7 tahun bersama dengan status pernikahan , bukan termasuk waktu yang lama tapi bukan juga bukan waktu yang sedikit. Perjalanan bersama itu tidak membuat semuanya semakin saling mengerti dan saling bersabar. Nyatanya waktu yang dihabiskan Olive dengan Bram harus berakhir begitu saja setelah Olive mengetahui suaminya telah menikah lagi dan sudah memiliki anak yang sebentar lagi akan lahir.
Hancur, sedih, marah, kecewa, sudah tidak bisa diungkapkan lagi. Suami yang ia pikir selama ini paling sabar paling mendukung keadaannya karena sampai saat ini belum memiliki anak nyatanya sudah memiliki anak dari perempuan lain.
Olive tidak seperti perempuan lain yang melampiaskan semua kekecewaannya dengan marah marah ataupu menyalahkan suaminya bahkan perempuan yang menjadi madunya. ia merelakan semuanya. Merelakan suaminya untuk bersama perempuan lain yang bisa memberinya keturunan. Tidak banyak menuntut atau menyalahkan. Olive hanya memilih pergi dan berharap tidak pernah bertemu lagi dengan mereka. Namun takdir berkata lain.
**
Proses perceraian berlangsung singkat, hanya dalam kurun waktu 1 bulan surat cerai sudah ada ditangan masing masing.
Olive memilih kembali ke kampung halamannya di Bandung. Menempati rumah peninggalan orangtuanya. Ia ingin memulai hidup baru dengan cerita baru miliknya, namun takdir yang Tuhan gariskan membawa kejutan, satu minggu setelah surat cerai ditangan Olive, Olive baru mengetahui fakta bahwa ia ternyata ia tengah hamil anak Bram. Olive tidak menduga ia hamil, karena memang dari sebelum sebelumnya terbiasa telat datang bulan. Bahkan kadang beberapa bulan tidak datang bulan.
Olive bahagia dengan kehamilannya, anak yang ia tunggu selama 7tahun akhirnya hadir di kehidupannya. Meski awalnya ia sedikit dilema dengan kehamilannya, namun Oliv langsung memutuskan, ia tidak akan memberi tahu mantan suaminya, bukan karena ingin menutupi hanya ia tidak ingin membuat kegaduhan dirumah tangga mantan suaminya. Tapi bila suatu saat anaknya telah lahir dan menanyakan sosok ayahnya, Olive tidak akan menutup nutupi kenyataannya.
**
Waktu berlalu begitu cepat, anak yang saat itu Olive kandung sekarang sudah menjelma menjadi gadis berparas cantik juga berprestasi. Olive merasa mengandung dan membesarkan anak yang ia beri nama Rissa Aourora tidak pernah sekalipun membuatnya kesulitan.
Rissa tumbuh menjadi anak yang cerdas juga pengertian. Pemikirannya yang dewasa membuat Olive benar benar beryukur dan bahagia karena memiliki anak sebaik Rissa.
Olive masi memandangi anak semata wayangnya yang masi bersiap di depan cermin dengan pakaian putih abunya.
“Rissa tau Rissa cantik bund, jadi jangan segitunya terpesona sama Rissa” celetuk Rissa dengan nada meledek sang bunda yang dari tadi memperhatikannya dengan senyum mengembang.
Bunda Olive bangun dari duduknya dan mengangkat bahu tidak peduli lalu keluar kamar menuju meja makan.
Rissa yang sudah selesai dengan persiapannya segera menyusul bunda Olive ke meja makan.
Melewati hari hari bersama Rissa membuat Olive sudah merasa cukup, Ia tidak pernah terpikir untuk menikah atau menjalin hubungan lagi. Meski ia tahu suatu saat nanti Rissa akan pergi juga dengan pasangannya kelak, tapi untuk saat ini biarlah tetap seperti ini. hanya ada ia dan Rissa.
Setelah Rissa berangkat sekolah, Olive membuka toko rotinya yang bertahun tahun ini menjadi penopang kehidupannya. ya setelah ia pindah ke Bandung, Olive sempat bekerja butik milik sahabatnya, namun tidak lama karena Olive merasa ia tidak bisa menitipkan Rissa pada siapapun kalau ia sedang bekerja. Olive memutuskan membuka toko roti dengan bantuan modal yang ia pinjam dari sahabatnya.
Olive beruntung karena saat masa masa sulitnya ia memiliki sahabat yang sangat peduli padanya. Meski mereka berjauhan tapi komunikasi yang mereka jalin tidak pernah putus.
Sahabat Olive bernama Novi, dulunya sama sama menghabiskan masa kecil dan remaja di Bandung, lalu karena keadaan mereka hijrah tinggal dijakarta, Olive lebih dulu menikah dengan Bram, lalu disusul Novi yang menikah denagn laki laki berkebangsaan Inggris. Setelah beberapa tahun menetap di Jakarta Novi pindah ke Inggris mengikuti suaminya.
****
Berkat kecerdasan dan kegigihannya, Rissa selalu mendapatkan beasiswa selama masa sekolah. Dan itu membuat Olive sebagai bundanya tidak terlalu kesulitan dalam biaya. Selain cerdas Rissa juga anak yang sangat berbakti. Ia sudah tahu perjalanan hidup sang bunda yang tidak mudah membuatnya begitu peduli pada bundanya. Sepulang sekolah Rissa selalu membantu bunda Olive berjaga di toko roti milik bundanya. Meski toko roti sang bunda sudah memiliki 2 karyawan yang membantu tapi tetap tidak membuat Rissa bermalas malasan.
Rissa begitu kagum dan juga bangga pada bundanya. Bundanya disakiti oleh ayahnya namun bundanya tidak pernah sekalipun menejelekan ayahnya. Justru bunda Olive selalu mengingatkan Rissa untuk tetap menghormati juga menyayangi ayahnya kelak ketika bertemu.
Namun sampai saat ini Rissa masih belum siap bertemu dengan ayah kandungnya. Rissa tidak menyalahkan bunda Olive karena sampai sekarang ayahnya belum mengetahui keberadaannya.karena ia tahu pasti bukan hal yang mudah bagi bunda Olive melewati semua jalan kehidupannya.
**
6 bulan sudah Rissa berstatus sebagai pelajar SMA, dan hari ini katanya akan ada guru baru yang mengajar di sekolahnya. Banyak yang sudah penasaran juga antusias karena katanya guru baru itu masi muda juga sangat tampan. Namun itu tidak berpengaruh untuk Rissa. Rissa tidak menyangkal kalau ia akan jatuh hati pada lawan jenis suatu saat nanti, namun untuk saat ini fokusnya ia hanya untuk belajar dan juga bundanya.
Pagi ini Rissa berjalan di koridor sekolah, tidak seperti biasanya kali ini Rissa datang lebih siang dari biasanya karena membantu bundanya menyiapakan pesanan roti sang bunda yang harus diantar pagi pagi.
Setelah masuk kelas dan duduk dibangkunya, sahabat Rissa bernama Monica yang biasa dipanggil Nica langsung nyerocos membahas keberadaan guru tampan yang dari kemarin sudah membuat heboh sekolahnya.
Rissa hanya manggut manggut tidak peduli dengan ocehan Nica, membuat Nica gemas dan kesal sendiri hingga mencubit pipi Rissa.
“sakitttt tau” complain Rissa pada Nica yang tiba mencubit pipinya
“Bodooo, abisan cerita lo itu lagi itu lagi dari kemaren” timpal balik Rissa
“bodooo, gw sumpahin lo jatuh cinta sama guru baru kita itu”
Rissa mengangkat bahunya tidak peduli mendengar sumpah dari sahabatnya itu, toh juga Rissa belum pernah melihat wajah yang katanya sempurna itu.
Setelah jam pelajaran pertama habis Rissa bertugas mengantarkan tugas kelasnya keruang guru.
Suasa koridor menuju ruang guru terlihat sepi karena memang sekarang waktunya jam mengajar. Setelah mengucapkan salam, Rissa mendorong pintu rungan guru, dan ternyata disana hanya ada 2 guru yang ada.
“Selamat pagi pak” ucap Rsisa sopan pada guru sejarah yang kebetulan ada disana. Rissa juga melihat kearah satu guru yang baru ia lihat hari ini. saat pandangan mereka bertemu Rissa sedikit membungkuk sopan dan dibalas dengan hal yang sama juga.
Setelah menyimpan tugas di meja gurunya, Rissa kembali ke kelas. Selama perjalanan kembali Rissa berpikir, pantas saja sampai mebuat heboh sekolahnya, ternyata guru baru itu memang tampan. Wajahnya yang kebule bulean dengan postur tubuh yang tinggi benar benar sempurna. Tapi tetap saja ketampanannya tidak membuat Rissa sampai heboh seperti teman teman sekolahnya yang lain.
