"Auuuuu.... " suara longlongan srigala saling bersautan satu sama lain dimalam yang dingin.
Suara mereka bagaikan nyayian merdu di tengah malam yang indah untuk menemani Alisya.
Alisya adalah seorang gadis remaja yang tinggal dengan ayahnya disebuah perumahan di pinggir hutan. Ibunya sudah lama meninggal, sehingga ia pun diajak pindah oleh ayahnya ke pinggir hutan untuk menghindari keluarga mendiang ibunya.
Sedari kecil Alisya hanya bermain dengan anjing peliharaannya, dan teman masa kecilnya Aldo. Mereka juga bersekolah di tempat yang sama. Setiap hari mereka berangkat sekolah bersama.
Suatu hari di area sekolah terjadi keributan karena ada anak baru yang bersekolah disana. Brian dan Alice namanya, mereka kakak beradik. Dan kebetulan mereka sekolah disana, karena keluarga mereka baru saja pindah ke kota itu.
Saat masuk sekolah, mata Brian tak pernah lepas memandangi Alisya. Aldo yang mempunyai rasa sayang pada Alisya tidak suka melihat tatapan Brian tadi. Aura persaingan terlihat jelas dimata Aldo dan Brian.
Sedangkan Alice dengan langkah sombongnya tetap melaju menuju kelasnya. Ia tak menghiraukan pandangan dari siswa laki-laki disekolah itu. Wajah dan tubuh Alice memang cantik dan sempurna, jauh bila dibandingkan dengan Alisya.
Sedangkan siswa perempuan memandang takjub pada ketampanan Brian yang nyaris sempurna. Tapi kulit di tubuhnya terlalu pucat untuk ukuran manusia biasa.
Beberapa hari kemudian, ada pertandingan basket disekolah itu. Kebetulan Aldo dan Brian menjadi lawan bertanding. Alisya tentu berada dipihak Aldo, sedangkan Alice dipihak kakaknya.
Awal pertandingan berjalan lancar, tetapi beberapa waktu kemudian Alisya terjatuh dan terluka. Aldo menghentikan pertandingan dan berlari untuk menolong gadisnya itu.
Bau darah segar yang mengalir dari tubuh Alisya mengusik indera penciuman Brian. Tetapi Alice segera mencegah kakaknya. Ia tidak mau kakaknya tergoda untuk menyantap Alisya saat itu.
"Kenapa kamu mencegahku?" geramnya.
"Kakak, ini masih jam sekolah, kamu bisa membongkar identitas kita kalau kakak melakukannya disini."
"Ssshhh ... kau benar."
"Ayo kita pulang," ajak Alice pada kakaknya.
Mereka berdua pun segera meninggalkan area sekolah untuk mengubur rasa haus darah dari Brian. Alice sudah terbiasa dengan menahan rasa hausnya, tetapi Brian belum bisa mengendalikan keinginannya tersebut.
Sesampainya di rumah.
"Kalian pulang cepat?" tanya Ayah pada kedua putra putrinya.
"Iya ayah," jawab Alice.
Sedangkan Brian langsung naik ke kamar atas.
"Kakak mulai tertarik pada darah seorang gadis."
"Dimana?"
"Tadi disekolah."
"Jaga kakakmu Alice, aku tidak mau penyamaran kita terbongkar."
"Baik ayah."
Sejak saat itu Brian menghilang dari sekolah. Sampai suatu hari Alisya mencari anjingnya yang hilang, ia mencari sampai ke tengah hutan.
Tiba-tiba ia terjatuh dan kakinya terluka. Bau darah segar dari Alisya sudah sampai ke tempat Brian berada. Dengan secepat angin ia sampai disisi Alisya.
"Ka-kamu?" Ucap Alisya terbata.
"Mana yang sakit biar aku obati kau."
Tanpa berkata-kata lagi, ia menggendong Alisya ke rumahnya di tengah hutan. Sebelumnya ia sudah memintanya untuk menutup mata, agar ia tidak ketakutan saat Brian membawanya dengan cepat.
"Siapa itu Brian?" tanya ibunya.
