"Apa yang sedang kau baca?." Suara lembut Asila yang mengagetkanku dan aku segera menutup buku yang saat ini aku pegang. Asila menghampiriku dan langsung duduk ditepi kasur kamarku. Aku segera meletakan buku yang belum selesai aku baca dan segera menghampirinya.
"Vampir?.. Apa sebegitu penasarannya kamu tentang vampir, Rel?."
" Tidak, aku hanya sekedar ingin tahu saja. Itu juga tidak terlalu penting bagiku." Jawabku lembut agar dia tidak merasa tersinggung tentang apa yang aku ucapkan.
Entahlah, apa yang membuat Asila sangat tidak ingin aku mengetahui tentang vampir, bahkan dia sering sekali marah jika aku membicarakan vampir.
Dia sangat sensitif jika berhubungan dengan mahluk yang bertaring tajam itu.
Ya saat ini aku tinggal dengan Asila, wanita cantik yang telah menyelamatkanku dari binatang buas yang akan menerkam ku disaat aku tersesat di hutan tempat kami sedang melakukan camping bersama teman kuliahku sebulan lalu.
Aku tidak ingat betul bagaimana dia bertarung dengan serigala yang kelaparan untuk melindungi ku. Namun yang aku tau dia sangat cantik, tinggi, putih mulus dan sangat manis, hehehe..
Bullshit memang, bila aku bilang tidak terpesona dengan wanita cantik seperti Asila. Apalagi Asila adalah seorang wanita yang sangat lemah lembut dan penuh perhatian.
"Apa kamu mau jalan-jalan?" tanyaku, entah sudah kebeberapa kalinya aku menanyakan hal ini kepadanya. Namun dia selalu menggelengkan kepalanya dan berkata..
"Aku lebih nyaman dirumah Rel, dan tolong jangan katakan itu lagi dan jangan paksa aku. Aku sudah bilang kan, aku lebih aman didalam rumah, apalagi bersamamu aku merasa lebih tenang dan damai."
Aku heran dengan sikapnya, bahkan selama sebulan bersamaku Asila tidak pernah mau keluar sama sekali. Aku sudah sering membujuknya, namun Asila tetaplah Asila wanita keras kepala yang aku temukan didalam hutan dan juga Dewi penyelamat bagiku.
Kami selalu menghabiskan waktu didalam apartemen, dan melakukan hal-hal kecil yang konyol dan itu membuatku betah tetap tinggal didalam rumah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar sebentar untuk membeli bahan makanan sepertinya persediaan kita sudah habis. Apa kmu mau sesuatu?. Atau kamu mau aku membelikan sesuatu?."
Dengan tersenyum manis dia memegang jari-jemariku dan berkata,
"Tidak Rel, aku hanya ingin kamu cepat kembali."
Manik mata hitam yang indah membuat aku jadi salah tingkah dibuatnya. Mata bulat indah, wajah yang lugu dan senyumnya yang manis membuat aku luluh, dan tak berdaya. Sikapnya yang lembut membuat aku merasa berarti didalam hidupnya, aku terbuai akan indahnya mahkluk ciptaan Tuhan satu ini begitu sempurna di mataku.
"Baiklah aku pergi dulu, dan bila kamu mengantuk segeralah tidur jangan tunggu aku pulang."
Dia hanya mengangguk tanda mengerti, kuacak-acak kecil rambutnya lalu segera mengambil kunci mobilku yang ada diatas meja. Segera ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar.
"Darell.. hati-hati!?" ucapnya. Aku berbalik badan dan dia tersenyum kearah ku.
"Pasti." Aku segera melangkahkan kakiku keluar dari pintu apartemen dan segera pergi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah aku selesai dengan apa yang aku butuhkan, aku segera pergi pulang. Aku melewati jalanan pintas yang sepi karena aku ingin segera bertemu dengan dia, wanitaku.
kikkkkk...
Damn.., aku menghentikan laju mobilku secara mendadak disaat ada seorang yang berdiri membelakangi ku. Seorang dengan jubah hitam yang menjuntai ke aspal jalanan.
Aku tak begitu melihat apa yang ia lakukan didepan mobilku, namun yang pasti dia hanya diam dan tak berbalik badan.
Aku segera turun dan ingin menghampirinya, namun tiba-tiba...
Whussss...
Ada seseorang yang menarik orang tersebut, aku tak tau apa itu karena kejadiannya sangatlah cepat.
Aku berfikir sebentar, namun aku tak mau ambil pusing aku segera menuju mobilku dan melanjutkan perjalananku.
