ini di alami seorang kawan saat usianya baru sekitar sebelas tahunan. waktu itu dia masih duduk di bangku sekolah Dasar, kelas V. lokasi kejadiannya di sebuah désa kecil yang sebenarnya lumayan dekat dari daerah perkotaan, di wilayah jawah tengah bagian tengah.
kisah horornya bermula ketika kawan(andi) tersebut mengikuti acara perkemahan bersama dalam rangka hari pramuka. perkemahan bersama itu di ikuti seluruh murid kelas lima dan enam SD yang terdapat di wilayah kecamatan tempat tinggalnya.
biasa'kan, zaman dahulu hari pramuka selalu di rayakan dan di sambut dengan meriah seperti itu.
Nah, sudah pasti peserta perkemahan tersebut sangat banyak. Terdiri atas para Pramuka peserta (murid) dan para pembina (guru) Masing-masing.
meriah dan mengasyikan memang. hanya saja yang tidak asik saat mandinya. harus antre panjang sekali. sementara waktunya terbatas karena sudah ada jadwal-jadwal kegiatan yang wajib di laksanakan olèh parah peserta acara perkemahan tersebut.
pada hari kedua kemah, andi merasa sakit perut. dia ingin buang air besar. karena penggunaan sarana MCK (mandi cuci kakus) sudah pasti harus mengantre untuk pulang saja ke rumah. kebetulan tempat tinggalnya lumayan dekat dari lokasi perkemahan. jika di tempuh dengan sepeda onthel sedikit ngebut, hanya butuh waktu setengah jam.
Kalau begitu sampai di rumah langsung ke WC dan setelahnya mandi, dia bisa cepat-cepat kembali ke lapangan tempatnya berkemah. tidak akan terlambat sebab waktu yang disediakan panitia untuk MCK adalah satu setengah jam.
Dari pada setia antre menanti MCK perkemahan, malah bisa terlamba t ikut kegiatan nanti.
Ya, bisa telat gara-gara antre yang enggak jelas kapan tiba gilirannya. Apalagi keburu buang air besar di celana. malah nanti bikin malu saja begitulah jalan bemikiran Andi.
Olèh sebab itu, Andi segera meminjam sepeda teman satu regunya. salah satu teman seregunya memang di tugaskan membawa sepeda sebagai Salah satu properti kemah. Tujuan ya untuk sarana transportasi bilamana ada keperluan membeli atau mengambil sesuatu di rumah atau sekolah. soalnya tempat tinggal mereka hanya di désa sebelah dari lokasi perkemahan.
Demikian akhirnya. setelah meminta izin kakak pembina, Andi bergegas pulang ke rumahnya. setelah selesai urusan MCK-nya, dia bergegas kembali ke lokasi perkemahan. Andi berusaha mengayuh sepeda sekuat-kuatnya dan secepat-cepat ya. Apa lagi sudah hampir pukul lima sore. 'ntar keburu magrib sebelum tiba kembali di sana. kalau tidak bergegas bisa kemalaman di jalan. maklumlah, waktu itu di wilayah andi belum ada program listrik masuk désa. jadi, jalanan gelap tanpa penerangan bila malam tiba.
Ketika hampir sampai di lokasi perkemahan, tiba-tiba Andi mendapatkan ide untuk mengambil jalan pintas. Tujuannya supaya cepat sampai sebelum magrib tiba. Hari sebelumnya Andi sempat bersama seorang kawan melewati jalan pintas menuju lokasi perkemahan. walaupun baru sekali lewat situ, Andi yakin masih ingat jalannya.
Maka begitu sampai mulut gang yang merupakan awalan jalan pintas, Andi berbelok.
Dia sangat ingat nantinya akan ketemu Gedung MTsN, lalu di samping kanan Gedung MTsN ada jalan sempit yang langsung menuju lapangan bola yang saat itu dijadikan lokasi perkemahan. ya, Andi yakin sangat ingat akan hal itu. Bahkan yakin seyakin-yakinnya sebab hanya ada satu jalan sempit di samping Gedung MTsN itu. lagi pula, baru kemarin dia lewat situ. masa sudah lupa? demikian pikirannya dengan penuh percaya diri.
akan tetapi, sesampainya di samping kiri Gedung MTsN Andi terpanah.
"loh? "
"kok berbeda dengan kemarin?"
" mengapa jalannya ada dua?"
"kemarin betul-betul hanya ada satu".
Andi pun celingak-cekinguk untuk mencari seseorang yang bisa ditanyai. tapi suasana asli sungguh sunyi.