Rissa tidak begitu peduli dengan hal hal seperti itu. Ia memang lebih cuek dari teman teman seusianya yang sedang masa masanya naksir cowok atau punya gebetan. Padahal banyak anak laki laki disekolahnya datang mendekati. Namun Rissa lebih suka menganggap semuanya sebagai teman saja dibanding dengan hubungan lain.
Karena pengalam dari ibunya yang kurang baik. Membuat Rissa enggan membuka hati untuk sekarang. Apalagi diumurnya yang masih sangat muda pikirannya belum sampai pada hal itu.
**
Hari sabtu yang biasanya Rissa gunakan untuk membantu bundanya di toko roti kali ini tidak. Toko roti bundanya untuk hari hanya dijaga 2 karyawan sang bunda. Sedangkan Rissa ikut pergi menemani sang bunda bertemu dengan sahabat lamanya yang baru beberapa hari ini tiba di tanah air. Ya sahabat bunda yang bernama tante Novi baru saja kembali dari Inggris, dan hari ini bunda dan tante Novi janjian bertemu di tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama. Ceritnya bunda dan tante novi ingin bernostalgia.
Rissa, bunda Oliv dan tante Novi sudah berada di sebuah kafe yang katany dulu itu tempat tongkrongannya. Kata bunda dan tante Novi banyak yang sudah berubah dari tempatnya namun suasananya masi terasa sama seperti dulu.
Tante Novi benar benar sangat baik, meski baru pertama kali bertemu tapi rasanya sudah seperti sering bertemu saja. Rissa pamit ke toilet sebentar, namun ketika aku kembali Rissa cukup kaget, karena di mejanya sudah ada Pak Dewa, guru baru yang menghebohkan sekolahnya itu.
Rissa berjalan mendekat pada meja danlangsung kembali duduk disana. Ternyata pak Dewa ini anaknya tante Novi. Wah Rissa benar benar tidak menyangka, dunia sesempit ini, garu baru yang banyak dibicarakan teman temannya ternyata anaknya sahabat bunda Olive, dan juga ternyata dulu bunda sempat ikut mengasuh pak Dewa, sebelum keluarga tante Novi pindah ke Inggris.
Rissa dan pak Dewa tidak banyak bicara, hanya sesekali saja menimpali obrolan Bunda dan tante Novi. Setelah cukup lama berbincang bincang tmengenang masalalu bunda dan tante Novi akhirnya semua memutuskan pulang. Tadinya Rissa dan bunda akan pulang naik taxi, namun karena tante Novi kekeh mau mengantar akhirnya Rissa dan bunda di antar pak Dewa dan tante Novi.
Rissa duduk disebelah pak Dewa, karena bunda dan tante Novi masi ingin dekat dekatan. Bila bunda dan tante dewi tetap seru dengan obrolan mereka, Rissa dan pak dewa malah sama sama diam. Pak dewa focus dengan kemudi dan jalanan sedangkan Rissa lebih memilih melihat kearah luar.
Namun tiba tiba dipikiran Rissa terlintas kata kata tante Novi tadi saat baru pertama bertemu, juga sumpah serapahnya Niica waktu itu.
“andai tante punya anak laki lakinya 2, tante mau jodohin sama kamu satu, tapi sayangnya tante cuman punya satu dan udah punya pacar lagi.”
“gw sumpahin lo jatuh cinta sama guru baru kita”
Rissa mengusir pikiran yang terlintas dikepalanya, kenapa Rissa sampai terpikir kesana.
Rissa sedikit melirik kearah Dewa yang masi saja focus pada jalanan tapi sebenarnya Dewa menyadari pandangan Rissa barusan.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang terlihat asri, meski halam depannya hanya sebagian karena ada toko kecil, namun tetap terlihat nyaman. Pagar putih yang jadi penyekat dan juga bunga bunga yang tertata rapi dan juga subur membuat siapapun yang melihat akan merasa senang.
Rissa dan bunda Olive keluar dari mobil, sedangkan tante Novi pindah kedepan dan langsung pamit, karena hari sudah sore juga. Tante Novi juga bilang akan datang berkunjung nanti. Rissa dan bunda Olive masuk kedalam rumah setelah mobil pak Dewa berlalu menjauh dari halaman rumah.
***
Menjadi anak SMA kelas 10 berlalu begitu cepat, bahkan sekarang Rissa sudah duduk di kelas 11 SMA. Tidak banyak yang berubah dalam kehidupan Rissa. Sekolah, pulang, membantu bundanya dan paling sesekali ia bermain bersama teman temannya.
Teman teman sekelas Rissa benar benar heboh, karena kali ini kelasnya diajar oleh Dewa dan kebeutulan Dewa juga yang akan menjadi wali kelas mereka.
Hubungan Rissa dan Dewa tidak ada yang berubah selain guru dan murid, karena sekalipun bunda dan mamanya mereka bersahabat dan sering bertemu. Dewa dan Rissa juga jarang ngobrol kalau mereka sedang sama sama menemani orang tua mereka bertemu.
Dewa sudah berdiri di depan kelas mulai mengabsen muridnya, disebelah Rissa Nica sudah mengecoh berhayal tentang pak Dewa, berkhayal menikah dengan pak Dewa dan sebagainya, sedangkan Rissa hanya bersikap bodo amat, toh ia sudah tahu kalau Dewa sudah mempunyai pacar, pacar Dewa juga cantik juga baik dan terlihat cocok dengan Dewa, pikir Risa.
Semua nama dikelas Rissa sudah diabsen satu persatu, kecuali nama Rissa yang tidak Dewa sebutkan. Dewa mengabsen untuk mengetahui nama dan wajah murid muridnya, sedangkan Rissa karena ia sudah kenal Rissa jadi ia merasa tidak perlu menyebutkan namanya.
“Kok pak Dewa gak ngabsen nama lo?” tanya Nica pada Rissa
“Entah” jawab Rissa menggelengkan kepala
“Permisi Pak, nama Rissa belum diabsen” Interupsi Nica dengan tangan menunjuk sahabatnya. Semua teman sekalas melihat kearah mereka termasuk Dewa juga, namun Dewa hanya mengangguk dan tersenyum sambil berkata “Oh, iya Rissa, Rissa Aurora” jawabnya sambil menatap Rissa.
Rissa tersenyum kikuk saat Dewa menyebutkan namanya lengkap, kerana ini untuk pertama kalinya Dewa menyebutkan namanya, bahkan ketika bertemu diluarpun Dewa tidak pernah memanggil atau menyebut namanya. Kadang Rissa heran dengan Dewa, sekalinya menawarkan sesuatu pun hanya menggunakan isyarat tangan atau mata.
Selain terkenal dikalangan siswa siswi Rissa memang dikenal guru guru juga, dari sebelum Dewa menjadi wali kelasnya, Dewa sudah sering mendengar nama Rissa dibahas teman teman guru yang lain. selain terkenal karena anak berprestasi di kalangan guru, Dewa juga sering mendengar banyak anak laki laki yang membicarakan Rissa karena kecantikan dan keramahannya.
Namun entah kenapa Dewa tidak merasa Rissa seramah itu padanya. Rissa memang terlihat ramah pada orang lain tapi kenapa saat Rissa berhadapan dengan Dewa ia justru terlihat cukup pendiam. Dan itu membuat Dewa penasaran. Ingin tahu kenapa Rissa seperti itu hanya kepadanya.
Sedangkan Rissa sendiri, bukannya ia tidak mau bersikap ramah pada Dewa, ia hanya tidak ingin membuat Dewa merasa tidak nyaman dan terbebani karena Rissa anak dari sahabat mamanya.
**
Hari ini sepulang sekolah Rissa menemani bunda Olive pergi belanja, namun bukan berbelanja kebutuhan toko atau rumah, melainkan hanya membeli hadiah untuk tante Novi. Karena rencananya besok Rissa dan bunda Oliv akan kerumah tante Novi. Tante Novi mengadakan makan malam untuk merayakan ulang tahunnya. Dan hanya mengadakan makan malam keluarga dirumah saja.
Bukan hadiah yang mewah yang dibelikan bunda Olive dan Rissa, hanya hadiah sederhana saja. Keluarga Tante Novi memang keluarga berada, bahkan sekolah tempat Rissa menimba ilmu ternyata milik keluarga tante Novi. Rissa sendiri baru tahu dari sang bunda hari ini, kenapa Dewa yang lulusan luar negri bisa berakhir jadi guru di sekolahnya, semata mata untuk memulai belajar memahami bagaimana lingkup sekolah, agar kelak saat ia memimpin dan meneruskan yayasan yang sudah dibangung kakeknya Pak Dewa bisa benar benar memimpin yayasannya dengan baik.
