pernahkah kamu membayangkan hidupmu normal dan baik-baik saja. lalu, tiba-tiba segalanya berubah dalam satu malam? itulah yang terjadi pada seorang gadis yang akan kita baca ceritanya sekarang!
Erna, seorang gadis berumur 21 tahun yang tinggal jauh dari orang tuanya karena sedang kuliah di luar kota.
"hah akhirnya beres juga kuliah hari ini." ucapnya di depan gerbang kampus.
Erna pun berjalan di jalanan yang cukup sepi, beruntung, apartemennya yang cukup sederhana tidak terlalu jauh dari kampusnya, membuatnya tak terlalu takut berjalan di malam yang sunyi ini.
BRUKK!!
"awww..!"
rintihnya saat ia tersungkur karena terdorong dari belakang oleh seseorang yang berlari, Erna meringis peri saat telapak tangannya terluka.
tak lama kemudian, Erna merasakan ada aura dingin di belakangnya. ia pun berbalik badan, dan terlihatlah seorang laki-laki berdiri tegap memakai jaket kupluk dan celana jins hitam. wajahnya terlihat sangat pucat.
Erna yang melihat laki-laki itu pun segera berdiri, ia tampak canggung untuk bicara duluan karena terpukau dengan ketampanan laki-laki itu. hidung yang mancung, alis mata tebal, bibir yang seksi menjadi ketertarikannya. ya, walaupun wajahnya pucat.
suasana makin canggung saat laki-laki itu tak berhenti menatapnya dengan sorot mata tajam, terutama pada telapak tangan Erna yang luka.
"eumm... ada apa ya?" tanyanya setelah terdiam cukup lama. laki-laki itu tetep diam dengan sorot mata yang tak berubah.
Erna mulai merasa risih. ia mulai merasa ada yang aneh dengan laki-laki ini. ia pun mulai melangkah menjauh dari laki-laki itu dan pergi.
tak disangka, laki-laki itu juga mengikutinya. Erna makin takut, ia mempercepat langkahnya, laki-laki itu pun juga mempercepat langkahnya, Erna berlari, laki-laki itu juga berlari mengejarnya.
Erna makin ketakutan. ia terus berlari kencang sampai apartemennya mulai terlihat. ia cepat-cepat mengambil kunci yang ada di tasnya sambil berlari dan membuka pintunya setelah sampai lalu, menutupnya dengan cepat.
baru saja ia mengunci pintunya dan berbalik badan, ternyata laki-laki itu sudah ada di dalam apartemennya. "ahhh..!" teriaknya terkejut.
laki-laki itu pun mendekat, memangkas jarak di antara mereka, membuat Erna mundur kebelakang lalu berhenti karena tertahan pintu.
"siapa kamu?! kenapa ada di apartemenku?!" tanyanya gemetaran. laki-laki itu hanya diam lalu mengukung tubuh Erna, memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"ka.. kamu mau apa?! jan.. jangan macem-macem atau aku panggil polisi!" serunya terbata. tubuhnya serasa kaku hingga membuatnya tak bisa bergerak.
laki-laki itu tersenyum miring. "tidak usah takut, aku hanya tertarik dengan bau darahmu, bukannya tadi kamu terjatuh dan terluka?"
"hah? bau darahku? apa maksudnya?"
laki-laki itu sejenak diam lalu, tersenyum lebar menampakan dua taring tajamnya dan matanya pun berubah warna menjadi merah.
"hah! Vam.. vampire!" seru Erna terkejut.
"ya, gadis manis, dan aku tidak mau bertele-tele, aku langsung saja, aku mau kamu membantuku untuk menemukan bunga vampire dalam waktu dua Minggu kedepannya!"
"apa! kenapa aku?! sebenarnya apa yang tuan vampire mau? Anda kenapa mendatangi saya?"
"apa kamu tuli? aku bilang bantu aku untuk menemukan bunga vampire yang di curi oleh manusia 100 tahun yang lalu, mau tidak mau kamu harus mau!" ujarnya vampire itu memaksa.
"kenapa aku harus mambantu anda? kenapa tidak meminta bantuan vampire lain?"
