⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛
Yuuto melihat kakak kembarnya, Yuriko sedang menusukkan tangannya hingga menembus jantung sang ayah. Sementara tubuh ibunya sudah terpisah dari kepalanya. Tubuh Yuriko penuh dengan darah yang entah darah siapa, wajahnya adalah satu-satnya yang bersih dari darah-darah itu.
"A... apa ini? Ke... kenapa Yuri-nee..." ucap Yuuto tersedat-sedat.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Yuri-nee? Apa yang Yuri-nee lakukan? Kenapa? Kenapa??? Ukhh, aku jadi sesak napas. Sial, aku... aku masih harus..." pikir Yuuto takut.
Beberapa saat sebelumnya~
"Griezel? Apa itu?" tanya Yuuto pada Shinji, temannya.
"Itu sebutan untuk makhluk pemakan manusia. Mereka dulunya manusia yang sudah mati lalu hidup kembali dan harus memakan jantung manusia. Apa kamu gak tau? Anak SMA jaman sekarang gak tau itu?" balas Shinji sambil menyedot minumannya
"Itu cuma mitos atau rumorkan? Sesuatu kayak gitu mana mungkin ada. Kamu kebanyakan baca manga mungkin," ejek Yuuto.
"Oi! Jangan bilang gitu bodoh, memang siapa yang tau," kesal teman Yuuto.
"Oke, oke... kita anggap aja itu ada. Kesampingkan itu, kamu manggil aku ke atap bukan Cuma buat bilang itukan?" tanya Yuuto santai.
"Tentu bro! Jadi aku mau minta bantuanmu buat ngasih ini ke kakak kembarmu," kata Shinji sambil menyerahkan sebuat surat.
"Apa ini? Surat cinta lagi?" kata Yuuto malas.. "Tenang saja, aku ini kapten tim baseball loh, mana mungkin ada yang bakal nolak aku," jawab Shinji dengan PD-nya.
"Habis yang kita bicarain ini kakak kembarku loh, seorang Hideaki Yuriko loh. Yuri-nee kan primadona sekolah. Cantik, pintar, rajin ditambah seorang ketua OSIS. Yakin gak bakal ditolak?" sindir Yuuto.
"Kenapa malah kamu yang banggain kakakmu itu," sinisnya. "Lagian lo, gak Cuma aku yang sering bingung. Tapi kamu itu adik kembarnya ketua OSIS-kan? Tapi kok bisa berbanding terbalik gitu. Ketua OSIS seperti namanya Yuriko yang artinya sempurna. Kamu justru gak ada mirip-miripnya, paling Cuma namamu yang mirip kamu. Yuuto artinya kan lembut, dasar cowok gak ada maskulin-maskulinnya," ejek teman Yuuto gantian.
"Apa katamu?!!!" marah Yuuto.
Yuuto menarik kerah temannya dan menjerit tepat didepannya. Yuuto memang tidak mirip dengan kakak kembarnya, Yuriko yang serba bisa. Yuuto cukup lemah untuk ukuran laki-laki, nilainya pas-passan dan kemampuan atletisnya buruk. Satu-satunya kemiripan mereka hanya wajahnya saja, itupun ditutupi Yuuto dengan poninya. Itulah kenapa Yuuto yang biasanya lembut menjadi lebih agresif jika menyangkut Yuriko.
Pertengkaran Yuuto dengan temannya tidak bertahan lama. Mereka cepat berdamai dan menjalani hari dengan biasa disekolah. Yuriko memang ketua OSIS tapi karena dia sangat cekatan tugas-tugasnya cepat sekali selesai dan dia bisa pulang duluan. Namun Yuuto harus mengikuti kelas tambahan karena nilainya yang buruk di ulangan sebelumnya.
Malam hari setelah kelas tambahan selesai
"Hahh~ Aku tau... aku justru yang paling tau kalau aku gak berbakat seperti Yuri-nee. Tidak perlu bilang begitu juga aku tau," keluh Yuuto.
"Sejak kecil Yuri-nee memang selalu melindungiku. Saat aku di bully karena wajah imut dan namaku, hanya Yuri-nee yang selalu bersamaku dan melindungiku. Yuri-nee... sudah seperti dewi pelindungku saja," pikir Yuuto.
Karena asik berpikir sendiri, tak terasa Yuuto sudah sampai di depan rumahnya. Rumah yang biasanya berisik dan ramai, tak terdengar suara apapun dari dalam.
