Sol sepatu-delapan-sentiku, sukses mendarat di atas batu konblok sebuah pusat perbelanjaan termewah di kota ini. Aku tidak akan menginjakkan jejak di sana, jika kala itu tak ada sebuah pesan hinggap pada kotak aplikasi hijau di ponsel cerdasku. Kamu. Mengirim sebuah gambar lembar pendahuluan yang membubuhkan tiga buah aksara yang kukenal sejak lahir. Identitas yang diberikan oleh ayahku untuk mengenaliku dari hasil benihnya yang lain.
Akhirnya, kamu di kotaku. Begitu singkat kata yang kamu sematkan di bawah gambar milikmu. Ribuan pertanyaan menyeruak masuk lewat ubun-ubun kepalaku. Walau akhirnya menjadi sebuah kata gantung yang kuucapkan saat kupandangi layar datarku. Lalu?
Lalu itu sudah membawaku melangkah di atas konblok ini. Dari jalan raya yang padat itu, cukup menguras energi untuk bisa sampai pada lobi utama. Semua orang lalu-lalang. Berdua-tiga bahkan sendiri. Sepertiku. Di balik mataku yang seksama memerhatikan semua orang itu, aku ingin menembus pikiran mereka. Hanya untuk mendistraksi pikiran kalutku yang terus menyusun ribuan pertanyaan yang dihantar oleh lalu. Hingga jadi gunungan menjulang di langit-langit pikiran dan menyentuh kesadaranku.
Mengapa kamu undang? Mengapa kamu datang? Mengapa kamu muncul? Mengapa kamu memanggil? Mengapa kamu mewujud? Mewujud! Ribuan pertanyaan itu tak ada satupun kutemukan dari puluhan kepala yang berpapasan denganku. Kamu yang kukenali dalam dua dimensi yang kadang bergerak lincah dengan gambar lingkaran kuning berekspresi beda. Kamu yang kuserapi lewat suaran tawa, bisik bahkan lantunan nada. Masih tak bisa aku mengamini jika kamu akan berarak dalam dunia tiga dimensi yang aku dapat sentuh sepoi udaranya hingga mataku menangkap sosok di kejauhan. Mewujud. Kamu. Berdiri di sana dengan kepala yang terus menoleh. Kanan. Kiri. Mengantisipasi sosokku yang sama mewujud seperti kamu.
Kutelan air ludahku. Berharap ia bisa menenangkan debaran jantungku yang seakan ingin memberontak keluar leherku. Jiwaku tahu, itu kamu. Meski ini pertama kalinya, dengan jelas. Jiwaku tau, itu kamu. Ia mengirim sinyal ke seluruh jasmaniku hingga ia menggigil. Jiwaku tahu, itu kamu. Sensasinya mendera endorfinku dari ujung rambut hingga ujung kuku. Sedikit kurapatkan mantel jeans-ku yang sudah rapat sejak semula. Semakin kumantapkan langkah dan berusaha untuk tidak memandang ke arah kamu. Dengan bodohnya hati ini berdoa agar langkahku tidak terpelecok. Itu saja.
Sukses. Aku melangkahimu dengan cukup tangguh. Memastikan kamu cukup mendengar gema sol sepatu-delapan-sentiku saat jasad ini melewatimu. Tak menoleh, tak memelan atau pun berhenti. Aku masuk pada kerumunan antrian pemuja mesin yang akan memipisimu dengan cairan pembersih dan memberi tahu panasnya tubuhmu. Langkahku memelan mengikuti tempo kerumunan orang-orang hingga benar-benar berhenti saat lenganku terhentak ke samping. Membuat tubuhku mau tak mau tergerak limbung dan aku menoleh menghakimi siapa yang berani mengeluarkanku dari barisan.
Kamu. Mencekal aku dengan tangan juga tatapanmu yang membekukan. Kamu menyebutkan namaku yang kamu kenal ratusan malam yang lalu. Ku tergugu tapi tak goyah. Berusaha meyakinkamu bahwa kamu keliru. Berusaha meyakinkanku bahwa kamu akan keliru. Berharap kamu bisa melepasku dan mengatakan bahwa kamu salah orang. Tapi kamu tetap menunggu hingga aku menyerah. Dibalik kain yang menutupi setegah wajahku, kusebut namamu untuk diriku sendiri. Kamu terkekeh dibalik masker hijaumu. Tunggu! Tertawamu nakal. Bisa-bisanya ia membuat jantungku jatuh ke dasar lambungku!