Sesampainya aku dirumah, rumah sudah padam dan aku pikir Asila mendengarkan perkataan ku mungkin dia sudah tidur.
Namun dugaan ku salah, Asila tidak ada dikamarnya dan aku segera mencarinya ke dapur dan keseluruh ruangan yang ada di apartemenku. Hasilnya nihil, Asila tidak ada. Aku panik segera aku turun dan bertanya ke penjaga apartemen, namun mereka tidak melihat wanita yang kusebutkan ciri-cirinya.
Aku keluar dan mencarinya kesekitar taman di apartemenku, namun dia tetap tidak ada. Aku ingat selama dia bersamaku dia tidak pernah keluar sama sekali. Aku takut dia diculik, dan itu membuat aku menjadi lebih panik lagi apa lagi ini sudah larut malam.
Aku segera mengambil mobilku dan menelusuri jalanan namun tetap aku tak menemukannya.
Dan disaat aku melewati jalanan sepi yang aku lewati tadi, aku melihat ada seorang wanita yang terkapar di bahu jalan.
Aku menepikan mobilku, namun aku ragu aku takut itu hanya orang jahat yang akan merampokku.
Sekali lagi aku perhatikan gaun yang wanita itu kenakan, aku kaget saat aku ingat Asila memakai gaun warna biru gaun dengan warna yang sama dengan wanita itu.
Aku membuka pintu mobilku, dan turun ingin menghampirinya meski agak sedikit ragu namun ku tepis rasa raguku. Yang aku ingat hanyalah Asila, dan semoga yang ada di hadapanku ini bukanlah orang yang aku cari. Aku terus berjalan kearahnya, dan disaat aku sampai aku jongkok dan membalikkan badannya.
"Asila..."
Aku kaget ternyata itu benar Asila, wajahnya. Tidak, dia bukan Asila, Asila tidak memiliki taring tapi ini dia memilikinya. Aku takut namun juga ragu untuk memastikan apa benar ini Asila.
"Darell.." Dengan suara parau dia memanggilku, dan tersenyum kearah ku.
"Apa benar kamu Asila?." Tanyaku tak percaya apa yang ada di hadapanku.
"He, akhirnya kamu mengetahuinya Rel. Ini memang benar aku Asila, maaf aku tak jujur kepadamu."
"Ja.. jadi kamu vampir?." Tanyaku dengan nada gugup.
"Iya ini aku, Darell." Aku langsung memeluknya aku tak peduli siapa dia, yang aku tau hanyalah dia adalah wanitaku.
"Apa kamu baik-baik saja Rell, apa kamu terluka?." Dia bertanya kepadaku, dan aku mengingat sesuatu.
"Apa kamu yang menarik orang yang menghadang mobilku?." Dia hanya tersenyum dan itu sudah pasti bahwa jawabannya adalah memang benar bahwa itu adalah Asila.
"Asila kamu???. Asila kenapa kamu lakukan itu, jangan tinggalkan aku, jangan pernah tinggalkan aku Asila. Aku mencintaimu aku tak bisa hidup sendirian tanpamu, Asila aku harus bertahan. Akan aku bawa kamu ke rumah sakit."
"Bodoh, kamu sangat cerewet Rell. Tapi aku ini vampir Rell." Aku terdiam dan mencerna kata-katanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?." Tanyaku.
"Darah."
"Darah?." Asila hanya mengangguk. Benar vampir tak butuh ke dokter, dia hanya perlu meminum darah maka dia akan baik-baik saja, mungkin.
"Ambillah daraku Asila, cepat ambillah." Aku segera menyodorkan leherku untuk dia gigit tapi dia ragu.
"Kau bodoh Rell, tidak mungkin aku melakukan itu. Kamu tau kan resikonya, dan aku gak mau itu sampai terjadi."
"Aku gak perduli, aku menyayangimu dan aku ingin kau menjadi milikku. Cepat ambillah daraku Asila, aku mohon."
Tak butuh waktu lama Asila langsung menghisap leherku.
Rasanya, jangan ditanya lagi meskipun sakit aku bangga bisa memberikan darahku kepada orang yang aku sayangi, meskipun nyawaku sekaligus aku tak peduli. Bodoh, iya mungkin aku orang terbodoh di dunia. Tapi aku puas sudah berkorban untuk wanitaku, seperti wanitaku berkorban untukku.
Asila kau vampir yang sangat sempurna di mataku, kau selalu membuat aku merasa berarti didalam hidup ini. Aku menyayangimu dan akan terus begitu.😊😊