Selain sebagai guru ternyata pak Dewa juga bekerja di kantor milik papahnya, yang juga nanti akan menjadi miliknya kelak.
Rissa benar benar merasa kagum mendengar cerita tentang pak Dewa, ia tidak menyangka pak Dewa ternyata sehebat itu, bisa memegang 2 profesi sekaligus dan dua duanya bukan posisi sembarangan.
***
Hari ini Rissa dan bunda Olive sudah berada di rumah tante Novi dari sejak pukul 4 sore, bunda Olive dan Rissa ikut serta membantu tante Novi memasak. Tante Novi sengaja tidak pesan makanan dari luar karena ingin masak bersama. Selama kami memasak, Om Ricard sesekali ikut mengecek ke dapur dan kembali duduk di depan televisi.
Karena Om Ricard menonton sendiri akhirnya Rissa yang menemani Om Ricard nonton sambil berbincang. Om Ricard orangnya sangat baik dan juga asyik di ajak ngobrol, apapun yang kami bicarakan selalu berakhir dengan tawa karena memang om Ricard orangnya humoris. Bahasa Indonesia Om Ricard juga sangat fasih.
Kalau pak Dewa sendiri katany sedang pergi menjemput pacarnya.
Masak masak telah selesai, sisanya dibereskan oleh bibi yang membantu dirumah tante Novi.
**
Makan malam sudah dimulai, Pak Dewa dan Kak Tiwi, pacar Pak Dewa juga sudah duduk berkumpul dimeja makan.
Obrolan ringan mengalir begitu saja menemani makan malam kami. Tante Novi terlihat sangat bahagia. Merayakan ulang tahun bersama suami dan anaknya. Keluarga tante Novi adalah keluarga harmonis. Keluarga yang banyak didambakan semua orang.
Sedikitnya mengusik hati kecil Rissa berandai ayahnya tidak menghianati bundanya. Tapi cepat Rissa enyahkan pikiran itu, karena Rissa juga sudah cukup bahagia bersama bunda Olive.
Rissa sangat bersyukur, berkat keluarga tante Novi Rissa dan bunda Olive bisa merasakan makan malam sehangat ini. makan malam lengkap dengan anggota keluarga lain, tidak hanya selalu berdua.
**
Dewa beberapa kali melirik ke arah Rissa, dan itu tidak luput dari penglihatan Tiwi. Dari awal Tiwi bertemu dan dikenalkan dengan Rissa, entah kenapa ada perasaan aneh yang menelusup pada hatinya. Tiwi tidak membenci Rissa, tapi entah kenapa setiap kali melihat Rissa ada ketakutan tersendiri pada dirinya, namun tidak pernah ia ungkapkan pada Dewa.
Selama ini juga Dewa selalu terbuka dan jujur bagaimana dengan kehidupannya. Namun melihat keakraban Rissa dengan orang tua Dewa membuat Tiwi sedikit iri. Orang tua Dewa juag baik terhadapnya tapi entahlah dalam hati Tiwi masi ada yang mengganjal.
Setelah selesai acara makan malam, semuanya pindah keruang keluarga, bercerita banyak tentang keluarga tante Novi dan Om Ricard dulu di Inggris.
Om Ricard beberapa kali mengelus kepala Rissa yang duduk disebelahnya, dan setiap kali melihat Om Ricard mengelus kepala Rissa pandangan dan senyum Dewa terasa berbeda. Sorot mata dan senyum Dewa benar benar terlihat berbinar melihat keakraban papahnya dengan Rissa. Entah karena Dewa sudah menganggap Rissa keluarganya atau karena hal lainnya.
Dewa menggenggam tangan Tiwi dan itu sedikit membuat perasaan lega untuk Tiwi yang daritadi berpikir macam macam. Tiwi hanya berharap hubungannya dengan Dewa akan selalu baik baik saja sampai kapanpun.
Khusus malam ini Rissa, bunda Olive dan Tiwi semuanya menginap dirumah tante Novi. Karena permintaan tante Novi sendiri. Selain makan malam bersama tante Novi ingin sarapan bersama juga.
Semua orang sudah masuk kamar masing masing, tapi Rissa keluar kamar lagi karena haus. dengan pelan berjalan karena takut mengganggu tidur bundanya, Rissa ingin mengambil air minum selain karena haus, Rissa juga ingin membawa air minumnya ke kamar.
“Belum tidur de?” pertnyaan yang membuat Rissa kaget hampir menumpahkan air minumnya. Karena tidak terdengar suara langkah sebelumnya
“Eh kak Tiwi” jawab Rissa setelah berbalik badan
“Maaf, ngagetin yaa”
“Enggak papa kok kak”
Rissa dan Tiwi duduk di kursi mini bar yang tersedia. Mereka memilih mengobrol dulu disana karena memang belum mengantuk. Mereka ngobrol banyak hal sampai Tiwi menanyakan pertanyaan yang membuatnya penasaran selama ini, kenapa Tiwi merasa Rissa agak menjaga jarak dengan Dewa? Tanpa Tiwi kira ternyata Rissa menjawabnya dengan jujur. Dan Dewa yang dari tadi mendengar obrolan mereka akhirnya tahu alasan kenapa Rissa berbeda padanya.
Rissa lebih dulu pamit kembali ke kamar karena memang matanya sudah mulai mengantuk. Begitupun Tiwi kembali ke kamarnya.
***
Rissa bangun dengan setelan piyama putih gambar bunga bunga daisi, rambut panjangnya di gulung tinggi menyisakan anak anak rambut yang terjuntai pada kulit lehernya.
Rissa berjalan keluar dari kamar setelah membasuh wajahnya. Semua orang sudah berkumpul di halaman belakang rumah yang di sulap menjadi taman yang indah dengan meja bundar di tengah tengahnya.
“Maaf Rissa bangunnya kesiangan” ucap Rissa tidak enak karena yang lain sudah berkumpul
“Gak papa kok sayang, kita juga belum lama” jawab Tante Novi yang sedang membaca majalah
Kemudian semuanya langsung duduk dikursi yang tersedia, karena memang sarapannya sudah selesai tersaji disana.
Pagi ini Dewa baru sadar, ternyata benar kalau Rissa itu benar benar cantik. Wajah yang masi terlihat bengkak karena baru bangun tidur tidak mengurangi kecantikan Rissa. Bahkan kulitnya benar benar putih seperti susu. Dewa baru pertama kali melihat kulit Rissa secara jelas. Kaki jenjangnya terekspos karena piyama yang Rissa kenakan adalah piyama dengan model celana pendek.
Bahkan saat tengah menikmati sarapan, leher Rissa yang jenjang juga membuat fokusnya sedikit terbagi. Ditambah bibir Rissa yang ternyata pink alami benar benar terlihat manis.
Pikiran Dewa yang kemana mana malah memikirkan penampilan Rissa membuatnya sejenak melupakan Tiwi yang ada disebelahnya. Dewa benar benar berdosa karena telah mengabaikan keberadaan pacarnya.
Dewa bersyukur kana sang papa yang menyebut nama Tiwi, membuatnya sadar, bahwa pacarnya itu Tiwi, kenapa dia malah sibuk memperhatikan perempuan lain. Dewa juga mengutuk dirinya sendiri yang seperti orang mesum. Padahal jelas jelas Rissa itu muridnya.
**
Rissa dan Bunda Olive sudah lebih dulu pamit pulang setelah sarapan. Sedangkan Tiwi menunggu Dewa bersiap dulu.
Diperjalanan mengantar Tiwi pulang , hanya diisi keheningan ditemani suara radio saja. Dewa focus pada jalanan sedangkan Tiwi diam karena ia merasa kesal pada Dewa. Tiwi merasa cemburu juga marah melihat cara Dewa menatap Rissa pagi tadi. Wajar bila Tiwi merasa seperti itu, karena ia pacarnya, perempuan mana yang tidak akan marah dan kesal melihat pacarnya memperhatikan perempuan lain. apalagi ini dihadapannya langsung.
Meski sebentar namun tetap saja itu pasti sangat mengesalkan.
“Kamu gak mau ngejelasin sesuatu sama aku?” tanya Tiwi tanpa mengalihkan pandangannya dari depan
“jelasin apa sayang?” Tanya balik Dewa
“Kamu gak sadar kesalahan kamu pagi ini?” Tanya Tiwi kembali
Sejenak diam, Dewa tau apa yang Tiwi maksud. Tapi ia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang sempat ia pikirkan tadi.
