah beku.
Mulai sejak itu Karnoto setiap sore berusaha mendekati Rina. Memang tidak kentara, tapi bagi Winda yang punya naluri peka sudah dapat merasakan. Karnoto pasti ada hati pada Rina. Dan gadis itu tak pernah lepas mengawasi tindak tanduk Karnoto. Sedangkan Rina tetap biasa-biasa saja. Dia tetap menghormati Karnoto sebagai pimpinan. Setiap lelaki itu mendekatinya, dia tak mungkin mau meninggalkan begitu saja. Paling tidak Rina harus berbasa-basi. Menanggapi dengan baik sikap pimpinannya. Dan rupanya usaha Karnoto bukan cuma mendekati Rina, melainkan juga mendekati Hernoto. Kadang-kadang sehabis jam kerja dia datang ke rumah Hernoto untuk ngobrol. Kendati Rina tak mau ke luar menemui Karnoto. Dia lebih senang membaca novel di kamarnya. Sampai, suatu hari, meledaklah kecemburuan Winda pada Rina. Sebab sore itu Rina diantar Karnoto masuk kerja. Di ruang dapur, Winda mulai mengungkit-ungkit masa lalu Rina. "Dasar perempuan lacur, di mana-mana selalu brengsek!" kecam Winda bicara pada Nina.
Nina merasa bingung.
"He, kamu barusan ngomongin siapa?"
"Tuh, perempuan brengsek!" kata Winda sambil menunjuk Rina yang sedang melayani tamu.
"Memangnya dia kenapa? Kamu kok kayaknya sewot banget?"
"Jelas aja aku sewot. Kamu tahu, ia ada main sama Mas Karnoto," tutur Winda diikuti dengan kebencian yang begitu dalam.
"Oo...!" Nina melongo.
Dari mulut ke mulut akhirnya menyebar kabar itu. Kabar mengenai Rina yang merebut Karnoto dari tangan Winda. Dan kabar itu membuat seluruh karyawati di restauran dan hotel mengacuhkan Rina. Kenapa sekarang temanku semakin menjauhi aku? pikir Rina merasa heran. Dia tidak merasa mempunyai salah kepada mereka. Selama ini dia sudah berbuat sewajarnya. Tidak berlebih-lebihan. Jadi kenapa begini? Tidak habis pikir juga bagi Rina. Dan saking penasarannya, Rina mendwkatu Nina pada waktu jam makan siang. Dia ingin tahu kenapa mereka sekarang menjauhinya?
"Karena kau telah merebut Pak Karnoto dari tangan Winda," kata Nina.
Rina terperangah. Dia sampai terbatuk ketika menelan nasi. Buru-buru dia meneguk air putih.
"Aku tidak pernah merasa merebut pak Karnoto dari Winda, Nina. Selama ini aku biasa-biasa saja," balas Rina.
"Tapi kami sudah menilai begitu. Kalau pulang kerja kau diantar sama Pak Karnoto. Padahal sulu sebelum kamu kerja di sini, Pak Karnoro selalu pulang bersama Winda. Apakah ini bukan namanya merebut Pak Karnoto?"
Seperti sembilu ucapan Nina menggores hatinya. Pedih sekali.
"Nina, asal kau tahu saja. Semua itu kemuan Pak Karnoto. Secuil pun di hatiku tak ada menaruh simpati padanya."
Winda memasuki ruang itu dengan wajah cemberut. Dia melirik jijik ke arah Rina. Pada saat yang bersamaan mereka bertemu pandang. Dan lirikan Winda seolah-olah menampar muka Rina. Rina tertunduk diam. Lebih baik mengalah daripada membuat persoalan di sini. Tapi tampaknya Winda yang tak bisa memedam rasa cemburunya yang melonjak-lonjak.
"Di mana-mana pelacur itu tak punya malu. Sudah tahu pacar orang lain masih saja diganggu," celoteh Winda pura-pura berbicara sendiri. Padahal ucapannya itu ditujukan kepada Rina.
Rina terperangah.
"Winda, aku tahu siapa yang kau maksudkan," sahut Rina lunak. Sebenarnya dia sudah kepingin menjerit di situ. Terlampau menyakitkan ucapan Winda.
"O, jadi kau sudah merasa, ya? Teruskan saja hubunganmu itu," kata Winda sinis.
