Bunyi notifikasi pesan WhatsApp membuyarkan lamunan Marlon, dengan malas dia membaca pesan itu.
"Bro...lu sibuk gak?."
Ternyata yang mengirim pesan adalah si Brando teman sebangku Marlon.
"Gak sibuk...kenapa bro?." Balas Marlon.
Beberapa menit Brando tidak membalas lagi, hal itu membuat Marlon bertanya-tanya nih anak maunya apa sih?. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar kost Marlon, sebenarnya Marlon sedikit malas untuk menerima tamu malam ini namun setelah ketukan ketiga terdengar ia segera berdiri dan membukakan pintu.
" Eh elu...kok gak bilang-bilang mau kesini?." Tanya Marlon setelah melihat ternyata Brando yang berdiri di depan kamarnya sekarang.
"Boleh masuk gak?." Tanya Brando
"Aduuhh maaf bro...gue lagi malas ketemu siapa-siapa dulu...besok aja ya di sekolah!?." Marlon menolak kedatangan Brando dengan sopan.
Marlon melihat perubahan wajah Brando yang kecewa, namun dengan senyuman Brando kemudian berkata.
"Ya udah...gue balik...semoga besok masih bisa ketemu."
"Oke bro..."
Setelah Brando pergi, Marlon kemudian menutup kembali pintu kamarnya, entah ada desiran aneh di dalam hatinya sekilas ada rasa menyesal mengapa ia tak mengizinkan Brando masuk ke kamarnya, namun segera ia menampik perasaan itu.
"Ah paling juga dia mau curhat...besok ajalah di sekolah."
Esoknya, sesampai di sekolah Marlon langsung menuju ke kelas, ia tak melihat tas Brando di bangku mereka padahal biasanya Brando yang paling duluan tiba.
"Tumben tuh anak telat!."
Bel jam pelajaran telah berbunyi pertanda aktifitas belajar mengajar telah dimulai, guru matematika telah masuk ke kelas Marlon namun sosok Brando belum juga muncul.
Marlon mulai penasaran ada apa dengan teman sebangkunya ini?, Sejak kelas 10 hingga ke kelas 12 Marlon selalu sebangku dengan Brando dan Marlon tau sifat Brando meskipun suka begadang kalau malam tapi tak pernah sekalipun meninggalkan pelajaran apalagi terlambat.
Hingga jam pulang sekolah Brando tak tampak juga, saat istirahat tadi Marlon mencoba menghubungi Brando namun tak tersambung.
"Rex...lu tau gak kenapa Brando gak masuk hari ini?." Tanya Marlon ke salah satu teman sekolahnya yang bernama Rex. Marlon berharap Rex tahu tentang Brando karena tempat tinggal Rex berdekatan dengan Brando meskipun tidak tetanggaan.
"Naah...gue juga bingung kenapa tuh anak gak datang hari ini, tadi juga pas berangkat sekolah gue gak liat Brando padahal biasanya bareng nunggu angkutan umum ke sekolah."
Jawaban Rex semakin membuat Marlon penasaran, bahkan rasa penasaran itu telah menjadi rasa khawatir.
"Rex temenin gue yuk ke rumah Brando!?." Ajak Marlon.
"Oke...gue juga penasaran sama tuh anak."
Marlon dan Rex segera menuju ke rumah Brando dengan mengendarai motor Marlon. Rumah Marlon hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari sekolah, sebenarnya relatif dekat namun biasanya Brando ke sekolah menggunakan angkutan umum karena biasanya ia membantu ayahnya dulu mengatur dagangan di pasar yang juga merupakan terminal angkutan umum.
Sesampai di depan rumah Brando mereka berdua mendapati rumah tersebut terkunci. Ucapan salam dari Marlon tidak ada jawaban yang menandakan tidak ada orang di dalam rumah tersebut.
"Kalian mencari siapa?."
Marlon dan Rex segera berbalik ke arah suara, seorang lelaki paruh baya berkaca mata berdiri tak jauh dari mereka.
"Eh...anu pak...kami mencari Brando." kata Rex.
"Iya pak kami teman sekolah Brando dan hari ini dia tidak masuk sekolah makanya kami kesini mencari Brando." Sambung Marlon.
"Lho kalian belum tau?." Tanya lelaki tersebut sambil mendekat ke arah Marlon dan Rex.
"Tau apa ya pak?." Tanya Marlon
"Brando pindah ke kampungnya, karena ayahnya sakit-sakitan sementara ia gak bisa membayar uang kontrakan rumah. Semalam ia pindah malah anak saya yang mengantarkan Brando sama ayahnya ke kampung pakai mobilnya."
Marlon dan Rex tak mampu menahan rasa terkejut mereka, apalagi Marlon yang semalam masih bertemu Brando.
"Jangan-jangan semalam Brando ke kost mau pamitan?, Aduhh kenapa gue gak peka gini sih???." Rutuk Marlon penuh sesal dalam hati.
"Oh ya...kalian kenal yang namanya Marlon tidak?." Tanya lelaki itu lagi.
"Saya Marlon pak." Jawab Marlon.
Lelaki tua itu mengeluarkan sebuah amplop dari kantong bajunya lalu menyerahkan ke Marlon.
"Sebelum berangkat semalam, Marlon nitip ini katanya kasih ke orang yang namanya Marlon siapa tau ada yang datang mencarinya."
Dengan gemetar dan kikuk Marlon membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah foto, di foto itu tampak Marlon dan Brando berpose dengan berkacak pinggang di atas sebuah batu dengan latar belakang sinar matahari sore, Marlon ingat sekali foto ini karena itu adalah perjalanan Marlon dan Brando menyusuri jalan raya Makassar menuju Toraja saat liburan dua minggu lalu. Saat Marlon membalik foto itu tampak sebaris kalimat disitu.
"Terima kasih bro..."
Marlon tersenyum dengan rasa penyesalan, entah kapan lagi ia bisa menemukan sahabat seperti Brando.