Aku terbangun saat mendengar suara tv yang dinyalakan. Setelah kesadaranku terkumpul sempurna, aku turun dari kasur lalu berjalan membuka pintu. Aku mengeluarkan sedikit kepalaku untuk mengecek siapa yang sedang menonton tv. Kak Nian ternyata. Dia kakakku, dia pengganti ayah dan ibu dalam memenuni kebutuhanku dan menemani aku belajar setelah ayah dan ibu meninggal.
"Kak! Jangan kekerasan volume tv nya, aku mau lanjut tidur" titah ku yang disambut deheman singkat oleh kak Nian sembari melakukan perintahku. Aku yang merasa masih mengantuk memutuskan untuk kembali tidur karena waktu juga baru menunjukan pukul enam pagi.
"Seorang wanita muda ditemukan meninggal di dalam kamarnya dengan luka seperti gigitan ular di lehernya" aku menghampiri kak Nian dan duduk di sampingnya. Memperhatikan berita pagi yang sedang menyajikan berita terkini. Berita tersebut juga menunjukan seorang wanita yang di lehernya terdapat luka seperti gigitan ular. Ku tampik niat untuk lanjut tidur, karena penasaran dengan berita yang sedang disiarkan.
"Dugaan sementara polisi, wanita tersebut meninggal karena gigitan ular yang masuk ke dalam kamarnya, sedangkan dugaan masyarakat wanita tersebut meninggal karena gigitan vampir yang menghisap darahnya, berita kematian yang di duga perbuatan si vampir yang mencari makan beberapa hari lalu juga menewaskan sedikitnya lima orang dalam satu malam" sambung reporter di lokasi kejadian.
"Kamu harus hati-hati La, sekarang lagi marak vampir cari makan. Korbannya rata-rata perempuan" ujar kak Nian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi ya kak, masyarakat tahu nya kalo yang ngelakuin itu vampir dari mana coba?" tanyaku mencoba menyangkal bahwa pelaku gigitan di leher wanita tadi adalah gigitan vampir. Bukankah ular lebih mungkin? Aku pernah membaca di internet, ada ular yang masuk ke rumah dan mencelakai pemilik rumah. Setahuku vampir itu hanya ada di film-film.
"Kakak punya temen yang tetangganya pernah lihat vampir lagi ngisap darah korbannya dari leher. Mungkin dari situlah berkembangnya dugaan masyarakat tentang vampir tersebut".
"Kok tubuh wanita tadi nggak kering ya kak? Secara kan dihisap darahnya" tanyaku lagi.
"Mungkin vampir nya udah minum darah di tempat lain, dia cari mangsa lagi buat ngenyangin perut, jadi nggak perlu banyak-banyak minum darah" terang kak Nian lalu terkekeh geli atas ucapannya sendiri. Sial nih kak Nian! Penjelasannya bukannya memuaskan malah bikin ngeri, gumamku kesal.
"Dih! Mana ada begitu, sekali makan ya pasti karena laper lah bukan buat ngenyangin perut".
"Tahu dari mana kamu?" tanya kak Nian.
"Novel".
"Nih ya dek, walaupun vampir minum darah nya karena laper bukan buat ngenyangin perut. Tapi kan vampir juga punya batas nya sendiri untuk meminum darah mangsa nya, apalagi yang di mangsa kan udah dewasa, darah nya banyak. Bisa-bisa kalau di sedot semua, vampir nya ikutan mati" jelas kak Nian.
"Bener juga si".
Pagi semakin terang. Matahari mulai menampakan diri, cahaya nya memang belum sepanas jam dua belas. Waktu ini aku gunakan untuk mengajak kak Nian pergi ke toko buku yang baru di buka. Diskon 50% adalah alasanku saat mengajak kak Nian pergi ke toko buku tersebut.
"Masa sih gara-gara diskon 50%? Biasanya mau harganya seratus ribu juga kamu beli kalo kamu suka" tanya kak Nian tak percaya. Dirinya masih enggan beranjak meninggalkan tempat duduknya, menatap layar tv yang sudah tiga jam menyala.
"Hehe, kan biar kakak mau".
"Ayooo kak".
"Ya udah ayo" ucap kak Nian akhirnya.
Sesampainya di toko buku 'Small Library' yang sudah ramai dengan pembeli. Aku segera menarik tangan kak Nian untuk mengajaknya masuk. Toko buku tersebut diberi nama 'Small Library' yang berarti perpustakaan kecil karena para pembeli/pengunjung bisa membaca buku yang dipinjam atau yang akan dibeli ditempat. Disalah satu sudut ruangan, disediakan beberapa meja sebagai alas buku ketika membaca. Itu si yang aku baca alasan toko baru ini diberi nama 'Small Library'.
Aku manarik terus tangan kak Nian hingga mataku menuju ke salah satu rak yang diatasnya bertuliskan 'buku-buku horor-fantasi'. Aku menghampiri rak tersebut masih dengan menarik tangan kak Nian.
"Kakak nggak mau beli buku buat dibaca dirumah?" tanyaku tanpa memandang wajahnya.
