Title: Trapped (The Untold Story)
***
Bel masuk sekolah telah berbunyi, membuat para murid bergegas untuk masuk ke kelas masing-masing. Berbeda halnya dengan Seungwoo dan dirimu yang terlihat sudah duduk manis di dalam kelas semenjak setengah jam yang lalu, terlihat sibuk belajar bersama karena hari ini kelas kalian ada ulangan.
Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika kalian berdua berpacaran di sekolah. Awalnya, banyak para murid perempuan yang iri dan dengki terhadapmu, karena kamu bisa mendapatkan lelaki teladan nomor satu di sekolahmu yang notabene-nya sangat susah untuk didekati. Namun, kamu terlihat cuek-cuek saja menghadapi cibiran mereka.
Sama halnya dengan Seungwoo. Lelaki pintar yang selalu dipuja-puja oleh hampir keseluruhan murid perempuan di sekolahmu itu juga tidak peduli, karena Seungwoo memang sudah menemukan wanita yang tepat untuk bisa mengisi hatinya. Ia akui kalau dirinya adalah lelaki yang kaku dan membosankan, tapi anehnya perilakunya itu bisa berubah berkat dirimu. Dan beruntungnya, wanita yang berhasil memikat hati dan mengubah perilakunya itu adalah kamu. Meskipun pada awalnya cintamu memang bertepuk sebelah tangan.
Awalnya, cintamu itu memang ditolak mentah-mentah oleh Seungwoo. Namun, karena tingkahmu yang blak-blakan dan tidak mengenal kata menyerah, membuat Seungwoo lama kelamaan luluh, dan mulai memiliki rasa terhadapmu. Dan pada akhirnya, kalian pun resmi menjalin sebagai sepasang kekasih meskipun kalian saat itu masih duduk di bangku kelas satu SMA di semester kedua.
Tanpa kamu sadari, ada seseorang yang sangat membenci Seungwoo sejak lama. Selain itu, ketika ia mengetahui fakta jika kamu dan Seungwoo berpacaran, orang tersebut merasa semakin jengkel dibuatnya, lalu memilih untuk mendekatimu agar ia bisa menghancurkan Seungwoo dan merusak hubungan kalian berdua.
Cho Seungyoun, orang yang telah membenci Seungwoo tanpa alasan. Hanya dia seorang yang tahu apa alasan dirinya membenci Seungwoo. Mereka memang tidak sekelas, tidak dekat pula. Seungyoun pun sebenarnya juga tidak membenci Seungwoo karena Seungwoo populer di sekolahnya. Intinya, ada hal lain yang membuatnya begitu menaruh dendam pada Seungwoo, dan ia pun juga dengan sengaja mendekatimu hingga kalian berdua menjadi akrab.
Tanpa rasa curiga dan cemburu, Seungwoo sama sekali tidak mempermasalahkan pertemanan kalian yang terlihat begitu akrab selama tiga tahun lamanya. Ya, hingga kalian bertiga duduk di bangku kelas tiga pun, hubungan percintaan denganmu dengan Seungwoo dan hubungan pertemananmu dengan Seungyoun terlihat baik-baik saja.
Seungyoun terlihat seperti anak ceria dan periang selama menjadi temanmu. Padahal, kamu tidak tahu saja jika selama tiga tahun itu Seungyoun secara diam-diam selalu memerhatikan hubungan kalian berdua, seakan sedang memikirkan timing yang tepat untuk membalaskan dendam pribadinya kepada Seungwoo hingga lelaki itu lenyap dari pandangannya.
***
"Seungwoo, maksudmu apa? Apa kamu memiliki bukti jika dia yang sudah membuatmu celaka?"
Kamu menggenggam kedua tangan Seungwoo sembari memandang Seungwoo dengan lekat, menunggu penjelasan dari Seungwoo karena rasanya sangat mustahil jika Seungyoun adalah orang yang telah membuat Seungwoo celaka hingga koma seperti waktu itu. Bahkan, hingga saat ini saja kondisi Seungwoo belum sembuh sempurna, tentu kamu akan sangat marah jika orang yang membuat Seungwoo seperti ini adalah temanmu sendiri.