“Kamu suka Rissa” tanya Tiwi lagi karena Dewa hanya diam saja
“Tentu saja, Rissa kan muridku, juga anak tante Olive” jawab Dewa
“Aku gak nanya Rissa sebagai murid kamu dan juga anak sahabat mama kamu, tapi Rissa sebagai Rissa, Rissa sebagai perempuan”
“Sayang, kamu ngomong apa? Aku kan udah ada kamu, kita hubungan bukan sebulan dua bulan”
“Tapi ngeliat cara kamu natap Rissa itu beda”
“Enggak, aku melihat Rissa gak ada yang beda”
“Semoga saja” tutup Tiwi lalu mengalihhkan pandangannya keluar karena tidak puas dengan jawaban Dewa.
Dewa meraih tangan Tiwi, rasa bersalah menyusp di dadanya. Ia benar benar telah berbuat kesalahan karena melihat kearah yang lain, sedangkan pacarnya ada disebelah dia.
Tiwi tidak kalah cantik dari Rissa, Tiwi juga baik, perhatian dan pengertian. Tapi kenapa Mata Dewa malah melihat kearah lain.
Mobil berhenti dihalaman rumah Tiwi, Tidak ada ucapan apa apa lagi yang keluar dari bibir Tiwi, ia hanya ingin segera keluar dari mobil Dewa. Tiwi tidak ingin berlama lama bersama Dewa, karena moodnya benar benar hancur melihat ulah Dewa.
Pergerakan Tiwi terhenti saat pergelangan tangannya di tahan,
“Maaf” ungkap Dewa penuh sesal
Tiwi tidak bergeming dari posisinya namun entah kenapa ada rasa yang begitu sakit saat mendengar ungkapan maaf dari kekasihnya. Seperty membenarkan tuduhan yang dipikirkan Tiwi, padahal Tiwi berharap Dewa benar benar mengatakan Tidak
Dewa menarik tubuh tiwi dan merengkuhnya, menghujani puncak kepala Tiwi dengan kecupan. Tiwi tidak bisa lagi menahan air matanya yang dari tadi sudah ingin keluar, Dewa yang menyadari Tiwi menangis, menangkup wajah Tiwi manatap dua manik mata yang berkabut dengan cairan bening.
Cup Dewa mengecup mata Tiwi cukup lama, lalu Dewa menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Tiwi.
Dewa benar benar merasa bersalah karena sudah mengabaikan perempuan yang dicintainya. Dewa bertekad tidak akan pernah lagi ia memperhatikan perempuan lain selain Tiwi.
Setelah berkali kali mengucapkan kata maaf, cup bibir Dewa mengecup bibir Tiwi, awalnya tidak ada ciuman balasan dari Tiwi. Namun saat Dewa mencium ke2xnya bibir Tiwi, akhirnya Tiwipun membalas ciumannya.
Pertengakaran mereka memang tidak pernah berlangsung lama. Akhirnya hubungan keduanya sudah kembali lagi dalam sekejap.
***
Hari senin sudah kembali, Rissa sudah kembali ke sekolah. Tapt di gerbang sekolah ia menyenggol seseorang sampai terjatuh.
“Maaf maaf maaf” ungkap Rissa merasa bersalah
“Iya gak papa kok” jawab orang yang Rissa tabrak
Rissa dan orang yang tidak sengaja Rissa tabrak bangun bersamaan. Setelah berkenalan ternyata orang yang Rissa tabrak adalah siswi pindahan. Rissa langsung mengantarkannya ke ruang guru, baru setelah itu Rissa menuju ke kelasnya.
Rissa dan Monica sedang asyik bercanda mengobrol hal remeh temeh yang membuat mereka tertawa. Meski jam pelajaran sudah mulai namun karena guru jam pertama belum datang jadi masi dimanfaatkan oleh siswanya untuk mengobrol.
Pintu kelas terbuka membuat semuanya hening, dan ternyata Dewa, wali kelas tampan mereka masuk diikitu seorang siswi yang baru pertama dilihatnya. Dewa memperkenalkan siswi pindahan dari Jakarta, siswi yang Rissa antar tadi pagi.
Naura bramantyo, nama siswi pindahan itu. Rissa tersenyum kearah Naura melambaikan tangannya, tapi ada perasaan aneh yang Rissa rasakan saat menatap wajah Naura, tapi Rissa tidak tahu itu apa.
Dewa kembali mengabsen semua muridnya sebelum memulai pelajaran, namun saat matanya membaca nama Rissa Aurorra, tanpa menyebutkan namanya, Dewa mengangkat kepala, melihat kearah Rissa yang juga sedang menatap ke arahnya.
Rissa langsung mengalihkan pandangannya. Lebih memilih melihat sahabatnya nica daripada harus melihat kearah Dewa. Begitupun Dewa, ia langsung menyadarkan dirinya. Ingat dia tidak boleh melirik perempuan lain, karena ia sudah memiliki Tiwi.
Selama jam pelajaran Dewa, Rissa benar benar tidak memperhatikan dengan benar. Tidak tahu apa yang sebenarnya Rissa pikirkan.
Rissa tidak tahu kenapa mengingat tatapan Dewa padanya pagi kemarin, penasaran juga bingung hinggap dihatinya, kenapa Dewa menatapnya seperti itu. Meski Rissa berusaha mengabaikannya tapi Rissa tahu Dewa melihatnya tidak seperti biasanya.
Apa jangan jangan ada yang aneh dengan wajah Rissa kemarin? pikiran Rissa bertanya tanya.
Dan juga Naura, siapa Naura? Kenapa ia merasa sepenasaran ini pada orang yang baru ia kenal. Ada perasaan ingin dekat tapi juga ada rasa takut dan juga entahlah, Risas benar benar baru merasakan perasaan seperti ini, padahal sebelum sebelumnya tidak pernah.
Dewa tahu Rissa melamun dan tidak memperhatikan pelajarannya. Ia ingin mengabaikan, tapi kenyataannya ia tidak bisa mengabaikan. Ia penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Rissa. Tapi Dewa tidak mungkin dengan tiba tiba langsung menanyakannya pada Rissa.
Setelah jam pelajaran selesai, Dewa meminta Rissa datang keruangannya saat jam istirahat. Ia akan menanyakannya nanti. Tapi itu semua apa benar karena Dewa ingin memperhatikan muridnya saja, atau karena hal lain yang hanya dijadikan alasan kepedulian guru pada muridnya?atau karena Dewa ingin melihat Rissa lebih dekat lagi dengannya?
Tepat jam istirahat Rissa pergi keruangan Dewa. Mengetuk pintu ruangan, setelah dipersilahkan masuk Rissa masuk dan duduk di bangku dihadapan Dewa.
“Rissa”
“Iya Pak”
“Apa kamu sedang ada masalah?”
Rissa yang dari tadi menundukan pandangan akhirnya mengangkat pandangannya menatap Dewa
Kepala Rissa menggeleng dengan
“Dari tadi kamu melamun, di jam pelajaran saya. Apa ada masalah?”
“Tidak ada pak”
“Baiklah kalau tidak ada masalah kamu boleh kembali, tapi kalau ada masalah yang mengganjal dengan pelajaran saya, kamu bilang saja”
“Baik pak. Terima kasih”
Setelah itu Rissa langsung meninggalkan ruangan Dewa
Rissa lebih memilih kembali ke kelas daripada menyusul Nica ke kantin, menaruh kepalanya di meja.
“kenapa pak Dewa terlihat penasaran dengan yang ada dipikirannya? Emang pak Dewa juga bersikap seperti itu ya pada murid lain?” pikir Rissa bertanya tanya.
Tuk, kening Risa diketuk dengan jari telunjuk.
“Abayyyyy”
Orang yang disebutkan namanya tersenyum dan memilih duduk di sebelah Rissa. Sebenarnya nama dia Akbar, namun karena Akbar punya kebiasaan kalau dipanggil orang jarang nyaut, jadi Rissa memanggilnya Abay.
Akbar mengeluarkan permen, membukanya langsung dan juga langsung menempelkan begitu saja pada bibir Rissa, membuat Rissa mendelik namun tidak urung untuk tetap melahap permen yang sudah menempel dibibirnya.
Akbar menaruh satu earphone ditelinga rissa dan satunya lagi ditelinganya lalu memutar lagu. Tidak ada obrolan dari keduanya. Mereka hanya menikmati alunan lagu yang mereka dengar bersama.
