Title: Trapped (Pt. 2)
***
Sembari menunggu Seungyoun sadar dari pingsannya, kamu terus saja menggigit jarimu sambil berusaha berpikir bagaimana caranya membantu Seungwoo untuk kembali ke dalam tubuhnya. Jelas sekali ia tadi mendengar permohonan Seungwoo jika dirinya harus membantu Seungwoo mencari keberadaan tubuhnya, dan kamu entah mengapa malah berpikiran jika Seungwoo telah menjadi korban pembunuhan.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku yakin tubuh Seungwoo masih ada di sebuah rumah sakit. Aku yakin Seungwoo belum meninggal. Aku yakin dia hanya koma. Iya, kamu harus mencari cara untuk menemukannya, Nana. Kamu harus mencarinya."
Kamu masih terus menggoyang-goyangkan tubuh Seungyoun agar temanmu itu segera terbangun, dan untungnya saja beberapa menit kemudian Seungyoun sudah membuka matanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah berteriak, karena ia berpikir jika dirinya sedang tidur di rumah, bukan di gudang sekolah.
Kamu hanya bisa menatap datar ke arah Seungyoun yang masih terlihat histeris, dan kamu pun berusaha untuk menjelaskan semuanya dari awal kepada temanmu itu, siapa tahu Seungyoun juga bisa membantumu untuk menemukan Seungwoo. Ya, hanya ini satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan saat ini. Kamu butuh bantuan, dan hanya Seungyoun yang bisa.
"Hah? Haha, hahaha, hahahaha! Apa kamu gila, Na? Bagaimana bisa aku kerasukan roh Seungwoo? Seungwoo, Seungwoo kekasihmu yang waktu itu?"
"Ya, memangnya ada Seungwoo lainnya selain dia? Dan aku juga paham kalau kamu mungkin tidak akan percaya padaku, karena awalnya pun aku juga tidak memercayainya. Malam itu, kamu mengatakan padaku kalau kamu adalah Seungwoo, bukan Seungyoun. Dan anehnya lagi, semua perilakumu sangat berbeda hari ini. Jelas sekali aku melihat sosok Seungwoo ada dalam dirimu. Hingga dia membawaku ke tempat rahasia kita berdua ini, dan dia menghilang setelah memohon kepadaku untuk meminta pertolongan."
"Aku masih tidak percayaㅡ"
"Apa kamu pernah berangkat pagi ke kampus lalu duduk di bangku paling depan pojok dekat kursi dosen? Apa kamu pernah membaca materi presentasi kita? Apa kamu pernah menggantikanku presentasi di depan kelas? Apa kamu pernah meminum minuman hangat dan berubah menjadi pendiam, huh? Dan, apa kamu tahu tempat ini sebelumnya? Padahal, hanya aku dan Seungwoo saja yang mengetahuinya. Lalu, aku benar-benar melihat rohnya keluar dari tubuhmu tadi. Jadi, tolong bantu aku menemukan tubuhnya. Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi."
Seungyoun terlihat berpikir keras sembari memeluk dirinya sendiri karena merasa merinding. Benar apa yang dikatakan kamu tadi jika ia tidak pernah mau duduk di depan kelas, apalagi maju untuk presentasi. Lalu, minum minuman hangat? Oh, Seungyoun benci sekali minuman hangat karena akan membuat tenggorokannya sakit. Ia pun menatapmu yang saat ini tengah memandang kosong ke penjuru ruangan yang menjadi kenanganmu selama ini, dan hal itu membuat hati Seungyoun terketuk.
Ya, meskipun masih ada sedikit rasa tidak percaya, tapi tidak ada salahnya juga jika ia membantumu. Lagi pula, Seungyoun tahu betul kalau kamu selama ini tidak bisa move on dari Seungwoo, jelas ia tidak mau membuatmu terus-terusan terlihat sedih karena memikirkan Seungwoo. Seungyoun pun bangun dan menepuk pundakmu dari belakang, lalu mengangguk mantap untuk membantumu mencari keberadaan tubuh Seungwoo. Entah di mana pun tubuh Seungwoo saat ini berada, yang terpenting ia akan berusaha untuk membuatmu bisa bertemu dengan Seungwoo kembali.
***
Sudah ada belasan rumah sakit yang kalian berdua kunjungi, namun pencarian kalian masih nihil. Tidak ada pasien bernama Han Seungwoo yang di rawat di rumah sakit tersebut. Bahkan, kalian juga menyempatkan diri untuk mendatangi kantor polisi, siapa tahu ada korban atau orang hilang bernama Han Seungwoo. Namun tetap saja usaha kalian belum ada yang membuahkan hasil.
