Tahun 2008, di sebuah ibukota.
Narasi Reon.
Tepat hari ini, usiaku genap 22 tahun. Seperti biasanya aku terbangun di kamarku, sendirian. Mataku memandang nanar rumah atap peninggalan satu-satunya kedua orang tuaku. Meskipun ini rumah yang sempit, aku sudah sangat bersyukur memilikinya. Tempatku berlindung dan berteduh dari segala musim. Sejak kelas dua SMA, aku kehilangan kedua orang tuaku dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kini, aku hanya hidup sendirian.
Kegiatanku tiap hari adalah kuliah dan kerja paruh waktu di Toserba. Mencari uang untuk biaya hidupku sehari-hari. Tetapi untung saja klaim asuransi kecelakaan lalu lintas berhasil didapatkan untuk biayaku kuliah. Jadi tidak akan begitu berat. Tetapi yang berat adalah menjalani kehidupan sendirian tanpa keluarga maupun teman.
Setiap kali aku membuka mata, yang kulihat hanyalah atap rumah dan dinding yang begitu dingin. Tidak ada kehangatan atau keceriaan. Setiap hari, aku hanya makan sendirian. Melakukan kegiatan seorang diri. Entah sampai kapan akan terus berlangsung seperti ini.
Tetapi tepat di hari ini, akan ada suratan takdir yang tak pernah bisa aku tebak. Takdir yang akan menjadi titik balik dalam hidupku. Pertemuan dengan seseorang yang tidak aku duga.
***
Pagi hari yang terlihat cerah. Di tengah padatnya hiruk pikuk perkotaan, ada sebuah rumah atap kecil. Namun, terlihat rapi. Di sana tinggallah seorang lelaki muda bermata sipit dengan tinggi 170 cm. Memiliki warna kulit sawo matang. Bernama Reon.
“Hoaam….” Kata Reon sambil menguap dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. Lalu dia bangun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.

. *Ilustrasi kamar Reon.
Di kamar Reon terpasang fotonya bersama mendiang kedua orang tuanya. Reon terlihat sangat bahagia di dalam foto tersebut. Foto itu di ambil saat dia kelas 1 SMA. Di meja belajarnya ada tumpukan buku gambar bertuliskan Art Design. Di bagian dinding kamarnya ada foto sepasang muda mudi. Di salah satu fotonya terlihat Reon yang tertidur dibahu seorang gadis cantik. Tak Jauh dari foto tersebut tertempel sebuah gambar yang dibuat menggunakan pensil Bertuliskan Reorene.

. *Foto Reon yang tertidur dibahu seseorang.
Lalu kita melihat, Reon sedang berjalan ke dapur dan mengambil minum air putih. Meneguknya perlahan. Lantas segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Reon bersiap-siap hendak ke kampus. Setelah beberapa saat barulah dia siap dan segera keluar dari rumah atapnya. Menghirup udara dalam-dalam. Sembari memakai tas dipunggungnya.
Setelah mengunci pintu, Reon melangkah keluar dan menuju halte bus yang hanya beberapa langkah saja dari rumahnya. Beberapa menit kemudian, bus yang ditunggunya datang. Diapun segera masuk dan duduk di deretan kursi belakang. Tidak lama kemudian bus itu segera meluncur. Reon hanya menerawang jauh jalanan yang berada di luar jendela kaca bus. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin dia hanya akan seperti ini. Menikmati kesendiriannya.
Tidak lama kemudian, Reon tiba di kampusnya. Begitu banyak mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang. Saling menyapa satu sama lain. Sedangkan Reon hanya menatap lurus ke depan dan berjalan. Dia hanya fokus untuk segera masuk ke kelasnya. Kampus Reon adalah salah satu kampus terbaik di negeri ini. Di sini tidak hanya orang kaya yang kuliah tetapi juga orang-orang yang cerdas. Sedangkan Reon bisa kuliah di sana karena mendapatkan beasiswa prestasi. Bakatnya dalam bidang Art Design memang bagus.