"Enggak ah" aku mengangguk saja. Kak Nian memang tidak suka membaca cerita-cerita horor-fantasi atau semacamnya, berbeda denganku. Aku bahkan sudah memiliki ruangan sendiri untuk menaruh buku novel koleksi dengan berbagai genre.
Aku melepas sebentar tarikan tanganku, mata dan tanganku sibuk memilih buku mana yang akan dibeli. Aku membaca setiap judul buku yang aku ambil, jika bagus dan menarik aku akan mengambilnya.
Sekitar lima belas menit sudah aku berkeliling mencari buku yang akan dibeli. Aku menghampiri kak Nian yang duduk dikursi samping kasir dengan memegang tiga buku dengan genre yang berbeda.
"Makasih, bang".
Selesai membeli buku, aku dan kak Nian pulang ke rumah. Rumah yang dulu penuh kebahagiaan yang lengkap, ada ibu dan ayah serta kakek dan nenek. Tapi semua itu musnah saat mereka meninggalkan kami berdua.
"Kakak nanti sore kerja, kamu baik-baik di rumah. Kalau ada orang nggak dikenal, jangan di layani. Kunci rapat-rapat semua pintu dan jendela" aku mengangguk patuh mendengar pesan kak Nian yang sedang bersiap akan mencuci mobil.
Aku pergi ke perpustakaan pribadi, duduk di salah satu kursi yang terkena sinar matahari. Ku letakkan dua buku dengan genre action dan mata batin di sisi kiri. Aku lebih memilih untuk membaca buku yang pertama aku ambil, buku yang sangat menarik perhatianku sejak pertama kali melihatnya.
"Vampir di novel ganteng-ganteng, gayanya cool banget. Apa vampir di dunia nyata yang sekarang sedang marak seperti itu juga ya?" gumamku.
Waktu terus berdetik. Jam sekarang menuding pada angka satu siang. Selepas makan siang aku melanjutkan membaca novel. Cerita ini seolah menjadi candu bagiku untuk terus membacanya, cerita yang seru dan menegangkan ditambah beberapa visual yang diberikan, membuatku tambah menyukai novel ini. Akan aku cap sebagai buku favorit dan rekomendasi untuk temen-temen yang pengen baca buku kesini.
Karena mataku sudah terasa lelah dan pegal, aku memutuskan untuk tidur.
"Nel! Nel, bangun oy" samar, suara Seta tertangkap indra pendengaranku yang juga menggoyang-goyangkan kedua kaki serta tanganku.
"Apaan si?".
"Bangun!" Seta mengambil buku yang tadi di baca olehku. Dilihatnya buku tersebut.
"Lo beli buku baru?" tanya Seta.
"Iya, gw beli tadi pagi sama kak Nian. Ada dua buku lagi nih, genre action sama mata batin" aku menunjukan dua buku yang baru dibeli, buku yang masih tersegel rapi.
"Gw pinjem yang mata batin ya? Gw males baca yang vampir-vampir, sekarang aja lagi marak vampir" Aku mengangguk lalu menyerahkan buku bergenre mata batin pada Seta yang langsung menerimanya dan mulai membaca setelah segelnya dibuka.
"Gw ke kamar mandi dulu" Seta mengangguk.
"Lo kesini disuruh kakak gw?" tanyaku menatap sekilas Seta setelah pulang dari kamar mandi.
"Enggak, emang niat dari kemarin pengin main. Gw kan juga udah bilang kalo minggu sore gw kerumah lo. Lo lupa ya?".
"Mungkin" sahutku cuek.
"Dek! Kakak berangkat! Hati-hati dirumah bareng Seta, ingat pesan kakak tadi!" seru kak Nian dari luar perpus.
"Iya kak, kakak hati-hati juga di jalan".
"Ya".
Sore itu, aku habiskan waktuku bersama Seta untuk membaca novel di perpustakaan.
"Malam ini aku nginep dirumah kamu Nel, takut pulang sekalian nemenin kamu" ucap Seta saat aku sedang fokus-fokus nya membaca.
"Nel! Lo denger gw ngomong nggak si?" kesal Seta.
"Ishhh!! Mau ngomong apa si?" tanyaku ikut kesal tanpa mengalihkan pandangan dari lembar demi lembar buku novel yang sedang aku baca.
"Gw nginep dirumah lo, gw takut pulang sekalian nemenin lo!!" ucap Seta dengan nada sedikit keras.
"Owhhh... emang kenapa takut pulang? Takut ketemu vampir ya?" ledekku sambil menunjuk-nunjuk Seta yang sedang kesal.
"Tuh tau! Dirumah juga nggak ada siapa-siapa, ayah bunda lagi kerja di luar kota, bibi Sum lagi sakit jadi nggak berangkat kerja" jelas Seta.
"Owh... rumah lo udah dikunci belum?" Seta mengangguk.
"Ya udah kalo gitu, kamu nginep sini" Seta bersorak senang.
"Makasih!!".
"Sama-sama".
Sore berganti malam. Aku dan Seta disibukkan dengan membuat makan malam. Suara peralatan yang beradu dan canda tawa kami berdua memenuhi dapur. Selesai membuat makan malam, aku dan Seta menikmati masakan buatan bersama sambil menonton tv.