Kamu pusing, begitu juga Seungyoun. Di hari ketiga pencarian kalian, masih saja belum ada titik terang mengenai keberadaan Seungwoo. Kamu bahkan sudah mendatangi rumah Seungwoo, namun rumah tersebut sudah dijual semenjak kalian berpisah setahun yang lalu. Kamu bahkan tidak tahu di mana keluarga Seungwoo berada, karena Seungwoo memang sangat menjaga privasi keluarganya, bahkan kepadamu sekalipun.
"Na, kita harus cari Seungwoo di mana lagi? Kenapa bisa selama tiga tahun itu kamu tidak tahu apa-apa mengenai keluarganya? Kalian itu benar-benar berpacaran atau tidak sebenarnya?"
"Aku memang berpacaran dengannya, tapi kamu tahu sendiri dia itu sangat tertutup. Aku pun selama tiga tahun itu masih segan untuk bertanya tentang keluarganya, karena yang terpenting dia itu milikku, itu sudah cukup bagiku."
"Cinta memang bisa membuat orang menjadi gila. Sepertimu."
"Ck! Kalau tidak mau membantu, pergi saja sana! Aku bisa mencarinya sendiri!"
Seungyoun mengacak rambutnya dengan kesal setelah kamu pergi begitu saja meninggalkannya. Kamu akui kamu memang telah dibutakan oleh cinta, sampai-sampai kamu sama sekali tidak penasaran dengan asal-usul Seungwoo. Seungwoo memang murid teladan di sekolahmu waktu itu, dan fakta tersebut sudah membuatmu paham jika pasti Seungwoo berasal dari keluarga yang bermartabat.
Kamu pun segera kembali ke kantor polisi, untuk melaporkan Han Seungwoo sebagai orang hilang. Kamu sudah putus asa, tapi kamu juga tidak ingin menyerah begitu saja. Kamu yakin Seungwoo saat ini masih berkeliaran di sekitarmu, dan keyakinan itulah yang membuatmu harus bekerja lebih ekstra untuk menemukan di mana keberadaan tubuhnya.
Kamu sesekali mengusap airmatamu yang keluar begitu saja, merasa sedih karena pasti Seungwoo sedang menderita karena tidak bisa kembali ke dalam tubuhnya. Kamu bahkan merasa jengkel dengan dirimu sendiri karena terlihat sangat tidak becus menolong Seungwoo. Kamu pun kembali memikirkan perkataan terakhir Seungwoo kemarin. Perkataan jika kamu harus segera menemukan tubuhnya sebelum waktunya terlambat.
"Aku harus mencarimu di mana lagi? Oh, Tuhan! Bantu aku untuk berpikir. Kepalaku rasanya mau pecahㅡ"
Drrrt... drrrt...
Ponselmu berbunyi, dan kamu pun segera mengangkat telepon yang ternyata berasal dari pihak kepolisian itu. Pihak kepolisian dengan cepat menemukan lokasi keberadaan Seungwoo, dan kamu pun segera menelepon Seungyoun untuk segera mengantarkanmu menuju ke sebuah rumah sakit yang disinyalir sebagai tempat di mana Seungwoo dirawat.
Kalut, gundah, galau, cemas, panik. Semuanya bisa kamu rasakan selama menuju ke rumah sakit yang terletak jauh dari pusat kota. Seungyoun yang tengah sibuk menyetir pun sesekali berusaha menenangkanmu dengan mengusap pundakmu perlahan, berusaha mengatakan bahwa Seungwoo pasti baik-baik saja.
***
"Dok, pasien di ruang vip room mendadak kejang!"
Sang dokter segera berlari menuju ruang vip, disusul oleh sang suster di belakangnya. Sementara itu, kamu dan Seungyoun sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud, lalu segera menuju tempat receptionist untuk bertanya.
Dan benar, ada pasien bernama Han Seungwoo yang ternyata sudah mengalami koma selama satu tahun, dan hal tersebut membuat kakimu lemas. Kamu ingin segera berlari ke ruangan Seungwoo, namun rasanya kamu sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan karena masih merasa shock dengan perkataan suster tadi.