"Winda, aku minta kau jangan menuduhku begitu. Aku sama sekali tidak ada maksud apa-apa dengan Pak Karnoto. Demi Tuhan, Winda,"
"Siapa mau percaya omongan bekas pelacur! tandas Winda sembari melangkah pergi.
Rina menanggis. Nina ikut pergi meninggalkan Rina seorang diri. Oh Tuhan, kenapa hidupku terus-terusan begini? Di manakah letak kebahagiaanku? Belum lama aku menjalani perasaan tentram, tapi kini sudah datang lagi kepahitan dalam hidupku. Masa laluku yang nista telah diungkit-ungkit di sini. Semua karyawati di sini telah mengkultuskan diriku seorang pelacur dan tak punya kesempatan untuk memperbaikinya.
Tanpa diduga Rina, Karnoto masuk ke ruangan itu. Lelaku itu terheran memandang Rina yang menangis seorang diri.
"Kau kenapa, Rina?" tegur Karnoto.
Rina tak mau lagi memandang Karnoto. Dia menangis sambil tertunduk.
"Jauhilah saya, Pak. Saya mohon, jauhilah saya," kata Rina disela-sela isaknya.
"Kenapa memangnya?"
"Saya cuma mohon jauhilah saya."
"Kau bertengkar dengan Winda?"
Rina tak menjawab. Isaknya masih berkepanjangan.
"Aku punya hak untuk mendekati siapapun di sini. Termasuk kau dan yang lainnya. Kalau memang Winda melarangmu, apa haknya sampai begitu?" Nada ucapan Karnoto tinggi. Kesal.
"Saya tidak mau dikatakan perusak hubungan orang lain. Untuk itu mulai sekarang jauhilah saya, Pak," pinta Rina memohon.
Karnoto menarik napas panjang. Lantas dia melangkah pergi dengan perasaan kecewa. Kesal. Sedangkan Rina masih duduk menangis di ruangan itu. Dalam kesendiriannya dia meratapi nasibnya yang tak pernah tentram dan bahagia. Semakin terasing di antara para karyawati di restauran itu. Semakin menyakitkan seriapkali Winda berkata menyinggung-nyinggung masa lalunya. Membakar pengaruh yang lebih memojokkan Rina agar semakin dibenci olwh semua karyawati di restauran dan hotel. Sehingga menimbulkan rasa tidak betah untuk terus bekerja di situ. Itulah kehidupan Rina yang selalu tersantuk-santuk kerikil tajam. Menyakitkan.
Tapi mencari pekerjaan tidaklah gampang. Dan Rina tidak ingin membuat malu Mas Hernoto. Baru enam minggu bekerja di restauran itu sudah ke luar karena alasan tidak kerasan. Dia takut semakin dinilai Hernoto sebagai gadis yang sukar diatur. Tidak. Aku harus tetap bekerja di sini sampai kapan pun. Kecuali ada pekerjaan lain yang lebih baik untukku.
***
Siang itu, Rina tampak tengah mengatur hidangan di meja. Sebab siang itu ada perjamuan makan para insinyur. Jam sebelas para insinyur itu akan datang untuk makan siang. Semua pelayan sibuk mengatur hidangan di setiap meja.
Tepat jam sebelas lebih sepuluh menit, rombongan insinyur itu berdatangan naik mobil. Tiga diantara mobil mereka ada yang berplat nomer Jakarta. Petugas menerima tamu membukakan pintu restauran, dan para insinyur itu melangkah masuk. Suasana restauran yang sepi, seketika berubah jadi tampak ramai. Satu di antara mereka tampak seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Dia adalah Handika.
"Bagaimana menurut kamu hasil rapat tadi?" tanya Suyadi pada Handika.
"Aku kurang puas," sahut Handika.
"He, kenapa?"
"Mereka lebih cendrung jadi tengkulak. Masa insinyur pertanian seperti kita enggan tinggal di desa. Mereka lebih senang tinggal dikota dan maunya sudah beres terima hasil bumi. Betul nggak John?"
Johny cuma mengangguk.
"Rombongan kita yang dari Jakarta saja mau di tempatkan di desa,"
"Eee, ngomong-ngomong kamu ditempatkan di desa mana?"
"Yomani."
"Kau sudah tahu desa itu?"
Handika menggeleng.
"Tapi aku bersedia ditempatkan di manapun. Yang penting aku bisa memberikan penyuluhan yang baik."
Suyadi menggapaikan tangan. Dia memanggil seorang pelayan wanita.