"Hmm? Apa ayah, ibu, Isamu dan Keira ( adik laki-laki dan perempuan Yuuto ) lagi pergi? Tumben sepi," gumam Yuuto. Tanpa curiga dengan apapun, Yuuto memasuki rumahnya seperti biasa dengan senangnya. Namun kesenangan itu rusak dengan mudah.
Yuuto yang berdiri di pintu depan bisa mencium bau darah yang sangat menyengat. Terlihat seorang gadis kecil dan anak laki-laki terbaring di ruang tamu dengan bergelimang darah. Wajah tenang Yuuto mendadak berubah menjadi panik dan segera menghampiri tubuh itu secepat yang dia bisa.
"Apa-apaan ini! Apa yang terjadi? Isamu? Keira?" paniknya sambil mengguncang tubuh adiknya.
Ketika tubuh itu dibalik oleh Yuuto, tubuh itu berlubang tepat didadanya. Yuuto membelalakkan matanya dan menoleh ke arah sekitar. Pemandangan tragis dan mengenaskan terlukis di depan matanya. Darah tercecer dimana-mana membasahi dinding dan lantai.
Wajahnya memucat dan tubuhnya bergetar, ia menunduk dan berusaha mencerna apa yang terjadi. Tiba-tiba dia teringat dengan Yuriko dan orang tuanya. Setelah meletakkan tubuh adik-adiknya, Yuuto segera mencari kakak dan orang tuanya ke seluruh penjuru rumah. Tak perlu waktu lama untuk menemukan mereka bertiga. Karena ketiganya... sedang berada di kamar orang tuanya.
Bukannya senang karena berhasil menemukan mereka. Yuuto justru terlihat terkejut dan ketakutan. Alasannya adalah Yuriko sedang menusukkan tangannya hingga menembus jantung sang ayah. Sementara tubuh ibunya sudah terpisah dari kepalanya. Tubuh Yuriko penuh dengan darah yang entah darah siapa, wajahnya adalah satu-satnya yang bersih dari darah-darah itu.
"A... apa ini? Ke... kenapa Yuri-nee..." ucap Yuuto tersedat-sedat.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Yuri-nee? Apa yang Yuri-nee lakukan? Kenapa? Kenapa??? Ukhh, aku jadi sesak napas. Sial, aku... aku masih harus..." pikir Yuuto takut.
Seorang gadis remaja berusia 16 tahun menatap Yuuto dengan tatapan dingin. Pupilnya bergetar entah karena alasan apa. Adiknya sedang menahan tangis dan ketakutannya didepannya, namun Yuriko sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
Yuriko akhirnya sadar dari lamunannya dan menghempaskan tubuh ayahnya jauh dari dirinya. Setelah itu dia berjalan mendekati adiknya yang bergetar ketakutan.
"Kamu pulang sedikit terlambat, apa kelas tambahannya terlalu lama?" tanya Yuriko.
"A... apa yang sedang kamu katakan di situasi ini Yuri-nee?" kaget Yuuto. "Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau lakukan!!???" marah Yuuto.
Yuriko hanya diam dan menatap Yuuto, "Menurutmu?" tanyanya.
"Yuri-nee... kenapa kamu membunuh ayah dan ibu?! KENAPA KAMU MEMBUNUH ISAMU DAN KEIRA??" jerit Yuuto sekeras yang dia bisa.
"Hahh~" Yuriko mengela napasnya dan berjalan keluar kamar. Yuuto mengikutinya denga penuh tanda tanya dan kemarahan. Sepanjang jalan Yuuto menatap Yuriko baik-baik, dia baru saja sadar kalau mata kakaknya berubah emas dan kuku serta giginya meruncing. Dia tidak mau memikirkan kemungkinan ini, namun hanya satu hal yang ada dipikiran Yuuto saat itu. Kakaknya berubah menjadi Griezel.
"Kenapa?Yuri-nee itu manusia! Dia juga belum mati, tapi kenapa?" pikirnya.
"Sepertinya banyak yang kamu pikirkan, bukan? Seperti yang ada di pikiranmu, aku sekarang sudah bukan manusia lagi. Jadi aku juga sudah bukan kakakmu," seru Yuriko.
