Aku dikenal sebagai pemburu terkenal di kerajaan Vignyr. Orang-orang sering menyebutku dengan panggilan The Dark Hunter. Hal itu dikarenakan aku bersedia memburu apa saja. Termasuk manusia sekali pun.
Sekarang aku duduk santai di sebuah tempat makan untuk beristirahat. Aku merayakan keberhasilan perburuan untuk yang kesekian kalinya. Suara tawa dan cangkir yang berdenting menggema. Alunan nada yang tercipta dari alat musik tiup bagpipe membuat suasana tambah ramai.
"Kamu tidak pernah mengecewakan Gilbert! apa kau lihat wajah Harry saat melihat kepala utuh tadi? benar-benar gila!" Erick memujiku terlalu berlebihan. Dia adalah sahabat sekaligus penasehat dalam hidupku.
"Ya, aku sebenarnya sama sekali tidak berniat menggelindingkan kepala itu tepat ke kakinya!" aku terkekeh mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tepat saat aku menyerahkan hasil buruan kepada orang yang telah bersedia membayar. Yaitu Harry, seorang pengusaha kaya raya yang sengaja menggunakan jasaku untuk membunuh adiknya sendiri.
"Apa kau The Dark Hunter yang terkenal itu?" suara seorang lelaki berhasil mengalihkan atensiku dan Erick.
"Ya?" aku menatap heran kepada lelaki berpakaian rapi. Sangat jelas kalau lelaki tersebut adalah seorang bangsawan.
"Aku memerlukan jasamu." Lelaki yang memiliki sedikit uban di rambutnya tersebut melayangkan pantatnya ke sebuah kursi.
"Baiklah. Apa kau ingin menginginkan binatang langka? jika iya kau bersedia membayar sebanyak apa?" ujarku sambil mengubah cara duduk dengan gaya mengangkat sebelah kaki ke atas lutut. Menjadi angkuh memang kebiasaanku saat berhadapan dengan orang berdarah bangsawan. Persetan dengan kaum kelas atas. Aku tidak pernah takut kepada mereka.
"Sebelumnya perkenalkan aku Alexander Wilson." Lelaki itu mengukir senyuman sembari memegangi area dadanya.
"Langsung saja ke intinya Tuan Wilson, Gilbert tidak suka basa-basi." Erick ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia memang selalu tahu bagaimana diriku.
"Baik." Alexander menegakkan badannya sambil memperhatikan ke sekitar sejenak. Kemudian memasang wajah serius. "Aku ingin kau memburu darah seorang wanita!" sambungnya dengan nada berbisik.
Aku agak terkejut dengan ucapan Alexander. Baru kali ini aku menemui seseorang yang memakai jasaku hanya untuk mencari darah. Tetapi seperti biasa, aku tidak pernah terlalu mencampuri urusan pelanggan. Yang terpenting adalah seberapa besar bayarannya.
"Baiklah. Berapa banyak bayaran yang akan kau berikan?" tanyaku.
"Kau langsung setuju?" Alexander melebarkan mata.
"Tentu saja tidak. Aku ingin mendengar seberapa banyak bayaranku terlebih dahulu!" sahutku.
"Aku membawa dua peti berisi emas dalam kereta. Itu bayaran muka dariku untukmu. Jika kau berhasil, aku janji akan membayar lebih banyak!" tutur Alexander terlihat bersemangat.
Mendengar seberapa banyak bayarannya, jujur saja aku jadi ikut bersemangat. Tanpa pikir panjang aku pun langsung setuju untuk melakukan perburuan.
Sebelum berangkat untuk berburu, Alexander memberikan sebuah peta yang menunjukkan lokasi wanita sasaranku berada. Dia juga memberitahu nama wanita itu.
"Berhati-hatilah dengan Cassandra. Dia orang yang berbahaya!" Alexander mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum aku pergi.
"Jangan ragukan keahlianku. Akan aku pastikan darah Cassandra sampai ke tanganmu!" balasku percaya diri.