Rissa dan Akbar sama sama menegakkan tubuhnya, saat merasa lehernya sakit karena kelamaan dimeja. Mereka sering dibilang pacaran oleh siswa lain karena kedekatannya. Ditamab baik Akbar maupun Rissa tidak pernah mengiyakan ataupun menyangkal gossip yang tersebar disekolahnya.
Naura yang baru kembali bersama Nica dan yang lainnya, merasa penasaran dengan hubungan Rissa dan Akbar.
Naura memilih menanyakannya pada Nica dan Nica menjelaskan, harusnya Rissa dan Akbar pacaran saja. Mereka terlihat serasi. Rissa cantik Akbar tampan, 22nya anak kebanggaan sekolah karena berprestasi, 22nya aktif organisasi disekolah. Akbar juga sering mengunjungi Rissa ke kelas, meski sekarang kelas mereka berpisah. Sering pulang dan berangkat bersama pula.
Naura memperhatikan Akbar dan Rissa dari bangkunya. Melihat interaksi Akbar dan Rissa, mereka tidak banyak saling mengobrol tapi entah kenapa justru itu terlihat seperti sudah saling memahami. Senyum Rissa dan tatapan Akbar sepereti saling melengkapi.
Akbar berdiri dari duduknya segera karena harus kembali ke kelas, 5 menit lagi jam istirahat habis. Sebelum melangkah pergi tangannya terulur mengacak rambut Rissa sebelum ia meninggalkan kelas Rissa.
Naura melempar senyum melihat perlakuan Akbar pada Rissa. Dalam hatinya terbesit ingin bertemu laki laki seperti Akbar.
***
Rissa duduk berpangku dagu, dengan pandangan lurus keluar, menatap bunga bunga dihalaman depan rumahnya juga samping toko roti bundanya. Tidak tahu apa yang dipikirkan, tapi rasanya isi kepala Rissa dipenuhi pikiran pikiran tidak jelas.
Rissa menatap pantulan dirinya di cermin yang terlihat samar samar. Ada hal baru yang Rissa rasakan pada dirinya. Tapi masi samar dan belum jelas apa yang ia rasakan. Rissa ingin mengenyahkannya namun rasanya sulit.
“Sayang” panggilan dari bunda Olive menyadarkan Rissa
Rissa tersenyum menoleh kearah suara, berdiri lalu berhambur memeluk bundanya.
**
“Bund, apa Rissa bisa bertemu dengan ayah Rissa?” tanya Rissa dalam pelukan Bundanya
Bunda Olive mengurai pelukannya, menatap lekat lekat wajah putri cantiknya, sambil tersenyum.
“Kapan Rissa mau bertemu dengan ayah Rissa?”
Rissa menggelengkan kepala karena belum menentukan kapan ia mau bertemunya
“Bunda akan coba cari kontaknya dulu. Nanti kalau sudah jelas bunda akan beritahu Rissa”
Rissa mangangguk mengerti dengan jawaban bunda Olive, dan kembali memeluk bundanya.
Meski Rissa sudah mengetahui wajah ayahnya dari foto yang bundanya perlihatkan, tapi Rissa tidak terlalu menghapalnya. Apalagi itu foto 17tahun yang lalu.
**
Setelah jam pelajaran selesai, Rissa tidak ikut Nica dan teman temannya yang lain ke kantin. Rissa lebih memilih berjalan ke perpustakaan.
Melewati lorong sekolah dengan pandangan lurus dan tanpa senyum juga sapa, seperti bukan Rissa yang biasanya. Karena Rissa yang biasanya akan selalu tersenyum dengan wajah ceria.
Dewa memperhatikan Rissa dari ujung lorong penghubung antara kelas dan ruang guru, sedangkan Akbar beralan mengikuti Rissa dari belakang tanpa suara.
Dipersimpangan lorong Rissa berhenti saat matanya melihat sosok wali kelasnya.
Dewa – Rissa – Akbar… 3 manusia yang entah kenapa seperti terikat padahal tidak terikat.
Rissa melanjutkan langkahnya melewati Dewa, tanpa senyum tanpa ekspresi wajah, Rissa hanya mengguk sopan pada Dewa, begitu pula Dewa yang hanya tersenyum sekilas.
Akbar yang ikut berhenti saat Rissa berhenti melihat dengan jelas tatapan Dewa pada Rissa. Tatapan bukan seorang guru pada muridnya, melainkan yang lain. namun Akbar juga tidak bisa mengatakan apa apa, karena ia tahu Rissa tidak pernah berhubungan dengan siapapun lebih dari sekedar teman atau kenalan.
Rissa duduk di bangku perpustakaan, bukan untuk membaca karena buku yang ia ambil dari rak masi tertutp rapi.
Pikirannya hanya mengingat ucapan bundanya tadi malam.
“Bunda sudah bertemu dengan ayah Rissa ditemani tante Novy kemarin, Bunda sudah jelaskan semuanya dan ayah Rissa benar benar ingin bertemu dengan Rissa. Tapi Bunda belum mengiyakan keinginan ayah Rissa, bunda ingin Rissa yang menentukan kapannya”
Rissa meremas jari jarinya, di satu sisi ia ingin bertemu dengan ayahnya, namun disisi lain ada rasa takut yang masi bergelayut. Takut ada hal lain lagi, takut ada kejutan lain yang menanti. Takut pertemuan dengan Ayahnya tidak sesui dengan bayangan Rissa dan masih banyak pikiran pikiran lain yang bermunculan.
Disebrang Rissa yang sedang risau, tidak jauh berbeda dengan Naura yang juga merasakannya.
Tadi malam tiba tiba ayahnya mengatakan kalau ia memiliki seorang adik, adik perempuan dari ibu yang berbeda. Awalnya Naura hampir marah karena tidak terima, namun setelah mendengar penjelasan ayahnya tentang bagaimana ia lahir bagimana kehidupan ayah ibunya dulu dengan mantan istri ayahnya membuat Naura kehilangan amarahnya.
Ayah yang selama ini begitu dekat dengannya begitu menyayanginya ternyata juga ayah orang lain. Naura ingin egois agar ayahnya tidak bertemu dengan anak lainnya, tapi perkataan dan sesal ibunya perlahan mengikis egonya.
Kepindahan keluarganya ke Bandung tanpa di duga justru mendapatkan kejutan seperti ini. Ada rasa takut ayahnya akan lebih perhatian dan sayang pada anaknya yang lain tapi juga ada rasa kasihan karena adiknya dari beda ibu itu tidak seberuntung dirinya.
Naura bertanya tanya seperti apa rupa adiknya? Apa dia mirip dengan ayahnya? Apakah mereka ada kesamaan? Apakah dia cantik? Pertanyaan pertanyaan itu tiba tiba muncul dikepalanya.
Naura tidak menyangka, kehidupan keluarganya akan sedramatis ini. ditambah melihat sikap ayahnya yang akhir akhir ini jadi lebih banyak diam begitupun juga dengan ibunya, Naura yang selama hidup 17 tahun tidak pernah kekurangan perhatian, selalu jadi anak yang di manja kedua orang tuanya tiba tiba mengalami hal seperti ini. ini diluar yang Naura bayangkan.
***.
Rissa mendekap bundanya dari belakang. Bunda olive yang sedang menyiram tanaman bunganya seketika menghentikan kegiatan. Mengelus lembut buku buku jari Rissa, jari jari favorit bunda Olive dari sejak Rissa lahir sampai sekarang dan pasti sampai kapanpun.
Kekuatan ikatan tali ibu dan anak memang tidak bisa dikalahkan. Bunda Olive dapat merasakan kegundahan hati putrinya tanpa perlu putrinya bercerita terlebih dahulu.
Bunda Olive membalik tubuhnya memegang tangan Rissa dan menatapnya penuh kasih sayang. “Bunda tidak memaksa Rissa untuk menemui ayah sekarang sekarang. Mau bagaimanapun ayah Rissa menanti pertemuan kalian, kalau bukan Rissa yang siap, bunda tidak akan mengabulkan keinginan ayah. Karena yang paling utama buat Bunda adalah gimana kesiapan dari Rissanya”
Mata Rissa berkaca kaca mendengar penjelasana sang bunda. Rissa tidak pernah bisa membayangkan andai ia hidup tanpa sang bunda. Bunda Olive adalah hidupnya bunda Olive adalah segalanya bagi Rissa.