"Hans, di restauran ini ada pelayan wanita cantik." kata Suyadi setengah berbisik pada Handika.
"Ah, bosan aku. Sejak dari Jakarta nggak bosan-bosannya cewek aja yang dibicarakan. Ngaca dulu tuh, jidatmu semakin lebar saja," ujar Handika sambil tertawa.
Rina melangkah menghampiri Suyadi.
"Hay Hans, lo boleh lihat sendiri. Pelayan itu kemari."
"Uruslah sendiri kesukaanmu itu."
Rina berhenti di samping Suryadi. Dia bertanya dengan suara lembit dan ramah, "Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
Kaki Suryadi menendang kaki Handika. Handika yang sedang makan jadi kaget. Maksud Suryadi agar Handika mau melihat pelayan wanita itu. Dan karena Handika kaget, lengannya menyenggol gelas yang berisi air putih. Gelas itu jatuh dan airnya tertumpah.
"Kamu ini apa-apaan sih?" tegur Handika kesal.
Suryadi senyum-senyum. SedangkanRina cepat-cepat mengangkat gelas itu dan membersihkan air yang membasahi taplak meja. Bersamaan dengan itu pula Handika menyeka celananya yang basah. Dan mata Handika bagai kena daya magnit melirik sepatu pelayan wanita yang berdiri di sampingnya. Tapi bukan cuma sepatunya, melainkan terus naik ke betisnya. Betapa halus dan kuningnya betis itu. Kuning mulus dan indah sekali bentuknya. Lantas pandangan Handika tambah naik pada rok putih, terus pada kemeja-nya. Dan dada Handika berdebar ketika menatap wajah wanita itu, jantungnya menggelepar. Rasanya ia pernah mengenal gadis ini. Tapi kapan dan dimana?
Handika dan Rina sesaat saling bertatapan. Masing-masing merasa pernah bertemu. Tapi di mana? Lalu Rina cepat mengalihkan pandangan pada Suryadi.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
Suryadi nyengir.
"Tolong beri saya coca cola sama es batu, ya?"
"Yang lainnya apa lagi, Pak?" tanya Rina sambil mengedarkan pandang pada Johny, Gatot dan terakhir pendangan Rina bentrok lagi dengan Handika. Rina cepat-cepat tertunduk. Sedangkan Handika masih terus memandang sambil mengingat-ingat.
"Saya bir sama es batu," kata Johny.
"Saya kopi saja," kata Gatot.
"He, lo apaan Hans?" tanya Suryadi mengagetkan.
Handika tergagap.
"Tidak, Aku tidak pesan apa-apa."
Rina membalikkan badan dan berjalan ke bar. Sementara Handika masih termenung. Masih berusaha mengingat-ingat di mana pernah bertemu dengan gadis itu. ya, rasa-rasany Pernah ketemu. Dimana ya? Barangkali di salah satu kantor? Atau mungkin di jalan raya. Di mana ya? Ah, mungkin serupa tapi tak sama.
"Tadi bilangnya masa bodoh, tapi sekarang melamun. Cantik, kan? Pasti kau tertarik," kata Suryadi sambil tertawa.
"Aku rasa-rasanya pernah ketemu dengan dia," ujar Handika yakin.
"Kapan ketemunya? kemari baru satu kali sudah bilang pernah ketemu. Barangkali di mimpimu ya?" Suara tawa Suryadi makin terkekeh. Johny dan Gatot ikut menertawakan. "Di jagat ini memang kadang-kadang kita temui serupa tapi tak sama. Makanya jadi orang jangan munafik. Jangan sok alim," ejek Suryadi.
Handika tiba-tiba ingat Langsung saja dia menepuk tangannya.
"Hee, jangan kayak anak kecil. Ada apa?" tanya Suryadi.
"Pokoknya tak salah lagi."
"Apanya?"
"Lihat saja nanti," kata Handika senyum-senyum girang.
Rina berjalan mendekati meja Handika sambil mendorong kereta yang berisi minuman yang dipesan. Setelah dekat, lalu Rina meletakkan minuman yang mereka pesan masing-masing. Sekejap pandangan Rina bentrok lagi dengan Handika.
Handika jadi ragu-ragu menegur gadis itu. Tapi akhirnya dia memberanikan diri. "Rasanya kita pernah bertemu , ya?"
Rina tersenyum.