Pasrah bagaikan si maling ayam di pagi buta, aku mengikut kemana kamu menyeret lenganku hingga keluar dari barisan. Kamu mengomel. Mengapa aku tidak berhenti dan menyapa. Mengapa aku mengenakan sol delapan sentiku dengan wacana untuk bisa mengintimidasimu. Dan beberapa tanya mengapa yang sudah tak bisa kutangkap. Karena semua indraku mengaktif dan hanya menyadari keberadaanmu saat ini. Kamu. Aromamu. Suaramu. Keriput halus diujung mata saat kamu tersenyum. Ya, kamu tersenyum dibalik maskermu. Semua menyatu terbawa riuh angin yang menghantamku tepat di muka. Bisakah jasad seorang manusia meleleh? Rasanya aku satu-satunya yang begitu.
Bagaikan seseorang yang takut diserang, kulipat kedua tanganku di dada. Kedua telapak tanganku meremas tegas lenganku. Menahan agar jasad ini tidak meleleh, atau air mata ini atau uforia yang kamu hadirkan siang itu. Kuhembuskan napas cukup keras, seakan itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk membangun cangkang kasat mata melindungi diriku. Entah dari apa. Berusaha cukup keras mengatakan kita hanya akan debat kusir hingga sore di sebuah lobi atau masuk dan menunaikan segala rencana di dalam. Lagi kamu tertawa. Lalu yang nyaris terlupakan itu, membawa kita masuk untuk dipipisi. Kamu gamit tanganku.
*
Aku menenteng tas kertas, mengamankan sol-delapan-sentiku di sana dan mengubahnya menjadi sebuah sendal berbentuk lucu berwarna salem. Kupingku cukup lelah saat berkali-kali kamu menjuri alas kakiku. Misuh-misuh kamu katakan agar kamu bisa melihat keningku yang cukup lebar untuk dilandasi sebuah helikopter tanpa harus mendongak. Kelakarmu.
Kita menelusuri empat eskalator untuk sampai ke sinema hingga dua eskalator terakhir kamu merebut tas kertas itu. Ringan kamu bilang, untung kamu pengertian. Aku hanya memutar dua bola mataku lalu membiarkan kamu mengerling pada sepasang sendalku. Aku tahu, kamu bersyukur pada aku yang mau menanggalkan ego hanya untuk terlihat lebih jenjang.
*
Empat reklame film yang sedang tayang mengamati kita berdua dengan pikiran masing-masing. Aku tahu, aku belum memutuskan sandiwara layar perak apa yang akan kita habiskan dalam dua jam ke depan. Aku tak tahu, apa yang ada di kepalamu. Jadi? Hanya kata itu yang masuk dalam gendang telingaku. Bersumber dari suara beratmu. Aku melemparkan kepadamu lagi pilihan apa yang lebih baik dari mereka semua yang memperhatikan kita. Bukan kita namanya jika tak saling melempar jawaban hingga tiba saatnya pemilihan Presiden selanjutnya. Pilihanmu jadi pilihanku. Enteng begitu saja jawabmu. Kuputar seluruh tubuhku menghadapimu dan mencembik kata setuju yang terpaksa. Kamu pindahkan tas kertas berisikan sepatu-sol-delapan-sentiku ke tangan bebas yang lain dan menggamit tanganku masuk dalam sinema. Ini yang kedua. Kita tidak berencana untuk menyeberang tapi aku terasa menyeberangi sungai yang tak berdasar.
Tangan kananmu memegang sebuah kotak sedang berisi brondong jagung dan tangan kirimu sedang menyorongkan pipet kea rah mulutmu untuk menyesap dingin gelitik sensasi cola. Tak jauh beda dengan tanganku, hanya saja terselip dua lembar tiket di sela jemari tangan kanan. Setelah selesai persoalanmu dengan kolamu, kamu melanjutkan cerita tentang bagaimana kamu melempar tulisan akhirmu ke tong sampah dan menjadi kesal sendiri karena dokumentasinya hilang tersapu jarimu sendiri. Aku hanya mengangguk dan mencoba menenangkan kekecewaanmu dengan mengatakan keberadaanmu di sini sudah jauh dari kata cukup.
