Arumi Nasha Fithriya, lahir di Bogor, 10 Juni 1994. Gadis sederhana yang sangat lugu dan pendiam, terlahir dari keluarga yang sederhana. Dia seperti gadis pada umumnya yang mempunyai segudang mimpi dan cita-cita.
Namun, nasibnya tidak seberuntung gadis lain. Bisa menimba pendidikan yang tinggi? Hanya sebuah mimpi baginya. Arumi harus menghentikan pendidikannya dibangku Sekolah Menengah Atas, karena kurangnya biaya yang orang tua Arumi miliki.
Dia harus rela menghentikan pendidikannya dan mengubur mimpinya dalam-dalam. Setelah menamatkan pendidikannya dibangku SMA, Arumi diterima kerja disebuah perusahaan furniture. Dia mendapatkan posisi di bagian produksi.
☆
"Selamat pagi bear." acap kali bangun dari tidur, ku-sapa boneka kesayanganku. Kulihat ponsel, waktu menunjukan pukul 05.00 wib.
"Aaaa ,,, badanku sakit semua, nggak kerja dulu lah... hoam...!" kupejamkan kembali mataku, "Tunggu, ada yang aku lupa nih!" kulihat lagi ponselku, "Aaaa, semangat gajian." kulempar selimut yang sejak malam membelenggu tubuhku, tujuan pertamaku adalah kamar mandi.
Setelah melakukan ritual singkat mandiku, seperti biasa. Kuhampiri ibu yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.
"Selamat pagi, Bu." Mencium lembut pipinya.
"Tumben udah rapih, nggak harus ibu teriakin dulu." Ibu terheran karena setiap pagi untuk membangunkanku tidur, harus terjadi ocehan panjang yang selalu berhasil membuatku membuka mata dengan terpaksa.
"Iya dong bu, sekarangkan waktunya dompetku terisi," jawabku sambil memasukan makanan ke dalam mulut.
"Kamu ini, giliran gajian aja bangunnya cepet. Coba setiap hari begitu kenapa sih!"
"Hehehe, aku usahain ya bu." Jawaban yang selalu membuat ibu-ku menggelengkan kepala.
"Aku berangkat dulu bu, Assalamualaikum," pamitku mencium tangan wanita terhebatku.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Rum."
"Siap, kanjeng ratu." Aku tarik gas sepeda motorku sedikit kencang, agar segera sampai ke tempatku bekerja.
Namun, di tengah perjalanan aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan kuda besiku.
"Sial, kenapa lagi ini si jagur? pake acara mogok," gumamku.
Aku turun dari sepeda motor, coba melihat apa yang terjadi dengan pacar pertamaku ini. Namun, sial. Aku tidak mengerti mesin, kudorong motor itu hingga bengkel. Bersyukur letak bengkel itu tidak terlalu jauh.
"Kenapa neng motornya?" tanya abang bengkel.
"Ngga tau bang, coba deh dilihat. Tadi tiba-tiba mati aja gitu," jawabku sambil mengelap keringat yang menetes di kening.
"Oke neng."
Dari kejauhan kulihat sepeda motor yang kukenal menghampiriku dan berhenti.
"Rum, ngapain kamu di sini? kenapa ini si jagur?" tanya dia.
"Syukurlah ada kamu Cin, ngga tau kenapa ini tiba-tiba mogok. Aku nebeng sama kamu ya," kataku.
"Terus ini motor gimana?" tanyanya melihat ke arah sepeda motor kesayanganku.
"Biar aja tinggal di sini, pulang kerja nanti aku ambil," jawabku.
Tiga tahun sudah aku bekerja di perusahaan ini, rasa letih tentu kerap kali membelengguku. Namun, semua rasa itu harus dikesampingkan demi membantu perekonomian keluarga.
Aku mendengar dering ponselku, Kurogoh Tas bututku hingga kudapat apa yang kucari.
"Hallo," kataku setelah panggilan itu terhubung.
.....
"iya, aku keluar sekarang."
"Siapa Rum?" tanya Cindy.
"Radit, dia sudah menungguku di depan," jawabku sambil memasukkan kembali ponsel milikku.