Perkataan Yuriko membuat Yuuto shock, bukan karena Yuriko sudah tidak jadi manusia. Namun karena Yuriko bilang kalau Yuuto sudah bukan adiknya lagi. Perasaan yang sedang ada didalam Yuuto adalah rasa terkhianati. Orang yang paling dia percaya di dunia ini mengkhianatinya. Orang itu bahkan juga membunuh orang-orang yang disayanginya. Begitu sadar akan fakta itu, Yuuto marah besar pada dirinya yang sempat ingin membunuh Yuriko.
Yuriko sampai didepan tubuh adik-adiknya. Dia melewatinya begitu saja hanya untuk mengambil katana yang menjadi pajangan di ruang tamu. Setelah itu, Yuriko menyerahkannya ke Yuuto dan berkata sesuatu.
"Apa kamu marah padaku? Apa kamu ingin membunuhku? Kalau begitu pegang pedang ini. Jadilah lebih kuat dan bunuh aku nanti," katanya dengan tegas.
Mendengarnya membuat Yuuto sangat kaget dan panik, " Mana mungkin aku bisa membunuh Yuri-nee!!!" jeritnya.
Yuriko menurunkan tangannya yang membawa katana itu. Lalu menatap Yuuto dengan tatapan merendahkan. "Kalau begitu lupakan saja semua yang kamu lihat hari ini, lalu hiduplah dengan normal. Tanpa terlibat sedikitpun dengan dunia ini," ucap Yuriko dingin.
Yuriko dengan cepat bergerak ke belakang tubuh Yuuto dan membuatnya pingsan dengan memukul tengkuk lehernya. Pandangan Yuuto menjadi sangat kabur dan tubuhnya terjatuh. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Yuuto sempat melihat Yuriko meneteskan air matanya dan berbalik pergi.
"Yuri... nee..."
⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛
Seorang gadis berambut hitam panjang dan mata biru langit berjalan dengan anggun melewati orang-orang yang terpesona dengan kecantikannya. Gadis itu tampak senang dengan apa yang sedang di bawanya. Dia membawa sebuah bingkisan berisi manisan untuk adik-adik kecilnya dirumah.
"Apa isa-kun dan kei-chan akan senang dengan hadiahku? Akukan sudah susah payah menyelesaikan tugas OSIS secepat mungkin agar bisa membeli ini," gumam gadis itu sambil tersenyum sendiri.
Seperti yang sudah ditebak, gadis itu adalah Hideaki Yuriko. Kakak kembar Yuuto dan ketua OSIS di sekolahnya. Yuriko adalah gadis yang cantik, anggun, keren, cerdas, ramah dan serba bisa. Itulah kenapa orang-orang menganggapnya seorang anak yang sempurna seperti namanya. Namun tidak seperti yang dikira orang-orang, Yuriko sangat manja dan kekanak-kanakkan pada keluarganya, terlalu siscon dan brocon pada adiknya, tidak pintar bersih-bersih rumah dan sangat takut dengan kecoa.
"Yuu-kun ada kelas tambahan sih, padahal kita bisa pulang bareng," keluhnya.
Sesampainya dirumah, Yuriko menduga bahwa rumahnya sedang kerampokan karena terdengar suara orang jatuh dan benda pecah. Dia menjatuhkan manisan yang dibawanya dan dengan panik segera masuk ke rumah untuk mengecek keadaan keluarganya.
"ISA-KUN!! KEI-CHAN!! AYAH!! IBU!!!" jeritnya.
Yuriko yang panik dan segera masuk kerumah dikejutkan dengan pemandangan mengerikan yang terjadi tepat didepannya. Ayah Yuriko sedang memakan jantung adik perempuannya dan ibunya sedang mencekik Isamu hingga wajahnya membiru.
"A... Ayah... Ibu... apa yang...?"
Gadis itu belum bisa mencerna apa yang sedang dilihatnya, namun tubuhnya bergerak sendiri dan langsung menyerang orang tuanya untuk menyelamatkan adik-adiknya. Yuriko pernah belajar karate saat SMP, menjatuhkan orang dewasa bukanlah hal yang sulit baginya. Dengan ketangkasan Yuriko, orang tuanya tersungkur cukup jauh darinya.
"ISA-KUN!! Bertahanlah... kakak akan menyelamatkanmu," ucap Yuriko sambil menggendong Isamu di punggungnya.