"Kalau tidak salah... Ehm, di Jakarta. Ya, di Jakarta. Waktu itu nona mau menyeberang jalan dan hampir tertubruk mobil saya."
Rina terperangah. Dia masih ingat betul kejadian itu. Maka dia memberanikan diri memandang wajah Handika. Mengamati dengan cermat. Dan memang lelaki itu yang dulu mengendarai mobil yang hampir saja menabraknya.
"Atau barangkali serupa tapi tak sama?" kata Handika kembali ragu-ragu.
Suryadi menahan tawanya. Melirik kepada teman-temannya. Johny mengerdipkan mata kanan. Gatot senyum-senyum.
"Memang sayalah orangnya, Pak." Rina tersenyum ramah.
"Jadi kalau begitu saya tidak salag alamat?" suara Handika girang.
Rina menggeleng. Dan Handika buru-buru menyodorkan telapak tangannya, mengajak bersalaman. Rina dengan agak malu-malu menjabat tangan lelaki itu.
"Lho saya kok nggak diajak kenalan?" sindir Suryadi.
Kedua pipi Rina merona merah jambu. Lalu dia menyalami semua teman Handika. Lantas Rina buru-buru kembali ke bar. Dia merasa risih diperhatikan oleh karyawati lainnya. Dan Winda di pojok bar berbisik-bisik kepada teman perempuan lainnya sambil melirik Rina. Rina merasa bahwa Winda membicarakan dirinya. Ah, biarkan saja. Mereka memang dasarnya iri hati.
***
3
Di pinggir jalan sebelah lapangan sepak bola desa Yomani ada warung yang menjual makanan dan minuman. Handika menghentikan mobilnya di depan warung itu. Kepada pemilik warung dia menanyakan sebuah alamat. Yang ditanyakan oleh Handika adalah alamat yang sering dicari para pembeli tembakau dan cengkeh. Memang di desa itu nama Haji Anwar tak asing lagi. Di samping terkenal juragan tembakau dan cengkeh, Haji Anwar juga punya dua orang anak gadis yang berparas cantik. Sehingga pemilik warung itu menduga Handika akan mencari Rina atau Rani. Lantas pemilik warung itu menunjukkan jalanan lurus ke arah timur.
Di desa ini sangat tentram dan tenang sekali. Tidak berjubel manusia seperti di kota Jakarta. Di sana terlalu padat dan gersang. Gedung-gedung pencakar langit banyak terdapat di daerah elite dan pusat-pusat perkantoran. Sedangkan di sini alamnya hijau, begitu indah. Panas udara mulai dirasa reda ketika Handika sampai di sebuah rumah yang dicarinya. Dia langsung diterima oleh Haji Anwar dengan ramah. Sebab lelaki setengah baya itu sudah mendapat kabar dari lurahnya, bahwa di desa ini akan kedatangan seorang insinyur pertanian.
"Assalamu alaikum...?" sapa Handika.
"Wa'alaikum salam," balas Haji Anwar.
"Maaf, apa benar ini rumah Pak Haji Anwar?"
"Ya, saya sendiri. Silakan duduk, Tuan."
"Apakah tuan seorang insinyur peetanian yang didatangkan dari Jakarta untuk survey dan mengadakan penyuluhan kepada petani tembakau dan cengkeh di sini?"
"Betul, Pak."
Haji Anwar manggut-manggut. Dia mengamati Handika penuh rasa kagum. Orangnya masih muda dan tampan. Insinyur lagi.
"Kira-kira berapa lama tugas tuan di sini?"
"Tahap survey kami cuma seminggu, lantas kembali ke Jakarta. Baru kembali datang lagi untuk dua bulan lamanya."
"Kalau begitu sebaiknya tuan tinggal saja di rumah saya selama menjalankan tugas," kata Haji Anwar dengan gembira sekali. Penuh emosi, meskipun sang tamu adalah orang yang baru pertama kali dilihatnya. Tapi sudah dapat dinilai tamunya itu dari kalangan priyayi.
"Terima kasih atas tawaran Bapak. Sebenarnya saya akan di tempatkan di rumah pak Lurah."
"Di sini saja. Di sini aja. Bapaj kecewa kalau tuan menolaknya. Benar, bapak akan kecewa."
Handika berpikir sesaat. Pak Haji Anwar ini ternyata orangnya sangat ramah dan baik. Dia jadi merasa takut membuat kecewa orang itu. "Baiklah pak, saya akan tinggal di sini. Tapi saya harus melapor dulu sama Pak Lurah."