Setelah beberapa saat mengikuti pelajaran di kampusnya. Reon berjalan ke arah lapangan. Hendak mencari udara segar. Di lapangan itu banyak mahasiswa ataupun mahasiswi berlalu lalang. Reon hanya duduk di tribun penonton sembari memperhatikan sekelilingnya.

*Seperti ini lapangan di kampusnya.
Reon duduk sambil menatap langit yang begitu luas. Nampak bersih dengan warna biru mudanya yang indah. Tampak awan putih berarak di langit. Dia menghirup udaranya dalam-dalam sambil meminum susu kotaknya. Tidak lama kemudian di lapangan, tampak mahasiswa berkerumun. Seperti mengerumuni sesuatu. Tidak berselang lama, dari arah belakang para pria langsung berlarian menuju ke lapangan. Tidak jauh dari Reon duduk. Terdengar salah satu pria sedang berbicara dengan temannya.
“Wah, kali ini dia lagi-lagi membuat isi kampus begitu heboh.” Kata Pria pertama.
“Hemm maksudmu, Sang Dewi Kecantikan?” Tanya Pria kedua.
“Benar sekali, dia benar-benar mempesona. Gadis yang sangat cantik. Impian setiap pria.” Sahut pria pertama.
“Sayang sekali kita hanya bisa memandangi kecantikannya.” Kata pria kedua sambil melihat ke arah lapangan yang ramai dengan mahasiswa lainnya.
Reon lalu ikut menatap ke arah lapangan sambil melihat siapa orang yang dimaksud. Sambil meminum susu kotak miliknya. Tidak lama kemudian, dari tengah kerumunan samar-samar terlihat seorang gadis berambut panjang tengah tersenyum. Memiliki paras yang rupawan dan sangat mempesona. Ditunjang dengan kulitnya yang putih bersih.

*Irene
Tiba-tiba jantung Reon berdebar kencang menatap gadis yang dikerumuni banyak mahasiswa lainnya itu.
Rene… Batin Reon. Matanya menatap terus ke arah wanita yang dipanggilnya Rene itu. Menatap dengan pandangan kerinduan sekaligus kesedihan. Namun, dia hanya berani memandanginya dari jauh sambil mengambil nafas dalam.
“Irene, nama itu memang pantas disematkan padanya. Dia memang memiliki paras menawan bak Dewi Kecantikan.” Kata Pria pertama yang tadi duduk di sebelah Reon.
“Kau benar sekali. Tapi kita hanya bisa memandanginya seperti ini. Mengagumi kecantikannya dari jauh. Kita tidak sepadan dengannya. Dia putri tunggal keluarga yang kaya raya.” Sahut pria ke dua sambil memandangi Irene dari kejauhan.
Mendengar itu, Reon hanya terdiam. Banyak sekali yang mengagumi kecantikan Irene. Tidak hanya pria namun juga wanita. Reon hanya menopangkan tangan di dagunya sambil memandangi Irene yang sedang tersenyum dan berbincang dengan mahasiswa lainnya. Reon juga hanya bisa memandangi kecantikan Irene dari jauh saja.
Flashback
Saat Reon masih kelas 1 SMA, dia satu sekolah dengan Irene. Di sekolah yang cukup ternama. Lagi-lagi Reon sangat beruntung bisa masuk di sekolah tersebut karena prestasinya yang bagus. Hingga mendapatkan beasiswa prestasi. Saat awal sekolah, dia bertemu dengan gadis yang bernama Irene. Lantas lama kelamaan mereka menjadi akrab. Sejak SMA Irene memang sangat popular karena kecantikannya. Irene juga terlihat cute dan imut.
“Reon!!!” Panggil Irene pada Reon lalu berlarian kecil sambil menggandeng lengan Reon.
“Woo, kenapa kau ini?” Tanya Reon sambil tersenyum. Saat lengan Irene merangkulnya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berlari hendak menyusulmu.” Jawab Irene riang.
