aku mengenalmu di salah satu flatfrom pencarian jodoh, awalnya aku hanya iseng mencar teman luar negara ,hingga akhirnya kitaa berdua menyadari ada rasa yang tumbuh di antara kita. Mungkin perasaan nyaman yang berujung sayang, atau dari candaan menjadi suka. Perasaan ini tumbuh dengan alaminya. Kita hanya saling memberi kabar, menanyakan kau sedang apa bukankah itu hal yang wajar? Namun semakin hari perasaan ini semakin dalam hingga akhirnya kita memutuskan menjalin hubungan, yaitu pacaraan.
aku kira hubungan ini akan berjalan lancar dengan semestinya. Hingga akhirnya kita mulai menuntut satu sama lain. Kau yang mulai melarangku bertemu pria lain meski kau tau itu teman satu kampusku. Aku juga pernah melarangmu bertemu dengan teman wanitamu, namun aku tak melakukannya lagi saat kamu bilang aku tak percaya padamu lagi. Bukan aku tak percaya aku tak ingin kau mulai jatuh hati padanya. Apa kau lupa kita berawal dari teman? apalagi dia yang selalu ada untukmu saat ini. Aku selalu mencoba sepenuhnya percaya padamu, meski ada sedikit rasa curiga dihatiku. Aku masih ingat, saat aku memintamu menemuiku kau malah menolak, aku tahu mungkin kau jengkel dengan permintaanku itu, namun tidak salahkan mengajak bertemu. Aku tahu betul ini bukan perkara yang mudah, selain jark yang ditempuh cukup jauh, biayanya cukup mahal untuk kita yang masih pelajar. aplagi kamu yang memiliki pengalaman buruk pada pertemuan dari hubungan jarak jauh. Tapi itu bukan salahku kan?
Kau selalu berkata jika hubungan kita akan baik-baik saja selagi saling percaya? aku sepenuhnya percaya padamu, meski terselip kekhawatiran jika aku hanya sebagai pelarian ketika kau bosan. kamu juga selalu bilang meski kita tidak ditempat dan waktu yang sama namun langit kita tetap sama. Awalnya aku sepenuhnya percaya namun hubungan kita yang sudah hampir dua tahun lamanya membuatku tak percaya lagi. Bagaimana bisa senja yang kulihat indah ditempatmu matahari yang sedang terik-teriknya, sedangkan salju yang kau bilang begitu dingin hanya ku anggap seperti penyegar di siangku yang terik. Meski perbedaan waktu kita hanya lima jam, namun ini begitu menyulitkan. Bagaimana tidak, Kau selalu menelponku jam 10 malam, namun ditempatku sudah pukul 3 dini hari padahal dipagi harinya aku sudah harus ke kampus mengikuti kelas pagi, sedangkan kita menelpon lebih dari 3 jam. Aku senang meski membuatku harus begadang setiap harinya.
Beberapa bulan ini kita akhirnya sepakat bahwa aku yang akan menemuimu terlebih dulu, dengan biaya yang kau janjikan akan kau ganti nantinya, aku tak masalah soal biaya itung-itung cuti untuk liburan, karena sebelum aku bertemu denganmu aku memang berencana ingin ke berlin. Ya tabunganku sudah cukup untuk membeli tiket pesawat yang berkisaran 10 juta rupiah, aku juga siap jika harus terbang lebih dari 17 jam, meski aku tak suka berlama-lama dipesawat. Aku sering mabuk udara jika terlalu lama terbang.
Hari ini aku mengabarimu, bahwa hari jadwal penerbanganku, aku menelponmu saat panggilan video sesaat sebelum penerbangankku, kau terilihat begitu senang sampai kau bilang ke orang tuamu dan saudara kandungmu bahwa kekasihmu akan datang menemuimu, aku sampai tersipu malu saat pertama kalinya kau menunjukan wajahku ke mereka. Kau terlihat begitu antusias dengan kedatangankku.
Akhirnya waktu penerbangankku tiba, lebih dari 17 jam aku duduk didalam pesawat, dengan guncangan-guncangan yang anehnya tak membuatku mabuk sama sekali. Pertama kalinya, aku menginjakan kaki ku di Berlin, tanah kelahiranmu. Aku tahu kau menungguku saat ini, Kau melambaikan tanganmu, dan berkata aku disini hubby, panggilan sayangmu padaku. Padahal aku tak sepenuhnya mengenalimu waktu itu. Aku datang menghampirimu dengan yakin jika memang kamu yang aku cari. Kau memelukku dengan haru. ada tangisan kecil saat kau memelukku. Begitu pula dirikku. Mungkin Tangisan kebahagiaan, Aku tahu ini awal pertemuan kita, namun tak ada sedikitpun canggung saat itu, Terlalu banyak rindu yang menumpuk dihatikku. Meski ini terbilang berlebihan namun mereka yang tak pernah melakukan LDR takan pernah tau bagaimana rasa itu. sedikit menahan meski rindu itu sudah melanda kalbu.