"vampire lain sudah mati karena berebut mencari bunga itu. sekarang hanya tinggal aku yang tersisa, jadi kamu harus membantuku untuk mencarinya! kalau tidak, akan kuhisap darahmu sampai kering!" ancamnya. vampire itu mencengkram bahu Erna kuat. ia bisa merasakan aura pembunuh di wajah vampire itu.
"ba.. baiklah a.. aku akan membantu anda menemukan bunga itu." ucapnya terbata karena ketakutan. vampire itu pun tersenyum, ia melepaskan tangannya dari bahu Erna kemudian duduk di sofa.
Erna hanya diam memperhatikan vampire itu yang dengan santainya duduk di sofa, ia masih bingung, mengapa ini terjadi padanya.
"eumm.. jadi sekarang apa tuan vampire?" tanyanya setelah hening cukup lama.
"pertama, gak usah panggil tuan, gak usah terlalu formal. panggil aja aku Rigen dan siapa namamu manis?"
"namaku Erna tuan. eh, maksudku Rigen, jadi kapan kita mencari bunga itu, Rigen?" tanyanya.
"besok aja, lagi pula batas waktunya dua Minggu lagi." bersandar di sofa.
"kenapa batas waktunya dua Minggu? emang ada apa setelah dua Minggu itu?"
"ya, karena dua Minggu lagi akan terjadi fenomena bulan merah darah, itu seperti gerhana bulan tapi, bulannya 3 kali lebih besar dari biasanya, itu terjadi 120 tahun sekali, fenomena itu sangat ditakuti vampire karena bisa membuat tubuh menjadi abu, satu-satunya cara untuk menghindarinya dengan memakan bunga vampire yang bisa membuat hidup kekal. namun sayang, bunga terakhir itu di curi oleh manusia. karena itu aku mencarinya." jelas Rigen panjang lebar.
"oh, jadi karena itu vampire yang lain mati karena mencari bunga itu mati-matian, dan karena itu juga kamu pengen aku bantu."
"iya, aku harus menemukan bunga itu sebelum dua Minggu kalau tidak, aku akan jadi abu."
"lalu kenapa manusia di masa lalu mencuri bunga itu? apa kalau manusia memakannya dia akan jadi kekal ya?" tanya Erna terus-menerus.
"tidak, manusia yang memakan itu tidak jadi kekal, tapi dia akan awet muda, tidak akan sakit, dan fisiknya lebih kuat dari manusia biasa, hanya vampire yang akan kekal kalau memakannya." jelasnya lagi.
"oh, oke, aku ngerti sekarang, kalau gitu sampai jumpa besok." Erna yang dari tadi berdiri di dekat pintu langsung membuka pintu apartemennya lebar, hal itu membuat Rigen mengangkat sebelah alisnya.
"apa?" tanyanya bingung.
"katanya nyari bunganya besok, jadi silahkan kamu kembali besok lagi." katanya sopan.
Rigen tersenyum sinis lalu berdiri. ia melangkah menuju pintu, namun bukannya keluar, ia malah menutup pintu itu dan menatap Erna dalam. "maaf, tapi kamu sudah setuju untuk membantuku. jadi aku bakal tinggal disini sampai menemukan bunga itu, bukan cuma itu. aku disini juga mengawasimu kalau kamu membocorkan rahasia ini sama orang lain."
"apa?! ti.. tinggal disini?"
"iya, kenapa? kamu keberatan? kalau kamu keberatan, paling-paling besok kamu gak bisa liat matahari terbit lagi."
"enggak kok, kamu bisa tinggal disini tapi, aku cuma punya satu kamar."
"soal itu kamu gak usah khawatir. aku vampire, jadi aku gak tidur, aku disini aja duduk di sofa."
"kalau gitu aku tinggal mandi terus tidur. ya, kamu gak apa-apa aku tinggal disini?"
"hemm.. iya sana." sambil mengibaskan tangannya.
Erna pun masuk ke kamarnya, ia terdiam disana, masih merasa aneh dengan apa yang terjadi malam ini, belum lagi selama dua Minggu kedepannya vampire itu akan tinggal bersamanya.