Reon menengok kiri dan kanan.
“Apa sopirmu tidak menjemputmu?” Tanya Reon kebingungan.
Irene menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin jalan-jalan denganmu saja. Hari ini kan kita pulang awal.” Jawab Irene terlihat ceria. Dia kelihatan manis dan cute dengan rambut yang dikucir. Juga memakai kacamata. Terlihat manis sekali. Membuat Reon tersenyum dan meleleh.
“Aku ingin kau menraktirku makan ice cream.” Lanjut Irene lagi masih dengan senyum yang riang.
“Heyaa, kenapa aku harus mentraktirmu? Kenapa bukan kau saja? Lagipula kenapa kau tidak pergi saja dengan Joy?” Tanya Reon heran.
“Karena kau orang yang penting untukku. Jadi harus mau mentraktirku.” Jawab Irene sambil memandangi Reon. Ditatap seperti itu membuat Reon salah tingkah. Apalagi Irene terlihat cute sekali.
“Aku ingin pergi denganmu. Bukan pergi dengan Joy. Dia begitu sibuk karena ingin mengejar mimpinya jadi idol girlgroup.” Jawab Irene lagi.
“Ahh begitu. Jadi Joy sangat sibuk ya. Lalu ke…kenapa…aku orang yang penting untukmu?” Tanya Reon terbata, karena Irene menganggapnya orang yang sangat penting.
“Kau orang yang penting untukku karena…. kau adalah…. belahan jiwaku.” Jawab Irene sambil tersenyum hangat. Mendengar kata-kata Irene, membuat wajah Reon seketika memerah.
“Lalu bagaimana denganmu? Kau menganggapku bagaimana?” Tanya Irene sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Reon. Mengetahui wajah Irene yang terlalu dekat dengannya. Membuat jantung Reon berdebar kencang. Reon merasa gugup dibuatnya.
“Kau menganggapku apa?” Tanya Irene lagi sambil tetap mendekatkan wajahnya di depan Reon.
“Ka…kau….” Jawab Reon terbata.
“Apa….?” Tanya Irene lagi masih terus memandangi Reon.
“Kau adalah ….adalah….kebahagiaanku. All I need it’s you.” Jawab Reon terbata. Sebenarnya Reon takut, bagaimana Irene akan menilainya jika dia mengatakan hal seperti itu.
Mendengar jawaban Reon, tidak lama kemudian senyum mengembang di wajah Irene. Dia tersenyum sangat manis. Ada kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
“Kalau begitu, ayo traktir aku makan ice cream. Kita makan ice cream dengan gembira.” Kata Irene ceria sambil menggandeng lengan Reon.
“Hei, kau yang enak aku traktir. Lalu bagaimana denganku?” Tanya Reon memasang wajah kesal.
“Yang penting kita bersama dan menikmati ice creamnya berdua. Bukankah itu sudah sangat menyenangkan untukmu?” Jawab Irene sambil menggoda Reon yang kesal.
Sedetik kemudian Reon tersenyum dan berjalan dengan riang bersama Irene. Merasa sangat bahagia bisa sedekat itu bersamanya. Hubungan mereka berdua memang sangat dekat sekali. Bahkan tidak lagi seperti teman. Entah keduanya menyadari atau tidak.
Reon bertemu Irene saat mereka kelas 1 SMA. Waktu itu, Reon telat masuk sekolah. Mau tidak mau dia harus melompat pagar yang terletak di belakang sekolah.
Rupanya ada Irene di sana. Sedang duduk sambil mendengarkan musik. Lalu dia melihat ada tas yang tiba-tiba di lempar dari arah luar. Sampai tidak berselang lama Irene melihat Reon memanjat pagar sekolah. Reon tidak mengetahui Irene di sana. Sampai saat dia turun dan ditegur Irene. Barulah Reon terkaget dan terjatuh saat menuruni pagar. Melihat tingkah Reon yang konyol membuat Irene tertawa. Lantas mengulurkan tangannya untuk membantu Reon berdiri.
