(Sebelumnya, Miku mau ngasih tau nih. Yang mau gabung ngobrol ke GC Miku, pencet aja profilku. Disana ada GC, masuk aja ehe :> Butuh banyak member). Arigatou ~
=•=•=
"Tak peduli apapun wujudmu, aku akan selalu mencintaimu, Rachel".
=•=•=
Aku Rin Ueno, panggil saja Rin. Tidak ada yang istimewa di hidupku, aku hanya anak SMA biasa. Tidak sampai aku bertemu dengannya. Rachel, vampir tampan yang membuat hatiku selalu berdebar ketika bertemu dengannya. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi itu semua nyata.
Malam itu, angin sepoi-sepoi berhembus melewati jendela kamarku. Hawa dingin pun terasa karenanya. Aku mengintip keadaan luar. Ah, ternyata bulan purnama bersinar penuh malam ini.
Jika memang begitu, harusnya Rach...
"Oi Oi Rin, apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?" Terdengar suara seseorang bertanya kepadaku.
Ah, ternyata dia ... lupakan.
"Harusnya aku yang bertanya. Rachel, apa yang kau lakukan di atas sana?!" Seraya menatap ke atas, aku berbalik tanya.
Pada saat itu juga, muncul seseorang. Laki-laki berbaju hitam dengan hoodie yang membuatnya terlihat sangat keren dan misterius. Ya, dia adalah vampir yang kumaksud. Rachel Alexander.
Rachel melompat dari atap kamarku kemudian terbang di depanku. "Heii, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di atas sana? Kau ini semacam peramal atau apa?"
Hah ...
Aku menghela napas.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh deh. Lagipula, siapa lagi yang selalu menganggu tidurku?"
Rachel tersenyum. "Aishh ... aku tidak bermaksud untuk mengganggu tidurmu. Hanya saja, aku ingin mengobrol dengan teman manusiaku ini," ucapnya menjelaskan. Tidak, dia tidak menjelaskan apapun. Alasan macam apa itu.
"Hhh ... teman?"
"Koreksi, maksudku pacar."
"Helehhh ...."
Rachel mendarat tepat di depanku. "Tapi serius. Kadang, aku ingin merasakan ciuman dengan gadis itu seperti apa. Jadi, bolehkan Rin?" Sambil mengenggam tanganku, ia memohon dengan mata berbinar-binar. Seperti seorang anak kecil.
Tanpa kusadari, pipiku memerah. "He? A ... apa maksudmu? Ci-ciuman? Maksudmu ciuman yang begitu?" tanyaku seraya mempraktikkan kedua tangan saling bertemu dan menyatu. Maksudku, aku ingin menunjukkan kode ciuman yang dimaksud olehnya.
"Iya. Kenapa kau terlihat malu begitu? Hei, kita kan sudah pacaran. Jadi, apa yang kau khawatirkan?"
"Bukan begitu ...."
"Ah, aku tahu. Kau khawatir kalau bibirku ini bau darah, iya kan? Tenang tenang, hari ini aku sedang puasa. Supaya badanku terlihat bugar gahaha ...," ungkap keturunan raja vampir itu seraya tertawa besar. Jujur saja, sebenarnya dia ini tidak mencerminkan perilaku vampir vampir yang ada di film.
"Bukan begitu ... aku hanya heran saja. Kenapa kau ingin berciuman? Bukankah vampir tidak bisa merasakan perasaan cinta?"
Saat mendengar pertanyaanku, tiba-tiba saja Rachel meringkuk di udara. Eh, kenapa aku mendengar musik-musik sedih di sini?
"Jahatnya. Hei, jangan salah paham. Vampir itu juga bisa merasakan apa yang manusia rasakan. Bahkan, kami juga sering merasa kasihan saat ingin menghisap darah manusia. Seperti ... kau tahu. Tidak tegaan. Ya, itu maksudku," ujar Rachel.