Rissa dan bunda saling berpelukan, dengan Rissa yang terisak tangis. “Rissa ingin bertemu ayah, tapi Rissa takut bund, Rissa takut semuanya tidak sesuai dengan bayangan Rissa. Rissa takut membuat keluarga ayah tidak bisa menerima Rissa”. Ungkap Rissa penuh sesak
“Ketika dunia menolak Rissa, ingatlah Rissa masi punya bunda, apapun keadaannya, Rissa adalah dunia bunda. Maka selama bunda masi ada jangan pernah takut selama itu masi benar, bunda akan jadi pendukung pertama Rissa”
Rissa semakin erat memeluk bundanya. Ya sekarang ia sudah yakin. Ia tidak akan takut lagi dengan hal lain. selama ia memiliki bunda Olive ia pasti bisa melewati apapun.
**
Dikediaman Dewa,,,
Dewa bersandar di pintu kaca yang menghadap ke halaman belakang rumahnya. Kedua tangannya ia masukan kedalam kantung celana. Ia berbalik saat mendengar suara kaki melangkah melewatinya. Melihat mamanya sudah rapi dengan beberapa bawaan Dewa bertanya.
“Mama mau kemana?”
“mama mau kerumah tante Olive”
Dewa diam sebentar, mengingat ngingat lagi kalau mamanya sudah lama tidak bertemu dengan tante Olive, padahal biasanya seminggu sekali pasti mamanya bertemu dengan tante Olive, atau paling jarang 2 minggu itu pasti bertemu tante Olive.
“Oh iya ya mama udah lama ya gak ketemu tante Olive”
“Enggak kok, mama masi sering bertemu sama tante Olive”
“tapi mama udah gak pernah minta dewa jemput atau antar?”
“Kan sekarang udah ada papa”
“Pantas saja” pikir dewa
“Yauda hari ini biar Dewa yang temenin”
“Kamu gak pergi?”
“Pergi kemana?” Tanya Dewa balik
“Biasanya kan kamu ketemu Tiwi. Oh iya udah lama Tiwi gak main kerumah. Kenapa?”
“Tiwi lagi ada acara keluarga Ma”
“Ohhh oke.. yauda yok kalo kamu mau nemenin, minta tolong bawain ini”
Mama Novi menyerahkan paper bag pada Dewa.
**
Dewa dan mama Novi sudah sampai di kediaman rumah Tante Olive. Namun karena masi melayani beberapa pelanggan tante Olive mempersilahkan dulu Dewa dan Mama Novi masuk kerumah duluan.
Dewa masuk kerumah tante Olive duluan, ia akan menyimpan beberapa paper bag yang dibawanya kedalam. Sedangkan mama Novi lebih milih menunggu tante Olive dulu di depan.
Setelah mengucapkan salam Dewa langsung masuk karena memang pintu rumah sedang terbuka meski tidak ada yang menjawab.
Dewa langsung membawa tentengannya kearah dapur, karena sang mama berpesan untuk menaruh langsung ke dapur dan memasukan 1 tempat ke kulkas. Dewa berjalan melewati ruang keluarga, dan disana terlihat Rissa yang tengah tertidur. Sepertinya Rissa ketiduran saat menonton, karena TV masi menyala.
Setelah dari dapur dan ingin kembali ke depan, langkah dewa berbelok pada kursi di ruang keluarga.
Ditatapnya wajah cantik Rissa. Bulumata lentik, hidung mancung, alis rapi alami. kenapa wajah Rissa semakin diperhatikan semakin cantik, pikir Dewa.
Pikiran dewa kembali mengingat kemurungan wajah Rissa saat disekolah kemarin. Ingin sekali tangannya menyentuh kulit kulit wajah Rissa, namun beruntung Dewa masi bisa menahannya. Karena kalau tidak.. apa yang akan dipikirkan mama Novi dan tante Olive yang kebetulan saat itu sudah masuk kerumah menyusulnya.
Sepertinya Dewa melupakan janjinya pada diri sendiri dan Tiwi.
***
Pertemuan pertama Rissa dan sang ayah akhirnya terlaksana. Rissa ditemani bunda Olive, namun Rissa baru mau bertemu dengan ayahnya saja tanpa keluarga yang lain. tanpa istri dan anak ayahnya yang lain dan Bram menyetujuinya.
Ayah Bram yang sudah datang lebih awal, berdiri saat melihat sosok Olive berjalan kearahnya, ditatapnya lekat lekat bunda Olive yang masi terlihat cantik dan awet muda begitupun anak perempuan yang bergandengan dengan bunda Olive, anak perempuan yang begitu cantik, karena mewarisi paras ibunya.
Setelah ketiganya saling berhadapan ayah Bram tidak kuasa untuk tidak langsung memeluk anak yang selama 17tahun ini baru ia ketahui. Kerinduan sang Ayah yang membuncah karena bahagia akhirnya bisa melihat dan memeluk langsung putrinya. Putri dari perempuan yang masi saja ia cintai sampai sekarang.
Ayah Bram menangis begitupun Rissa. Meski keduanya belum saling sapa namun ikatan batin antara ayah dan anak adalah segalanya.
Bunda Olive yang menyaksikan keduanya ikut menangis karena haru dan juga lega. Bunda Olive bersyukur putri yang begitu ia cintai akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya. Bersyukur juga karena Bram begitu menerima kehadiran Rissa.
Beruntung ayah Bram memilih ruangan privat, kalau tidak mungkin saja pertemuannya ini akan menjadi tontonan banyak orang.
Rasa sesal yang selama ini ayah Bram rasakan karena telah menghianati bundaOlive semakin bertambah dengan melihat kehadiran Rissa. Andai dulu ia tidak termakan nafsu, andai dulu ia menepati janjinya pada bunda Olive, pasti ia tidak akan pernah berpisah selama ini dari anaknya.
Bunda Olive benar benar merawat dan mendidik Rissa dengan sangat baik. Sifat baik sifat tenang dan pengertian bunda Olive benar benar menurun pada Rissa. Ayah Bram tidak menyangka anaknya akan sedewasa ini menyikapi kehadirannya. Menerima dan memaafkan ayahnya dengan lapang .
**
Bram tidak bisa memaksakan keinginannya untuk bisa bertemu Rissa lebih sering. Ia hanya bisa bertemu dengan Rissa bila Rissa menyetujuinya saja. Ditambah dengan kesibukannya bekerja, semakin tidak leluasa bertemu dengan Rissa. Tapi setidaknya Bram bersyukur karena bisa menanyakan jabar Rissa kapan saja. Mereka juga sudah saling bertukar nomor HP.
Hubungan keluarga Bram juga sudah kembali normal. Kehadiran Rissa tidak membuat kasih sayang dan perhatian Bram pada Naura berkurang, meski kemrin kemarin ia sempat lebih banyak diam, tapi bukan berarti ia jadi mengabaikan anak dan istrinya.
Jujur ayah Bram memang masi mencintai Bunda Olive, namun ia tidak bisa mengabaikan istrinya yang sekarang. Cukup sudah ayah Bram melakukan kesalahan sekali, Ia tidak akan mengulangi yang kedua kalinya.
**
Rissa yang dulu sudah kembali. Rissa yang ceria, ramah dan selalu menebar senyum. Namun semua sikap Rissa yang itu malah semakin membuat satu orang yang bernama Dewa tersiksa. Melihat Rissa setiap hari yang selalu penuh dengan senyuman membuat kepalanya dipenuhi Rissa Rissa dan Rissa.
Hubungan Dewa dengan Tiwi benar benar sudah tidak baik baik saja. Baik Dewa maupun Tiwi sebenarnya sudah sama sama merasakan kalau hubungan mereka sudah tidak sehangat dan sebaik dulu.
Keduanya selalu cekcok ketika bertemu dan berakhir dengan saling diam, namun keduanya masi sama sama berpikir bahwa mungkin itu hanya ujian dalam hubungan mereka saja.
Teman teman merekapun selalu mengatakan itu hal biasa dan wajar dalam hubungan. Membuat keduanya tetap sepakat mempertahankan.
Namun semua itu akhirnya tidak berlangsung lama, karena Dewa dan Tiwi memutuskan berpisah. Mereka berpisah dengan baik baik. Tiwi tau hati dewa sudah bukan miliknya dan Tiwipun begitu.
**
Rissa dan Naura juga jadi teman dekat, bahkan sekarang kemana mana yang biasanya hanya Rissa dan Nica sekarang menjadi Rissa, Nica dan Naura. Begitupun Akbar yang semakin menempel pada ketiganya.
Naura menyukai Akbar, namun ia tidak pernah berani mengungkapkan, Naura takut akan mengganggu hubungannya dengan Rissa. Meski baik Rissa maupun Akbar tidak pernah mengatakan apapun, Naura tetap tidak berani menyinggung soal perasaan. Karena untuk saat ini hubungan pertemanannya lebih penting dari hanya sekedar pacaran.