Seungwoo menggerakkan bibirnya dengan perlahan, namun kamu tidak bisa membaca apa yang dikatakan oleh Seungwoo saat ini. Jantungmu pun berpacu dengan cepat, pasalnya Seungyoun tiba-tiba saja mengagetkanmu dari belakang. Kamu pun berpura-pura terkejut, lalu memukul Seungyoun seperti yang biasa kamu lakukan kepadanya. Ya, sebisa mungkin kamu harus menutupi semuanya dari Seungyoun hingga kamu sudah menemukan jawaban yang pasti.
"Bisa tidak jika sehari saja kalian berhenti bermesra-mesra seperti ini? Aku sebagai pria jomblo satu-satunya di sini merasa cemburu."
"Cari pacar sana! Tidak usah menyalahkan hubunganku dengan Seungwoo."
Kamu menjulurkan lidahmu pada Seungyoun, yang hanya dibalas kekehan oleh temanmu. Kamu melirik ke arah Seungwoo sekilas, dan entah mengapa kamu bisa merasakan jika pandangan Seungwoo pada Seungyoun saat ini terasa sangat aneh. Seungwoo seperti ingin meluapkan semuanya jika dilihat dari sorot matanya, namun kamu juga bisa melihat jika Seungwoo sedang berusaha berakting di depannya, sama sepertimu.
"Na, apa aku boleh berbicara dengan Seungwoo sebentar? Tidak akan lama. Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengannya."
"Bicara apa memangnya? Kenapa pula aku tidak boleh mendengarnya? Intinya, aku akan tetap berada di sini dan menguping pembicaraan kalian kalau kamu tidak mau memberitahuku alasannya."
"Dasar bucin! Ini masalah pria, dan wanita bar-bar sepertimu tidak boleh mendengarnya. Tenang saja, aku tidak akan mencelakaㅡ"
"Naㅡna? Aㅡakuㅡlaㅡpar."
Seungwoo menginterupsi omongan Seungyoun dan menatapmu sembari memberi kode untuk membiarkannya berbicara berdua dengan Seungyoun. Kamu merasa resah karena perkataan Seungwoo tadi terus saja terngiang-ngiang dalam otakmu, padahal sebelum ini, kamu sudah terbiasa meninggalkan Seungyoun dan Seungwoo berdua.
"Oh, ini sudah masuk jam makan siangmu, ya? Astaga! Maaf, Seungwoo. Baiklah, aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Seungyoun, jaga Seungwoo baik-baik. Kalau ku lihat dia terluka sebesar kuku jari saja, kamu yang akan merasakan akibatnya."
Seungyoun hanya bisa mendengus kesal dan mengangguk tanda paham. Tidak diberitahu olehmu pun sebenarnya Seungyoun sudah paham. Dan ia berusaha maklum karena memang kondisi Seungwoo masih terlihat agak mengkhawatirkan. Kamu pun meninggalkan mereka berdua, dan berharap jika Seungyoun tidak melakukan apa-apa kepada Seungwoo. Kamu berusaha untuk meyakinkan dirimu sendiri kalau Seungyoun tidak sejahat itu, dan semoga saja perkataan Seungwoo salah.
***
Seorang lelaki terlihat tengah mendorong seorang lelaki lainnya, dan membenturkan tubuh sang korban ke dinding gudang sekolah. Sang korban berusaha melawan, namun tenaganya kalah jauh dengan sang lawan yang memiliki badan lebih besar darinya. Sang lawan mencekik leher korbannya dengan penuh rasa amarah, dan sang korban pun hanya bisa terbatuk-batuk sembari berusaha melepaskan diri dari tangan yang mencekik lehernya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Han Seungwoo, apa harus kamu orangnya? Dari jutaan bahkan triliunan orang di dunia ini, mengapa harus kamu orangnya? Hah?!?"
"Apa maksudmu, Seungyoun? Aku tidak mengerti."
Seungyoun melepaskan Seungwoo, dan membiarkan Seungwoo mengambil napas panjang setelah ia cekik tadi. Seungyoun kini mengacak rambutnya dengan kasar, lalu meninjukan tangannya pada dinding gudang tempatmu dan Seungwoo sering menghabiskan waktu bersama.