"Lalu, kenapa kau malah menjadikanku pacarmu? Apa kau tak mau darahku?" Sekali lagi, aku melontarkan pertanyaan kepadanya. Pokoknya aku akan bertanya sampai rasa penasaranku terpuaskan.
"Karena kau adalah gadis tercantik yang pernah kutemui."
Deg~
Aku terkejut, terkaget-kaget, tak menyangka. Eemm, dia baru saja mengatakan hal itu. Kalimat yang keluar dari mulutnya tadi berhasil membuat pipiku berubah menjadi merah padam. "Be ... benarkah?"
"Umm ... tidak juga sih AHAHAHAAAAHAAAA."
"HEEEE DASAR RACHELL!" Aku sudah menduga dari awal kalau dia akan membohongiku, hmp! Benar-benar laki-laki yang menyebalkan. Eh maksudku vampir yang menyebalkan. Hmp!
"Jangan marah begitulah. Aku hanya bercanda. Ya, memang ... aku bertemu dengan banyak gadis cantik hari ini. Tapi aku tahu, satu-satunya gadis yang bisa membuatku terpesona adalah ... kamu, Euno ...," ungkap Rachel dengan senyuman mempesonanya. Tunggu, kenapa matanya bisa mengeluarkan sinar terang seperti itu?
Aku mengalihkan pandanganku karena malu-malu. "Ti-tidak. Aku tidak percaya, kau pasti membohongiku lagi! Hmp!"
"He? Tidak kok. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau adalah satu-satunya gadis yang membuatku terpana hingga terbawa mimpi." Dia berpindah tempat ke arah yang sedang kutatap sekarang.
"Sungguh?" Ya, kurasa kali ini aku bisa terbawa perasaan. Dia tidak berbo...
"Tidak juga sih AHAHAHAAAAHAAAA," lanjutnya diiringi gelak tawa puas. Namun, ia langsung berhenti ketika melihatku menatap layar ponsel. "Ahaha ... emm, apa yang sedang kau lihat, Rin?"
Aku tersenyum miring, dengan aura-aura layaknya gadis pembunuh aku menunjukkan layar ponselku kepadanya, seraya mengatakan, "Yaa, aku berpikir untuk memasak daging kelelawar besok. Tapi aku tidak punya daging kelelawar. Dan saat kucari di internet, ternyata vampir itu identik dengan kelelawar ya?"
Rachel menatap layar ponselku sambil berkedip berkali-kali. Sepertinya, dia tidak tahu apa yang kumaksud. "Ohh, iya sih. Vampir dan kelelawar itu mirip. Bisa dibilang satu ras mungkin. Tapi, kalau kau tidak punya daging kelelawar ya tinggal beli di pasar banyak. Kenapa harus bingung," kata vampir yang kerab disapa Alexanda' oleh teman-temannya.
"Grhhh ... KESINI KAU RACHEL!!" Karena sudah tidak tahan, akhirnya amarahku pun meledak.
"Eitss nggak kena. Sini sini, pegang aku. Oh ya lupa, kau kan pendek AHAHAHAHA."
"RACHEEELLL!"
Tap! Tap! Tap!
"Rin, ada apa, Nak?!" Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki berjalan naik di tangga. Ibu?
"Eeehh, ibu datang. Rachel cepat sembunyi!!" Aku memberikan perintah kepadanya.
"Eh? I-iya iya." Sesuai apa yang kuperintahkan, Rachel langsung menghilang entah kemana. Aku tak peduli sih, yang penting ia sudah tidak ada di sini.
Brak!
Ibu membuka pintu kasar. "Rin, ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Euno Katsumi, ibuku.
"He?" Aku terdiam seperti patung. Mataku berubah menjadi titik dan aku hanya bisa tersenyum sedikit. "A-ah, ngg ... tidak ada apa-apa kok, Ma. Cuma nyamuk aja HaHa ...."
