Kaki tanganku anyep. Aku bangkit dari pembaringan. Kutangkap banyak suara tersedu. Aku balikkan badan perlahan. Anak, cucu, dan cicitku berkerumun. Di tengah peraduan tua itu terbujur kaku diriku yang liyan.
Kupandang lekat mata itu. Mata yang sekarang terpejam tuk selamanya. Mata yang telah menyelami dunia sepanjang sembilan puluh empat warsa. Harusnya tak ada lagi yang patut ditunggu dalam hidup.
Tiap sudut kamar kupandang dengan jelas. Tak kutemukan sosok suamiku di antara mereka. Kemana Mas Joko, lelaki yang menikahiku di usiaku keempat belas.
Aku kalut menerka-nerka jejaknya. Mulai dari perpustakaan mini di rumah kami yang jadi semesta pelipurnya. Lantas taman dimana dia menggarap kolam teratai kecil untukku. Aku menyusup sekali lagi ke ruang tengah. Bagian yang sarat kesan indah kami beserta anak, cucu dan cicit. Tak kunjung kutemukan. Dimana dia bersembunyi.
Dia tak menyusulku kan?! Langsung kulenyapkan simpulan penuh keputusasaan itu. Aku berlari ke dapur. Sosok renta yang kukasihi larut hening di sana. Mendalami pantulan dirinya di kulkas hadiah menantuku yang besarnya menyerupai lemari jati.
Apa yang dapat kuperbuat Mas?! Kendati aku berdiri di sandingmu, di pintu kulkas itu kini tak ada lagi bayanganku. Tinggal kamu. Sendiri.
Anak, cucu dan cicitku mulai mengadakan pemulasaran seliraku. Bersama-sama mereka menangisiku. Tapi Mas Joko terus duduk mematung. Tanpa setetes pun air mata. Mas Joko lambat laun melalaikanku dalam benaknya. Semua berawal empat tahun silam.
Entah aku layak bersyukur ke hadirat Tuhan atau mempersalahkan suratan-Nya. Alzheimer berangsur-angsur mengikis memori Mas Joko. Sampai dia tak sadar aku menarik napas terakhir tanpa dia sempat mengingatku. Tanpa memberiku celah untuk pamit.
Tiada yang berubah dari Yangkung sekalipun Yangti telah mendahuluinya. Luna memperhatikan Yangkung yang sedang kesusahan memasukkan kakinya ke dalam sepatu yang kesempitan.
Luna menghampiri dan membungkuk dekat kaki Yangkungnya. Menyambar sepatu yang benar. Membantu Yangkung menanggalkan sepatu bertali yang bukan kepunyaannya itu. Rampung menukar sepatu, Luna menengadah dan tersenyum. Akan tetapi Yangkung tak bereaksi sama sekali.
Nestapaku laksana luka tersayat sembilu. Luna dan Mas Joko seakan mempertontonkan adegan film drama. Mata Mas Joko yang redup berisi kesia-siaan saja. Tak mengisyaratkan gairah hidup. Sebaliknya, aku lega di antara daftar cicitku ada Luna. Pribadi ekspresif berkenaan sifat welas asihnya terhadap orang di sekitarnya.
Luna membawakan makanan ke kamar Yangkung. Ruangan ini jadi terasa kosong tanpa kehangatan Yangti, pikir Luna. "Kung... makan ya! Ada mie nyemek nih! Luna udah taburin banyak bawang goreng kesukaan Yangkung."
Yangkungnya bergeming membeku. Terus memandang ke luar jendela. Luna tersadar rupanya lirikan Yangkung terikat pada bunga mawar yang hampir layu di tangkainya. Makanan yang dipegangnya diletakkan di meja. Gadis itu lantas berlari ke taman. Tak lama berselang Luna balik dengan bunga mawar yang hampir layu itu beserta vas ditambah air di dalamnya.
Muka Mas Joko masih minim emosi. Dia mengingat kebiasaanku. Namun dia melupakanku.
Aku kerap memasukkan mawar yang hampir layu ke dalam vas berisi air. Kupikir, dengan begitu rentang waktu untuk keelokannya bisa kian lama. Serupa denganku. Terbersit keinginan memenangkan imbuhan waktu di sisi suamiku.
Luna mencicip kue kismis yang dibeli Maminya di pasar pagi tadi. Sambil lalu ujung tangannya cergas menelusuri video musik di kanal YouTube yang sekiranya menarik. Sebuah konten dengan thumbnail animasi dikliknya. Terdengar lagu lawas yang aransemennya diberi sematan beat-beat remix.
I know I Will never start
to smile again
Until I smile at you
Yangkung turut bersenandung lamat-lamat. Luna tak salah tangkap. Padahal tadinya Yangkung masih tidur siang di sofa. Entah sejak kapan Yangkung terbangun dan membuat Luna terpegun dengan nyanyiannya.
"Ini lagu kesukaan Yangkung?" tanya Luna.