Seungyoun dengan sigap langsung membantumu ketika tubuhmu hampir saja ambruk, dan temanmu itu langsung menggendongmu di punggungnya, lalu berlari menuju ruangan Seungwoo karena ia paham betul apa yang saat ini kamu inginkan. Sesampainya di depan ruang vip, Seungyoun dengan lancangnya langsung membuka pintu, memperlihatkan sang dokter yang sudah berhasil membuat Seungwoo kembali tenang.
Kamu lantas segera turun dari gendongan Seungyoun dan berlari ke arah Seungwoo yang terlihat tidak berdaya, lalu kamu menangis sejadi-jadinya di depan dokter dan suster yang masih berada di sana. Seungyoun pun mengatakan pada dokter yang tengah kebingungan itu jika kamu adalah orang terdekat dari pasien, dan sang dokter pun terlihat sumringah sembari mengucapkan terima kasih.
"Ini pertama kalinya ada yang datang menjenguk pasien. Sudah selama setahun pasien koma, dan sudah selama setahun pula pasien sendirian di sini."
"Kalau boleh saya tahu, teman saya ini awal mulanya bisa sampai koma itu bagaimana, dok? Karena kita berdua juga sudah lost contact dengannya selama setahun. Lalu, apa kondisinya sangat parah?"
"Setahun yang lalu, pasien ini mengalami kecelakaan mobil beruntun. Mobilnya terjepit di tengah hingga remuk, namun untungnya pasien segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Bagian lobus frontalnya rusak lumayan parah, sehingga kemungkinan besar pasien bisa saja mengalami hilang ingatan, perubahan perilaku bahkan hingga kesulitan berbicara. Untungnya saja ia tidak mengalami kelumpuhan karena bagian tulang belakangnya tidak patah, hanya bagian leher dan kaki kanannya saja yang patah, sehingga harus diberi gips. Semoga setelah kedatangan kalian berdua, pasien dapat terbangun dari komanya. Jadi tolong, tolong temani pasien. Saya sendiri kasihan melihatnya, dan saya juga sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri."
Kamu menggenggam tangan Seungwoo dengan begitu erat, merasa hatimu tersayat setelah mendengar penuturan dokter. Tega sekali keluarga Seungwoo yang bahkan tidak ada yang berusaha mencarinya hingga dibiarkan sendirian selama setahun ini, dan kamu pun mulai saat ini bertekad untuk terus berada di sisi Seungwoo hinga ia terbangun dari komanya.
'Aku sudah menemukan tubuhmu. Apa kamu sekarang ada di sini? Apa kamu bisa masuk ke dalam tubuhmu? Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu? Aku, aku benar-benar menyesal karena sempat membencimu. Maafkan aku.'
Setelah dokter keluar dari ruangan, Seungyoun segera mengusap-usap punggungmu untuk membuatmu tenang. Ia paham bagaimana perasaanmu saat ini. Dan Seungyoun pun juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantuㅡ ah, sepertinya ia harus membantu Seungwoo mencari keluarganya. Setidaknya mereka harus tahu kalau kondisi Seungwoo membutuhkan perhatian lebih.
"Na, aku mau kembali ke kantor polisi sebentar. Tenang, aku akan membantu Seungwoo mencari keberadaan keluarganya. Kamu temani saja Seungwoo di sini, siapa tahu dia bisa segera bangun."
Kamu hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih pada Seungyoun. Dan kamu pun kembali menangis ketika Seungyoun sudah keluar dari ruang rawat Seungwoo. Rasa bencimu seketika luntur karena melihat kondisi Seungwoo yang memprihatinkan. Dan kamu juga berusaha untuk mempersiapkan diri jika Seungwoo mengalami hilang ingatan seperti yang dikatakan oleh dokter tadi.
"Tidak masalah, aku bisa memulainya dari awal. Aku masih menyukaimu, dan aku akan memperjuangkanmu hingga kamu bisa mengingatku kembali."
***
Dua hari berlalu, dan keajaiban pun terjadi. Seungwoo telah membuka matanya, meskipun masih dalam kondisi vegetatif. Kondisi vegetatif sendiri merupakan gangguan fungsi otak kronis. Dalam kondisi ini, serebrum atau bagian otak yang mengendalikan perilaku dan pikiran tidak lagi berfungsi secara normal, namun hipotalamus dan batang otak, yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi vital masih bisa berfungsi dengan baik.