"Nyamuk nyamuk bagaimana. Mama mendengarmu berteriak memanggil nama 'Rachel' berkali-kali. Apa dia pacarmu atau apa? Kalau memang iya, suruh dia keluar. Jangan bersembunyi! Ibu ingin mengetesnya," ucap ibu marah. Eemm ... kurasa dia tidak sedang marah, hanya ingin melihat apa laki-laki itu tampan atau tidak. HEHe, ibu ....
"A-aah .... Itu, aku punya teman nyamuk, Ma. Namanya Rachel. Nyamuknya baik bangettt, Ma. Dia tidak pernah menggigitku bahkan dia menjagaku."
Ibu tersenyum kecut. "Kau, berteman dengan nyamuk?"
Aku pun tersenyum kecut sama sepertinya. "He'em." Aku lalu menganggukan kepalaku dua kali.
Ibu menghela napas. "Hah ... ya sudahlah. Cepatlah tidur, ini sudah malam! Dan jangan berisik. Tetangga kita bisa marah nanti," ujar ibu seraya berjalan keluar dari kamar. "Haha ... berteman dengan nyamuk katanya."
"Iya, Ma."
Hah ...
Akhirnya ibu pergi. Situasi mengerikan ini seharusnya sudah selesai bukan? Dimana Rachel? Apa dia sudah pulang?
"Rachell ...." Aku berteriak memanggilnya, maksudku berteriak dengan suara lirih. Namun, tidak ada jawaban. Hmm ... sepertinya dia sudah pulang. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.
Karena Rachel sudah tidak ada di sini, itu artinya aku bisa tidur nyenyak. Ahh, kapan lagi aku bisa setenang ini. Yaa, semenjak bertemu dengan Rachel, jam tidurku selalu terganggu. Itu semua karena dia yang selalu melakukan apapun agar aku bisa tetap terjaga. Aku tidak tahu, apakah aku atau dia yang harus disalahkan. Atau mungkin, dua-duanya salah?
Ah sudahlah. Sebaiknya aku tidur saja. Hoaaaamm ... hah ... mengantuk sekali ....
Tlek!
Aku mematikan lampu kamarku dan lalu meringkuk di kasur untuk tidur.
---
Keesokan paginya, suara ayam berkokok lagi-lagi lebih efektif untuk membangunkanku daripada alarm yang kupasang. Ah, kurasa itu salahku. Karena alarmnya menggunakan lagu pengantar tidur.
Semuanya terlihat seperti pagi yang biasa saja, sampai aku menemukan selembar kertas kuno dengan tulisan kanji di atasnya. Karena penasaran, aku pun membaca tulisan itu. "Pukul 20:00, Taman Chiba. -Rachel"
Eh, ternyata ini adalah surat dari Rachel. Eh? Kenapa dia mengajakku ke Taman Chiba malam-malam begitu? Dia ingin mengajakku kencan atau bagaimana?
Eeemmm, aku tidak sabar menantikannya!
=•=•=
Malam pukul delapan, seperti yang telah dijanjikan olehnya. Aku datang ke taman Chiba. Dengan pakaian yang rapi dan dandanan. Ya, ini adalah pertama kalinya Rachel mengajakku keluar. Jadi, aku harus tampil maksimal.
"Kenapa Rachel belum datang? Ini sudah lebih dari jam yang telah dijanjikan." Sambil mengecek kertas yang diberikan olehnya tadi, aku marah-marah sendiri. Dia tidak tepat janji.
"Hei." Namun, tak berselang lama setelahnya, aku mendengar suara seseorang memanggilku. Ah, suaranya sih seperti suara Rachel.
Aku menengok ke belakang. "Akhirnya kau datang juga ... Ra ... chel ...." Akan tetapi, yang kulihat di depanku saat ini bukanlah Rachel. Melainkan seorang laki-laki. Tapi, kalau kulihat-lihat, dia dan Rachel memiliki baju yang sama. "Permisi ... apa kau yang bernama Rin Euno?" sambung orang itu menanyakan namaku.
"Ee? I-iya. A ... aku Rin, Euno Rin. Kalau boleh tau kau siapa?"