Melihat ada seseorang yang mengulurkan tangan untuknya. Reon langsung menatap ke arah Irene. Meskipun awalnya belum mengenal Irene dan dia ragu. Namun, Reon tetap meraih uluran tangan Irene. Tangan mereka berdua saling berpegangan. Lantas Irene menarik tangan Reon agar bisa berdiri. Kemudian mereka saling menatap dan tak lama berselang tertawa bersama. Sejak saat itulah, Irene dan Reon bisa sangat akrab dan sedekat itu. Merasa nyaman satu sama lain. Tetapi Reon sendiri sejujurnya diam-diam menyukai Irene. Tetapi dia menyadari bahwa tak mungkin bisa bersama Irene. Mereka berbeda secara strata sosial. Jadi Reon hanya diam-diam saja menyimpan perasaannya.
Flashback End.
Ketika mengingat masa SMA bersama Irene sangat menyenangkan sekali. Tetapi sekarang mereka saling berjauhan dan tidak pernah bertegur sapa sama sekali. Reon sendiri yang memutuskan untuk menjauhi Irene. Bagi Reon, mungkin inilah yang terbaik karena dia berfikir Irene tak mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya. Juga ada alasan lainnya yang membuat Reon menjauhi Irene. Reon yang masih duduk dipinggir lapangan hanya bisa menghela nafas dalam. Dia hanya memandangi Irene dari kejauhan. Tidak lama berselang, Reon memakai tas punggungnya dan berjalan meninggalkan pinggir lapangan. Tetapi tanpa dia ketahui, sekilas dari kejauhan Irene menatap kepergiannya. Menatap dengan tatapan dalam.
Reon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4. Dia harus bergegas ke Toserba tempat dia bekerja paruh waktu. Tidak enak jika datang terlambat. Toserba tempat dia bekerja memang tidak jauh dari kampusnya. Hanya butuh waktu 15 menit berjalan kaki. Toserbanya memang bukan toko yang besar. Pegawainya hanya ada Reon dan sang pemilik Toserba sendiri. Bagi Reon, gaji yang didapat dari bekerja di Toserba sudah cukup untuk biaya dia sehari-hari. Reon anak muda yang hemat sekali. Siang hari memilih membeli makanan yang murah. Sedangkan malamnya dia hanya makan mie instan.
“Paman, maafkan saya datang terlambat.” Sapa Reon sambil masuk ke dalam Toserba. Dia membungkukkan tubuhnya sangat dalam. Merasa tidak enak pada bosnya.
“Ah, tidak apa-apa. Kau kan tidak setiap hari datang terlambat.” Jawab si bos yang kelihatan ramah. Bos Reon adalah seorang pria berusia 55 tahunan. Si bos kelihatan sangat baik pada Reon, karena mengetahui bagaimana kehidupan Reon tanpa orang tua. Reon memanggil bosnya dengan sebutan paman.
Setelah meminta maaf pada bosnya, Reon segera bergegas ke ruang ganti untuk mengambil pakaian pegawai tokonya. Lalu mengenakannya secepat mungkin. Kemudian, segera melakukan tugasnya menambah barang yang sudah habis di rak penjualan. Lalu merapikan dagangannya agar terlihat tidak berantakan. Si bos tersenyum melihat kerja Reon yang lincah, karena itulah si bos merasa sangat beruntung memiliki pegawai yang rajin dan cekatan seperti Reon.
“Sepertinya hari ini akan turun hujan.” Kata Si bos sambil melihat langit yang mulai gelap. Diselimuti mendung. Bahkan disiaran TV menyiarkan hari ini akan turun hujan lebat diiringi petir.
“Ah, sepertinya memang begitu Paman.” Jawab Reon sambil memperhatikan langit yang mulai gelap di luar.