"Intinya aku membencimu, Han Seungwoo. Tunggu sampai aku membalaskan semua dendam dan rasa sakit hatiku padamu. Dan untuk Nana, akan ku pastikan kalian berdua tidak akan pernah bersama! Lihat saja nanti."
Seungyoun langsung pergi meninggalkan Seungwoo yang masih terlihat kebingungan, namun sejak saat itu Seungwoo terlihat menjadi lebih waspada terhadap Seungyoun. Meskipun ketika Seungyoun sedang bersamamu dan juga dirinya, kekasihmu itu lebih senang menyembunyikan semuanya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Sungguh, Seungwoo bisa menutupinya darimu dengan sangat sempurna.
Seungwoo benar-benar tidak pernah menganggap Seungyoun akan merusak hubungan kalian saat itu, dan hal tersebutlah yang membuat Seungyoun semakin muak. Ia muak karena Seungwoo terlalu baik dan terlalu santai menanggapi ancamannya, dan ia pun merasa jika harus segera melenyapkan Seungwoo agar rasa sakit hati, dendam, dan kebenciannya pada Seungwoo menghilang.
'Sedikit lagi, sedikit lagi untuk membalaskan dendamku padamu. Lalu setelah itu, aku akan membuat Nana membencimu. Selamanya.'
Dan setelah itu, kehidupan Seungwoo seperti berubah. Ketika itu kalian bertiga sudah lulus dari sekolah menengah atas, dan Seungwoo ingin sekali masuk ke kampus yang sama denganmu. Namun, tiba-tiba saja ayahnya menjodohkan Seungwoo dengan seorang wanita pilihan ayahnya, dan tentu kekasihmu itu langsung menolaknya mentah-mentah.
Seungwoo bahkan sudah bercerita tentangmu dan ingin memperkenalkanmu sebagai calon istrinya kelak, namun ayahnya sama sekali tidak peduli. Keduanya pun bertengkar hebat, dan Seungwoo pada akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Hingga pada akhirnya, kecelakaan hebat itu terjadi. Ayahnya sebenarnya mengetahui tentang kecelakaan yang dialami oleh anaknya, namun ia hanya diam saja, terlihat seakan ia sudah merencakan semuanya.
***
"Sudah aku katakan berulang kali kalau aku ingin melenyapkannya dengan tanganku sendiri! Mengapa ayah harus ikut campur, hah? Sialan!"
"Ayah sudah membantumu untuk menyingkirkan anak itu tanpa harus mengotori tanganmu. Apa masih kurang, hmm? Bukankah yang kamu inginkan adalah menjadi anak ayah seutuhnya dan menjadi pewaris perusahaan ayah?"
"Aku tahu, tapi bukan seperti ini caranya! Apa dia tahu kalau ayah hanyalah ayah palsunya? Apa dia tahu kalau ayah menggunakan marga ayah kandungnya dan berpura-pura menjadi ayah kandungnya selama ini? Apa dia tahu kalau ayah adalah orang yang merebut perusahaan dan membunuh orang tuanya dulu? Aku memang sakit hati karena ayah selama ini sudah menjadi ayah yang sempurna untuknya hingga harus membuangku. Lalu, apa ayah juga harus merebut wanita yang aku suka demi perjodohan bodoh itu? Apa ayah memang benar ayahku? Jawab!"
"Cho Seungyoun! Cukup! Intinya, ayah sudah menyingkirkan pewaris asli perusahaan milik teman bodohku itu, dan ayah juga sudah mengurus semuanya! Sekarang gantian lakukan tugasmu dengan benar dan persiapkan diri untuk menjadi pengganti ayah, dan semoga saja anak itu tidak pernah bangun untuk selamanya."
"Maksud ayah? Seungwoo belum mati?"
"Dia ada di suatu tempat, dalam keadaan koma. Kamu tidak perlu tahu di mana dia berada. Lebih baik kamu fokus dengan kuliahmu dan persiapkan diri mempelajari bisnis dari sekarang."
