Aku terjaga dari dinginnya malam yang begitu menusuk.
Dengan mata yang masih begitu berat untuk terbuka, aku paksakan kakiku untuk melangkah. Ku tutup pintu kaca kamarku yang telah mengundang hembusan angin menusuk yang mengakhiri tidur lelapku.
"Rasanya aku sudah menutup pintu ini," gumamku sambil menarik tirai panjang yang ikut terbuka diterpa angin malam.
Ketika aku hendak berbalik, tiba-tiba saja aku merasakan udara dingin berhembus di tengkukku dan saat itu juga aku bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangku.
Tubuhku membeku. Aku tidak dapat bergerak. Sosok di belakangku terasa kian mendekat. Aku bisa mendengar langkah kakinya mengiringi napasku yang kian menderu.
Aku ingin teriak, tetapi aku kehilangan kuasa atas tubuhku sendiri. Sampai akhirnya tangan itu memelukku dan aku tahu siapa pemiliknya.
"Aku merindukanmu, Sayang," bisik Ethan tepat di belakang telingaku.
Dikecupnya tengkukku dengan begitu perlahan, membuat napasku kian memburu.
"Ka-- kamu sudah pulang?" balasku terbata. Aku meremas kuat baju tidurku, menahan gejolak yang ada di dalam dadaku.
Berada di dekat Ethan selalu membuatku merasa tidak berdaya. Ethan seakan memiliki sesuatu yang membuatku selalu tunduk dan memasrahkan diriku padanya.
Perlahan Ethan membalikkan tubuhku dan kini kami pun saling berhadapan tanpa ada jarak yang memisahkan tubuh kami.
Manik indah yang begitu membuai itu kini akhirnya dapat aku lihat lagi setelah dua minggu ini Ethan pergi meninggalkanku untuk sesuatu yang tidak ia sebutkan.
Ia biasa datang dan pergi begitu saja. Dan anehnya aku selalu menunggunya. Seakan aku telah terhipnotis dan berada di dalam kuasanya.
"Maaf karena kali ini aku pergi cukup lama." Jemari tangannya menyentuh lembut sisi wajahku. Aku pun terpejam menikmati sentuhan yang telah lama aku rindukan. "Ada sesuatu yang menahanku."
Ethan terus menatap lekat kepadaku dan aku bisa menemukan kerinduan yang begitu besar di manik jernihnya yang memikatku sejak awal.
"Bisakah kamu jangan pergi lagi?" pintaku sambil tertunduk. Menatap Ethan terlalu lama membuatku semakin sesak. Ethan memiliki daya tarik yang terlalu besar yang rasanya bisa membunuhku.
Ethan membawa wajahku kembali terangkat untuk memandangnya. Memberikan sebuah senyuman yang langsung menenggelamkan kesadaranku.
"Kamu yakin ingin bisa selalu bersamaku?" tanyanya sambil terus menatap lekat padaku.
Aku mengangguk perlahan, tetapi tidak membersitkan keraguan.
"Aku ingin selalu bisa bersamamu, Ethan." Ku genggam erat jas hitam yang membalut tubuhnya. Tubuh yang selalu aku rindukan untuk selalu memelukku. "Aku tidak ingin selalu melihatmu pergi dan menunggumu dalam kesendirian."
"Aku hanya tidak ingin kamu mengorbankan sesuatu yang begitu berharga, hanya untukku ...."
Sorot mata tajam itu kini meredup. Aku bisa melihat kegelisahan di sana. Ethan yang aku kenal seakan menghilang saat ini.
"Apa pun itu, demi kamu, demi kita, aku tidak akan merasa berkorban. Tidak ada pengorbanan untuk mencintai, Ethan."
Aku membingkai kedua sisi wajahnya. Wajah yang kini tertunduk tidak bisa menatapku.
"Tidak akan ada kesempatan untuk kembali setelah ini, Nina." Kini sorot mata itu telah kembali. Sorot mata tajam yang selalu berhasil membuatku lumpuh dan terpaku.
"Kamu akan seutuhnya menjadi milikku dan tidak akan pernah aku biarkan kamu pergi dariku." Wajah Ethan sudah berada di sisi wajahku. "Kemanapun kamu lari, aku akan menemukanmu," bisiknya yang saat itu juga langsung menggetarkan seluruh tubuhku.
Aku merasakan sakit yang teramat sangat di sisi leherku. Aku berusaha meronta, tetapi dekapan Ethan begitu menguasaiku. Rasanya seluruh kekuatanku terhisap dan keluar dari tubuhku tanpa aku minta. Setelah itu semua menjadi gelap.
Aku kembali terbangun karena rasa dingin yang menguasai tubuhku. Rasanya mimpi itu begitu nyata. Bahkan aku masih bisa mencium aroma Ethan di ruang kamarku.
Aku menoleh ke sebelah sisi tempat tidurku. Kosong. Ethan belum kembali. Semua itu ternyata hanyalah sebuah mimpi. Begitulah yang aku kira, sampai aku membangunkan tubuhku dan rasa aneh merambat di sekitar leher dan bahuku.
Dengan gelisah aku meraba di mana rasa itu berasal. Dua buah luka bisa aku rasakan di sana, masih mengangga, dengan sedikit darah yang masih tersisa.
"Itu semua bukan mimpi, Sayang." Suara berat yang sangat aku kenal itu langsung membuat tubuhku membeku. Mataku langsung menangkap sebuah sosok yang berada di dalam kegelapan sedang duduk di sofa di hadapanku.
Sosok itu berdiri menjulang memghampiriku. Mendekat dengan semua aura intimidasinya yang selalu menguasaiku.
Perlahan ia naik merangkak ke atas tempat tidur dan berhenti ketika wajahnya berada tepat di depan wajahku. Tersenyum.
"Kamu kini adalah milikku, Nina. Hanya milikku."
Dalam kebingungan aku menerima setiap sentuhan bibirnya di bibirku. Aku berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Semua yang aku kira hanya mimpi adalah sebuah kenyataan.
Kekasihku bukanlah seorang manusia, dan kini, aku pun telah menjadi bagian dari dirinya. Seorang makhluk malam yang hidup selamanya ....