“Jika nanti kau membutuhkan payung. Ada beberapa payung yang aku letakkan di depan pintu keluar.” Kata si bos.
Reon berterimakasih dan membungkuk dalam. Bosnya begitu baik pada Reon. Si bos tersenyum hangat sambil menepuk bahu Reon. Lantas melanjutkan tugasnya. Reon balas tersenyum memandangi bosnya yang sangat baik padanya. Kemudian, Reon menatap langit sore yang semakin gelap dan pekat. Saat itulah, Reon tidak akan menyadari hal apa yang sedang menantinya. Takdir apakah yang akan menunggunya.
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Kini, petang telah berganti menjadi malam. Orang-orang di luar terlihat buru-buru karena sepertinya memang akan turun hujan. Jadi mereka bergegas untuk pulang ke rumah.
Malam hari yang gelap dan pekat. Mendung hitam sedang menyelimuti ibukota. Reon masih berada di Toserba tempatnya bekerja.
“Ah, sepertinya akan turun hujan.” Kata Paman pemilik Toserba.
“Sepertinya begitu Paman.” Jawab Reon sambil mengecek barang-barang.
“Aku akan pulang duluan. Jangan lupa mematikan semua lampu dan mengunci pintunya.” Pesan paman pemilik Toserba.
“Tentu saja paman. Saya akan menelitinya nanti.” Jawab Reon diiringi senyum ramah.
“Baiklah, kau memang bisa diandalkan. Nah, ini ada sekotak nasi untukmu. Makanlah ketika kau pulang nanti.” Kata si paman sambil meletakkan nasi kotak di meja kasir.
Mengetahui bosnya sangat baik hati dan memberikannya sekotak nasi. Membuat Reon berbinar.
“Paman, terimakasih banyak. Terimakasih.” Kata Reon sambil membungkukkan badannya dengan dalam berkali-kali.
“Ah, jangan sungkan. Baiklah aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Kata si paman sembari keluar Toserba.
“Terimakasih banyak paman. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.” Jawab Reon sambil membungkukkan badannya. Reon amat bersyukur jika dia mendapatkan nasi kotak dari bosnya. Setidaknya dia bisa menghemat pengeluaran dan bisa menabung nantinya. Untuk biaya di masa depannya kelak. Reon tersenyum lantas segera membereskan barang-barangnya. Mengecek satu persatu barang-barang di Toserba. Tiba-tiba terdengar suara petir bersahut-sahutan.
“Sepertinya akan turun hujan lebat.” Kata Reon lirih. Dia melihat jam di dinding sudah pukul 9 malam lebih. Dia harus bergegas agar tidak kehujanan nanti.
Namun, saat dia berkemas. Tiba-tiba lampu di Toserba berkedip-kedip. Mati… nyala… mati …nyala berulang kali.
“Ada apa ini? Apa lampunya rusak?” Tanya Reon pada dirinya sendiri. Dia terus mengamati lampu yang terus berkedip dan tiba-tiba…
Duar!!!!! Terdengar suara petir keras sekali.
“Wuaaaa!!!” Teriak Reon sendirian sembari menutup telinganya. Tidak lama kemudian terdengar suara gemericih air hujan turun dengan deras.
Reon langsung melihat lagi jam yang tergantung manis di dinding. Sudah hampir jam 10 malam. Reon harus bergegas jika tidak ingin ketinggalan bus terakhir. Dia langsung memasukkan barang dan nasi kotaknya ke dalam tas. Lalu memakai jaketnya agar tidak terlalu kedinginan. Tidak lupa dia mengambil payung yang sudah disediakan bosnya. Untuk melindungi tubuhnya dari air hujan.