Walaupun seorang cowok, tetap saja dia merasa kengerian. Tak ada seorang pun yang lewat. suara angin dan suara daun tertiup angin tidak ada. bunyi-bunyian alam yang lain seperti suara jangkrik atau kicauan burung yang pulang ke sarang pun tak terdengar.
"bukankah itu aneh? "
saat Andi menengok ke atas, langit terlihat mengelap. Entah karena sudah mendekat waktu magrib atau sebab tertutup mendung. campuran anatara bingung mau menuju jalan sempit yang mana perasaan Buru- buru untuk sampai ke lokasi perkemahan mendorong Andi untuk segera memilih. bisa-bisa telat sampai ke lokasi perkemahan nanti kalau kelamaan bimbang di situ.
alhasil, Andi memutuskan untuk masuk ke jalan sempit yang berada di sebelah kanan. maka Andi segera mengayuh sepeda memasuki jalan pilihannya tadi.
"wah? kok rasanya lebih sunyi"
"makin lama makin sunyi dari pada tadi? "
rumah-rumah penduduk yang kemarin ada di sepanjang jalan kok belum terlihat? "
demikian pikirnya. sebenarnya Andi merasa amat heran sebab kemarin tidak jauh dari mulut jalan sempit itu sudah terdapat rumah-rumah berpenduduk.
Tapi dia terus mengayuh sepeda dengan cepat. tujuannya agar tidak terlambat. waktunya sudah habis untuk bengong memilih jalan tadi. sembari terus mengayuh, keheranan tetap mencolok di benanknya.
"benar-benar aneh! "
"rumah-rumah yang kemarin ada, kenapa sekarang seolah menghilang lenyap tak berbekas?
sedetik kemudian Andi juga heran gara-gara merasa tak segera tiba di lokasi perkemahan. padahal, sudah lama sekali dia mengayuh sepeda di jalan sempit itu.
"seram, seram , seram!! "
pikirnya , suasana sepi, menjelang magrib pula. saat itu pun Andi ingat kata- kata kakek neneknya,
"kalau sudah magrib itu pulang, masuk rumah, jangan Kelayapan main di luar . ntar bisa di culik hantu".
karena ingat naséhat kakek dan neneknya. Andi justru makin merasa takut. perasaannya sedikit legah ketika di kejauhan mulai terlihat deretan rumah penduduk. beberapa orang bahkan tampak berada di depan rumah. lengkap dengan sapi-sapi yang di tambatkan di depan rumah
Tapi kelegaan hatinya tak berumur lama. ketika lewat tepat di depan
rumah-rumah yang dilihatnya dari kejauhan tadi, Andi sempat sedikit melirik.
" Eh, kelihatannya ada yang aneh deh."
"Kakek-kakek yang sedang memberi makan sapi tadi kok tampaknya hanya punya satu kaki alias buntung? "
untuk Memastikan penglihatannya, Andi menoleh bukan hanya melirik. seketika jantungnya terasa copot dari tempatnya. Nenek-nenek yang tampak sibuk membuat bakul anyaman dari bambu ternyata buntung juga kedua kakinya. waduh, si nenek itu pun sempat menatap Andi.
Anak-anak yang berlari di depan sebuah rumah, tangan dan kaki masing-masing juga buntung. mereka masing-masing hanya memiliki satu kaki dan tangan. termasuk sapi-sapinya,
"kok semuanya juga buntung? "
"tiap sapi hanya punya tiga kaki. HHHIIIII...!!!"
"satu hal lagi anak-anak yang berlari itu kok tanpa suara sama sekali? "
padahal biasanya, kalau anak-anak
bermain selalu pakai acara berteriak. lalu, tidak seekor sapi pun yang melenguh atau sekadar berbunyi kelintingnya. padahal jelas-jelas semua Sapi di situ bergerak dan di beri kelintingan di lehernya. padahal jelas-jelas pula ada sejumlah aktivitas yang normalnya menimbulkan suara di depan deretan rumah-rumah yang di lewatinya.
"ini kampung kok aneh sekali? "
"pokoknya sunyi sungguh sunyi."
Andi lama-lama mulai curiga ada yang tidak beres. Tapi dia terus mengayuh sepeda secepat-cepatnya untuk segera berlalu dari situ. Andi merasa bersyukur akhirnya berhasil melewati rumah terakhir yang ada di situ. dia kembali melewati jalan yang di kiri dan kananya hanya terdapat pepohonan. Tapi....... kemudian dia baru menyadari bahwa dia tak sampai ke lapangan tempatnya berkemah, sedangkan dia merasa telah bersepeda lama sekali. rasa aneh dan heran pun lagi-lagi menyergapnya. hingga akhirnya.......