Bukan. Itu lagu kesukaanku. Dahulu jantungku kerap berdetak tak beraturan tiap Mas Joko menyanyikannya untukku. Detak yang sekarang telah mandek. Sejak beberapa hari silam.
Serampungnya lagu Mas Joko berdiri dan menyelinap ke kamar. Menyambung lagi tidur siangnya.
Aku bertanya-tanya, seperti apa emosi yang dulu dirasakan Mas Joko saat mengalunkan lagu I'll never smile again untukku. Apa masih kurang kuat merangsang alam bawah sadarnya untuk mengingatku.
Yangkung berdiri menghadap rak yang menjulang di salah satu ruangan yang difungsikan sebagai perpustakaan mini. Tangannya bergerak mengambil buku yang satu lalu menaruhnya kembali. Ambil buku yang lain dan ditaruh di tempatnya lagi. Seperti itu terus.
Luna yang lewat depan pintu menahan langkah. Kakinya memancang di tempat. Menyimak yang tengah dilakukan Yangkungnya.
Luna mendekat dan bertanya, "Yangkung ngapain? Mau Luna bacain buku?"
Yangkung tak menggubris. Tangannya terus mengambil satu buku dan meletakkannya seperti sedia kala. Ambil buku yang lain kemudian menempatkannya seperti semula.
Muka Luna berangsur muram. Perasaannya gelisah lantaran tak tahu apa yang dimaui Yangkung. Hingga suara tak tak tak mengejutkannya. Asalnya dari buku tebal yang digoyang-goyangkan Yangkung.
Yangkung berjalan ke meja. Lalu duduk di kursi kuno yang terbuat dari anyaman rotan. Ujung tangannya membuka sampul buku tebal itu yang ternyata sebuah book safe. Di dalamnya tampak sebuah kotak kado kecil.
"Wah... Yangkung nyembunyiin harta karun ya?!" pekik Luna antusias.
Jemari keriput Yangkung mengambil kotak kado kecil itu lalu membukanya. Luna memperhatikan dengan seksama. Sebuah lipstik merek lokal seri 127. "Ini kado buat Yangti ya?! Tapi Kung lupa ngasih?!" pertanyaan Luna kali ini tak butuh sebuah jawaban.
Tangan Yangkung memulas lipstik itu ke bibir Luna. Tapi karena main tubruk garis luar bibir, tampang Luna tentu kelihatan ganjil. Yangkung terkekeh sembari bertepuk tangan pelan. Luna sudah tak ada daya untuk meradang mendapati keriangan polos Yangkungnya.
Tawa Mas Joko memberi teguran keras padaku. Tak usah membuatnya takut kehilanganku. Lebih baik begini. Tak menuntutnya mengenang perpisahan yang abadi ini.
Terima kasih Mas... telah jadi teman hidup yang sempurna. Tiga hari sebelum aku benar-benar hengkang dari rumah ini, perbolehkan aku mendampingimu. Seperti saat ini.
Loyang berisi bolu ketan hitam yang baru matang dikeluarkan Luna dari perapian dengan hati-hati. Matanya berseri lebar ke objek uji coba pertamanya yang langsung jadi itu. Tanpa Luna sadari Yangkung sudah berdiri di dekatnya.
"Kung mau... dua ya..." pinta Yangkung seraya jemarinya mengisyaratkan angka dua.
"Kung lesu? Emangnya Kung kuat ngabisin dua potong langsung?"
"Satu buat Kung... satu buat Uti... Ini kue kesukaan Uti..." sahut Yangkung sungguh-sungguh.
Ingin rasanya aku protes pada Tuhan. Di hari terakhirku, kenapa ingatan Mas Joko tentangku justru kembali. Aku tidak berharap Mas Joko menangisi ketiadaanku.
Luna menggigit bibirnya pelan. Langkahnya terasa berat mendekati Yangkung. Bicaranya pun tak lagi banter seperti biasanya. "Kung... Uti udah meninggal."
"Meninggal... kapan..." Wajah Yangkung membuncah. "Ningsih... kamu sudah meninggal..."
Aku hanya bisa menatap Mas Joko berjalan terpuruk ke kamar. Kepalanya tertunduk lemah. Seakan tak sudi mengakui kenyataan yang baru didengarnya.
Melungguh di tepian kasur tahu-tahu Mas Joko memukuli kepalanya sendiri. "Maafkan aku yang pikun ini, Ning..." tuturnya lirih.
Teramat ingin aku menangkap tangan Mas Joko seraya membesarkan hatinya. Tapi kini tidak ada yang bisa mendengarku. Tak terkecuali kamu Mas...
"Buat apa aku masih hidup jika nanti aku tak bisa ingat kamu lagi Ning... Bagiku sama saja seperti kesengsaraan yang terus berulang."
Kamu tidak kuasa tuk pergi atau tinggal semaumu Mas... Terima kasih telah mengingatku. Kini kamu bisa hentikan ratapanmu. Agar tak ada aral di perjalananku.
Ini hari keempat puluhku. Semoga di penghujung keabadian kita bisa bersama selamanya. Aku pamit, Mas... (NVL)