"Semoga berhasil Gilbert. Aku akan menunggu di tempat biasa!" Erick melambaikan tangan di saat aku sudah beranjak pergi menaiki kuda.
***
Setelah melewati perjalanan panjang. Tibalah aku di depan sebuah kastil besar. Aneh, bangunan tersebut berada di tengah hutan dan sangat sepi. Itukah alasan Alexander memberikan peringatan kalau Cassandra merupakan wanita berbahaya?
Entahlah, yang jelas aku ingin segera mendapat puluhan peti berisi emas. Lebih cepat semakin baik.
Aku bergegas berganti pakaian dan merapikan rambut. Itulah strategi yang aku lakukan jika memiliki sasaran seorang wanita. Aku akan membuatnya jatuh hati terlebih dahulu. Apalagi kebanyakan orang bilang wajahku lumayan tampan. Jadi, aku memanfaatkannya dengan baik.
Gerbang terbuka sendiri tepat saat aku sudah siap. Alhasil aku pun masuk saja sambil menaiki kuda. Halaman kastil sangatlah luas, tetapi tidak enak dipandang. Sebab tumbuh-tumbuhan yang ada di sana tampak mati. Tempat yang harusnya menjadi pancuran air pun terlihat kering.
Aku tiba di depan pintu utama kastil. Untuk yang kedua kalinya, pintu terbuka dengan sendirinya. Dahiku mengerut heran. Aku lantas melangkah untuk masuk.
"Lihat siapa yang datang. Seorang pemuda yang cukup tampan?" sosok wanita muncul menuruni tangga. Sepertinya dia wanita yang bernama Cassandra.
"Halo Nona--"
"Madame! panggil aku Madame!" Cassandra sengaja memotong ucapanku. Jelas dia adalah orang yang keras kepala.
"Halo Madame?" aku menampakkan raut wajah seolah bertanya.
"Cassandra!" Cassandra menjawab seakan paham maksudku.
"Gilbert!" aku otomatis memperkenalkan diri.
"Jadi apa yang membawamu ke sini?" tanya Cassandra yang sudah berdiri tepat di hadapanku.
Deg!
Aku tiba-tiba gugup kala berhadapan dengan Cassandra. Dia sangat cantik. Berkulit putih mulus dan juga memiliki lekuk tubuh yang sangat ideal. Bibirnya terpoles lipstik merah menyala.
"Aku tersesat, dan tidak sengaja menemukan kastil ini. Aku kira tidak ada penghuninya," kilahku yang sebisa mungkin menunjukkan kepercayaan diri.
"Oh begitu, ya sudah beristirahatlah di ruangan mana pun kau mau. Kastil ini memiliki banyak tempat." Cassandra merespon santai. Dia menerimaku begitu saja? semudah inikah aku melakukan perburuan?
Alhasil aku menurut saja dengan Cassandra, dan segera mencari ruangan terdekat untuk beristirahat.
***
Matahari turun ke ufuk barat. Gelap mulai mendominasi suasana. Penerangan yang hanya berupa lentera menemaniku. Sedari tadi aku tidak melihat kemunculan Cassandra. Suaranya pun sama sekali tidak ada terdengar.
Aku berjalan keluar ruangan sembari mengedar pandangan ke kanan dan kiri. Namun ketika aku mengalihkan penglihatanku ke depan, Cassandra sudah muncul. Jujur aku sangat kaget. Bagaimana dia bisa datang tanpa suara dan berjalan secepat itu?
Cassandra mematri senyuman sambil berderap menghampiriku.
"Ayo makan malam. Aku sudah menyiapkan makanan di bawah!" ujar Cassandra lembut. Aku sempat terpaku lagi kepada kecantikannya, apalagi dia bicara begitu sopan.
Aku dan Cassandra makan malam bersama. Dia menyiapkan banyak hidangan untukku. Diakah yang memasak semuanya? bagaimana bisa? sebab aku tidak melihat satu pelayan pun di dalam kastil.
"Kau memasak sendiri?" aku memberanikan diri bertanya.
"Menurutmu? apa itu aneh?" balas Cassandra ambigu.