"Ooo itu soal gampang. Biar nanti saja, bapak yang lapor ke sana. Sekarang tuan beristirahat dulu."
"Saya jadi merepotkan bapak."
"Tidak apa-apa. Bu... Bu!" panggil Anwar pada istrinya.
Mariah muncul dari ruang dalam.
"Ada apa, Pak?"
"Ayo kenalkan. Ini tuan insinyur Handika."
Mariah terbungkuk-bungkuk bersalaman dengan Handika.
"Dia saya minta untuk tinggal di sini selama menjalani tugasnya. Kau setuju kan, Bu?"
Perempuan itu manggut-manggut sambil tersenyum ramah.
"Ayo tuan Handika. Turunkan barang-barang Anda dan paviliun di sebelah rumah ini adalah tempat tinggalmu. Bisa juga digunakan untuk rapat penyuluhan."
"Baik, Pak."
Handika segera memasukkan mobilnya ke halaman rumah itu. Lantas dia menurunkan koper dan barang-barangnya. Bersamaan dengan itu Rani yang mengendarai sepeda motornya memasuki halaman rumah itu. Handika menoleh. Dia jadi termangu memandang gadis yang baru saja turun dari sepeda motor itu. Dia menyangka gadis itu yang tadi ditemuinya di restauran. Baru dia hendak menegurnya, ketika Haji Anwar menarik lengan Rani mendekati Handika.
"Ayo kenalkan dulu sama tuan Handika."
Rani dengan agak kikuk bersalaman dengan Handika.
"Rani."
"Handika. Ngg..., yang tadi ketemu saya di restauran, ya?" tanya Handika. Sebab wajah Rani memang sangat mirip dengan Rina.
Rani menggeleng.
Handika termangu bingung. Banyak benar wajah gadis-gadis di sini yang mirip dengan gadis yang hampir ditubruk mobilnya saat di Jakarta? Jangan-jangan pelayan restauran itu serupa tapi tak sama? Seperti gadis ini juga? Ah, Handika segera mengusir pikirannya. Dia buru-buru menenteng kopernya. Haji Anwar menyuruh dua orang buruhnya untuk membawakan barang-barang Handika lainnya.
Paviliun itu cukup besar. Ada dua kamar tidur. Ruang makan. Keadaannya rapi dan bersih.
"Nah, ini kamar yang tuan bisa tempati."
Handika mengangguk. Lalu dia membawa masuk kopernya.
"Silakan beristirahat dulu. Nanti malam kita ngobrol dan berembuk soal rencana tugas tuan."
"Terima kasih, Pak."
Haji Anwar berlalu. Handika menutup pintu kamarnya setelah semua barang-barangnya diantarkan masuk. Lalu dia melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Semua kelelahan mulai berangsur-angsur hilang setelah dia berbaring di atas tempat tidur.
***
Sehabis mandi sore Handika berpakaian rapi. Recananya sore itu dia ingin menemui Pak Lurah di rumahnya. Banyak hal yang akan dijelaskan mengenai tugasnya memberikan penyuluhan. Maka selesai menyisir rambutnya, dia menemui Haji Anwar. Ternyata Haji Anwar sudah duduk di ruang tamu menghadapi secangkir kopi yang masih hangat. Handika lewat sampai rumah dan masuk di ruang tamu itu.
"Selamat sore, Pak."
"Silakan duduk. Mau minum kopi atau teh?"
"Kopi saja."
"Rani! Tolong bikinkan kopi untuk Mas Handika."
"Baik, Pak."
Rani menyahut dari ruang dalam.
"Tadi siang saya sudah melapor sama Pak Lurah mengenai kedatangan tuan Handika."
"Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak jangan panggil saya memakai tuan."
"Lalu, saya mesti panggil apa?"
"Karena saya rasa, saya pantas jadi putra bapak, panggil saja dengan nak atau nama saya saja..."
"Baiklah, Nak Handika."
"Nah, begitu kan kedengarannya lebih enak, Pak.."
"Ya, ya, ya... Memang lebih luwes dan enak memanggilnya nak. Jadi sifatnya lebih kekeluargaan," kata Haji Anwar sambil tersenyum.
Handika ikut tersenyum.
Rani muncul membawa secangkir kopi hangat. Dan sewaktu Rani meletakkan cangkir itu, Handika sempat meliriknya. Memang mirip sekali dengan pelayan di restauran itu.
