Suasana pagi ini tampaknya mulai sepi, kegiatan banyak terhenti. Ya, sejak munculnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia, berbagai daerah di seluruh pelosok negeri mulai menerapkan peraturan untuk menggalakkan gerakan #dirumahaja. Banyak kegiatan yang diliburkan, baik swasta maupun instansi pemerintah menggalakkan work from home untuk pekerjanya, hal tersebut membuat ruang gerak masyarakat semakin berkurang. Semua kegiatan dilakukan secara daring. Nyatanya, pandemi ini bukan hanya menggerogoti manusia saja, sektor ekonomi hingga pendidikan juga ikut merasakan dampaknya.
Udara yang berembus hari ini terasa sangat lembut menyentuh kulit. Saat wabah mulai mendunia dan kegiatan banyak diberhentikan, aku melihat berbagai berita mengenai kualitas udara di dunia semakin baik. Di tengah terpaan wabah, “mungkinkah” ini waktu bagi alam berusaha untuk memulihkan diri?
Saat ini ada begitu banyak forum dan media yangberupaya untuk menginformasikan kepada khalayak, hal ihkwal virus corona dari berbagai narasumber, dari A sampai Z, termasuk gejala-gejala orang yang terinfeksi covid-19. Berkait dengan gejala, sebagaimana kita tau,memang ada yang tanpa gejala, ada yang bergejala ringan dan ada pula yang bergejala berat. Terkait dengan yang bergejala, sejumlah sumber menuturkan bahwa orang terpapar virus corona memiliki gejala umum a, b, c dan seterusnya. Informsi tentang gejala itu melekat menjadi pengetahuan yang ”merumus”. Jika a, b, c itu terpapar virus corona. Jika tidak a, b, c tidak terinfeksi covid-19. Sehingga ada yang sebenarnya terinfeksi, tapi karena tidak merasakan gejala a, b dan c, merasa dirinya tidak terinfeksi. Dengan demikian dipastikan antisipasi bisa terlambat dan berakibat fatal, baik dari sisi kesehatan person per person maupun kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pengalaman, sharing dengan sesama penderita serta diskusi kecil dengan praktisi medis yang punya pengalaman merawat penderita covid-19, bahwa antara penderita yang satu dan yang lainnya, memiliki dan merasakan gejala yang berbeda-beda, atau tepatnya tidak selalu sama. Bisa jadi hal ini karena setiap orang memiliki kondisi dan daya tahan serta kelemahan masing-masing dalam tubuhnya. Dalam situasi yang masih sangat dinamis ini, berkait dengan gejala, rujukan yang paling valid, adalah kepekaan terhadap tubuh sendiri. Artinnya ketika ada gejala “aneh” dalam tubuh kita, pada situasi semacam ini, sebaiknya langsung mencari rujukan “teknis medis” terkait dengan covid-19, untuk berupaya mendeteksi secara awal. Sehingga antara iya dan tidak segera diketahui secara dini. Katakanlah iyapun segera ada “treatment” yang tepat. Sekali lagi, karena ternyata, antara penderita yang satu dengan yang lainnya memiliki gejala yang tidak selalu sama. Kemudian berkait dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan, sepertihalnya anak-anak, jompo dan sebagainya, peran orang-orang terdekatnya menjadi sangat menentukan, untuk membantu mengguide pada situasi-situasi tertentu.