"Lo liat berita pagi tadi? Yang wanita meninggal dengan luka gigitan di lehernya" tanya Seta.
"Liat, ngeri ya? Kasian wanita nya" sahutku bergidik membayangkan makhluk yang menyerang wanita malang tersebut.
"Iya".
Setelah makan malam, aku dan Seta kembali ke perpus untuk melanjutkan membaca novel yang tertunda tadi.
Malam semakin larut, suara jangkrik dan burung hantu mulai terdengar bersahutan. Hujan gerimis juga sepertinya turun malam ini, menambah suasana malam menjadi begitu terasa. Seta sudah terlelap sedari tadi, jam kini menuding angka dua belas malam. Kak Nian pun sudah pulang pukul sembilan malam tadi. Sepertinya kak Nian juga sudah tertidur di kamarnya. Tinggallah aku manusia dirumah ini yang masih terjaga.
"Ta! Seta!" seruku lirih membangunkan Seta yang terlelep dalam posisi duduk.
"Hemm? Kenapa?" tanya Seta sambil melakukan peregangan.
"Pindah ke kamar yuk" Seta mengangguk. Aku dan Seta pindah ke kamar lalu tidur. Malam sudah semakin larut, mataku juga sudah semakin berat untuk dibuka karena membaca bab demi bab novel yang bertema vampir tadi hingga selesai.
.
.
.
.
.
Pagi ini aku bangun pukul tujuh karena dibangunkan oleh Seta, mataku masih memiliki banyak lem. Tidurku semalam belum mampu menghilangkan lem ini.
"Mandi gih! Kita ada kuliah pagi jam setengah sembilan" ucap Seta yang membuatku langsung bergegas mandi. Jika hari ini benar hari senin, aku tidak ingin terlambat sedikit pun. Hari senin adalah hari dimana guru yang terkenal kejam di kampus mengajar dikelasku. Jika sampai aku telat sekali lagi, surat pengeluaran dari kampus sepertinya akan langsung melayang menjatuhiku. Walaupun hanya sebuah kertas ringan, tapi isinya lah yang membuat berat. Jika sampai kertas tersebut menimpaku, aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Kak! Anterin kita ke kampus!" pintaku terburu-buru.
Kak Nian menyuruh kami untuk masuk. Setelah kami berdua menuruti perintahnya, mobil dilajukan menuju kampus dengan kecepatan tinggi.
"Okk... sampai.... makasih kak hati-hati di jalan, aku sama Seta masuk duluan... oh iya, aku nggak masak, kakak beli makanan cepat saji saja atau makan di warteg ya, bye" kukecup pipi kak Nian sekilas kemudian turun dari mobil dan menyeret Seta keluar.
"Ayo, ta... buruan!".
"Bye kak Nian!! Hati-hati di jalan!!" seru Seta saat mobil kak Nian sudah melaju pergi.
Aku dan Seta berlari menuju kelas seperti lari cepat-cepat-an. Kelas kami berada di lantai tiga, tidak ada fasilitas litf di kampusku ini. Menyiksa sekali jika datang mepet seperti saat ini. Kakikku sudah hampir keram karena terus berlari.
Sesampainya di kelas, aku dan Seta duduk berdampingan sambil mengatur nafas. Tak lama setelah kami datang, pak Joseph selaku guru bahasa indonesia dan wali kelasku datang menyapa.
"Selamat pagi anak-anak!".
"Pagi pak".
"Hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalkan nama kalian" titah pak Joseph pada empat orang disamping kanannya.
"Galaxy" lelaki bertubuh tinggi sekitar seratus tujuh puluh satu senti yang juga memiliki wajah datar dan tatapan mata yang tajam, ia memiliki poni seperti artis-artis korea, rambutnya berwarna sedikit keperakan.
"Fintan" lelaki yang bernama Fintan ini berbeda dari dua saudara laki-lakinya. Ekspresi datar dan sikap dingin kedua orang di sampingnya masih sama, tapi yang berbeda adalah warna matanya. Biru laut dengan warna hitam ditengahnya, tatapan matanya lebih tajam dari Deon dan Galaxy. Warna rambutnya senada dengan warna bola matanya hanya tidak terlalu pekat. Tingginya lebih dua centi dari Deon.
Kulihat semua murid-murid dikelas banyak yang mengalihkan pandangan dan menyibukan diri asal tidak menatap Fintan. Tapi tidak denganku, dimataku.. Fintan adalah sosok laki-laki yang unik dan berbeda.
"Velyn" wanita ini tidak jauh berbeda dengan Fintan. Rambut lurus dan bola mata yang kemerahan menjadi ciri khasnya tersendiri. Matanya bulat namun tajam. Bibir tipis mungil nya yang merah alami belum pernah mengukirkan seulas senyum saat pertama menginjakan kaki dikelas. Tingginya sama dengan Deon.
"Andera" perempuan ini bertubuh agak pendek dari Velyn, sekitar seratus enam puluh lima senti. Tatapan matanya lebih lembut dari keempat saudaranya. Rambutnya bergelombang dan berponi. Ia mengenakan kaca mata bulat sama seperti Deon. Ia tersenyum tipis saat aku menatapnya.