Sejak saat itulah, hidup Seungyoun terasa tidak tenang. Ia selalu dihantui rasa bersalah, meskipun bukan ia pelakunya. Ia memang ingin membunuh Seungwoo, tapi sebenarnya ia juga tidak ingin sampai melakukan hal sekeji itu. Setelah apa yang ia lihat ketika ia kecil dulu, ia merasa trauma. Ayahnya membunuh orang tua kandung Seungwoo dan berpura-pura menjadi ayah Seungwoo demi perusahaan, dan bodohnya ia malah membenci Seungwoo karena merasa Seungwoo telah merebut ayahnya.
Seungyoun hanya membutuhkan seseorang untuk ia salahkan, agar ia merasa tenang. Namun nyatanya, hidupnya kini semakin berantakan. Meskipun demikian, ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja di hadapanmu, dan berpura tidak tahu apa-apa mengenai Seungwoo yang menghilang. Ia sebenarnya ingin mencari keberadaan Seungwoo, namun ia tidak berani.
Hingga pada akhirnya, kamu berkata jika dirinya dirasuki oleh Seungwoo, dan sejak itulah hari-hari Seungyoun semakin merasa tidak tenang karena mengira jika Seungwoo selama ini sudah mengetahui semuanya karena berada di sekitarnya. Demi menebus rasa bersalahnya, ia pun membantumu mencari Seungwoo, dan berpura-pura untuk mencari keberadaan ayahnya.
Seungyoun semakin bersalah ketika melihat keadaan Seungwoo saat kamu dan dirinya berhasil menemukan keberadaannya, dan bahkan rasa bencinya terhadap Seungwoo langsung hilang seketika. Diam-diam, Seungyoun juga terkadang menangis sendirian sembari menemani Seungwoo ketika kamu harus membeli sesuatu di luar. Hatinya terasa tercabik-cabik melihat keadaan Seungwoo yang ketika itu masih dalam fase vegetatif, namun ia tidak berani meminta maaf padanya.
Sehingga, yang hanya bisa ia lakukan adalah ikut menjaga Seungwoo dan membantu Seungwoo melakukan terapi selama setahun itu, hingga pada akhirnya Seungwoo sudah diperbolehkan untuk pulang. Awalnya, ia ingin ikut menemanimu untuk tinggal bersama Seungwoo di rumah yang telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri, namun kamu menolaknya karena kamu tidak ingin membebani temanmu.
Ya, Seungyoun berbohong mengenai semuanya. Ayahnya sama sekali tidak peduli dengan kondisi Seungwoo, sehingga ia pun berpura-pura membuat ayahnya terlihat baik di depan Seungwoo, agar Seungwoo tidak membenci ayahnya kelak. Bahkan, ia juga yang secara diam-diam membeli rumah itu, tanpa memberitahu ayahnya tentunya. Ia hanya takut saja jika sang ayah akan membunuh Seungwoo nantinya.
Dan sekarang, ia memberanikan diri untuk jujur kepada Seungwoo mengenai semuanya. Lalu setelah itu, ia akan menyerahkan diri ke pihak kepolisian, karena ia pun sebenarnya juga sudah melaporkan ayahnya terlebih dahulu. Meskipun ia tahu Seungwoo belum bisa merespons banyak, namun ia tidak peduli. Intinya, ia sudah menceritakan semuanya dari awal, hingga kebenaran tentang orang tuanya yang tewas di tangan ayahnya ketika Seungwoo masih kecil.
***
"Maaf, hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku, aku merasa menyesal. Setelah ini polisi pasti akan segera menangkapku, jadi kamu tidak perlu khawatir, hyung."
Tanpa Seungyoun sadari, Seungwoo sejak tadi sudah menangis. Ia mengira jika kecelakaan yang dialaminya ketika itu adalah ulah Seungyoun, karena saat rohnya bergentayangan sewaktu itu, Seungwoo tidak sengaja mendengarkan perkataan Seungyoun yang mengatakan jika ia ingin membunuh dirinya.
Namun nyatanya, bukan Seungyoun pelakunya, melainkan ayahnya sendiri. Ia bahkan baru mengetahui fakta yang sebenarnya dari Seungyoun. Tentang orang tua kandungnya, dan tentang ayah palsunya. Jujur, Seungwoo sama sekali tidak menyalahkan Seungyoun, karena ia pun tahu jika selama setahun belakangan ini Seungyoun selalu ikut menjaga dan merawatnya.
"Youn..."