-------------------------
beberapa hari pun berlalu, Erna dan Rigen semakin akrap, tak jarang mereka saling bercanda dan saling menjahili.
beberapa hari pula mereka telah mencari bunga vampire itu. ke toko bunga, taman, hutan, bahkan mencarinya di internet. namun tetap belum juga mereka temukan hingga membuat mereka semakin was-was, terutama Erna, ia takut Rigen pergi karena ia mulai merasa nyaman berada di dekat vampire itu.
"Rigen, gimana nb nih? besok udah pas dua Minggu, tapi kita gak nemu juga tuh bunga." ucap Erna kawatir.
"aku juga bingung, Erna. padahal kita udah cari kesana-kemari, besok hari Minggu, kamu gak masuk kampus, jadi kita cari lebih giat lagi sebelum malam, oke." ucapnya tersenyum sambil mengelus kepala Erna lembut.
"Rigen, apa gak ada cara lain?"
"ada sih, ya itu sembunyi dari cahaya bulan merah, tapi itu gak terlalu membantu, banyak vampire melakukan itu, tapi cuma sedikit yang bertahan."
"jadi harapan paling kuatnya cuma ada di bunga itu?"
"iya, besok kita cari lagi di hutan terlarang, sekarang kita istirahat dulu, kamu pasti capek."
Erna hanya mengangguk, lalu pergi ke kamarnya untuk istirahat.
keesokannya mereka berangkat pagi-pagi sekali ke hutan yang lebih dalam, mereka menjumpai beberapa bunga di sana. satu-persatu di lihatnya bunga-bunga itu namun, bunga yang di cari belum ketemu hingga hari mulai gelap.
"Rigen, gimana nih?! udah mau malam, bulan juga bentar lagi muncul." panik Erna yang melihat langit sudah mulai gelap, Rigen menarik nafas lalu membuangnya kasar.
"kalau gitu kita sembunyi di tempat yang jauh dari sinar bulan, ayo!" Rigen menarik tangan Erna, berlari sekencang-kencangnya mencari tempat yang aman. namun sinar bulan merah semakin memancarkan warna terangnya ke seluruh tempat, Rigen mulai melemas dan akhirnya terjatuh.
"Rigen!!" teriak Erna histeris, ia langsung memangku kepala Rigen ke pahanya, perlahan tubuh vampire itu mulai menjadi abu.
"Rigen, aku mohon jangan pergi! maaf karena aku kamu jadi gini" tangis Erna pecah saat itu juga.
"bukan, bukan kamu Erna yang bikin aku gini, aku yang terlalu buru-buru ngambil tindakan, ya... setidaknya aku bisa liat kamu untuk yang terakhir kalinya." ucapnya parau. perlahan matanya pun terpejam.
"tidak!!" teriak Erna. air matanya pun tumpah ruah membasahi wajah Rigen. namun, air mata itu seketika terserap oleh kulitnya, kulitnya yang tadi sangat kering dan hampir menjadi abu, kini sedikit menyegar, ia membuka matanya lagi, lalu perlahan duduk membuat Erna terkejut.
"Rigen... kamu..."
"Erna, aku merasa sedikit lebih segar, apa.. apa tubuhmu mengandung bunga vampire? atau jangan-jangan, leluhurmulah yang mengambilnya untuk obat?" Erna kaget mendengarnya. ia tak tau tentang itu. ia menatap dalam mata Erna. perlahan, tangannya menyentuh pipinya.
"Erna, bolehkah aku..." Erna diam lalu mengangguk, tak peduli lagi apa yang akan terjadi padanya. semenit kemudian ia merasakan sakit di lehernya.
"agggkkk!!" Rigen mengigit lehernya lembut, namun itu tetap terasa menyakitkan bagi Erna. ia mulai lemas, tubuhnya memucat, kesadarannya pun hilang.
Rigen yang lebih kuat dan segar pun mengendong Erna keluar dari sana. " terima kasih Erna sayang, aku mencintaimu." bisiknya lalu mengecup kening gadisnya itu.
mereka pun menjadi pasangan yang kekal abadi.
SEKIAN.