Dokter mengatakan bahwa Seungwoo mengalami cedera otak traumatis, yang membuatnya belum bisa merespons keadaan sekitar meskipun sudah sadar dari koma. Meskipun demikian, dokter tetap akan berusaha memberikan perawatan ekstra dan memberikan terapi agar Seungwoo bisa segera sembuh dari kondisi vegetatifnya.
Kamu pun tetap merasa lega karena Seungwoo sudah bisa membuka matanya, berkedip dan memandang ke arahmu, meskipun kamu tahu pandangannya kosong karena kondisinya yang belum pulih. Namun tidak masalah, kamu akan membantu dokter semampumu, karena kamu juga harus rutin memijit tangan dan kaki Seungwoo agar otot-ototnya tidak kaku setelah sekian lama tidak digunakan untuk bergerak.
"Aku senang kamu sudah sadar, Seungwoo. Tidak masalah jika kamu tidak bisa meresponsku saat ini, yang terpenting aku akan terus mengajakmu berbicara seperti anjuran dokter. Dan kamu juga tidak akan sendirian lagi, karena Seungyoun sudah berhasil menemukan ayahmu. Nanti kalau kamu sudah boleh pulang, aku akan menemanimu tinggal di rumah yang sudah dipersiapkan ayahmu untuk membantumu pulih. Aku tahu ayahmu sangat menyesal, sehingga mungkin butuh waktu agak lama untuk membuatnya berani menemuimu."
"Na, kamu sudah makan, belum? Aku lihat kamu semakin kurus sekarang. Bagaimana kamu mau merawat Seungwoo kalau kamu saja tidak bisa merawat dirimu sendiri, hmm?"
"Cerewet sekali kamu ini. Iya, iya, aku makan dulu."
Kamu hanya bisa mendengus kesal dan memilih untuk makan di sofa, dan membiarkan Seungyoun bergantian untuk duduk di samping ranjang Seungwoo untuk mengobrol dengannya. Seungyoun sekarang ini sudah terlihat seperti kakak bagimu. Selama kamu sibuk menemani Seungwoo pun, dia yang selalu membawakanmu makanan dan membelikan semua keperluan yang kamu butuhkan, tanpa protes sedikitpun.
"Lihatlah pacarmu itu. Makan saja susah, bisanya hanya merengek saja. Tolong nanti kamu marahi dia kalau kamu sudah sembuh. Woo, dulu aku memang tidak dekat denganmu, tapi mulai saat ini aku akan menjadi temanmu. Kalau nanti kamu malu dibantu mandi oleh Nana, kamu bisa meminta bantuanku. Dan juga, aku tidak tahu mengapa ayahmu tidak mau mengunjungimu, tapi yang pasti, dia merasa bersalah karena mengira jika kamu selama ini pergi untuk memutuskan hubungan dengannya karena kamu menolak untuk dijodohkan. Ayahmu bahkan tidak tahu kalau kamu koma selama setahun, dan aku tidak bisa memaksa jika memang dia belum siap untuk menemuimu."
Kamu mengerutkan keningmu ketika mendengar Seungyoun menyebutkan kata 'dijodohkan', karena kamu sendiri belum mengetahuinya. Kamu segera menyelesaikan acara makanmu dan langsung memukul belakang kepala Seungyoun dengan menggunakan sendok, merasa kesal karena temanmu itu tidak bercerita masalah itu kepadamu.
"Astaga! Sakit, woy!"
"Kenapa kamu tidak cerita masalah dijodohkan itu? Kamu sengaja merahasiakannya dariku?"
"Ya, siapa tahu nanti kamu malah memarahi ayah Seungwoo dan mengomel padanya. Lagi pula, wanita yang mau dijodohkan pada Seungwoo juga sudah menikah sekarang. Kamu tenang saja, Seungwoo itu cuma milikmu. Puas?"
Kamu melirik Seungwoo yang hanya menatap kosong ke arahmu, lalu mengangguk senang pada Seungyoun yang tengah menatapmu dengan tatapan jengkel. Kamu pun langsung mengecup pipi Seungwoo beberapa kali, lalu menjulurkan lidahmu pada Seungyoun yang terlihat semakin malas melihat tingkah bucinmu pada Seungwoo.
"Apa pula yang Seungwoo suka darimu? Woo, kenapa kamu bisa menyukai wanita bar-bar ini? Seleramu aneh sekali."