"Hyung, tidak perlu memaksa untuk berbicara dulu, karena aku takut akan semakin merasa bersalah nantinya. Maaf, maaf karena ayahku sudah membuat hyung seperti ini, dan aku akan menebus semuanya di penjara nanti. Aku harap hyung dan Nana bisa hidup bahagia di sini, tanpaku."
Tanpa mereka sadari, kamu pun ternyata sudah ikut menguping sejak tadi. Airmatamu turun dengan deras, tidak menyangka jika ternyata temanmu itu bukanlah pelaku yang membuat Seungwoo kecelakaan. Kamu pun segera menaruh nampan makanan Seungwoo dengan asal, lalu berlari ke arah keduanya sembari berurai airmata.
Kamu memeluk Seungyoun di hadapan Seungwoo, dan menumpahkan tangisanmu pada temanmu itu. Namun Seungyoun malah terkekeh dan langsung melepaskan pelukanmu, tidak mau saja jika Seungwoo merasa cemburu nantinya. Kamu pun menatap Seungwoo, dan lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum padamu.
"Seungwoo tidak akan cemburu hanya karena aku memeluk temanku sendiri. Seungwoo juga tahu kalau hubungan kita hanya sebatas pertemanan. Kamu tahu sendiri dia baik-baik saja bersamaku selama kita berteman sewaktu SMA dulu."
"Benar juga. Siapa sangka kamu bisa menemukan orang sebaik dia, huh? Kamu memang beruntung karena cintamu dulu terbalaskan. Coba kalau dulu kamu terus ditolak olehnya, mungkin juga sekarang kamu tetap akan jomblo sepertiku."
"Seungyoun sialan!"
Kamu hendak memukul Seungyoun seperti biasanya, namun Seungyoun sudah terlebih dulu lari darimu. Kamu pun mengejarnya, dan berakhir kalian berlarian dan berputar-putar mengelilingi Seungwoo. Seungwoo hanya bisa tertawa melihat tingkah kalian, namun tawanya itu terhenti ketika ia melihat kedatangan orang-orang yang mengenakan seragam polisi.
"Cho Seungyoun, anda kami tangkap atas kasus pembunuhan berencana bersama dengan ayahmu. Kamu memiliki hak untuk diam. Apapun yang kamu katakan dapat dan akan digunakan untuk melawanmu di pengadilan. Kamu memiliki hak untuk bicara kepada penasehat hukum dan dihadiri penasehat hukum selama interogasi. Apabila kamu tidak mampu menyewa penasehat hukum, maka akan disediakan satu untukmu yang ditanggung oleh Pemerintah."
Kamu hanya bisa terdiam mematung begitu seorang polisi membunyikan hak Miranda dan langsung memborgol Seungyoun. Begitu pula dengan Seungwoo. Ia sebenarnya ingin berbicara banyak hal sebelum Seungyoun pergi, namun lidahnya terasa kelu. Seungyoun hanya bisa tersenyum kecut sambil memandangi kalian berdua. Dan sebelum ia pergi, ia meminta izin kepada polisi sejenak untuk mengucapkan salam perpisahan pada kalian.
"Na, jaga hyung-ku baik-baik. Semoga dia bisa cepat sembuh karena aku tahu dia pasti akan cepat pulih jika bersamamu. Ah! Kalau hyung sudah lancar berbicara dan berjalan, datanglah dan temui aku di penjara. Aku benar-benar ingin mendengar celotehan hyung lagi. Jaga diri kalian baik-baik. Aku pergi dulu."
Kamu berdiri di samping Seungwoo sembari menggenggam erat tangannya, dan hanya bisa mengangguk untuk merespons perkataan terakhir Seungyoun. Kamu menangis sejadi-jadinya ketika Seungyoun dibawa pergi oleh polisi, dan Seungwoo pun hanya bisa menatapmu dalam diam. Ia tidak ingin menangis lagi di hadapanmu, meskipun ia juga merasa sedih karena harus berpisah dengan Seungyoun, adiknya.
"Seungwoo, kamu harus cepat sembuh, oke? Supaya nanti kita bisa mengunjungi Seungyoun. Aku berjanji akan membuatmu pulih seperti sedia kala. I love you."
ㅡ FIN ㅡ