Kemudian mematikan semua lampu yang sekarang kembali normal. Lalu segera keluar Toserba dan mengunci pintunya. Di luar hujan semakin deras dengan kilat yang masih menyala menghiasi langit. Di luar benar-benar sepi karena orang-orang pasti memilih berada di rumahnya saat hujan deras seperti ini. Suasananya membuat Reon sedikit takut. Hujan yang deras, kilat yang terus nampak dan suasana yang semakin sepi. Reon buru-buru mengunci pintu. Namun, karena dia sedikit panik dan ketakutan. Dia masih belum bisa mengunci pintunya dengan benar. Reon terus mencoba, hingga disaat berhasil mengunci pintunya.
Tiba-tiba ….kilat menyala dan DUAR!!!!
“Waaaaa!!! Astaga!!!!” Teriak Reon keras di depan pintu Toserba. Menutup kedua telinganya.
Saat kilat masih menyala. Tiba-tiba di belakang Reon berdiri seseorang. Di tengah derasnya guyuran hujan. Menatap dalam ke arah Reon. Reon belum menyadari itu. Lalu dia segera bangkit berdiri.
“Jantungku hampir saja copot. Aku harus pulang sekarang. Sebelum ada lagi yang membuat jantungku lepas dari badannya.” Gerutunya lirih.
Namun, entah kenapa nalurinya merasa tidak enak. Seperti ada yang mengamatinya. Dia mulai merasa aneh seperti ada yang menatapnya. Dia berusaha memberanikan diri untuk menoleh ke belakang meskipun takut. Perlahan dia memutar tubuhnya ke belakang sambil menahan nafas. Pelaaaan sekali….hingga tepat saat dia berhasil memutar tubuhnya tiba-tiba kilat menyala dengan terang.
Lap..Lap…
Saat itu, tepat di depannya seorang gadis memakai seragam SMA tengah berdiri menatapnya. Di tengah guyuran hujan yang sangat deras. Reon langsung terlonjak. Ada seorang gadis tengah berdiri di depannya sambil hujan-hujanan. Reon mengamati dari kepala hingga ujung kaki.
Kakinya masih menginjak tanah. Berarti bukan hantu. Batin Reon merasa lega.
“Astaga!! Kau membuatku takut.” Teriak Reon sambil mengelus dadanya.
“Hei…Hei…apa yang kau lakukan malam-malam begini malah hujan-hujanan. Apa kau tidak takut sakit?” Tanya Reon diantara tetesan hujan yang sedikit demi sedikit mulai reda.
Tetapi gadis yang ada di depannya hanya terpaku menatapnya. Matanya terus memandangi Reon dengan dalam. Reon mengernyitkan keningnya.
“Hei, ada apa denganmu? Jangan membuatku takut.” Sapa Reon.
Namun, tanpa Reon duga. Tiba-tiba gadis yang sedang berdiri di hadapannya memanggilnya.
“Ayah…” Kata gadis itu sambil menatap Reon lekat-lekat.
Mendengar gadis itu memanggilnya Ayah. Reon langsung terbelalak. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan gadis itu memanggil yang lainnya. Namun tidak ada seorangpun di sana selain dirinya.
“A..Apa?” Tanya Reon pada gadis berseragam SMA yang berdiri tak jauh darinya.
“Ayah…Ayah!!!” Teriak gadis itu lagi.
Reon pikir dia salah dengar. Namun saat gadis itu memanggilnya Ayah dengan menatapnya. Seketika Reon terpaku di tempatnya. Tidak tahu ada apa ini sebenarnya.
“A…apa maksudmu?” Tanya Reon sambil menatap ke arah si gadis di depannya.
Gadis itu hanya menatapnya dan sedetik kemudian dia tersenyum.
“Ayah…aku merindukanmu.” Kata gadis itu lagi sembari tersenyum ke arah Reon seperti memendam kerinduan yang mendalam.
Reon benar-benar tidak bisa berkata apa-apa selain diam terpaku di tempatnya.
Sebenarnya siapa gadis itu? Batin Reon.
...***
...
...Bagaimana penasaran kan? Kalau penasaran tunggu kelanjutan ceritanya. Kalau cerita ini layak dibaca mohon dukungannya. Terimakasih.
...