"Hmm, bau darah manusia?" batin ibunya.
Matanya pun berubah menjadi merah, seperti seorang vampire yang siap melahap mangsanya. Untung saja ibunya sudah bisa menahan rasa haus darahnya itu. Ia pun dengan segera merubah sorot matanya menjadi normal kembali.
"Ini Alisya mom, bisa bantu obati lukanya?"
"Iya sayang, kesini sebentar biar ibu balut lukanya."
Setelah kejadian hari itu hubungan Alisya dengan Brian semakin dekat bahkan kalau malam Brian menyelinap ke kamar Alisya hanya untuk memandangi wajah cantiknya.
Sampai suatu saat rombongan dari manusia setengah serigala datang ke hutan tempat Brian berada. Brian pun disuruh pergi menginap ke rumah Alisya agar ia selamat dari pertarungan malam itu.
"Auuuuuu...." longlongan srigala malam itu menambah aura mencekam disekitar perumahan Alisya.
"Tidurlah Alisya, biar aku menjagamu." bisik Brian di samping Alisya.
Alisya sempat membuka mata saat Brian mau pergi. Dan sesudah ia pergi, dengan diam-diam Alisya menyusul kepergian Brian ke tengah hutan.
Ditengah pertempuran yang terjadi, Alisya berada ditengah-tengah mereka. Brian yang sudah hafal bau darah Alisya segera mengetahui saat ia mengikutinya. Dengan segera ia pun ingin menyelamatkan Alisya, tapi langkahnya dihadang kawanan srigala. Terjadilah pertempuran tiga lawan satu.
Alisya berteriak saat ia diterkam manusia setengah serigala. Brian menoleh dan wussshhhh... dada Brian tertusuk pedang yang sudah dilumuri racun pelumpuh vampire.
"Arrgggghhhhhh ..." teriak Brian.
Wajahnya menjadi pias, kekuatannya perlahan menurun, dan ia pun hampir pingsan karenanya. Beruntung Alice berhasil menopang tubuh sang kakak.
Karena kedua orangtua Brian tau Alisya adalah cinta pertama Brian, mereka pun berjuang untuk menyelamatkannya. Dan pertemuan kali ini seri, tidak ada yang menang ataupun kalah. Tapi Alisya dan Brian berhasil diselamatkan dan dibawa pulang ke rumah.
"Tante kenapa Brian pucat sekali." Tanya Alisya semakin hawatir akan nasib Brian kekasihnya.
"Hanya satu yang bisa menyelamatkan nyawanya," ucap Ayah Brian.
Dan seluruh anggota keluarga Brian pun mengangguk tanda menyetujui pernyataan ayahnya tersebut.
Alisya sudah tau kalau Brian bukan manusia, tetapi ia seorang vampire. Tapi ia tidak pernah melihat Brian menyantap darah manusia, makanya dia belum percaya.
"Lalu kenapa kalian tidak membawa Brian ke dokter?" tanya Alisya.
"Dokter tidak akan bisa menyelamatkan Brian Alisya, hanya kamulah yang bisa menyelamatkan jiwanya." Ucap Alice dengan langkah sombongnya.
"Ma-maksudmu?"
"Tidak sayang, jangan hiraukan omongan Alice, biar ayahnya yang menyembuhkan dia." Kata Mama Brian.
Memang Ayah dan Ibu Brian adalag seorang dokter ternama, sayangnya mereka adalah keluarga vampire. Tapi terkenal dikalangan Vampire dan Manusia setengah srigala.
***
Di ruangan lain.
"Kenapa ibu melarangku berbicara jujur?"
"Sayang kita coba dulu cara lain, " ucap ibu.
"Ibu ..."
"Alisya itu manusia Alice, kita berbeda dunia dengannya." Ucap ibu.
"Dengarkan kita nak, jika memang tidak ada cara lain, baru kita menempuh langkah terahir." Ucap ayah.
"Baiklah." Ucap Alice menyerah.
Prang ... tak sengaja Alisya menyenggol lampu di depan kamar orangtua Brian.