"Baiklah.. kalian boleh duduk, sudah disediakan empat bangku kosong untuk kalian. dua diantaranya dibarisan kedua, dua yang lain dibarisan pertama, sebaris dengan Kyla" pak Joseph menunjukku. Fintan duduk disisi kananku bersama dengan Galaxy, sedangkan Velyn dan Andera duduk di barisan kedua.
"Buka buku bahasa indonesia yang kemarin halaman dua ratus empat puluh lima. Jika ada yang berisik dan tidak suka dengan kelas pak guru, kalian boleh keluar dan berdiri disamping pintu. Hormati teman kalian yang ingin belajar" ucap pak Joseph.
Pelajaran pak Joseph sudah selesai, helaan nafas lega terdengar dari hidung anak-anak di kelas termasuk aku dan Seta saat pak Joseph sudah keluar dari kelas. Aku dan Seta pergi ke kantin untuk makan siang. Tadi saja tidak sempat sarapan karena terburu-buru.
"Nggak tahu gimana ya La, gw ngerasa nggak nyaman saat mereka mulai memasuki kelas. Kaya ada yang aneh dan berbeda dari mereka berlima, bahkan Andera yang tadi senyum tipis aja masih tetap keliatan bedanya" bisik Seta. Seta memiliki nama lengkap Semesta Cahya Ningsih, ia biasa dipanggil Seta. Ia sahabatku dari Tk.
"Gw kira cuma gw doang yang ngerasa Ta, ternyata lo juga" keluhku.
"Iya La, gw ngerasain juga. Gw ngerasa kaya selalu dipantau, diawasin gitu. Tapi nggak tahu lah ini mungkin perasaan gw aja yang belum sarapan" kekeh Seta.
"Lo mau makan apa? Biar gw pesenin" tanya Seta.
"Oh... bakso sama es jeruk aja ta" Seta mengangguk.
Aku menunggu Seta sambil mengedarkan pandangan. Entah apa yang aku cari, aku hanya ingin melakukannya saja. Mengamati murid-murid yang sedang makan dengan lahapnya membuat perutku juga ikut keroncongan.
"Nih La, pesenan lo" Seta datang membawa nampan yang berisi pesananku dan juga sebuah mangkuk mie ayam yang aku yakini sebagai pesanannya.
Aku membantu Seta menaruh makanan kami siang ini. Setelah makanan dan minuman terletak sempurna diatas meja.
"Kok Galaxy, Fintan, Velyn sama Andera nggak ada ya?" tanyaku sambil memutar pandangan.
"Nggak tahu, nggak laper kali" sahut Seta cuek. Karena kecuekannya aku pun jadi ikut cuek, lebih baik makan bakso daripada mengurusi empat orang tersebut. Aku mengambil saus untuk memberikan rasa di bakso pesananku. Saat aku akan menambahkan saus, aku melihat kuah di mangkuk bergoyang pelan. Aku amati mangkuk tersebut hingga airnya tenang. Nampak wajah Fintan yang menyeringai, ia memiliki dua taring yang lumayan panjang. Darah segar juga menetes membasahi taring tersebut dan area bibirnya.
"Wuaaa!!" aku melemparkan botol saus yang aku pegang dan mengesot mundur. Aku terkejut bukan main atas apa yang aku lihat.
"Ada apa La?" tanya Seta panik.
"I-itu... di-di mangkuk, ada... ada wajahnya Fintan, tapi serem banget" aduku dengan tubuh yang mulai gemetaran dan berkeringat dingin.
Seta menilik mangkuk baksoku.
"Nggak ada apa-apa La" ujarnya yang membuatku ingin mengecek.
Kok nggak ada? Batinku heran.
"Kamu halusinasi ya La?" aku menggeleng. Mana mungkin halusinasi, orang tadi jelas banget.
"Nggak! Nggak mungkin" sangkalku.
Seta menghela nafas, ia menyuruhku untuk memakan bakso yang sudah hampir dingin itu.
"Aku mau minum dulu" ucapku kemudian mengambil segelas es jeruk pesananku tadi. Lagi-lagi hal yang sama seperti di kuah bakso tadi terulang kembali. Kini, rambut Fintan tampak acak-acakan, ia mengenakan jubah yang sedikit runcing pada bagian sampingnya.
Karena reflek, aku melepaskan peganganku pada gelas tersebut hingga jatuh dan pecah, isinya mengalir membasahi lantai.
"Kamu kenapa lagi La?" tanya Seta dengan wajah yang lebih panik.
"Fintan... wajah Fintan muncul lagi Ta!" Seta memelukku yang membuatku langsung menangis. Wajah tampan Fintan yang aku lihat dikelas tadi berbeda jauh dari wajah Fintan yang ada di kuah bakso dan es jeruk.
Aku kembali ke kelas ditemani Seta, akhirnya perutku masih kosong dari pagi sampai siang ini, belum terisi apapun.
"Gw ke kamar mandi dulu" izinku. Tanpa menunggu jawaban Seta, aku sudah pergi terlebih dahulu ke kamar mandi. Mencuci muka mungkin bisa menenangkan pikiranku yang gelisah.