"Ah, baiklah." Dia menyeringai, memamerkan gigi taringnya. Ia lalu melompat dan mengarahkan mulutnya kepadaku.
Aku terkejut hingga tak bisa berteriak.
=•=•=
"Ughh ... pusing ...." Mataku mulai terbuka secara perlahan. Kenapa aku merasa pusing? Dan dimana aku? Aaww ... leherku ... HE?!!
"RACHEL?!"
Ketika baru saja kesadaranku mulai pulih, aku mendapati Rachel tengah menghisap darah di leherku. Bagaimana ...?
"Lepaskan!" Sekuat tenaga, tanganku berupaya menjauhkan Rachel dari tubuhku. Tapi, dia terlalu berat. "HEI, APA YANG KAU LAKUKAN?!" Aku bingung, karena itu aku bertanya.
Bukankah dia pernah bilang kalau dia tidak akan menyakitiku? Tapi, kenapa?
"Rin. Sebaiknya kau harus cepat membunuhku. Sebelum semuanya kacau."
"HA? Apa kau gila? Membunuhmu bagaimana?!"
"Cepat lakukan, sebelum–"
Prok! Prok! Prok!
Aku mendengar suata tepuk tangan dari kejauhan. "Rachel, cepat habiskan makananmu. Jika manusia itu masih hidup, maka akan kupastikan kau akan dicap pengkhianat oleh bangsa vampir. Bahkan, ayahmu juga sudah mengatakannya."
Rachel mendadak berhenti menyedot darahku, ia lalu membisikkan sesuatu. "Rin, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf."
"Rachel ...."
Vampir itu kemudian menyeringai dan kembali menancapkan taringnya di leherku. Saat itu, aku hanya bisa pasrah, membiarkan dia menghisap darah dari leherku. Meskipun aku sedikit merasa sedih karena dibohongi olehnya, tapi aku tahu. Marah-marah pun tak ada gunanya.
Pandanganku mulai buram, kesadaranku pun mulai hilang. Aku tak percaya, ternyata aku akan berakhir seperti ini.
---
Kringg...
Ketika mendengar alarm berbunyi, aku pun reflek terbangun.
"Hah ... hah ... hah ...."
Aku, ada di kamarku?
Pandanganku menyisir ke segala arah, aku lalu mencubit pipiku untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi.
"Awhh ...." Ternyata benar, ini semua bukanlah mimpi. Tapi ... Rachel kemarin.
Eh, kenapa leherku terasa nyeri?
Jangan-jangan ...
Karena penasaran, aku berjalan menuju cermin yang tepat berada di depanku.
"Heee ...?"
Ada bekas luka gigitan di leherku, jadi, maksudnya semua itu benar-benar terjadi? Tidak, tidak mungkin. Harusnya aku sudah mati kalau begitu.
Atensiku teralihkan kepada selembar kertas kuno dengan tulisan kanji di atasnya. Kertas ini, mirip dengan kertas kemarin.
Kertas itu bertuliskan, 'Terima kasih, Rin. Berkat kau, orang itu tidak jadi menghabisiku. Ah, iya. Mungkin beberapa tahun ini kita tak akan bertemu lagi. Tapi tenang saja, aku pasti akan kembali -Rachel.'
Hah ...
Aku benci memikirkan ada dimana dia sekarang, tapi aku akan tetap di sini. Untuk menunggumu kembali, Rachel.
=•=•=
Beberapa tahun kemudian. Sekarang, aku sudah beranjak dewasa dan bekerja di sebuah kafe.
Malam itu, saat aku hendak memejamkan mata. Tiba-tiba saja aku mendengar suara-suara aneh dari atap.
Tok! Tok! Tok!
Kemudian, terdengar suara ketukan dari jendela kamar. Pada saat aku keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, aku melihat seseorang. Saat melihatnya, senyuman bahagia terlukis di bibirku.
"Apa kabar, Rin?" tanya vampir dengan rambut hitam tersebut. Ya, dia adalah Rachel.