Tap, tap, tap.
Langkah kakiku terdengar ditelinga. Ini menandakan bahwa rumah ini kosong dan sepi.
Aku memang seorang yang terlalu penasaran dengan rumor orang sekitar.
Di sekolahku ada rumor bahwa rumah ini dulunya adalah tempat pemujaan setan. Rumah besar ini sungguh tak terurus, banyak jaring laba-laba di sekitar dinding atas.
Aku berdua bersama temanku Emily, tapi tadi dia sudah pergi meninggalkanku sendiri ketika aku memilih masuk kedalamnya.
Ada sebuah cahaya tipis tersembul dari sebuah pintu kamar. Aku pun penasaran dan berjalan perlahan mendekati. Aku mengintip di balik pintu.
"Aduh, kenapa berani sekali dia menusuk ku!" geram seorang pria di dalam kamar itu.
Mataku terbelalak tak percaya, ternyata ada seorang pria tampan nan rupawan tinggal di rumah ini. Rambutnya berkilauan seperti emas. Cahaya lilin menerangi wajahnya. Sungguh pemandangan yang indah merasuk ke kalbu.
Aku semakin terhipnotis oleh ketampanannya. Apalagi dia sudah membuka bajunya menampakkan badan yang berotot. Bahunya tertusuk panah misterius. Panah itu sepertinya aku kenal. Tapi entah dimana, aku lupa dan tak bisa mengingat nya.
Pria itu melangkah keluar, aku gelagapan dan spontan berlari. Tapi, langkahku menabrak sebuah kursi goyang yang berada di lorong rumah.
"Aduh, aku harus keluar dari sini secepatnya!" aku berusaha bangkit walaupun rasanya sakit.
Ternyata pria itu memergoki aku. Dia menahan langkahku. Dia menggenggam erat lenganku.
"Siapa kamu? kenapa kamu ada disini?" tanya nya mulai menakutkan. Tatapan matanya seakan menusuk jantungku. Aku bergidik melihat tatapan seperti itu.
"Maaf, aku...aku...!" entah mengapa aku tergagap.
"Katakan sekarang juga!" perintah pria itu.
"Aku, namaku Grace. Aku hanya mampir ke rumah ini sebentar saja! aku akan pulang sekarang juga!" aku melepaskan genggaman tangan yang dingin itu.
Braakkkk.
Pria pucat itu jatuh tersungkur. Aku tak mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Hatiku menjadi sulit terkontrol. Aku takut tapi aku harus menolongnya.
Akhirnya aku tak tega membiarkannya terbaring di lantai. Aku mencoba membangunkannya dan menolong nya agar ia berbaring di ranjang.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya ku khawatir.
Mata hitam legam nya mengamatiku seolah aku ini adalah mangsa nya.
"Jangan-jangan dia ini seorang pemerkosa!" ucapku dalam hati sambil bergidik.
"Kamu, sebenarnya siapa kamu? kenapa kamu bisa sampai masuk kedalam rumah ini?" dia bertanya penasaran.
Aku menjelaskan padanya soal rumor yang tengah beredar. Dia hanya tersenyum melihat mataku yang separuh ketakutan serta separuh lagi menyimpan rasa penasaran.
"Apakah kamu bisa menolong ku gadis kecil?" tanya nya tersenyum nakal.
"Hei, aku bukan gadis kecil! sebentar lagi aku akan masuk kuliah!" ujarku tak terima.
"Aku lebih tua ratusan tahun darimu gadis kecil!" ucapnya tergelak.
"Apa kau pikir aku akan percaya? umur kita itu gak jauh beda!" sungut ku emosi.
"Baiklah, aku boleh minta tolong ya!" bujuknya.
"Tolong apa? asalkan kau tidak memanggilku gadis kecil lagi!" sungut ku sebal.
"Okey Grace, namaku Darwin dan aku satu-satunya pemilik rumah kuno ini. Aku ingin besok kamu kesini lagi membawa kucing liar ataupun anjing liar!" ucapnya bersungguh-sungguh.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja.
Ia tersenyum senang dan lebar melihat anggukan ku. Ia mencium punggung tangan ku.
"Gracias, Grace! selama ini tidak ada yang peduli kepadaku! aku berharap kamu menepati janjimu!" Darwin tersenyum dengan manis.
Aku meleleh melihat senyuman Darwin.