Kubuka pintu kamar mandi dan bergegas menuju ke salah satu wastafel. Segera aku nyalakan kran di wastafel dan membasuh muka. Rasa gelisah mulai kembali menyerang. Setelah mencuci muka, aku mendongak dan menatap kaca besar didepanku. Aku terpaku, saat melihat ada Fintan dikaca. Giginya bertaring, diarea bibirnya terdapat darah segar, ia menyeringai saat aku mengetahui kehadirannya.
"Wuaaaaaa!!" aku berteriak kencang sambil menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.
Hening, tidak ada yang terjadi pada diriku. Aku membuka perlahan demi perlahan telapak tanganku yang menutupi wajah. Ku edarkan pandangan mencari Fintan.
Sebentar aku dapat bernafas lega, karena nafasku kembali tercekat saat melihat Fintan sedang duduk diatas wastafel, dihadapanku. Ia menatapku dengan tatapan penuh nafsu. Aku berjalan mundur pelan-pelan. Fintan turun dari wastafel dan berjalan mendekatiku hingga aku terpojok disudut kamar mandi. Langkah Fintan terus mendekat sedangkan aku sudah kehabisan jalan.
"Darah.... suci" Fintan memiringkan kepalanya dan tersenyum menampakan gigi-gigi putih nya dengan dua gigi yang lebih lancip dideretan atas. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok lalu mendekati leherku.
"Jangan... enggak.... jangan" aku berusaha memberontak namun usahaku sia-sia, dia tidak mempedulikan ucapanku.
"Arghhhh..." erangku menahan sakit saat merasakan kedua gigi taring Fintan menancap dileherku. Aliran darah mengalir hingga membasahi baju yang aku kenakan.
"Aaaaaaa!!!" aku tersadar. Sepertinya bayanganku tentang Fintan semenjak melihat wajahnya yang seram di kuah bakso dan es jeruk sudah terlalu berlebihan.
"Hai..." di cermin aku melihat Fintan yang berdiri di ambang pintu, ia menampakkan dua gigi taring nya. Aku langsung berteriak dan terjatuh, setelah itu semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
Aku mengerjap berusaha mengembalikan kesadaran. Kupegangi kepalaku yang terasa berdenyut.
"La! Udah sadar lo?" tanya Seta dengan ekspresi bahagia. Aku baru sadar jika dia sedang duduk disamping bed yang aku tiduri.
"Lo pingsan di kamar mandi tadi, lo lagi diuks" ucap Seta.
"Pingsan?".
"Iya pingsan, gak inget lo?" aku mencoba memutar kembali memori sebelum pingsan tadi. Ah ya, aku ingat... aku pingsan karena melihat Fintan yang menyapaku dengan memperlihatkan gigi taringnya.
"Gw inget, gw pingsan karena...mmmppp" ucapku terhenti tatkala Seta membekap mulutku.
"Jangan bicarain hal ini disini, tempatnya nggak cocok" Seta melepas bekapannya.
"Sialan lo, nggak pake bekap gw juga kali" gerutuku.
"Gw mau ikut pelajaran lagi lah, yuk ke kelas" ajakku pada Seta sembari mencoba berdiri.
"Kelas udah selesai sejam yang lalu. Lo pingsan satu jam lamanya".
"Terus gimana pelajarannya? Ada tugas nggak?" tanyaku panik.
"Tenang aja, gw udah ngomong kok sama Fia, nanti kita tinggal kerumahnya aja buat nyalin tugas" aku mengangguk lega.
"Ya udah, pulang yuk. Jam tujuh gw berangkat kerja" ajakku lagi.
"Lo yakin mau kerja?" tanya Seta sambil memperhatikan seluruh tubuhku.
"Ada apa? Gw udah baik-baik aja kok" sahutku ikut memperhatikan tubuh sendiri.
"Ya udah deh kalo gitu, nanti gw ikut lo kerja buat mastiin kondisi lo".
"Oklah! Oh ya... nanti jangan kasih tahu kak Nian tentang semua yang terjadi hari ini ya?" Seta mengangguk.
Kami berdua pulang naik taksi dan turun dirumah Seta.
"Nanti berangkat pake mobil gw aja" aku mengangguk, mengikuti Seta yang masuk kerumah. Ia pergi ke kamar sedangkan aku menunggunya diruang tamu.
Seta menghampiriku setelah selesai urusannya dikamar.
Aku dan Seta masuk ke mobil hitam Seta dan melaju menuju rumahku.
"Aku ke perpus, mau baca buku" tanpa menunggu jawabanku, Seta pergi meninggalkanku di kamar yang akan pergi mandi.
Seta dulunya adalah orang yang sangat sulit untuk membaca buku, setelah tujuh tahun pertemananku dengannya... tepatnya pada kelas satu smp, Seta mulai suka membaca buku. Terkadang ia menghabiskan uang jajannya hanya untuk membeli buku yang disukainya, tapi sayangnya... kesukaannya membaca hanya pada buku-buku novel dan sebagainya, tidak dengan buku pelajaran.
Selesai mandi aku menyusul Seta ke perpus dan mulai menceritakkan semua kejadian yang berhubungan dengan Fintan secara detail mulai dari wajah seramnya di kuah bakso sampai saat aku melamun dan leherku yang digigit olehnya.
