Masih sempat kulihat Zero yang tersenyum. Jemarinya bergerak lemah mengusirku. Satu kata yang dapat aku tangkap dari bibir bergetar Zero, pergi.
Sebilah belati perak tepat menancap di dada Zero. Seketika rasa sakit itu ikut menghunusku. Tubuhku limbung tidak bertenaga. Bagai tercabik dan tercekik bersamaan. Rasa nyeri dan ngilu menerpa seluruh nadi dan tulangku.
“Tid-daakk ... haakk ... Aargghh!!”
Tangisku tidak bisa terlepas. Udara di paru-paru terbelenggu seakan enggan bertemu dunia yang begitu kejam. Aku menyeret tubuh rapuhku yang tergolek lemah. Mengepal kuat meremas tanah dingin bertabur salju.
Semakin mendekat, aku semakin melemas. Penglihatanku mengabur, namun masih dapat kulihat dengan jelas Zero yang tampak mengenaskan.
Darah, Zero berdarah.
Kucuran darah Zero terhisap salju. Remang lentera dan obor para penduduk menambah kilau merah pada rembesan cairan yang semakin melebar.
Aku baru tau bahwa seorang vampire juga bisa berdarah. Selama ini aku pikir Zero hanya butuh darah untuk kelangsungan hidupnya. Anehnya tidak ada bau anyir di udara, hanya semerbak wangi bunga gladiol.
“BAKAR!!”
“BAKAR IBLIS ITU!!”
“BAKAR!!”
Tubuh Zero menghilang di tengah kerumunan para penduduk yang terbakar amarah. Bukan Zero yang membunuh anak kepala suku. Zero hanya menolong gadis itu di sisa nafas terakhirnya.
Masih kuingat bagaimana tubuh berlumuran darah Eliza. Ia datang terseok memegangi perutnya yang terluka. Zero yang merasa iba berusaha menjadikan Eliza vampire seperti dirinya. Tentu aku sempat menolak keputusan gila Zero.
Meski dengan berat hati akhirnya aku biarkan Zero memberikan gigitan yang tentunya tidak biasa. Saat itu cahaya biru menguar dari tubuh Zero bersamaan dengan tubuh Eliza yang mengejang.
Namun naas, Zero terlambat. Bahkan bekas gigitan di leher yang tersisa seakan menjadi boomerang bagi Zero. Ia tertuduh.
Di depan mataku yang baru saja memancarkan binar kebahagian, Zero terkepung tanpa melawan sedikit pun. Dia mendorong aku menjauh dengan tatapan teduhnya.
“Lepas!! Bukan salah Zero!!”
“DIAMLAH INGGRID!! IBLIS ITU SUDAH MERACUNI OTAK MU!!”
“LEPASKAN AKU, LUKE!!”
“Menyingkir saat aku masih berbaik hati padamu, Inggrid!!”
Tubuhku di seret paksa oleh Luke. Mahkota bunga di musim dingin yang baru saja Zero pasangkan di kepalaku terjatuh. Kutatap pilu mahkota yang hancur terinjak dan tertendang gerombolan penduduk yang mengamuk.
Di bawah dinginnya malam tanpa bulan yang menyinari, sunyi yang biasa aku dengar berganti gemuruh mengerikan. Sorak sorai kemarahan bergabung dengan suara kayu dan api yang terpercik seolah membunuhku. Rasa hangat yang menjalar di udara seakan berbisik menghina jiwaku yang hancur. Sehancur kepingan salju dalam genggaman tanganku.
Entah apa yang terjadi, namun mataku menggelap dan kini dapat kulihat wajah khawatir Bibi. Kilau sinar lampu terpendar sempurna di bola mataku dari balik tubuh Bibi. Kilasan mengerikan berputar hebat nyaris tidak terhapus sedikitpun.
“ZERO!!?”
Aku terlonjak sambil memegangi kepalaku yang berdenyut sakit. Berharap semua hanya mimpi dan saat sayup-sayup sinar mentari bersembunyi, Zero akan muncul kembali.
“Inggrid ... sudah, Nak. Bibi pernah bilang putuskan hubungan kamu dengan Zero. Dia berbeda dari kita.”
“Zero-Ku, Bi ... di mana Zero-Ku?!”
“Jangan menangis lagi, Sayang. Kamu dan Zero memang tidak bisa bersatu. Mungkin ini cara Tuhan menunjukan bagaimana hubungan kalian seharusnya.”