"Tentu tidak. Aku hanya kagum denganmu, yang bisa memasak makanan sebanyak ini sendirian," jelasku pelan, lalu menenggak air putih dari gelas.
"Aku terbiasa melakukannya." Cassandra menjawab tenang.
Pembicaraan kami berakhir disitu. Setelahnya Cassandra menyuruhku kembali beristirahat. Dia melarangku membantunya untuk membereskan meja. Alhasil aku terpaksa menuruti kemauan tuan rumah, dan berjalan menuju tangga.
Ketika sedang menaiki anak tangga, aku mencoba menoleh sejenak ke arah Cassandra. Betapa terkejutnya aku, saat wanita itu membalas tatapanku. Kami sempat bertukar pandang dari kejauhan. Entah kenapa jantungku sedikit berdebar tidak karuan.
Ah! tidak! aku tidak boleh lupa diri. Cassandra adalah sasaran, dan tugasku harus segera dilakukan. Demi tidak terbawa perasaan, aku memutuskan menyerang Cassandra tengah malam.
***
Di saat tengah malam, aku segera mempersiapkan diri. Aku mengambil belati kesayangan untuk dijadikan senjata. Aku berjalan menyusuri kastil, berusaha mencari kamar Cassandra. Nihil, aku tidak menemukannya dimana pun.
Akhirnya aku berjalan tak tentu arah. Langkahku terhenti saat tiba di depan sebuah pintu berlambang pedang menyilang. Mungkin saja Cassandra ada di dalam. Jadi, aku pun membuka pintu itu.
Mataku membulat sempurna, ketika menyaksikan banyak peti mati. Aku hanya mengernyitkan kening.
Karena penasaran, aku membuka salah satu peti mati. Tampaklah mayat lelaki tua berkulit pucat. Aku hanya menghela nafas kecewa saat melihatnya.
Tanpa diduga mayat yang ada dalam peti hidup. Dia perlahan membuka mata dan berdiri. Mulutnya tiba-tiba mengeluarkan taring yang runcing. Aku sontak menyiapkan belati untuk melakukan perlawanan.
Belum sempat aku mengarahkan belati, lelaki bertaring tersebut berlari melesat. Dia merebut dan mematahkan belatiku dengan mudahnya. Lalu mencengkeram erat lenganku. Matanya terlihat bergetar menatap ke arah leherku.
Seperti terhipnotis, aku membeku. Perlahan taring runcing makhluk mengerikan tersebut menempel ke leherku. Pusing mulai menyerang. Sedikit demi sedikit darahku tersedot olehnya.
"Hentikaaan!!" Cassandra datang dari arah belakang. Mataku yang semakin kabur hanya berhasil melihatnya melakukan sesuatu terhadap sang lelaki bertaring. Selanjutnya penglihatanku menggelap seketika.
***
Aku membuka mata secara perlahan. Di depanku sudah ada Cassandra yang sepertinya telah lama menunggu. Dia menatap tajam ke arahku.
"Aku tahu maksud kedatanganmu sejak awal Gilbert!" ucap Cassandra.
"Apa maksudmu?" aku berusaha bertingkah tidak mengerti.
"Jujur saja, atau aku yang akan menghabiskan darahmu!"
"Aku benar-benar tidak mengerti?!" aku bersikeras.
"Dasar licik!" cibir Cassandra. "Kau bukanlah orang yang pertama untuk mengambil darahku," lanjutnya.
"Kau tahu?" akhirnya aku mengalah. Sepertinya Cassandra memang sudah tahu semuanya.
"Tapi kau berbeda dari yang lainnya Gilbert. Kau sama sekali tidak memiliki ketakutan terhadapku. Anehnya kau malah tertarik denganku. Sepertinya kau tidak tahu siapa aku yang sebenarnya." Cassandra bangkit dari tempat duduknya.
"Kau Cassandra kan?" aku mengerutkan dahi heran.
Cassandra yang mendengar tergelak geli. "Apa kau pernah mendengar cerita mengenai vampire?" tanya-nya setelah puas tertawa.