"Makannya jangan ngelamun! Ngomong-ngomong tentang Fintan, jangan-jangan Fintan vampir" terka Seta setelah membentaku untuk jangan melamun.
"Bisa aja sih, tapi ya... jujur aja gw belum terlalu percaya dengan kehadiran mereka didunia nyata" sahutku.
"Gimana kalo kita coba buktiin" ide Seta sebentar lagi pasti akan keluar.
"Caranya?" tanyaku ragu.
"Cara pertama, vampir itu nggak suka makanan manusia, nanti kita bawa Fintan ke restoran saat makan malam. Cara kedua, vampir suka darah, ajak dia ke pemotongan ayam. Cara ketiga, vampir sangat menjauhi sinar matahari, lo ajak dia jalan sepulang ngampus. Gw bakal pantengin lo dari jauh, kita lihat reaksinya. Gw udah punya nomor teleponnya Fintan dari Andera" jelas Seta.
"Lo yakin?".
"Coba aja dulu. Gw tahu itu juga dari film" ucap Seta sedikit terkekeh.
"Rencana pertama kita laksanain nanti aja, setelah lo pulang dari tempat kerja. Gimana?" tanya Seta. Aku berfikir sebentar.
"Boleh".
"Katanya vampir itu nggak keliatan di cermin karena mereka nggak punya jiwa, kalo kamu lihat cermin terus ada Fintan disana...."
"Berarti Fintan masuk ke cerminnya" sambungku.
"Pengen deh gw rasanya pergi ke luar negeri atau luar angkasa yang nggak ada vampirnya" ucapku mulai berkhayal. Gangguan wajah Fintan masih membayangi otakku.
Sambil menunggu pukul tujuh, aku dan Seta menghabiskan waktu dengan bercerita dan menyiapkan strategi untuk rencana nanti malam. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Pukul setengah tujuh tepat, aku dan Seta pergi ke salah satu kedai cofee yang menjadi tempat kerja paruh waktu ku. Aku bekerja sampai pukul sebelas malam.
"Ta!".
"Ya?" Seta mendongak sambil mengucek matanya.
"Gw udah selesai kerjanya, kita bisa jalanin rencana sekarang?" tanyaku.
"Iya, ya udah yuk cari resto yang masih buka" ajak Seta.
Setelah berkeliling, akhirnya aku dan Seta menemukan sebuah resto yang masih buka. Seta sudah menelfon Fintan beberapa menit yang lalu, aku memilih untuk duduk didekat jendela supaya bisa melihat Seta. Ia dari jauh akan mengamati kami berdua.
Setelah Fintan datang, aku segera memesan makanan. Dari awal kedatangannya, Fintan sudah terlihat tidak nyaman.
Setelah pesanan datang. Aku segera menusukan garpu yang aku pegang pada potongan sayur-sayuran dan menyuapkannya pada Fintan. Ia sempat menolak, katanya dia sudah makan. Tapi karena aku paksa, akhirnya ia mau menerimanya. Suapan pertama tidak ada reaksi hingga suapan ketiga Fintan izin pergi ke kamar mandi. Aku pura-pura khawatir dengan mengikutinya dan bertanya ada apa dengannya.
"Gw nggak papa" sahut Fintan dengan ekspresi datarnya. Ia pamit untuk segera pulang karena katanya ada urusan yang harus segera diselesaikan.
"Bagus! Rencana pertama berhasil, tubuhnya menolak makanan manusia" ucap Seta yang berdiri disampingku.
"Yuk pulang, kita harus tidur dan bersiap menjalankan rencana kedua dan ketiga" aku mengangguk. Pembayaran makanan sudah diatur oleh Seta. Sesampainya dirumah, aku dan Seta segera pergi tidur.
.
.
.
.
.
Hari ini berita meninggalnya wanita dengan luka seperti gigitan ular yang terdapat di leher korban terjadi lagi, sekitar tiga wanita yang dikabarkan meninggal diberita.
"Mereka yang digigit vampir biasanya akan jadi vampir juga, kalo makin banyak vampir yang gigit manusia berarti makin banyak juga jumlah vampirnya" gumam Seta.
"Bener itu".
Hari ini tidak ada jadwal kuliah. Aku dan Seta bisa dengan mudah menjalankan rencana kedua dan ketiga. Pukul sembilan pagi, aku mengajak Fintan ke pemotongan ayam. Reaksinya sangat mencengangkan, dia menelan salivanya dengan pandangan penuh nafsu pada darah ayam yang mengalir dari ujung pisau yang digunakan untuk menyembelih ayam.
"Gw mau beli ayam, temenin gw" aku menarik tangan Fintan dan mengajaknya lebih dekat dengan darah ayam yang mengalir.
"Bang! Beli ayam satu ekor yang udah dipotong-potong ya?" pintaku. Abang yang tadi menyembelih ayam langsung mengambil daging ayam segar yang sudah dipotong-potong dan menyerahkannya padaku.
"Makasih bang" ucapku sambil menyerahkan uang sesuai harga ayam potong.
