Happy Reading🌞
"Mungkin aku terlalu bodoh karena memendam perasaanku tetapi jika aku mengucapnya maka Impian dinantikan akan Hilang."
Kenangan yang teringat jelas adalah sejak masuk SD. Saat itu adalah Jimmy anak yang sangat nakal, sedangkan Esther adalah anak yang pemalu dan pendiam.
Bagi Jimmy yang saat itu tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan baik dalam bermain kasti atau memancing, Esther yang terlihat canggung saat melakukan apa pun tampak sangat menyebalkan.
Jarak usia antara Jimmy yang lahir pada bulan April dan Esther yang lahir bulan Maret. Meskipun demikian, gurunya selalu memerintahkan, "Karena Jimmy sudah pintar, tolong ajari dia ya."
Esther tidak mahir menyusun senar pancing. Hanya Esther saja jari atau bajunya tersangkut kain walaupun sudah diajari cara memancing ikan di daerah berbatu dengan memakai benang, kail, dan batu ladung.
Pada akhirnya Esther tidak mendapat ikan sama sekali. Sedikit marah, Jimmy berkata, " Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?"
"Kau mengataiku bodoh…" Dan Esther langsung menangis, selanjutnya Jimmy dimarahi oleh orang-orang dewasa. Dia jadi merasa jengkel.
Pada suatu hari saat bermain kasti, ketika asyik memukul bola kasti bersama teman-temannya di bukit yang rendah, orangtua Jimmy berkata, "Esther masih belum bisa main bola kasti, ajak dia bermain yang lain juga."
Lagi-lagi Esther, Jimmy pun marah. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan ide bagus.
"Ayo kita main petak umpet. Aku yang jadi setannya."
Teman-temannya berpencar untuk bersembunyi. Esther sudah tidak ada selagi Jimmy menghitung satu sampai sepuluh. Jimmy pun menyeringai. Dia berniat untuk tidak mencari Esther sampai kapan pun.
Hanya Esther yang ditinggalkan Jimmy, lalu dia bermain dengan teman-temannya yang lain. Ketika asyik bermain, dia melupakan bagaimana keadaan Esther.
Begitu matahari mulai tenggelam, seseorang berkata, "Sudah, ayo kita pulang." Lalu mereka pun berpisah. Jimmy menuju ke rumahnya dengan ceria sambil mempermainkan bola kasti dengan memantulkan ke tanah.
Kemudian dia berhenti.
'Bagaimana dengan Esther?'
Jimmy bergegas kembali. Gawat. Jangan-jangan gadis itu terjatuh di suatu tempat dan tidak bisa bergerak. Dia pun mencari di sekitar bukit tempat bermain tadi, tetapi tidak ada bekas jejak kaki. Jangan-jangan gadis itu terjatuh ke dalam sungai.
'Aku harus memanggil orang dewasa'.
Jimmy berpikir seperti itu saat hendak berlari. Lalu, terdengar suara nyanyian dari suatu tempat.
Jimmy pun meragukan pendengarannya untuk sesaat. Suara yang jernih itu mengalun dalam dunia salju yang diwarnai oleh cahaya senja. Seperti sedang diundang, Jimmy terhuyung-huyung mengarahkan kakinya ke arah suara nyanyian tersebut.
Saat menyusuri tepian sungai, dia melihat rambut Esther yang dikepang dua.
Esther bernyanyi sambil membuat beberapa mahkota bunga. Jimmy belum pernah melihat raut muka gadis tersebut yang tampak bersinar sesantai itu disekolah.
Matahari senja, mahkota bunga dan sebuah lagu.
Jimmy hanya berdiri terpana dalam pemandangan yang seperti di negeri dongeng itu.
Esther yang merasa sedang diawasi pun menoleh, dan langsung terkejut. Tanpa sengaja mahkota bunga ditangannya terputus.
"Hoi!"
Esther berlari ke luar begitu mendengar suara Jimmy.
"Hooi, kau!"
Jimmy menyambar lengan Esther dengan kuat. Seolah kaget, Esther membuka matanya, memandangi Jimmy.
"Maaf." Entah mengapa Esther yang meminta maaf. "Aku tidak akan bernyanyi lagi, tidak akan bernyanyi lagi."