Yuriko bisa tau bahwa sudah tidak mungkin menyelamatkan Keira karena jantungnya sudah tidak ada dalam tubuhnya, tapi Isamu masih hidup. Walau dipenuhi kebingungan dan kemarahan pada orang tuanya, prioritas Yuriko sekarang adalah menyelamatkan adiknya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Ada apa dengan ayah dan ibu? Apa itu Griezel seperti yang dibicarakan orang-orang?! Sejak kapan ayah dan ibu jadi Griezel? Tidak! Bahkan kenapa mereka menyerang anak mereka sendiri?" pikir Yuriko dalam hatinya.
Makhluk yang disebut Griezel ini tidak selemah manusia biasa. Mereka dengan cepat bangkit dan mengejar Yuriko yang sedang menggendong Isamu. Yuriko berusaha berlari secepat yang dia bisa tapi mustahil dia bisa mengalahkan kecepatan Griezel saat dia sedang menggendong orang. Orang tua Yuriko dengan cepat menyusul dan menarik Isamu dan membantingnya.
"ISA-KUN!!!!"
Yuriko ditahan oleh ayahnya dan digeret kembali ke dalam rumah sementara Isamu di bawa ke ruang tamu tempat Keira tergeletak. "Lepaskan!! Lepaskan aku!!!! Isa-kun!!!!"
Meskipun Yuriko sudah memberontak sebisanya, ayahnya sama sekali tidak mengendorkan tangannya dan terus menggeret Yuriko. Wajah ramah sang ayah sudah tidak ada, dia menunjukkan wajah hewan buas dengan mata merah darah. Air liurnya menetes dan gigi yang meruncing. Yuriko tau, ayahnya yang sekarang bukanlah ayahnya, hanya seekor hewan buas.
Sang ayah membanting tubuh ramping Yuriko ke tembok dengan sangat keras hingga tembok retak dan tulangnya patah. Yuriko bergetar dan mencoba berdiri untuk melawan. Setiap kali Yuriko mencoba melawan, ayahnya selalu menendang dan memukuli tubuhnya hingga ia terjatuh lagi.
Pandangan Yuriko mulai kabur, namun sebuah suara mengejutkannya.
"GYAAA!!!! KAKAK!!!!!" jerit Isamu kesakitan. Yuriko membelalakkan matanya, sudah pasti ada hal buruk yang terjadi pada Isamu. Karena dia meninggalkan Isamu sendiri dengan ibunya. "ISA-KUN!!!"
Setelah jeritan Yuriko menggema, tak ada suara yang muncul lagi. Hingga kemunculan sang ibu dari balik dinding. Ibunya tersenyum puas dengan darah belepotan di bibirnya. Yuriko sangat shock dan air matanya mulai mengalir deras.
"Hahahahahhaha," suara tawa orang tuanya seketika mengubah kesedihan Yuriko menjadi kemarahan. Yuriko belum pernah semarah ini dalam hidupnya. Sekarang dia sudah tidak peduli lagi siapa orang yang ada didepannya. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah bahwa dia harus membunuh mereka.
"Waaarghhhhh!!!!!!" sebuah jeritan kemarahan terdengar di seluruh penjuru rumah. Kuku dan jari Yuriko memanjang, warna mata biru laut berubah menjadi emas mengkilat yang indah. Bersamaan dengan jatuhnya air matanya, Yuriko bergerak dengan sangat cepat dan dalam waktu kurang dari satu detik Yuriko sudah membelah kepala ibunya hingga terpisah dari tubuhnya dan darahnya muncrat kemana-mana, membasahi tubuh Yuriko.
Di detik setelahnya, Yuriko menyerang ayahnya secara membabi buta hingga tubuhnya penuh sayatan oleh kuku panjang Yuriko.
"Kalian bukan orang tuaku!!! Kalian Cuma sampah yang melukai anaknya sendiri!!" marahnya sambil mengangkat menusukkan tangannya ke jantung sang ayah.
"Dasar baji-"
Ucapan Yuriko terputus karena melihat adik kembarnya berdiri di depan pintu kamar orang tua mereka. "Yuu-kun?" panik Yuriko.
"A... apa ini? Ke... kenapa Yuri-nee..." ucap Yuuto tersedat-sedat.
Pupilnya bergetar karena panik dan menahan nagis agar segera berlari ke pelukan adiknya itu. Yuuto sedang menahan tangis dan ketakutannya didepannya, namun Yuriko sama sekali tidak bergerak dari posisinya. "Tunggu dulu! Kelas tambahannya sudah selesai? Apa yang harus aku katakan di situasi seperti ini? Yuu-kun pasti salah paham," pikirnya panik.