"Bentar Fin, gw cape... duduk bentar ya" aku menarik tangan Fintan hingga ia terduduk disampingku. Ku ulur waktu sampai matahari mulai meninggi, setelah itu aku berjalan bersama Fintan.
"Kenapa nggak pake taksi?" tanya Fintan yang berjalan menunduk. Kulit tangannya mulai memerah.
"Hemat".
"Duduk dulu bentar, kayaknya kamu kepanasan" ucapku kasihan melihat Fintan yang kulitnya sudah mulai memerah, ia tampak benar-benar menghindari cahaya matahari. Apa ini benar? Bahwa Fintan adalah vampir?.
"Pe-pesen taksi aja!" titah Fintan dengan suara yang tertahan. Ia seperti sedang menahan sesuatu.
"Baiklah" aku akhirnya memesan taksi. Setelah taksi datang, aku dan Fintan masuk ke dalamnya. Taksi berhenti didepan sebuah rumah besar bercat serba hitam dan merah.
"Gw pulang dulu, makasih" Fintan keluar dari taksi dan segera memasuki rumah tersebut.
"Jalan pak!".
Setelah sampai dirumah, aku menceritakkan tentang reaksi Fintan saat di pemotongan ayam dan saat kami berdua berjalan dibawah sinar matahari kepada Seta.
"Fikss!! Dia Vampir" seru Seta yakin.
"Gw cinta sama Fintan Ta" keluhku.
"Masih ada banyak laki-laki yang bisa lo cintai selain Fintan La" ucap Seta.
Drtt..
Sebuah pesan masuk ke hpku. Tertulis nama 'Kak Nian tercinta' dengan pesan 'kakak nggak pulang, ada belajar kelompok sama mau ngurusi jenazah temen kakak. Baik-baik dirumah'.
Aku membalasnya singkat. Ia juga mengingatkan agar aku tak lupa makan dan tidur yang cukup.
"Kita masak ni ayam yuk Ta, sayang kalo udah dibeli nggak dimasak" Seta mengangguk.
Kami makan siang bersama dengan ayam kecap ala Seta dan Kyla. Seharian ini kami habiskan hanya untuk membaca buku novel di perpus hingga malam dan pergi tidur.
.
.
.
.
.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Fintan beberapa hari ini tidak masuk kuliah dan juga Galaxy, Velyn serta Andera. Jika salah satu dari mereka tidak berangkat, apa yang lain juga akan ikut tidak berangkat juga?.
Hari ini kelasku kedatangan murid baru, laki-laki gagah berbadan tinggi dengan pandangan mata yang tajam namun lembut. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Nevan.
Sepulang kuliah. Nevan datang kerumah, untung saja kak Nian sedang tidak dirumah. Aku sedang bersama Seta beberapa hari ini, orang tuanya belum pulang kerja di luar kota, pembantunya juga belum sembuh dari penyakitnya. Jadilah dia yang tinggal beberapa hari dirumahku.
"Ada apa Nev?" tanyaku penasaran. Siang tadi aku baru mengenalnya dan sore ini ia langsung datang ke rumah. Aku tidak diperbolehkan oleh kak Nian untuk berbincang terlalu lama dengan orang yang baru dikenal.
"Kamu sedang diincar. Malam bulan purnama nanti, akan ada ritual yang dilakukan bangsa vampir supaya mereka dapat hidup lebih lama lagi dengan kekuatan yang luar biasa" Nevan menunjuk diriku dengan mimik wajah serius.
"Gw?" aku menunjuk wajahku sendiri.
"Iya, kamu, Kyla. Kamu adalah pemilik darah suci yang diincar bangsa vampir. Sudah beberapa hari terakhir aku selalu menjaga tempat tinggal dan juga dirimu supaya kamu tetap aman. Bangsa vampir juga semakin gencar menyerang" aku tertegun. Aku... pemilik darah suci?.
"Maksudnya gimana? Darah suci itu apa?" tanyaku bingung.
"Darah suci adalah darah yang mengalir di tubuh keturunan pertama putri pertama Nyonya Gentari, ia adalah pemilik kekuatan yang beberapa ratus tahun lalu berhasil membelenggu bangsa vampir, tapi belenggu itu terbuka karena ulah Ratih, putri ketiga Nyonya Gentari yang sudah masuk kedalam bangsa vampir karena digigit oleh pacarnya yang ternyata adalah salah satu keturunan bangsa vampir. Sebelum kematiannya, Nyonya Gentari mengatakan padaku bahwa akan lahir pemilik darah suci yang akan membelenggu bangsa vampir untuk selama-lamanya dari rahim putri pertamanya" jelas Nevan.
"Kamu putri pertama Nyonya Delima kan?" tanya Nevan.
"Lo tahu tentang ibu gw?" Nevan mengangguk.
"Ibumu adalah pemimpin bangsa serigala pada masanya, aku adalah salah satu manusia yang berada di bawah pimpinan ibumu, Nyonya Delima" aku terkejut. Nevan... manusia serigala?.
"Lo manusia serigala?" Nevan kembali mengangguk.
"Sekarang jawablah pertanyaanku, apa kamu putri pertama Nyonya Delima?" tanya Nevan mengulangi.