"Bodoh. Bukan itu."
Jimmy segera melepaskan lengannya begitu menyadari Esther ketakutan. Pemuda itu sadar, Esther terlihat ingin menangis karena dia kembali mengatainya bodoh.
"Tadi itu bagus, kok."
"Eh?"
"Sangat bagus."
Esther sempat tercengang untuk sesaat, tetapi kemudian dia bertanya memastikan, "Benarkah?"
"Kau harus percaya diri."
"Terimakasih, Jimmy."
Esther mengarahkan senyumnya yang cerah kepada Jimmy. "Aku ingin menjadi penyanyi, loh."
Mata Esther berbinar-binar, merentangkan tangannya. Gadis itu terlihat begitu menyilaukan bagi Jimmy yang masih belum memiliki cita-cita.
Dia merasa kagum pada gadis kecil yang selalu menangis tersedu-sedu itu karena ternyata dia sudah memiliki mimpi yang besar.
Jimmy pun jatuh cinta pada Esther saat itu.
Cinta pertama yang hangat, muda dan mungil.
Jimmy masih bisa mengingat perasaan pada saat itu dengan jelas.
JE_=🌷_=🌷_=🌷_=💦✨
Esther jadi sering tertawa dan menjadi lebih ramah sejak hari itu. Dia jadi berani bernyanyi di depan orang tanpa canggung, dan mengatakan bahwa, "Aku akan menjadi penyanyi!."
Kemudian impian itu pun berubah menjadi mimpi dari semua orang di desa yang tidak ada apa-apanya ini.
Menginjak bangku SMP, Jimmy sangat bersemangat saat Esther tampil di sebuah acara audisi. Semua orang berkumpul di rumah Jimmy untuk melihatnya dari televisi. Semua orang bersorak dan menyemangati Esther dengan megafon begitu gadis itu muncul di layar.
Kecantikan Esther sangat menonjol. Paras wajahnya tidak terkalahkan oleh siapa pun walau terlihat sedikit kampungan.
"Esther nomor satu!"
Semua orang mengangguk dengan bangga. Karena itu, Jimmy sama sekali tidak terkejut saat gadis itu terpilih menjadi wakil Desa.
"Tapi kalau sampai lolos ke babak selanjutnya, katanya dia harus pindah ke Jakarta." Begitu kata Sindi, seisi kelas langsung terdiam.
"Kita akan kesepian, tapi ayo kita bergembira untuknya. Itu sudah jadi impiannya, kan." Sebenarnya yang paling kesepian adalah Jimmy, walaupun dia mengatakan hal itu di depan semua orang.
Saat mendengar dari Sindi bahwa ternyata Esther mengundurkan diri karena tidak mendapatkan izin dari ayahnya, raut wajah semua orang terlihat lega. Jimmy dan yang lainnya merasa sangat berterima kasih kepada ayah Esther dari dalam hati mereka.
Namun meski begitu, pandangan mata Esther masih mengarah Jakarta. Sejak memasuki bangku SMA di Medan daratan, gadis itu mengumpulkan informasi dengan membeli majalah idola di toko besar setiap bulan, lalu berlatih menari dan menyanyi dengan CD dan DVD.
Di sisi lain, gadis itu juga tidak melewatkan satu pun jadwal belajarnya.
"Bagaimanapun juga, aku akan kuliah di Jakarta."
Hal itu sering terucap dari mulut Esther. Bahkan di asrama pun, dia sering latihan hingga larut malam. Sama sekali tidak ada ruang untuk Jimmy di dalam mata Esther yang sangat serius mengejar mimpi.
Karena itulah, Jimmy pun langsung menyerah ketika Esther lulus ujian masuk universitas di Jakarta. Jimmy memutuskan untuk menjadi penggemar berat gadis itu saja.
Jimmy ingin cinta pertamanya itu BAHAGIA.
Jimmy memohon dari dalam hatinya, sambil mengenang senyum di wajah Esther, sembari mengelus cincin yang sebenarnya akan diberi ke Esther.
TAMAT.
✏•Maaf jika alur, kata tidak jelas
✏•Hasil dari Halu dan dari Life (tidak plagiat)
✏•Semoga kakak suka dan dukung Author🙏😊.