"Pernah. Tetapi aku tidak pernah mempercayainya!" jawabku yakin.
Aku adalah tipe orang yang selalu mengutamakan logika. Aku bahkan enggan mendengar cerita mitos dan legenda yang sering dibicarakan orang-orang. Sebab itulah aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai ciri-ciri vampire.
"Yah, bagaimana kau bisa tidak percaya? kalau makhluk mitos itu sekarang ada di hadapan matamu?" kata Cassandra yang perlahan memperlihatkan gigi taringnya.
Aku hanya bisa membelalakkan mata, seolah masih tidak percaya dengan apa yang dilihat. Akibat merasa terancam, aku bergegas melarikan diri. Namun ketika sudah berada di luar kastil, aku tidak bisa menemukan keberadaan kudaku.
"Kudamu sudah menjadi makan malam kita beberapa jam sebelumnya." Cassandra lagi-lagi muncul secara tiba-tiba. Dia sudah berada tepat di belakangku.
Nafasku mulai ngos-ngosan karena diserang rasa panik. Aku kebingungan harus berbuat apa.
"Tenanglah Gilbert! aku tidak akan menyakitimu!" tegas Cassandra yang sudah menghilangkan gigi taringnya. Entah bagaimana cara dia melakukannya.
"Jika mau pergi, aku sarankan besok siang saja. Karena di hutan banyak vampire jahat yang berkeliaran!" ucap Cassandra. Kemudian berjalan memasuki kastil.
Aku tidak bisa mengambil resiko untuk pergi. Pada akhirnya aku memilih mempercayai Cassandra. Lagi pula, andai dia orang jahat mungkin sudah dari awal aku akan dihabisi.
***
Aku kembali beristirahat dalam ruangan. Pikiranku berkecamuk memikirkan mengenai Cassandra dan vampire. Otakku terus saja menampiknya.
Aku tidak bisa tidur dan berjalan menuju meja makan. Di sana ada Cassandra yang sedang sibuk menatap sebuah kalung.
"Jadi kau salah satu vampire yang baik?" tanyaku seraya memposisikan diri duduk di hadapan Cassandra.
"Tidak ada vampire yang baik Gilbert. Itu omong kosong." Cassandra tersenyum tipis.
"Lalu kau?"
"Karena kejahatanlah aku dibiarkan sendirian di sini. Keberadaanku di kastil ini karena sebuah hukuman." Cassandra menceritakan semuanya kepadaku. Dia bilang bisa mempercayaiku sepenuhnya.
Hatiku mulai terbawa suasana. Semakin banyak aku bicara dengan Cassandra bertambah dalam pula perasaanku kepadanya. Sehingga aku memilih tinggal di kastil untuk beberapa lama. Aku bahkan sudah lupa dengan tugas dan kembali pulang.
Seminggu berlalu. Aku sudah memvonis hati bahwa telah jatuh hati kepada Cassandra.
"Aku mencintaimu!" ungkapku dengan binar mata penuh harap.
Cassandra tersenyum haru sambil memegangi dadanya. Setelahnya dia membawaku masuk ke dalam pelukannya. Cassandra memelukku erat dan menenggelamkan wajahnya ke bahu bidang milikku. Namun entah kenapa penglihatanku semakin kabur. Kepalaku mulai pusing.
Sekarang aku baru tersadar, kalau sedari tadi Cassandra sedang menghisap dadahku. Badanku melemah dan seketika berubah menjadi pucat, seakan sudah kehabisan darah.
Sebelum kehilangan kesadaran aku dapat mendengar ucapan Cassandra yang berbunyi, "Akhirnya kutukanku musnah, aku sekarang bisa kembali... terima kasih Gilbert!"
***
Aku membuka mata secara tiba-tiba, lalu mengubah posisi menjadi duduk. Badanku rasanya sangat ber-energi. Ketika aku menoleh ke samping, wajah cantik Cassandra menyambut.
"Welcome in my world, Gilbert!" ujar Cassandra tersenyum miring.
~TAMAT~