Siang ini Naura menyusul Rissa dan Nica yang sedang diperpustakaan sekolah. Naura menyusul belakangan karena Naura pergi dulu ke toilet. Ia tidak ingin ditemani karena Naura akan cukup lama ditoiletnya.
Naura sudah berada di dalam perpus, matanya mengedarkan pandangan mencari sosok Rissa dan Nica. Namun dari tempatnya berdiri ia bisa melihat 2 orang laki laki yang menatap pada 1 tujuan.
Akbar..
Pak Dewa..
Lirih Naura, meingikuti pandangan keduanya dan
Rissa…
Naura dapat dengan jelas melihat sorot mata keduanya yang menatap Rissa. Secara nyata Rissa memang dekat dengan keduanya namun hati Rissa sulit di jangkau.
Isi hati Rissa, hanya Rissa dan Tuhan saja yang tahu. Nica pernah memberitahu Naura, pertama jangan pernah membahas soal ayah dihadapan Rissa, dan kedua jangan menanyakan isi hati Rissa yang berhubungan dengan laki laki.
Selama ini hanya Rissa yang tidak pernah membahas sosok pacar atau laki laki idaman dalam obrolannya dengan Naura dan Nicca, Rissa hanya akan tersenyum mendengar semua ocehannya dan Nicca tentang laki laki. Perasaan Rissa pada Akbar pun bahkan susah di tebak. Karena Rissa benar benar sangat pandai menutup rapat isi hatinya.
Naura yakin Akbar dan Pak Dewa adalah orang yang memahami Rissa dengan baik. Karena banyak teman laki laki yang menyatakan perasaannya pada Rissa namun tidak dari satupun yang berhasil.
***
Dua minggu lagi acara hari kelulusan Rissa dan teman temannya. Dan tepat hari ini kelas Rissa mengadakan acara kumpul bersama dengan wali kelas mereka. Ya… wali kelas mereka dari kelas 2 dan kelas 3 SMA masi tetap sama yaitu Dewa. Entah kebetulan atau apa, meski di rolling tetap saja Rissa, Nica dan Naura sekelas, bahkan Akbar yang sempat beda kelas jadi sekelas bersama mereka.
Kelas mereka mengadakan piknik kecil kecilan, makan bersama disebuah taman di pinggir danau. Menikmati semilir angin dengan suasana penuh canda dan tawa. Masa masa SMA yang indah sebentar lagi akan berakhir, banyak rencana dari masing masing kepala. Ada yang melanjutkan ke universitas, ada yang ingin langsung bekerja, ada yang ingin meneruskan usaha keluarga dan ada juga yang masi tidak tahu mau kemana dan bagaimana.
Rissa duduk ditengah tengah antara Akbar dan Dewa, diluar sekolah Dewa benar benar terlihat seperti orang yang berbeda dengan Dewa di sekolah. Penampilannya bahkan terlihat seumuran dengan muridnya, ditambah ditunjang dengan wajah tampannya benar benar membuat semua wanita yang melihat mudah terpesona. Makannya semua teman perempuan sekelas Rissa adalah kumpulan penggemar Dewa.
Tapi apa itu berlaku untuk Rissa?? Menjadi penggemar Dewa??
Sepertinya semua orang memang dibuat penasaran oleh Rissa. Rissa adalah sosok perempuan yang terbuka namun secara bersamaan juga tertutup. Rissa seperti membuka lebar pintu ruangannya untuk siapapun bisa memasukinya, namun saat sudah masuk membuat semua orang penasaran karena didalam pintu masi ada pintu. Pintu yang kalau semakin ingin dibuka semakin menjauh.
Semua orang yang hadir piknik sudah memberitahukan keinginan dan rencannya setelah lulus akan seperti apa. Kini giliran Rissa yang terakhir menceritakan keinginannya. Semuanya sudah hening menunggu Rissa bercerita, namun sayang, Rissa tidak memberitahukan rencana dan tujuannya, ia memilih memandangi langit yang begitu cerah. Senyum mengembangnya tidak pernah luntur membuat sebagian temannya merasa kecewa dan melemparkan beberapa kacang pada arah Rissa.
Semua orang menikmati piknik mereka. Meski sederhana tapi yang penting mereka bersama sama.
Angin sepoi sepoi mengoyangkan dedaunan, tak jarang juga menjatuh dedaunan yang sudah layu dan kering. Rambut Rissa menutupi wajahnya yang sedang menutup mata, rambutnya bergerak seolah membelai. Dewa dan Akbar secara bersamaan ingin membenarkan rambut rambut yang tertiup menutup wajah Rissa. Namun keduanya terhenti dan malah saling tatap lalu mereka kembali pada duduknya masing masing tanpa mengganggu kenyamanan Rissa.
Dewa dan Akbar menatap lurus kedepan, melemparkan kerikil kerikil kecil ke atas danau. Keduanya sadar kalau mereka telah terjebak pada pesona Rissa. Dan tidak ada yang bisa menghentikan rasa suka mereka kecuali Rissa sendiri, mungkin..
Perasaan manusia tidak ada yang tahu. Kapanpun bisa berubah atau mungkin menetap. Nica yang dari tadi memperhatikan ketiganya hanya berharap sahabatnya memilih yang tepat untuk dirinya. Siappun itu, baik Pak Dewa, Akbar ataupun mungkin orang lain yang bisa saja hadir kapanpun dikehidupan Rissa.
Persahabatan Nica dan Rissa yang sudah terjalin dari kelas 4 SD, kurang lebih sudah membuat keduanya saling tahu keadaan masing masing.
Nica tahu cerita Rissa dan bunda Olive tentang hubungannya dengan ayah Rissa, membuat Nica mengerti kebimbangan, ketakutan Rissa dan ketertutupan Rissa pada laki laki. Nica hanya mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
Nica mendekat lalu memeluk Rissa dari belakang, mengabaikan kehadiran Pak Dewa dan Akbar yang daritadi betah duduk mengapit Rissa. Keduanya tertawa saat mata mereka saling pandang. Romantisme persahabatan tidak jarang menimbulkan iri. Namun kembali lagi semuanya punya porsi dan peran masing masing.
***
Hari yang ditunggu tunggu seluruh siswa kelas 12 akhirnya datang. Rissa tampil anggun dengan kebaya buatan karya tangan tante Novi. Badan semampainya sangat pas mengenakan kebaya berwarna soft yang dipadukan dengan rok batik span yang membungkus kaki jenjangnya. Makeup tipis, dan rambut yang disanggul modern dengan sedikit hiasan membuat penampilan Rissa benar benar sempurna.
Hari yang bersejarah untuk Rissa, karena hari ini selain merayakan kelulusan, Rissa juga akan bertemu dengan keluarga ayahnya. Rissa sudah tahu Naura adalah kakak satu ayahnya dari sejak kenaikan kelas. Namun Rissa memilih tidak menceritakannya pada siapapun, termasuk bunda Olive.
Dan sehari sebelum acara kelulusan, Rissa beru menceritakannya pada bunda Olive, karena besok pasti mereka akan bertemu.
Rissa juga menceritakan semuanya pada ayahnya lewat pesan. Agar tidak membuat ayah dan bundanya kaget saat bertemu besok.
Selama ini Rissa tidak menceritakan semuanya pada siapapun , bukan karena ingin menutup nutupi melainkan, karena Rissa hanya ingin menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang dan bahagia. Ditambah hubungannya dengan Naura yang berjalan baik, Rissa tidak ingin mempengaruhinya dengan hal lain.
**
Riisa berjalan bergandengan dengan sang bunda menuju aula tempat diadakannya acara, sedangkan disebrang sana, dari tempat yang Rissa dan sang bunda tuju sudah berdiri 3 orang yang menanti kehadirannya.
Ayah Bram, Ibunya Naura dan Naura.
Ayah Bram sudah memberitahukan bahwa mereka akan bertemu hari ini dengan adik beda ibunya Naura. Perasaan Naura tidak karu karuan menunggu hari ini, sepeti apa rupa adiknya, apakah mereka kenal, apakah mereka dekat, apakah mereka pernah saling menyapa, ataukan mereka belum pernah bertemu, semuanya hinggap dikepala Naura.
Namun saat Naura sibuk dengan pikirannya, ayah Bram menggenggam tangan Naura, berbisik pada Naura, menyuruhnya melihat kedepan.
Naura mengikuti perkataan ayahnya dan disana terlihat Rissa dan bunda Olive yang berjalan kearah mereka dengan anggun dan senyum yang tidak luntur.