Setelah pelantang suara berkumandang, kita dan orang-orang serempak memasuki ruangan kedap suara itu. Kita mencari-cari angka kursi yang kita bayar dengan debat di depan mbak penjual tiket tadi. Akhirnya kita duduk. Bersisihan. Kain pakaian kita saling bergandengan dan berkenalan seru. Sesekali jemari kita beradu saat mengeluarkan satu-satu jagung asin itu. Aku sudah tidak fokus pada layar gemilang di depan kita, walau suaranya terkadang memekakkan gendang telinga tapi yang lebih berisik dari segalanya, isi kepalaku yang ingin ujung jemari kita bersirobok lagi.
Apa kabarmu? Ucapmu cukup jelas dan tak mengganggu tetangga lainnya. Aku menoleh, memastikan memang kamu bertanya. Kamu pun menoleh, memastikan aku menjawab. Apa kabarmu? Ulangmu. Aku memandang citra yang terkadang bersinar dan menggelap sesuai dengan pantulan cahaya di ruangan itu. Aku punya pilihan untuk baik dan tidak baik. Jawabku. Kurasakan kering kerongkongan ingin kubatukkan saja. Lalu pilihanmu? Tanyamu. Kamu pandangi bola mataku. Kuamati manik matamu. Hirup-hembus. Kulakukan berkali-kali hingga aku tahu kata tepat untuk pertanyaanmu. Luar biasa. Hanya itu saja yang bisa kukatakan. Untuk beberapa hal. Untuk saat itu. Untuk kabar diriku. Dan untukmu. Kamu memastikan lagi jawaban seakan kita sedang melakukan Ujian Negara yang menegangkan sebelum akhirnya kamu mengangguk dan menoleh lagi kepada hamparan laut dari sudut pandang pahlawan super yang akan menukik tanpa menyentuh permukaan biru.
*
Sushi ada pada piringku dan anyaman pengukus Dimsum ada pada sisi mejamu. Kamu masih terus mengoceh tentang pilihan-pilihan yang membawamu menyeberangi Selat Sunda. Tentang pilihan hari yang kamu ambil untuk menyambangiku. Pada pilihanmu yang akhirnya pasrah menghubungiku karena janji yang sering teralun dari bibirmu kala itu. Aku berdehem parau. Mencoba tenang, tak ingin menatap matamu, karena aku tahu mataku tak akan berbohong jika aku takut. Takut akan harapan masa lalu yang sudah kandas ratusan tanggal. Lalu kamu terbahak dan bertanya apakah aku telah lupa. Aku hanya menjawab seadanya, mengamini agar kamu bersimpul bahwa aku lupa walau sejatinya tak satu nano kata pun luput dari celah-celah otakku. Tak terbuang, tak terlekang.
Sekejap kau lontarkan kalimat ajakan. Terkejut sungguh aku terbuat. Kuletakkan khidmat kedua bilah bambu dari sela jemariku. Seakan tersedot oleh mesin waktu, aku terlempar pada masa kamu hanya terbuat dalam bentuk kalimat-kalimat responsif dari layar ponsel. Aku tidak percaya dan kembali kelabakan dengan kalimatmu barusan. Sama, ketika kamu bertanya apa itu kita? Dalam mesin waktu itu, aku terbagi. Seperti satu kaki telah di luar pintu dan sebelah masih di dalam. Kurelakan sebelah untuk tertinggal di belakang hingga aku melangkah keluar pintu. Kala itu. Dengan senyuman pasti melalui kalimat responsif milikku dan menaruh kedua kakiku keluar pintu. Melangkah pasti menuju kamu. Kulentingkan lagi kesadaranku menuju kini. Menuju mata yang masih berdiam menunggu.
Ini kehidupan barumu bukan? Mulaiku. Walau kacau sesungguhnya, tak tahu aku harus mulai dari mana. Kita mengambil kursi di luar resto Chinese itu, tapi sekejab terasa kita hanya berdua di tempat itu. Semua meja-kursi mengosong. Pejalan lalu-lalang hilang. Meninggalkan aku yang berusaha keras menciptakan kalimat diplomatis untukmu. Agar cangkangku tak koyak. Agar hatiku selamat. Kamu punya pilihan untuk memulai dari awal. Dengan cerita baru. Dengan persona baru. Dengan angan baru. Tidakkah kamu bosan?