"Iya, gw adalah putri pertama ibu. Namaku Kyla Delima Amboga".
"Jika begitu, aku akan membantumu untuk kembali membelenggu bangsa vampir" aku menunduk.
"Gw nggak tahu bagaimana caranya".
"Tak apa, akan aku beri tahu. Dua hari lagi adalah malam bulan purnama, di malam tersebut. Kita akan berada di bawah sinarnya supaya belenggunya dapat terpasang secara sempurna. Nanti darahmu akan diteteskan pada sebuah buku khusus sebagai tempat dibelenggunya mereka. Aku tidak bisa membantumu dalam hal tersebut karena hanya pemilik darah suci nya lah yang bisa melakukannya. Itu semua tergantung padamu, kamu mau membelenggu mereka atau tidak? Jika mereka tidak dibelenggu, di masa depan akan lahir putri dari rahim Velyn yang akan memimpin segala bangsa Vampir. Putri dari Velyn yang akan menjadi musuh bebuyutan anakmu kelak" jelas Nevan.
"Sepertinya membelenggu mereka adalah pilihan terbaik, gw nggak ingin anak gw kelak memiliki masalah dengan bangsa vampir".
"Baiklah, kita akan berjumpa satu hari lagi sebelum malam bulan purnama terjadi" setelah itu Nevan pamit undur diri.
Satu hari berlalu, Nevan kembali datang kerumahku dan memasangkan bawang putih diatas pintu dan jendela.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Seta yang merasa kesal karena tidak sengaja kepalanya dijatuhi bawang putih berukuran besar oleh Nevan.
"Bangsa vampir takut dengan bawang putih, malam kemarin mereka datang, untungnya aku tidak terlambat mencegah mereka masuk kerumah" sahut Nevan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Pantesan kemarin gw denger kaya ada yang lagi berantem, itu kamu sama bangsa vampir yang mencoba masuk rumah ya? terkaku. Nevan mengangguk.
Satu hari lagi berlalu. Terasa begitu cepat bagiku yang tidak menanti kedatangan malam ini, malam dimana aku harus melukai diriku sendiri supaya darah didalam tubuhku dapat keluar untuk membelenggu bangsa vampir. Mungkin beberapa hari yang lalu adalah kali terakhirnya aku bertemu dan melihat wajah Fintan. Walaupun dia menyeramkan, tapi aku mencintainya. Entah kenapa aku bia mencintai seorang vampir.
Malam ini, aku, Seta dan Nevan pergi ke hutan yang langka pohonnya. Aku izin pada kak Nian dengan alasan akan belajar kelompok, supaya dia tidak curiga, aku membawa dua buku mata pelajaran.
Sesampainya di hutan yang kami tuju. Aku segera turun dari mobil dan mempersiapkan semuanya. Buku biru dengan ukiran serigala dibagian depannya aku buka dibagian tengah.
Waktu terus berdetik, jam ditanganku menunjukkan pukul sebelas lima puluh sembilan. Satu tanganku sudah siap memegang cutter untuk mengiris satu tangan lainnya hingga mengeluarkan darah.
"Sekarang!" seruan Nevan membuatku langsung mengiris tangan kiriku. Angin kencang mulai menyapu daerah setempat. Fintan datang dengan mengenakan jubah hitam.
"Gw cinta sama lo sejak pertama kali liat lo di cermin ajaib beberapa ratus tahun yang lalu, gw berharap agar bisa hidup bersama lo walaupun gw tahu... lo pasti nggak akan menerima pernyataan cinta gw karena gw adalah keturunan bangsa Vampir. Tapi gw cinta sama elo la. Kalau lo nggak percaya, lo bisa teteskan darah lo diatas gambar vampir ditelapak tangan gw. Kalau gw berubah, itu tandanya cinta gw sama elo tulus" Fintan menyodorkan telapak tangannya yang disana tergambar sosok vampir.
"Lo mungkin berfikiran kalau gw cuma manfaatin lo dan apa yang gw omongin tentang cinta sama lo itu bohongan, tapi gw sungguh-sungguh La. Kalau gw bisa milih, gw juga nggak akan mau hidup menjadi vampir yang mengonsumsi darah sebagai makanannya" tangis Fintan pecah. Aku mencoba untuk meneteskan darahku diatas gambar sosok vampir ditangannya. Ia seketika mengerang, taring panjang dan runcing miliknya perlahan menghilang, jubah yang dikenakannya perlahan berganti menjadi pakaian manusia biasa, rambutnya lebih tampak cerah, warna bola matanya tidak berubah menjadi lebih indah. Gambar sosok vampir ditangannya juga perlahan memudar.
"Fi-fintan?".
Fintan berubah menjadi sosok yang lebih gagah dari saat ia menjadi vampir. Ia langsung memelukku. Dia memang mencintaiku.
Semua bangsa vampir sudah terbelenggu bersamaan dengan tertutupnya cahaya bulan purnama oleh awan. Di malam ini juga, aku mengubah lelaki vampir menjadi manusia yang mencintaiku.
____________________TAMAT__________________
Jika ada typo bertebaran dan salah penetapan kata, author minta maaf atas ketidaknyamanannya.
Terima kasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerpen ini.