Degup jantung Naura semakin cepat kala mengingat pesan dari Nica yang bilang jangan membahas soal ayah di depan Rissa. “Jadi apa benar Rissa adalah adiknya? Apa ini mimpi atau nyata?” pikiran Naura semakin penuh pertanyaan
Telapak tangan Naura terasa semakin dingin kala Rissa dan Bunda Olive berdiri dihadapannya. Naura berharap ini hanya mimpi namun sayangnya ini memang kenyataan.
Karena panggilan dari pembawa acara agar para tamu segera menempati tempat masing masing, membuat semuanya tidak banyak berbicara. Selain perkenalan singkat yang kenyataannya mereka sudah saling mengenal.
Semua tamu undangan yang hadir sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Rangkaian acara berjalan lancar sesuai rencana. Beberapa siswa siswi berprestasi dipanggil ke depan sebagai lulusan terbaik dengan nilai sempurna. Salah satunya Rissa dan Akbar.
Tante Novi sebagai pemilik yayasan menyerahkan hadiah dan cindera mata sebagai kenang kenangan. Air mata Bunda Olive luruh ketika putri kesayangannya benar benar membuat ia bangga.
Ayah Bram menatap putri ke2nya yang berdiri anggun di depan khalayak, bukan hanya paras saja yang cantik, sikapnya yang baik tapi juga berprestasi. Ayah Bram terasa tertampar melihat Putrinya yang membanggakan dan itu berkat didikan bunda Olive. Bunda Olive benar benar telah membuktikan ia bisa hidup dengan baik bersama putrinya, juga bisa mendidik anak dengan begitu baik.
Setelah serangkaian acara selesai, orang tua dan para anak banyak yang mengambil foto, tidak jarang ada beberapa kerabat lain yang ikut datang mengucapkan selamat juga membawakan buket bunga atau hadiah.
Selesai berfoto dengan kedua orang tuanya dan beberapa teman temannya yang lain, Naura berjalan mendekat pada Rissa yang masi sibuk menerima ucapan selamat dan beberapa buket bunga dari beberapa adik kelas yang hadir. Keduanya saling berhadapan, lalu tanpa di duga Rissa lebih dulu mendekat dan memeluk Naura.
“Selamat atas kelulusan kita… dan maaf karena tidak pernah menceritakan hal sebenarnya selama ini” ucap Rissa tulus
Naura tidak bisa membalas ucapan Rissa, ia hanya mengangguk dan membasal pelukan Rissa dengan air mata yang tiba tiba menetes. Apa yang telah terjadi memang bukan salah Naura, tapi mengetahui Ibunyalah yang turut serta menghancurkan keluarga Rissa membuat Naura tetap dilanda rasa bersalah.
Mungkin kalau saja posisinya di balik, belum tentu Naura bisa seperti Rissa. Tapi semuanya sekarang sudah jelas, Naura bersyukur karena semuanya sekarang sudah sama sama hidup bahagia.
***
Makan malam perayaan kelulusan Rissa yang khusus tante Novi dan om Ricard sediakan sebagai hadiah kelulusan Rissa diadakan villa tante Novi.
Perayaan kali ini hanya dihadiri Bunda Olive dan Rissa, Tante Novi, Om Ricard dan Pak Dewa. Tidak ada kak Tiwi kali ini, membuat Rissa bertanya tanya, kemana kak Tiwi, sudah lama ia tidak pernah melihatnya bersama Pak Dewa, pikir Rissa.
Malam semakin larut, udara dingin semakin terasa erat menyelimuti. Rissa masih betah duduk di kursi malas yangdisediakan di balkon, menikmati pemandangan malam dengan hamparan bintang ditemani suara suara binatang kecil. Bunda Olive sudah tidur lebih awal, begitupun Tante Novi dan Om Ricard. Pak Dewa juga sudah masuk ke kamarnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan ternyata itu pak Dewa. Pak Dewa duduk di bangku tepat sebelah Rissa. Hening…… srett.. Pak Dewa menggeser satu kotak kecil ke sebelah Rissa.
“Ini apa pak?” tanya Rissa penasaran
“hadiah kelulusan”
“Buat Rissa?”
Dewa mengangguk, lalu Rissa membukanya, dipandanginya oleh Rissa hadiah dari Dewa
“cantik” ucap Rissa, lalu
“Tapi ini hadiahnya terlalu bagus pak untuk Rissa”
Dewa menggelengkan kepala dan menjawab
“Tidak ada yang lebih bagus dari kamu”
Rissa mengerutkan kening karena tidak mengerti perkataan Dewa
“Buat saya kamu sudah seperti bintang, tetap berkilau meski dalam kegelapan. Jadi tidak ada yang lebih bagus dari kamu” jelas Dewa
Risa menatap lekat Dewa, Rissa tidak menduga Dewa bisa mengucapkan kalimat gombalan tapi tidak terdengar seperti gombalan.
Rissa dan Dewa saling menatap, perasaan yang selama ini Dewa tahan yang selama ini Dewa sangkal, nyatanya tetap meluap. Dewa yang selama ini hanya bisa memperhatikan Rissa dari jauh, mencintai Rissa dalam diam, malam ini benar benar akan Dewa ungkapkan.
Tubuh Dewa condong dan cup Dewa mengecup bibir merah Rissa yang selalu membuat fokusnya hilang arah. Tubuh Rissa menegang ketika Dewa menempelkan bibirnya dengan bibir Rissa.
Dewa memundurkan lagi wajahnya dan kembali menatap Rissa yang masi membeku, namun tidak lama karena Dewa kembali mencium bibir Rissa. Ciuman lembut penuh perasaan, seolah Dewa meluapkan semua emosi da nisi hatinya selama ini. Sebelah tangan Dewa menahan kepala Rissa dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Rissa yang masi memegang kotak gelang yang ia berikan.
Rissa membuang pandangan ke arah berlawanan dengan Dewa, Rissa masi tidak sanggup menatap Dewa. degup jantungnya seperti habis maraton, tidak bisa Rissa kendalikan.
Sedangkan Dewa tidak bisa untuk tidak terus memandang kea rah Rissa. Dewa seperti anak ABG yang baru kasmaran, padahal umurnya sudah jauh dari kata ABG.
Rissa berdiri dari duduknya dan segera masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Dewa yang masi duduk disana.
Sepeninggalnya Rissa, Dewa mengutuk sikapnya yang tidak bisa dikontrol. Bagaimana bisa ia melakukan itu pada Rissa. Bagaimana bisa besok ia menunjukan wajah pada Rissa.
Dewa mengacak rambutnya sendiri, prustasi memikirkan besok harus bersikap bagaimana pada Rissa. Bisa bisanya ia bertindak implusif, harusnya Dewa menyatakan perasaannya dulu sebelum langsung mencium Rissa.
Tapi sepertinya Dewa tidak menyesali perbuatannya, karena senyum mengembang dari bibirnya tidak luntur dari sejak tadi.
***
Dua tahun kemudian….
Dewa baru saja mendarat di Bandara International soekarno hatta, ia baru kembali dari Inggris setelah 1 tahun menetap disana. Mengurus perusahaan papahnya disana sebelum diserahkan kepengurusannya pada adik papahnya.
Dewa tidak langsung pulang ke Bandung, karena harus menghadiri satu acara dulu di Jakarta. Dewa berjalan keluar area Bandara untuk mendapatkan taxi, Dewa akan langsung ke hotel tempatnya menginap, karena badannya sudah ingin istirahat. Namun karena area bandara yang cukup ramai membuat ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukk… barang bawaan orang Dewa tabrak terjatuh. Dewa langsung berjongkong berniat mengambil barang orang yang ditabraknya, namun pergerakan tangannya terhenti ketika matanya melihat tangan seseorang yang terayun dihadapannya, tangan dengan gelang berbandul bintang dengan satu berlian ditengahnya. Mata Dewa menelisik orang tersebut dan
“Rissa…”
“Rissa Aurora….”
Perempuan yang pagi itu tiba tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak
Perempuan yang telah membuatnya hampir gila karena mencarinya kemana mana
Perempuan yang sudah memporak porandakan hatinya
Perempuan yang sampai saat ini masi memenuhi isi kepalanya
Dewa menggenggam erat tangan Rissa dengan pandangan tidak lepas dari Rissa
Kali ini Dewa tidak akan pernah kecolongan lagi
Tidak akan pernah ia biarkan wanita dihadapannya luput lagi dari pandangannya..
Tidak akan pernah Dewa biarkan wanita ini menghilang lagi
Sudah lebih dari cukup waktu dua tahun yang Dewa lewati tanpanya
Kali ini dan seterusnya genggamannya tangan ia biarkan lepas..
End_