Esoknya aku membawa dua ekor kucing yang kutemukan dijalan. Mungkin Darwin mau kucing atau anjing hanya untuk melepas kesepiannya.
Kali ini aku melangkah sendirian tapi, di tanganku sudah ada dua ekor kucing yang aku masukkan dalam kandangnya.
Aku masuk tanpa permisi, kulihat Darwin yang berkilauan duduk di kursi goyang. Sungguh menawan dan membuat jantungku berdegup kencang.
"Ini kucing nya, aku menemukan mereka tengah bermain di kebun sana!" ucapku antusias.
"Bagus, kamu sungguh baik sekali Grace!" senyum Darwin terkembang.
Darwin mengelus leher kucing itu. Tak berapa lama ia mengeluarkan gigi taring nya dan menghisap darah kucing. Aku terlonjak kaget, kenapa dia bisa Setega itu. Siapakah dia sebenarnya? aku pun bertanya-tanya.
"Kenapa dua kucing ini kamu hisap darahnya?" tanya ku bergidik dan gemetar.
"Aku, lihatlah taringku ini! lihatlah warna kulitku ini! bisakah kau menebaknya?" tanya Darwin arogan.
"Tidak mungkin, benarkah kamu...kamu seorang vampir?" tanya ku tak percaya.
Darwin mengelap mulutnya yang belepotan dengan darah. Ia menjilat taringnya yang tajam.
"Sudah lama aku disini, dan aku selama ini telah menghisap darah binatang. Aku rindu sekali rasanya darah manusia!" ucapnya memelas.
"Apa? jadi selama ini kamu menghisap darah binatang?" tanyaku tak percaya.
Karena setahu aku, semua vampir menghisap darah manusia.
"Ya, sudah lama aku tak menghisap darah manusia! lihatlah lukaku ini! tak kunjung sembuh karena aku masih menghisap darah binatang!" ucapnya mulai kesakitan.
"Apakah aku bisa menolong mu dari kesakitan itu?" tanyaku bergetar.
Sejujurnya aku takut tapi aku juga tak bisa mengacuhkannya begitu saja. Aku sudah jatuh hati dengan Darwin.
Darwin tersenyum lembut, dia menghampiriku dan mengelus rambutku pelan. Dia menyentuh leherku dan mengelus nya.
"Aku butuh darahmu! karena dengan darah manusia aku bisa sembuh dari penyakit yang disebabkan oleh panah perak kemarin!" ucap nya sungguh lembut sekali membuat aku terpukau.
"Kau mau darahku? apakah aku akan mati jika memberikan darahku padamu?" tanyaku bergetar dan ada rasa penasaran.
"Tidak, kamu tidak akan mati karena aku tidak menghisapnya sampai habis!" ucapan Darwin membuat ku lega.
"Hisaplah sekarang juga asalkan lukamu bisa sembuh!" suruh ku.
Darwin tersenyum lebar, ia mengelus leherku dan menancapkan taringnya.
Taringnya sungguh dingin. Ketika taringnya menusuk leherku, aku merasakan seluruh tubuhku seperti dialiri aliran listrik yang sangat besar.
Kepala ku rasanya berputar-putar. Mataku terpejam dan tak sadarkan diri.
Aku terbangun, ku tatap sekeliling. Aku berada di sebuah kamar yang bagus dan besar. Kepala ku rasanya masih pusing. Darwin membawa seekor kucing dan menggendong nya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Darwin antusias.
"Ya, aku baik-baik saja! tapi dimanakah ini?" tanya ku takjub.
"Ini adalah kamar rahasia ku di bawah tanah." Sahut Darwin tenang.
Sekarang aku merasa Indra penciuman dan penglihatan ku semakin menajam. Sebenarnya kenapa aku jadi begini.
"Tenang saja, kamu tidak mati kan? sekarang kamu resmi menjadi budakku!" ucap Darwin senang.
"Apa?? budakmu? tunggu dulu! aku harus pulang sekarang juga!" aku tak percaya tujuannya menghisap darah ku hanya untuk itu.
Aku bergegas bangun tapi badanku terasa lemas sekali.
"Minumlah darah ini!" suruh nya sambil menyodorkan kucing yang tadi.
Tubuhku bereaksi, aku menenggak saliva ku dengan cepat. Aku tak berpikir panjang. Langsung saja aku hisap darah kucing itu cepat. Setelah puas aku melempar badan kucing itu.