Heran matamu terbaca olehku. Bual di mataku kuharap tak teraba oleh nalarmu. Ini awal hidupmu, untuk apa kau repot menggapai masa lalumu? Ujarku. Tak berharap dia sedefensif itu. Tapi hati kecilku jika punya kepala, ia akan menggeleng payah. Kamu punya kesempatan di sana, bertemu dan menari dengan leluasa. Untuk apa memilih kembali hanya karena janji yang bisa saja diingkari. Atau sejak awal, itu hanya ungkapan spontan yang tak pernah berarti sesuatu.
Liurku terasa mengering dalam perjalanannya di tenggorokan. Kembali, tak satu nano pun huruf menghilang atas janjimu yang bodohnya kugenggam. Tapi sungkan kuberkata. Tak enak hati kuutarakan. Tak ingin aku membebanimu, tak pula ingin memasungmu. Tapi dalam ego, aku ingin kamu mengingatnya. Walau aku tahu, melihatmu menjauh senti demi senti bagai garis takdir lempengan bumi yang makin berjauhan satu sama lain, seakan mengulitiku hidup-hidup. Membekap jalur napasku dengan pengap. Menenggelamkanku dalam kesadaran. Kesadaran bahwa aku masih ingin memilikimu.
Lalu? Katamu.
Tak ada yang lebih familiar dari dua buah mata itu. Tak ada yang lebih sayang dari memandang sekitar netra itu. Kupandangi lekat, kunikmati hingga kenyang. Kupikir, inilah saatnya. Tak akan kembali kesempatan ini, untuk bercumbu sendiri dengan matamu. Jarak dekat. Absenmu mengusik, hilangmu menggelitik. Hingga entah, aku bisa membangun sebuah aquarium di kamarku. Tawaku. Kau tak serta. Dalam ritardo, tawaku melenyap. Apakah absenku menyesakkanmu? Apakah pernah sekalipun hati kecilmu terjentik ingin mencariku? Apakah pernah, saat kamu menunggu kucuran dispenser memenuhi gelasmu, tapi air matamu juga ingin menyatu dengan air kemasan itu?
Sebagai manusia, aku ingin memilikimu seorang diri. Tapi aku yakin, hatimu tidak di sini kan? Aku menyorot matamu. Aku enggan mendengar jawabanmu. Aku malah berharap kamu mengangkat slingback-mu dan melesat meninggalkan meja ini. Kamu menunggu. Tak punya banyak pilihan, akhirnya aku kembali bersuara. Kamu punya banyak pilihan yang menantimu bagai bab dalam novel Goosebumps. Yang bisa kau telusuri sesuai dengan pilihan yang kamu ambil. Yang membuka menuju kejutan baru, semangat baru, kesempatan baru bahkan takdir baru.
Kuambil dua bilah bambu yang kutinggalkan merana bersisihan dengan jejeran Sushiku rapi. Tak ada hasrat untuk meminangnya satu dan menenggelamkannya dalam lambungku. Aku hanya butuh pegangan, karena cangkangku telah robek. Lagi. Lagi. Lagi. Mendesah aku untuk kalimat terakhir. Aku harap, kamu mengerti betapa raga ini lelah untuk menjelaskan ribuan pilihan di depan matamu.
You have lot of choices, neither I, desisku. Pelan. Ragu. Tak rela.
Meja-kursi mulai terisi. Dengung obrolan mengisi disela mengisi perut dari sana. Pejalan kaki kembali seliweran sana-sini. Dengan atau tanpa tentengan. Dunia kembali berjalan. Semestinya. Aku, kembali menunggu. Suara lainnya terlalu pekak. Tolong, redam dengan suaramu.
Seperti terbaca, kamu menyebut namaku. Anehnya, itu terdengar asing. Seakan baru kali ini aku mendengar kata itu. Dengan jiwa penasaran, aku mengangkat wajahku. Bersenggama kembali dengan tatapanmu. Hingga kalimat terakhir kamu ucapkan bagai membelah tabir.
You have me.
Depok, 12 Juli 2021