Tanpa diduga, Seungwoo terlihat menyunggingkan sedikit senyumnya dengan menggerakkan bibirnya secara perlahan. Lantas kejadian tersebut membuat kalian berdua berteriak histeris. Ada perasaan membuncah dari dalam dirimu karena Seungwoo dapat merespons meskipun hanya dengan sebuah respons kecil, dan kamu pun segera menyuruh Seungyoun untuk memanggil dokter.
"Bagaimanapun caranya, kamu harus pulih, sayang."
***
Satu setengah tahun telah berlalu, kini Seungwoo sudah berangsur-angsur pulih dari kondisi vegetatifnya. Awalnya, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, namun kini ia sudah bisa makan dengan tangannya sendiri. Selain itu, ia yang awalnya sama sekali tidak bisa berbicara, kini sudah mulai bisa mengeluarkan suara, meskipun masih terbata-bata. Hanya tinggal berlatih berjalan saja, karena hingga saat ini ia belum bisa berjalan dengan kakinya lagi.
Kamu tidak masalah jika Seungwoo membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, karena kamu pun sudah siap untuk merawat Seungwoo ke depannya. Kini, Seungwoo dan kamu sudah tinggal bersama di rumah yang disediakan oleh ayah Seungwoo di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, karena ayahnya paham jika Seungwoo membutuhkan udara yang bersih agar cepat pulih.
Satu tahun Seungwoo melakukan terapi di rumah sakit, membuatnya merasa jenuh dan ia pun mengatakan jika ingin pulang. Tentu, kamu tidak bisa menolak keinginan Seungwoo dan dokter pun juga sudah memperbolehkan Seungwoo dirawat di rumah. Asalkan, Seungwoo tetap akan menjalani terapi lanjutan paling tidak seminggu sekali di rumah sakit.
Pagi ini, kamu sedang mengajak Seungwoo berjalan-jalan di sekitar rumah kalian untuk membiarkan Seungwoo menghirup udara segar. Tak lupa kamu juga bercerita banyak hal sembari mendorong kursi roda Seungwoo, dan kamu yakin jika Seungwoo pasti akan setia mendengarkanmu berceloteh.
"Bagaimana menurutmu? Ayahmu pada akhirnya merestuiku untuk menjadi pendamping hidupmu kelak. Apa kamu akan segera melamarku? Atau kita lebih baik langsung menikah saja?"
Kamu mengunci kursi roda Seungwoo, dan memilih untuk berjongkok di hadapan Seungwoo. Seungwoo hanya mengangguk sambil menggenggam tanganmu, lalu dengan jelas kamu membaca gerak bibirnya kalau Seungwoo bersedia menikahimu. Meskipun Seungwoo belum bisa berbicara dengan normal, tapi kamu bisa memahami maksud ucapannya.
Dan kamu pun segera memeluk Seungwoo dengan erat, merasa begitu bahagia karena ternyata cintamu selama ini membuahkan hasil. Tidak sia-sia kamu memendam perasaan suka hingga bisa berpacaran dengan lelaki nomor satu di sekolahmu dulu. Seketika, kamu teringat dengan kejadian waktu itu. Kejadian di mana kamu belum sempat bertanya pada Seungwoo secara langsung.
"Oh iya, aku ingin bertanya padamu. Apa waktu itu kamu ingat jika kamu pernah memasuki tubuh Seungyoun untuk meminta bantuanku? Waktu itu kamu meminta bantuanku untuk menemukan tubuhmu."
Seungwoo mengedipkan matanya beberapa kali sambil menatapmu bingung. Dan dari tatapan itu kamu paham jika sepertinya Seungwoo tidak mengingatnya. Jelas ia pasti tidak mengingatnya, karena kejadian seperti itu saja sungguh tidak masuk akal. Kamu pun menggeleng sambil tersenyum, lalu menyuruh Seungwoo untuk melupakannya.
Seungwoo pun memelukmu kembali, lalu ia membisikkan sesuatu di telingamu. Meskipun dengan ucapan yang sangat terbata-bata, namun kamu masih bisa memahami perkataannya. Kamu pun terkejut sambil memandangi Seungwoo dengan tatapan yang sulit dijelaskan, dan Seungwoo hanya mengangguk pelan ketika melihat raut wajahmu yang terlihat tidak percaya dengan ucapannya.
"AkuㅡmerasukiㅡtubuhㅡSeungyoun, karenaㅡSeungyounㅡyangㅡsudahㅡmembuatkuㅡsepertiㅡini, sayang. Jadi, berhatiㅡhatilahㅡdengannya."
ㅡ FIN ㅡ