"Tapi aku juga gak bisa bilang kalau ayah dan ibu membunuh Isa-kun dan Kei-chan. Uhhh, gimana ini..." Yuriko akhirnya sadar dari lamunannya dan menghempaskan tubuh ayahnya jauh dari dirinya. Setelah itu dia berjalan mendekati adiknya yang bergetar ketakutan.
"Kamu pulang sedikit terlambat, apa kelas tambahannya terlalu lama?" tanya Yuriko. "Dasar aku bodoh!! Apa yang kutanyakan sihh!!!"
"A... apa yang sedang kamu katakan di situasi ini Yuri-nee?" kaget Yuuto. "Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau lakukan!!???" marah Yuuto.
Yuriko hanya diam dan menatap Yuuto, "Menurutmu?" tanyanya.
"Yuri-nee... kenapa kamu membunuh ayah dan ibu?! KENAPA KAMU MEMBUNUH ISAMU DAN KEIRA??" jerit Yuuto sekeras yang dia bisa.
"Hahh~" Yuriko mengela napasnya dan berjalan keluar kamar. "Tentu saja, Yuu-kun akan berpikir begitu ya. Kalau dia berpikir begitu, maka biarkan saja. Yuu-kun tidak boleh terlibat dengan semua ini. Masalah Griezel dan keluarga kita, biar aku yang akan mengurusnya." Yuuto mengikutinya denga penuh tanda tanya dan kemarahan.
"Sepertinya banyak yang kamu pikirkan, bukan? Seperti yang ada di pikiranmu, aku sekarang sudah bukan manusia lagi. Jadi aku juga sudah bukan kakakmu," seru Yuriko. "Maaf! Maafkan aku... aku yang sekarang tidak pantas jadi kakakmu,"
Yuriko sampai didepan tubuh adik-adiknya. Dia melewatinya sambil terus mengucapkan permintaan maaf pada Isamu dan Keira dalam hatinya. Dia tidak berani untuk menatap kedua adiknya itu, jadi dia hanya terus berjalan untuk mengambil katana yang menjadi pajangan di ruang tamu. Setelah itu, Yuriko menyerahkannya ke Yuuto dan berkata sesuatu.
"Apa kamu marah padaku? Apa kamu ingin membunuhku? Kalau begitu pegang pedang ini. Jadilah lebih kuat dan bunuh aku nanti," katanya dengan tegas.
Mendengarnya membuat Yuuto sangat kaget dan panik, " Mana mungkin aku bisa membunuh Yuri-nee!!!" jeritnya. "Aku tau itu, sejak kecil kamu memang adalah anak yang terlalu baik Yuu-kun... maafkan aku. Aku benar-benar tidak mau melakukan ini... tapi jika aku harus menjadi iblis untuk melindungimu dari semua ini, maka aku rela melakukannya."
Yuriko menurunkan tangannya yang membawa katana itu. Lalu menatap Yuuto dengan tatapan penuh penderitaan dan kesakitan. "Kalau begitu lupakan saja semua yang kamu lihat hari ini, lalu hiduplah dengan normal. Tanpa terlibat sedikitpun dengan dunia ini," ucap Yuriko dingin.
"Iya, Yuu-kun. Hiduplah dengan normal dan kamu tidak perlu memikirkan tentang semua ini. Aku tau ini pasti berat untukmu, tapi kamu pasti bisa melaluinya... karena kamu punya teman-teman yang selalu mendukungmu. Kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan masalah finansial. Entah bagaimana caranya aku pasti akan mengirimimu uang."
Yuriko dengan cepat bergerak ke belakang tubuh Yuuto dan membuatnya pingsan dengan memukul tengkuk lehernya. Pandangan Yuuto menjadi sangat kabur dan tubuhnya terjatuh. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Yuuto sempat melihat Yuriko meneteskan air matanya dan berbalik pergi. "Maaf... Yuu-kun."
"Yuri... nee..."
Yuriko segera meninggalkan rumah tanpa basa-basi lagi. Hari itu dia bersumpah, bahwa dia akan membalas semua yang terjadi pada keluarganya. Dia akan mencari siapa Griezel yang mengubah orang tuanya menjadi seperti itu, dia akan mencari apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.
Dan... Yuriko bersumpah bahwa dalam perjalanannya, dia akan membunuh semua Griezel yang dia temui. Yuriko bertujuan memusnahkan makhluk yang disebut Griezel dari dunia ini, termasuk dengan dirinya sendiri.