"Enak banget sih yang dijemput pacarnya, nggak jadi nih ceritanya balik bareng aku?" ujarnya memasang wajah cemberut.
"Sory ya, Cin. hehehe ,, aku duluan ya," ucapku terkekeh.
"Okelah gak apa-apa, kalian hati-hati ya," kata Cindy.
"Oke, bye Cin." Aku berlari keluar dan menghampiri Radit.
"Sudah lama nunggunya, sayang?" kataku sambil menerima helm yang Radit berikan.
"Baru aja sayang, kita mau langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Radit menatapku.
"Kita ke bengkel ya. Motor, aku simpan di sana tadi pagi," jawabku.
"Oke tuan putri," ujar Radit sambil melajukan kendaraannya.
Sesampainya kami di bengkel, "Kamu yakin pulang sendiri? nggak aku anter aja? besok kamu baru ambil motornya," ucap Radit sambil membukakan pelindung kepalaku.
"Kalau besok aku ribet lagi ke sininya sayang, sudah ngga apa-apa kamu duluan aja," kataku.
"Kalau gitu kamu hati-hati ya nanti pulangnya," ucap Radit.
"Iya, kamu juga," kataku.
Selepas kepergian Radit, aku masuk ke dalam bengkel dan bersyukur motor kesayanganku ini sudah selesai diperbaiki.
Setelah membayar tagihan si Jagur, aku lajukan sepeda motorku. Pergi ke suatu tempat, ada sesuatu yang harus aku beli.
Di perjalanan aku melihat dua orang yang sangat aku kenal sedang duduk di kursi sebuah taman, kuhentikan motorku dan kuhampiri mereka.
Saat aku hendak menyapa mereka, kuhentikan langkah kaki-ku, mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Lalu bagaimana? sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya sang wanita.
"Tolong kamu bersabar sedikit lagi, aku belum menemukan waktu yang pas untuk bicara padanya," ujar sang pria.
"Kamu punya banyak waktu, jika kau mau. Tapi memang pada dasarnya kamu cuma main-main denganku, Radit! Pada akhirnya kamu lebih memilih Arumi daripada aku."
"Tidak seperti itu, Cindy. Dia akan terluka jika aku mengakhirinya sekarang, coba mengertilah posisiku," ujar Radit.
"Kalau begitu segera akhiri hubungan kalian, aku sudah terlalu muak dengan semua ini. Menyembunyikan hubungan kita dari semua orang," ujar Cindy.
Cukup sudah, tidak tahan lagi aku mendengar obrolan mereka.
"Apa-apaan ini?" seruku menatap keduanya.
"Arumi." Kompak mereka berkata.
"Apa maksud kamu, Cin? Hubungan? Hubungan apa?" tanyaku, tetesan air mata tak mampu lagi kutahan.
"Radit, apa ini? kalian ada hubungan di belakangku? kalian mengkhianatiku? kenapa kalian diam saja!" cecarku.
"Aku bisa jelasin, Rum," terang Radit.
"Iya, aku sama Radit punya hubungan." ungkap Cindy.
"Kenapa? Kenapa kalian tega seperti ini sama aku?" tanyaku.
"Karena kami saling mencintai dan Radit lebih memilih aku daripada kamu," ujarnya tersenyum menggandeng tangan Radit.
"Rum, aku..."
"Cukup, Dit." kupotong perkataannya, sudah terlalu muak aku mendengar sebuah penjelasan dari mulut Radit. "Kita putus," Imbuhku.
"Tidak perlu lagi sebuah penjelasan untuk sebuah penghianatan," kataku menatap keduanya. "Untuk kamu Cindy, semoga kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Semoga kalian bahagia."
___________________________________________________
Apa kabar sahabatku semua? semoga sehat selalu di mana pun kita berada.
Cuaca akhir-akhir ini benar-benar nggak menentu, jaga terus kondisi badan, perbanyak minum air putih. Walaupun warnanya bening, vitaminnya juga jangan sampai ketinggalan karena itu penting. Apalagi si engkorona masih aja betah hidup di bumi pertiwi kita, entah kapan dia hengkang.
Tetap jaga protokol kesehatan
#Stayathome.
#Stayhealthy