“TIDAK!! Aku mau Zero-Ku, hiks-hiks ....”
“Sudah, Nak.”
“Zero pasti menunggu aku, Bi. Biarkan aku pergi."
“Lepaskan dia perlahan dari hati mu. Jantungnya sudah ditusuk belati perak. Tubuhnya sudah dibakar, hanya abu yang tersisa.”
“TIDAK, BI!! ZERO-KU MASIH HIDUP!!”
Tanpa memperdulikan teriakan Bibi, aku berlari tanpa alas kaki. Rasa dingin menusuk tidak sebanding dengan hancurnya jiwaku. Hingga menjadi debu pun aku tetap akan mencari Zero, begitu tekadku.
Akan tetapi dari kejauhan dapat aku lihat pemandangan mengiris jantungku. Langkah yang melemah terhenti oleh tubuhku yang mematung. Tenggorokanku kering tercekat, lidahku kelu.
Benar saja, hanya ada abu kayu dan sisa lelehan salju yang mencair. Tidak ada Zero-Ku di sana.
Buru-buru aku mengais tumpukan abu kayu. Merelakan kulit tanganku tersengat bara api yang rupanya masih tersisa. Hingga tanah dingin nan keras menyeruak pandangan, raga Zero tidak aku temukan.
Menangis, aku hanya mampu menangis. Meraung memukuli tanah lembab yang tidak berdosa. Entah sudah berapa lama. Meski aku menyadari cahaya mentari yang mengintip di balik awan dan rintik salju sudah berganti. Kegelapan yang aku nantikan datang, namun Zero tidak pernah hadir lagi.
Rasanya hidup yang aku jalani hanya demi menjemput ajal. Bukan tidak pernah aku ingin mengakhirinya, namun semua gagal. Seolah semesta berusaha menyiksa kesendirian ku.
“Zero ....”
Menerawang jauh ke angkasa, kaki-ku sudah menapaki hutan perak. Bukan kilau perak sebenarnya, namun pancaran kristal salju yang terus menyelimuti hutan sepanjang tahun. Jangan lupakan pula kisah vampire penghuni hutan ini yang terus mengalun di telinga penduduk.
“Di sini kita bertemu. Kamu terlalu mempesona hingga takutku berubah menjadi takjub. Aku merindukan kamu, Zero ....”
Tidak ada air mata, rasanya semua sudah habis dan mengering. Ratusan purnama yang aku lewati tanpa Zero telah menguras seluruh energi. Kini aku hampa, melangkah tanpa arah yang membawa aku kembali pada kenangan lama. Meski sudah terlewati bertahun-tahun lamanya, hatiku tetap milik Zero.
“Zero??! Hah ... bahkan aku mencium aroma bunga mengerikan itu di sini. Mana mungkin gladiol tumbuh di musim dingin. Lihatlah Zero, aku gila karena kamu. Seandainya hutan ini masih terdapat vampire lain, aku akan memohon untuk mereka membunuh aku saat ini juga.”
Aku memang membenci wangi bunga gladiol yang mengingatkan aku pada kematian Zero. Sayangnya, langkah kaki-ku tidak selaras dengan hati dan pikiran.
Di atas salju tebal nan dingin, aku melihat bunga gladiol bermekaran. Hanya satu jenis dengan warna putih kemerahan.
Di bawah salju yang dingin dapat aku lihat akar bunga gladiol itu merambat. Biasanya hanya umbinya yang akan hidup, bukan berbunga dengan indah seperti yang terpampang di hadapanku. Dan lebih gilanya lagi di atas salju, bukan di atas tanah.
Entah apa yang terlintas di otakku, aku mulai menggali dengan tangan kosong hingga sedalam pinggang. Tiba-tiba, tangan yang membeku berganti rasa hangat yang menjalar. Sengatan energi menggetarkan seluruh raga ku.
“Ze-ro?”
Tersenyum dan tertawa layaknya orang bodoh, aku mengusap pipi dingin sosok yang aku temukan. Zero, aku yakin dia Zero, milikku.
Tanpa pikir panjang aku menggigit sekuat tenaga jariku hingga terluka. Mengusapkan tetesan darah pada bibir Zero, berharap dia terbangun. Meskipun mungkin saja dia sudah tidak sama lagi.
Sejenak bola mata merah yang tiba-tiba terbuka seakan ingin memangsaku. Kuku jari tangannya yang memanjang mencengkeram erat leherku. Namun bukannya menjerit ketakutan, aku menangis bahagia.
