• Gore • Suspense •
Pandangannya mengedar ke seluruh arah mencari sesuatu yang dapat menyenangkannya di keramaian tempat ini. Ini memang kesalahan besarnya, Christopher lebih menyukai tempat sepi ketimbang tempat yang dapat menampung lautan manusia ini. Tetapi sahabatnya mengirimkan pesan pribadi padanya beberapa jam lalu berisi,
Sam
| Datanglah ke pentas seni-ku, kau pasti menyukainya.
Bahkan di perjalanan tadi, Chris hanya mengerutkan dahi kebingungan. Sejak kapan Sam sahabatnya menyukai pentas seni? Bukankah aneh seorang Sam menyukai indahnya seni?
Chris mencari pentas kesenian Sam, memakan banyak waktu hingga ia melewatkan pembuka dari pentasnya.
Disisi lain, Sam meliuk-liukkan tubuhnya lentur mengikuti alunan lagu yang ia putar. Bangku-bangku telah penuh oleh penonton, sedangkan yang ingin menonton terpaksa harus berdiri di belakang penonton yang mendapatkan bangku.
Konsepnya begitu merinding; seorang pemuda dengan baju bernoda kan darah tengah mengekspresikan kebebasannya dengan sebuah tarian. Yang menutupi unsur merindingnya adalah, tarian indah yang di tunjukkan Sam.
Chris sudah tiba, menonton setengah dari pertunjukan Sam sebelum suara tepukan tangan membengkakkan telinga. Mereka semua mengapresiasi pertunjukan Sam, hingga mereka menyadari sesuatu yang aneh di bangku penonton.
Genangan darah, mereka menginjak genangan darah tersebut. Darimana?
Chris melangkah maju perlahan-lahan, betapa mengerikannya penonton dari sahabatnya tersebut. Luka terbuka di leher, luka lebar di perut dan, sebagian bahkan anggota tubuhnya hampir putus.
Chris menatap ke arah Sam, Sam mengukir seringai sembari berjalan mendekati Chris.
"Kau menyukainya, Chris?"
-THE END-