Ini berawal dari kisah cintaku bersama pria yang aku cintai selama 7 tahun ini. Aku menjalani kisah cinta bersamanya begitu indah, penuh kenangan dan sangat mengesankan. Aku bahagia bersamanya. Dia juga sangat mencintaiku. Darel Dickson, itu lah nama kekasihku.
Aku Clara Andini, berjanji akan selalu setia sampai kapanpun pada Darel Dickson, begitupun dia. Darel selalu memanjakan aku, memberi perhatian lebih seperti layaknya seorang suami. Makanya aku sangat mencintainya.
"Sayang, hubungan kita sudah begitu lama, bukan?" tanyaku pada Darel yang sedang memainkan rambutku pada posisiku yang berada di pangkuannya. Kami sedang duduk di sofa.
"Iya, memangnya kenapa, sayang?" tanya Darel balik.
"Kapan kau menikahiku? Aku ingin kita hidup bersama setiap hari, selalu melihat kamu saat aku mau tidur dan saat aku terbangun," jawabku dengan alasan yang cukup jelas.
Darel berpikir sejenak mencerna apa yang aku ucapkan atas permintaan dan alasanku itu. Darel kemudian tersenyum padaku dan mencium pipiku sembari memeluk tubuhku begitu hangat.
"Emm ... bukankah setiap malam aku selalu berada di setiap tidurmu? Atau kau menginginkan lebih dari itu?" tanya Darel yang membuatku tercekat dan memang itu juga yang aku inginkan sebenarnya.
Tapi aku bingung kenapa Darel tidak seperti pria lain yang sudah memangsa wanita saat tidur berduaan dalam satu ranjang apalagi kami hampir setiap malam tidur bersama, itu pun Darel yang sering keluar masuk dari jendela kamarku. Entahlah aku juga bingung, Darel selalu saja datang tiba-tiba di malam hari seperti hantu.
"Ya, aku juga menginginkannya. Maka dari itu aku mau kita menikah, bagaimana?" desakku kembali kali ini.
"Ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang aku, Clara. Mungkin saat kau tahu yang sebenarnya, malah kamu akan menjauhiku bahkan membenciku, jadi aku putuskan untuk selalu berada didekatmu seperti ini saja, itu sudah lebih dari cukup," Darel menjelaskan sambil menatap wajahku dalam dan ada sekilas bentuk ketulusan yang aku rasakan darinya.
"Dengerin aku, Darel sayang. Aku nggak butuh penjelasan apapun dari kamu. Aku itu cinta sama kamu. Aku percaya kok sama kamu, yang terpenting kamu selalu setia dan cinta sama aku," ucapku pada Darel meyakinkan. Aku tak ingin kehilangannya hingga cinta membuatku buta.
"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu, Clara? Aku hanya nggak ingin kamu menyesal dikemudian hari," Darel menanyakan keyakinanku kembali.
"Iya, aku yakin karena bersama denganmu aku akan bahagia, Darel. Jadi tolong jadikan aku sebagai wanitamu juga ratu satu-satunya dihatimu, sayang!!" pintaku pada Darel dengan keyakinan yang aku tanamkan di diriku padanya.
Darel kembali berpikir beberapa detik untuk meyakinkan hatinya agar bisa membuatku selalu bersamanya dan memilikinya.
"Baiklah, kalau begitu tidurlah malam ini dengan tenang, maka kau akan menjadi wanitaku seutuhnya dan cintamu akan selalu abadi bersamaku, Clara!!" ujar Darel yang membuatku tertawa geli mendengarnya, padahal Darel mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh.
"Oh ya, baiklah ... kalau begitu aku ingin tidur sekarang dan semoga ucapan kamu itu terbukti setelah aku terbangun, sayang!" ucapku tersenyum pada Darel lalu aku pun tertidur dalam pelukannya yang setia menemaniku.
Setelah aku terlelap, Darel menatapku sendu. Dia membelai wajahku, rambutku dan dikecupnya kening serta pipiku lembut. Darel pun tak pernah melewatkan menciumku tepat di bagian leherku. Aku kadang terbuai bila Darel sudah menciumku dibagian itu apalagi ada gigitan-gigitan kecil yang selalu Darel berikan padaku. Entah kenapa Darel paling suka menyentuh atau menciumku dibagian leherku itu.