"Ayo, diminum kopinya mumpung masih hangat."
Handika cuma mengangguk atas tawaran Haji Anwar. Dia juga masih sempat melihat Rani masuk ke ruang tengah.
"Tadi saya bicara sampai di mana?" tanya Haji Anwar.
"Melapor mengenai kedatangan saya kepada Pak Lurah."
"Oya. Jadi jelasnya Pak Lurah gembira sekali menerima kedatangan nak Hamdika di desa ini. Bila nak Handika membutuhkan sesuatu bantuan misalnya, Pak Lurah dan saya akan membantu."
"Sebenarnya saya ingin bertemu Pak Lurah sore ini "
"Bisa. Bisa. Biar nanti Rani yang mengantar nak Handika ke sana. Bapak ada urusan setelah magrib nanti. Tidaj apa-apa, kan?"
"Tidak, Pak."
"Mau berangkat sekarang?"
"Ya. Sebab takut kemalaman pulangnya, karena banyak hal yang akan saya bicarakan dengan Pak Lurah."
"Rani!" panggil haji Anwar.
Rani muncul dari ruang dalam.
"Antarkan Mas Handika ke rumah Pak Lurah sekarang."
Rani mengangguk.
"Diminum dulu kopinya."
Handika buru-buru meneguk kopi yang masih hangat itu. Terasa hangat pula kerongkongannya. Lantas dia minta diri pada Haji Anwar.
"Rumahnya Pak Lurah jauh?" tanya Handika sembari berjalan di halaman.
"Lumayan."
"Kalau begitu kita naik mobil saja ya?"
"Rani menganguk. Keduanya berjalan menuju ke mobil. Handika terlebih dulu naik dan membukakan pintu untuk Rani. Rani duduk di sebelah handika. Setelah menghidupkan mesin mobil, Handika meluncurkan mobilnya di jalan aspal.
"Arah kita ke mana?" tanya Handika.
"Terus saja."
Handika mengikuti petunjuk yang diberikan Rani. Sementara langit sudah mulai kelabu. Senja telah menyelimuti alam desa Yomani.
"Maaf, boleh saya bertanya?"
"Boleh."
"Kamu punya saudara perempuan?"
"Punya."
"Sekarang tinggal di mana?"
"Di Tegal. Ikut Paman."
Handika manggut-manggut.
"Soalnya saya tadi sewaktu ada jamuan makan siang di restauran Mandalai Parmai, ketemu pelayan wanita yang wajahnya mirip kami."
"Dia memang kakakku sekandung."
"Pantas mirip sekali. Tadi siang pertama melihat kamu, saya kira dia. Siapa nama kakakmu itu?"
"Rina."
"Bagus ya namanya."
Rani cuma tersenyum.
"Apakah dia dulu pernah ke Jakarta sendiri?"
"Ya."
"Pantas. Tidak salah lagi."
"Belok kanan," kata Rani.
Handika memutar kemudi ke kanan.
"Kenapa dengan kakakku?"
"Ah, tidak kenapa-kenapa. Masih jauh rumah Pak Lurah?"
"Itu rumahnya. Ya... ya, stop di sini."
Handika menginjak rem. Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah bagus yang berhalaman luas.
"Yuk kita turun," ajak Handika.
Rani mengikuti saja. Mereka berjalan menuju ke teras rumah itu. Dan seorang lelaki setengah baya berbadan gendut sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat sore, Pak Lurah?" Handika menegur dengan sopan dan ramah.
"Sore. Mari silakan masuk."
Sebelum duduk Handika menyalami Pak Lurah. Di ruang tamu yang lebar itu Handika dan Rani ditemui Pak Lurah dan istrinya. Kemudian Handika membicarakan soal tugasnya di desa ini. Lantas antara Handika dan Pak Lurah terjadi tanya jawab yang ada kaitannya dengan penyuluhan pertanian. Khususnya di bidang tembakau dan cengkeh. Pembicaraan mereka berlangsung hampir dua jam. Sampai-sampai pantat Rani pedas duduk di kursi itu.
Pada prinsipnya Pak Lurah sangat gembira dengan semua rencana Handika. Mendukung sepenuhnya semua gagasannya. Karena Pak Lurah menilai tujuan penyuluhan pertanian itu sangat baik. Apalagi yang memberikan penyuluhan seorang insinyur pertanian yang ditugaskan oleh PTP Pusat.
***