"Siapa itu.. " teriak Alice.
Dalam satu kilatan cahaya ia sudah berdiri disamping Alisya.
Ia pun menoleh, "Mm-maaf ..." ucapnya terbata.
Seketika ayah, ibu dan Alice sudah didepan Alisya. Mereka memandang Alisya.
"Kamu mendengarkan semuanya Alisya?" tanya ibu perlahan.
Ia pun mengangguk.
"Kalau begitu ijinkan aku menolong Brian mom." Pinta Alisya.
"Kamu yakin?"
Ia pun mengangguk. Alisya pun disedot darahnya dengan menggunakan jarum suntik. Dan darahnya langsung diminumkan ke Brian.
Dengan sorot mata berkaca sekaligus menahan mual, Alisya memandang Brian saat diberi cairan darah oleh ayahnya.
Dengan perlahan kesadaran Brian mulai kembali. Tapi kekuatannya belum pulih. Salah satu cara agar kekuatannya bisa kembali hanya dengan satu cara, meminum langsung dari sang pemilik darah tersebut.
Tapi kalau hal itu dilakukan artinya Alisya akan menjadi vampire seperti dirinya.
"Sayang sudah siuman?"
"Kamu disini sayang?"
"Iya."
Dan sesudahnya mereka mengobrol satu sama lain. Tiba-tiba serangan dari manusia srigala kembali datang. Semua panik dan siap siaga didepan rumah Brian.
"Apa yang terjadi?" tanya Alisya ikutan panik.
Bruak.. ciaattt.. wushhh.. krek.. ctraar.. blummmm
Pertarungan antara kedua kubu sedang berlangsung sengit. Terlebih kata-kata mereka memancing amarah kakak Brian.
"Bisa-bisanya kalian bersembunyi dibawah ketiak manusia."
"Hmmm..." deheman amarah kakak Brian mampu mematahkan beberapa pohon didepan rumahnya. Dan beberapa jatuh menimpa pasukan manusia srigala.
Brian yang masih terluka mencoba bangkit untuk membantu keluarganya. Tapi belum sempat ia berdiri ia sudah jatuh lagi.
"Kamu belum sembuh sayang." Ucap Alisya iba.
"Tapi aku harus menolong keluargaku."
"Kalau begitu hisap darahku."
"Alisya ..." Ucap Brian.
"Hanya itulah cara memulihkan kekuatanmu."
Mereka diam dan saling menatap satu sama lain. Ahirnya dengan keyakinan dari Alisya ia pun menghisap darah dari Alisya.
"Argghhh ..." jeritnya ketika gigi taring tersebut menusuk leher Alisya.
Setetes darah masih menempel di sudut bibir Brian. Seketika kekuatan Brian kembali. Luka didadanya kembali menutup.
"Aku mencintaimu Alisya." Ucap Brian ketika Alisya mulai menutup matanya.
"Aku juga mencintaimu Brian."
Lalu Alisya pun pingsan. Brian lalu membantu pertarungan di luar rumahnya. Karena formasi sudah lengkap mereka pun berhasil memukul lawan ke arah luar.
Didalam tubuh Alisya sedang terjadi perpindahan nyawa menjadi seorang Vampire. Ia pun membuka matanya dengan warna merah. Artinya kini Alisya sudah menjadi bagian dari keluarga Vampire.
Ia pun bergabung dengan Brian dan keluarganya. Meskipun mereka sempat hawatir dengan kedatangan Alisya dan Brian, tetapi mereka yakin Alisya sudah menyerahkan dirinya menjadi bagian dari keluarga Vampire.
Buktinya Alisya hadir dengan kekuatan diluar manusia. Artinya ia sudah menyerahkan diri untuk kesembuhan Brian.
Pertempuran kembali berlanjut dan ahirnya dimenangkan oleh kubu Vampire. Sejak saat itulah Alisya tak pernah kembali lagi ke rumah ayahnya. Dan ia pun tinggal di rumah Brian untuk selamanya.
Mereka pun ahirnya menyatukan diri dalam ikatan pernikahan.
TAMAT.