HHAHA!?? pada sepersekian detik tiba-tiba Andi seperti baru disadarkan. dia merasa di beri kesadaran untuk tidak melanjutkan perjalanannya. Dia seolah-olah di suruh balik kanan. pulang kembali ke arah semula dia memulai perjalanan tadi. tepat pada saat itu dia sudah sangat yakin bahwa dia sedang berada di dalam wilayah kampung setan. menyadari hal itu, badanya serta-merta terasa lemas lunglai. Andi setengah mati menahan rasa ketakutannya. balik ke arah semula berarti harus melewati deretan rumah berpenghuni buntung itu lagi. berarti harus melewati "orang-orang" yang meyeramkan itu lagi. Tapi dia harus bisa bertahan, pikir Andi waktu itu.
Apa boleh buat hanya itulah satu-satunya jalan untuk kembali. sungguh tidak mungkin untuk meneruskan perjalanan, maka Andi memutar sepeda, kembali mengayuhnya ke jalanan yang tadi telah disusurinya. kali ini dia mengayuh secepat-cepatnya, jauh lebih cepat dari pada tadi. terutama saat tiba di depan deretan rumah di kampung buntung yang para penghuninya rupanya masih berkeliaran di luar rumah. saat lewat untuk yang kedua kalinya itu, dia sama sekali tidak berani menoleh. melirik pun tidak. Dia hanya berusaha mengayuh sepeda secepat kilat sembari berdoa sebisa-bisanya.
Tapi dia merasa di pandangi dengan tatapan tajam olèh "orang-orang" itu. sewaktu lewat yang kedua kali itu, ada kengerian sendiri di hatinya. Dia takut di hadang, lalu di suruh berhenti olèh "mereka". syukurlah hal demikian tidak terjadi.
pokoknya Andi mengayuh dan terus mengayuh dengan tekad kuat demi menemukan kembali gedung MTsN. selama perjalananya, yang tampak di kiri dan kanan jalan hanya pepohonan besar dan kecil. Entah sudah berapa lama dia mengayuh hingga akhirnya dia menyadari suasana tidak segelap tadi. perlahan-lahan suasana bertambah terang. sewaktu menengok ke atas, langit tidak semendung tadi.
sementara di depannya, agak di kejauhan, tampaklah gedung MTsN yang di carinya. yang mengeherankan Andi juga melihat jalan sempit di samping kanan gedung tersebut. seketika heran lagi dia. jalan sempit itu jelas-jelas hanya ada satu. padahal tadi dia melihat ada dua, berdampingan. dan dia memutuskan memilih jalan sempit yang sebelah kanan, yang kini rupanya menghilang.
" (Eh, kalau bgitu... kalau jalan yang satu hilang, sekarang posisiku di mana? ) "dia bertanya dalam hati.
" mas! kok bisa nyanthol di pohon bambu itu!?? "
Teriak seseoarang kearahnya. Andi mengangkat alis keheranan. Dia baru sadar apa yang terjadi setelah celingukan dan mendapati dirinya sedang berada di atas sepeda yang terjepit di antara rumpuan bambu.
untunglah orang yang berteriak tadi segera menolongnya.
Andi lalu ditanyai macam-macam oleh orang itu,
"hati-hati kalau melewati daerah yang belum biasa kamu lewati. baca doa dan jangan melamun. sudah, sana. cepet-cepet ke perkemahan sudah magrib ini. lewat jalan aspal saja yang ramai. itu, kamu tinggal keluar dari gang ini. Tuh, kelihatan banyak motor lewat 'kan? "
Andi hanya mengangguk-mengangguk mendengar nasehat si bapak. rupanya dia masih syok dengan pengalaman seram yang baru di alaminya. Dia mengikuti saran si bapak untuk lewat jalan raya saja. lagi pula saat itu dia sudah trauma jalan pintas yang sempit-sempit
Tapi demi allah, jantungnya kerasa mau copot lagi ketika tak sengaja melihat kaki si bapak penolongnya.
"bapak itu kakinya tidak menginjak tanah!"
spontan Andi segera mengayuh sepedanya ke arah jalan besar. Dia tak mau salah jalan lagi. dia juga ogah berurusan dengan segala hantu dan setan lagi.
walaupun hantu yang terakhir ini tadi kelihatannya baik hati, dia tetap ogah kalau bertemu denganya lagi.
SELESAI...............