Zero-Ku kembali.
Sakit dan perih yang mendera tidak sebanding dengan kebahagiaan yang membuncah. Meski rasanya darah ini mengering karena tiba-tiba dia hisap, namun aku tetap bahagia.
“Zeeroo ... Ze-roo, aku ....”
Pandanganku menggelap dalam rengkuhan Zero. Kepalaku berdenyut sakit. Tubuhku terasa ringan dan seolah terputar-putar. Aku tidak ingin mati meninggalkan Zero. Bukan kematian seperti ini yang aku inginkan.
“Sayang ... maafkan aku.”
“Zee ....”
“Iya, ini aku, Sayang.”
“Zee ... hiks-hiks ....”
“Maafkan aku. Maafkan aku. Aku hampir membunuh kamu. Maafkan aku."
“Zee ....”
Lidahku kelu, seakan bermimpi aku bisa memandang Zero lagi. Ia masih sama seperti 8 tahun lalu sebelum peristiwa naas itu memisahkan kami. Kini aku bersyukur semesta membiarkan aku mencicipi kesakitan jika akhirnya aku bisa kembali bersama Zero.
“Belati itu tidak menikam jantungku.”
“Tapi kenapa kamu sampai tertidur sekian lama?”
“Energi milikku sudah cukup terkuras saat berusaha menolong Eliza. Belum lagi aku sempat dibakar.”
“Kenapa kamu tidak membiarkan aku tau semua ini?! Aku bahkan beberapa kali ingin menyusul kamu yang aku kira sudah tiada.”
“Maaf ... sepertinya saat sampai di puncak aku langsung tertidur. Aku takut kamu ikut diamuk para penduduk karena aku. Maafkan aku yang meninggalkan kamu beberapa tahun ini.”
“Aku merindukan kamu.”
“Aku juga sangat merindukan kamu.”
“Bohong!! Sekian tahun tertidur bagaimana bisa merindukan aku!!??”
“Jantungku terus berdenyut merindukan kamu, Sayang. Meski aku tidak bisa terbangun, tapi aku tetap bisa merasakan kehampaan dan kesedihan tanpa kamu.”
“Manis sekali mulutmu."
Pantas saja Zero masih bisa tersenyum tanpa melepaskan diri kala itu. Aku seperti dibodohi. Berhari-hari mengunci diri hingga kelaparan bahkan ingin menyusul kematian Zero. Beberapa kali mencoba mengakhiri hidup dan bertahun-tahun larut dalam kesedihan. Andai aku lebih cepat pergi ke hutan perak.
Kini, sudah menginjak 2 tahun kami melarikan diri sebelum para penduduk desa mengetahui bangkitnya Zero. Aku yang sudah sebatang kara sejak kematian Bibi belum lama itu mantap menggantungkan hidup pada Zero. Dan sejak saat itu pula aku yang seorang manusia hidup di antara para vampire dan penyihir.
“Sayang, kemarilah.”
“Jeruk? Lagi?”
Aku menggeleng tidak habis pikir. Kini Zero sangat terobsesi dengan jeruk. Buah menyegarkan yang terkadang manis namun juga masam. Aku tau, Zero tidak bisa merasakannya. Hanya darah yang bercita rasa untuknya. Pernah aku menjilat darah rusa, kambing hutan dan kelinci, namun nihil, semuanya terasa sama dan aneh.
Aku masih seorang manusia dan dia sang vampire yang aku cintai. Meski berulang kali Zero memohon untuk menjadikan aku vampire, namun dengan berat hati aku tolak. Ada nyawa lain yang membuat aku meragu.
Saat ini, aku mengandung buah cinta kami. Sudah tujuh bulan usianya. Karena itu Zero sering kali kudapati termenung. Ia bahagia, namun ada gurat kekhawatiran yang memenuhi raut wajahnya.
Tidak ada kejelasan nasibku di masa depan. Apakah aku berhasil melahirkan anak kami atau aku dan anak kami akan pergi dari dunia ini. Bahkan di dalam buku sihir sekalipun, hubungan seperti kami tidak pernah tertulis.
Hanya satu keinginan Zero, menjadikan diriku seorang vampire agar kami bisa terus bersama. Hal yang mustahil bagi Zero untuk berubah menjadi manusia. Mungkin inilah resiko yang harus aku hadapi karena jatuh cinta dengan vampire.
TAMAT.