Kamu kira sudah menikahinya, lantas mengetahui semua rahasianya? Tidak! Aku tidak begitu.
Aku Aresta, 26 tahun; telah menikahi Arjun, pria 28 tahun, si pemilik toko buku. Pertemuan pertama kami, jelas di toko bukunya, saling tertarik dan jatuh cinta lalu mengikat janji pernikahan. Lebih spesifiknya lagi, aku kali pertama bertemu dengannya ketika terjebak di toilet tokonya. Walau aku sering ke sana, aku hanya fokus pada tumpukan buku, pegawai bahkan pemilik, tak penting bagiku.
Waktu itu andaikan bukan karena darah berceceran yang kulihat di lantai, mungkin aku bisa santai menunggu pintu toilet terbuka dari luar. Namun, sayangnya aku malah tak sadarkan diri, setelah kaget setengah mati dan berteriak-teriak meminta tolong.
Pernikahan kami baik-baik saja, seperti pada umumnya di tahun-tahun pertama pernikahan, walau belum diberi rezeki anak, hingga pada suatu hari terjadi sesuatu.
"Aaaa ... Astaghfirullah. Abang, tolong Bang. Ada setan di sini!! Eh zombie? Bukan!! Vampir? Frankenstein?? Pokoknya ada hantu Bang, di mana sih Abang??!"
Aku yang terbangun dari tidur setelah panas dingin semalaman, terkejut melihat sosok makhluk asing tertidur di sampingku. Wajahnya yang samar-samar terlihat pucat, dengan bercak cairan merah kehitaman di sekitar mulutnya, dan cakar yang kulihat berangsur-angsur hilang, saat aku berteriak.
"Tenang, Rest, ini aku." Sosok itu mulai bicara.
"Kamu, bisa bicara?? Banggg, usir setan ini. Abang, dia juga tahu namaku. Bang, kamu di mana sih? huhuhu hikss."
"Aresta Gemilang, ini aku, suamimu Arjuno."
Buukkk ....
Bantal mendarat ke arah wajah makhluk itu yang bersamaan dengan lampu kamar menyala.
"Eh, Bang Jun? Astagaaa, kamu tadi kerasukan, apa gimana? Sebut-sebut nama Tuhan, Bang."
"Rest, ini aku, yang tadi juga aku."
Aku diperlihatkan cakar dan taringnya. Aku yang kaget dengan spontan melempar lampu meja ke arah Arjun.
Suuutt ...
Mataku terbelalak, ketika melihat lampu itu melayang di depan wajahnya. Dan tanpa aba-aba, aku meraih tangannya, dan dengan cepat membaringkan badannya ke kasur.
"Ayo ngaku siapa yang masuk ke tubuh Bang Jun?" Sambil komat-kamit baca ayat-ayat suci.
"Aresta, tenang dulu, ini beneran aku." Bang Jun bergantian membalikkan badanku dan menindihku dari atas. Aku terdiam sesaat.
"Sudah tenang?? Maafkan aku, telah mengagetkanmu. Bekas di lehermu juga, masih sakit? Sepertinya aku belum berhasil. Ditambah aku meminum darahmu, reaksi tubuhku begitu aneh." Bang Jun mendudukkan aku dan berbicara omong kosong dalam pendengaranku.
"Eh leher? Minum darah? Berhasil apa?" Aku yang kebingungan meraba leherku, dan merasakan ada dua lobang kecil.
"Dari mana luka ini, Bang? Kecupan cupang? Gairahmu tinggi kali lah Bang." Aku berpikir lagi sambil sesekali melihat kamar yang berantakan.
"Hanya dengarkan aku, jangan diputus dulu, oke? Ingat darah yang kamu lihat di toilet dulu?"
"Itu kan imajinasiku, apa sih maksudnya?" Aku yang mulai kesal dipermainkan Arjun, membuang muka dan cemberut.
"Asli, bukan ilusi. Itu darah sapi segar. Waktu itu toko begitu ramai, aku yang baru datang dari toko daging langsung meluncur membantu pegawai lainnya. Aku hendak membawa daging itu ke kamar atap tapi tak kusangka malah mendarat di toilet, karena saking tidak fokusnya."
"Vampir?"
"Iya, aku vampir."
"Resta, darahmu spesial. Aku bisa mencium bau darahmu sampai sejauh 5 km, tapi karena darahmu pula, aku ...."