"Clara, andai kau tahu aku ini adalah seorang Vampire yang hidup ribuan tahun, aku selama ini menutupi jati diriku dan menahan nafsuku untuk menghisap darahmu. Dan saat kau memintaku untuk menjadikan kamu ratu di hatiku, aku semakin yakin bukti cintamu padaku begitu tulus. Maafkan aku Clara ... aku akan membuat permintaanmu itu menjadi kenyataan sekarang.
Aku akan menggigitmu dan menghisap darahmu karena ini satu-satunya cara agar cinta kita abadi, sayang," gumam Darel dengan dirinya sendiri, antara ingin dia lakukan dan tidak sama sekali. Tetapi Darel juga mencintaiku, dia harus rela melakukannya demi cinta abadi.
Dengan kemantapan hati Darel, dia perlahan menyentuh kepalaku dan memindahkan rambutku ke samping agar dia leluasa untuk menggigit dan menghisap darahku sebagai penyatuan antara diriku dan dirinya.
"Aku akan melakukan penyatuan kita sekarang, maafkan aku Clara!!" gumam Darel kembali pada diriku yang sedang terlelap tak berdaya.
Dengan kekuatan yang dimiliki oleh Darel sang Vampire, dia menggigit dan menghisap perlahan darah di leherku.
"Aghhh...!!" lenguhku kesakitan. Seperti mimpi yang aku rasakan, Aku tak bisa membuka mata karena Darel hanya membuatku sadar di alam yang lain yaitu alam mimpi.
Melihatku kesakitan, Darel pun tak tega. Lagi pula Darel tak ingin berlama-lama menghisap darahku karena itu akan berakibat fatal, maka dari itu Darel akhirnya menyudahi hisapannya. Darah segar yang dia hisap pun masih berlumuran di sekitar sudut mulutnya.
Selang beberapa menit, aku perlahan membuka mataku dan setelah itu baru menyadari rasa sakit yang luar biasa mulai menjalar di seluruh tubuhku. Mungkin itu efek dari gigitan Darel yang mulai bereaksi.
"Aghhh ... sakit!!" aku mengaduh kesakitan.
"Tenang lah Clara, sakitnya hanya sementara," ucap Darel sembari. membelai kepalaku untuk menenangkan.
"Ini menyakitkan Darel. Apa yang terjadi padaku?" aku masih merasakan sakit yang luar biasa.
"Ini penyatuan kita, Kau sudah menjadi milikku, wanitaku dan ratuku selamanya. Cinta kita akan abadi, sayang. Sesuai dengan keinginan kamu," ujar Darel membisikkan di telingaku dengan lembut.
Aku meraba leherku yang begitu sakit, saat aku mengangkat tanganku dan melihatnya, ternyata ada darah segar di tanganku yang berasal dari leherku itu, aku pun terkejut. Kemudian aku menatap wajah Darel yang juga di sekitar sudut mulutnya ada bekas darah.
"Kenapa leherku berdarah dan kenapa di sudut mulut kamu juga berdarah, sayang?" tanyaku pada Darel dengan suara yang begitu lemah.
Darel mendekatkan kembali wajahnya ke arahku dan berbisik lembut di telingaku.
"Aku adalah Vampire, kau telah menjadi ratu di hatiku selamanya, aku telah menjadikan cinta kita abadi, sayang. Kau sekarang bagian dari keluarga Vampire, kau mengerti bukan kenapa leher dan mulutku berdarah?" kata Darel menjelaskan padaku kemudian bertanya di akhir kalimat.
"A-apa? Jadi kau ...," tanyaku gugup dan terkejut, lagi-lagi rasanya seperti mimpi. Ada rasa takut saat berhadapan dengan Darel tapi hatiku tetap tak ingin kehilangannya.
"Iya, aku adalah Vampire. Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Apa kau menyesal, Clara?" tanyanya dengan mata yang begitu membuatku terpana dan langsung menggelengkan kepala.
"Aku mencintaimu, Darel...!!" aku tersenyum menahan sakit lalu Darel memelukku erat dan membisikkan kata-kata indah di telingaku.
Itulah bukti cintaku padanya dan aku tak pernah menarik kembali janjiku pada Darel. Demi cinta abadi, kami akan selalu bersama selamanya.
----END----