"Bagaimana, apakah rasanya enak?" tanya Darwin menggodaku.
Aku hanya mengangguk saja.
"Ikuti aku, kita berburu makhluk lain sekarang juga! kamu ini vampir baru yang sudah aku ciptakan jadi insting dahaga akan darah pasti akan cepat muncul seiring waktu!" Darwin mengecup bibirku cepat.
Aku suka dengan perlakuan lembut nya.
Kami berjalan, tapi sepertinya kami melewati dimensi yang berbeda. Kaki kami bergerak lebih cepat daripada manusia normal.
Kami mengintai dibalik semak belukar di pinggir jalan besar. Hari sudah gelap sekali dan sepi. Ada sepasang muda mudi mengendarai motor.
"Itu mangsa kita!" seru Darwin.
Aku yang tak sabar segera menghampiri dan mulai beraksi. Kami berdua menghisap darah mereka bergantian sampai habis. Kuusap mulutku yang belepotan dengan darah. Darwin tersenyum puas.
"Kita bakar jasad ini agar tak tercium oleh orang-orang!" Darwin menggeret dua tubuh manusia.
Aku sudah tak merasakan hal apapun selain nikmat nya menjadi budak Darwin dan menghisap darah. Kini keluarga ku satu-satunya adalah Darwin. Kami berdua berkeliling tengah malam dan mencari mangsa. Sungguh suatu kehausan yang tak pernah kurasakan. Aku kecanduan darah manusia. Nafsu haus darahku lebih besar daripada Darwin. Sudah seratus orang lebih aku menghisap darah manusia. Darwin teramat senang karena aku juga menyisihkan bagian untuk nya tanpa dia harus bersusah payah.
"Itu dia! mereka berdua disana!" teriak seorang pria bertopi besar.
"Siapa kalian?" tanyaku waspada.
"Grace, ini aku ayahmu! kenapa kamu jadi begini nak!" orang itu menangis kecewa.
"Panah saja dia Mark! dia sudah bukan anakmu lagi! dia sudah berubah!" seru pria bertopi.
Darwin hanya terdiam. Dia tak berkata apapun. Darwin tiba-tiba menarik ku dan membawaku berlari. Ketiga manusia itu tertinggal jauh. Anak panah melesat tapi tak kami terhindar darinya.
"Tadi dia itu ayahku? jadi aku punya orang tua selama ini?" tanya ku kesal pada Darwin.
"Kamu tidak punya siapa-siapa lagi kecuali aku Grace!" ucap Darwin tegas.
Malam ini kami gagal berburu. Aku di kejutkan oleh kejadian tadi. Darwin tersenyum nakal dan menggoda ku.
"Malam ini saatnya aku memangsamu. Kamu gadis kecilku." Darwin tersenyum licik.
Ya, ketika dia lapar aku menjadi santapannya. Dia menghisap darah ku agar tubuhnya bisa bertahan hidup lebih lama.
Kali ini seringai nya sungguh menakutkan. Aku merasa diburu oleh ketakutan ku sendiri. Darwin berubah menjadi vampir yang menakutkan.
Ingin rasanya aku berlari tapi, kakiku terasa berat sungguh berat.
Darwin mendekat, ia langsung melahap leherku dengan kuat. Aku merasakan kesakitan, selama ini dia tak begitu ketika menghisap darah ku. Kali ini sungguh berbeda. Aku sudah lemas, ia tak berhenti menghisap darahku. Aku berontak, ia berhenti sesaat.
"Kali ini kau lah mangsaku sebenarnya Grace Mark Webber!" seringai nya teramat menakutkan.
"Kenapa? kenapa?" aku bertanya lemah.
"Karena kamu adalah anak seorang pendeta! darahmu berbeda dari manusia lainnya. Darahmu adalah darah yang aku inginkan selama ini. Ha..ha..ha!" Darwin tertawa lebar dan licik. Ia menancapkan taringnya lagi dan menghisap darah ku dengan cepat.
Aku sudah tak sadarkan diri lagi.
"Cuih, kamu itu hanya bahan makanan ku. Aku sudah bosan bermain dengan mu gadis kecil. Ha...ha..ha!"
Tawa seorang vampir bernama Darwin menggema di gelapnya malam di dalam rumah kuno.
*Selamat membaca
Jangan lupa hatinya 🤭🤭