"Kamu kenapa? Tunggu-tunggu. Kamu kan memang meminum darah manusia untuk bertahan hidup, kan? Apa kalian juga membunuhnya?"
"Kalau kami mematikannya dulu, darahnya kurang segar. Kami tak bisa membunuh manusia, hanya orang-orang pembangkang atau penjahat yang kami incar. Aku ingin berubah sepertimu, Rest."
"Umurmu?" tanyaku penasaran.
"Jelas bukan 28, 100 tahun sudah."
"Gila ya kamu, Jun. Jadi selama ini aku mencintai seorang eh sesosok eh bukan hmm apa ya namanya, ya dah lah."
"Maaf, kamu kecewa. Aku sudah lama sekali tidak meminum darah manusia, aku ingin berubah."
"Jadi manusia, sepertiku? Tapi wujud kalian itu saat ini sama lo kayak aku."
Setelah pengakuan mengejutkan dari Arjun, Arjun menceritakan alasan dia ingin menjadi manusia seutuhnya. Aku tersentuh atas alasan yang diberikan Arjun, lalu setuju membantunya menjadi manusia.
Dari penjelasan Arjun, ketika klan vampirnya ingin menjadi manusia, mereka harus mencapai usia ke-100. Juga harus berhenti meminum darah manusia selama setahun di dunia manusia. Pun dilarang memperlihatkan sihir vampir kepada makhluk lain. Bagi Arjun, hal itu tampak mudah. Ia sudah berhenti minum darah manusia sejak usia 25 tahun dan Arjun merupakan salah satu pengendali sihir terbaik selain ayahnya, sang pemimpin klan.
Namun, selama di dunia manusia, Arjun selalu diganggu oleh sekumpulan vampir atas perintah kakaknya Arjun, Gesta. Ia iri dan benci terhadap Arjun, karena akan menjadi ahli waris utama, menjadi pemimpin klan selanjutnya. Gesta berencana menghilangkan Arjun dan menjadikan dirinya penerus pemimpin.
Bulan tampak sempurna merekah di langit malam hari ini, Arjun dan aku sudah memiliki rencana, agar Bang Arjun berhasil menjadi manusia. Tampak Gesta dan bawahannya sudah memenuhi sekitar tebing. Bang Jun harus berada pada di atas ketinggian untuk mendapatkan sinar bulan pada tengah malam.
Perkelahian mulai terjadi saat dua jam sebelum waktu tengah malam, aku yang bersembunyi pada akhirnya ditemukan dan disiksa. Arjun menolong sekuat tenaganya. Karena tidak pernah lagi meminum darah manusia, tiap hari kekuatan Bang Arjun melemah. Darah spesial yang kuberikan waktu itu, memulihkan kekuatannya dengan cepat, tapi tak setara dengan kekuatan suruhan Gesta.
Kami dipojokkan ke ujung tebing, tepat di bawah ada lautan yang akan menyambut kami. Persis seperti rencana kami sebelumnya. Panah api sihir menghujani kami, Arjun yang sibuk menghalau panah-panah itu, tidak mendeteksi gerakan Gesta yang mendekatiku. Dan ketika aku memanggil Arjun, Gesta menikam di sebelah jantungku.
Arjun yang mengetahui itu, langsung menerjang musuh dan mendatangiku, dia melihat Gesta yang tertawa senang. Aku mencegahnya ketika Arjun ingin menghantam Gesta.
Bang Arjun mulai meminum darahku yang mengalir dari jantung dan aku meminum obat. Ya, obat itu sudah diformulasikan dengan teknologi canggih dan dicampur dengan sihir Arjun. Efeknya, akan tertidur dengan jantung lemah selama sepekan lebih atau bisa lebih dari itu, tidak ada yang tahu. Aku pun menerimanya.
Keringat dan darah Arjun mengalir di tubuhku, begitu pun darahku. Akhirnya kami menerjunkan diri, Arjun memelukku. Terakhir, aku melihat wajah dan tangannya dipenuhi bulu-bulu halus, taring dan cakarnya terus-menerus hilang dan muncul bergantian.
Di saat itu pula, ayah Arjun tiba. Ia melihat ke dasar tebing, gelap dan dingin. Aku mendengar samar-samar ayahnya berbicara dan setelah itu tak tahu apa yang terjadi.
"Arjun berhasil." ucap ayah Arjun.