Srakk srakk srakk
Aku berjalan tanpa tujuan, menggerakkan kaki mewaspadai diri. "Dimana aku?, Kemana yang lain?" Itulah yang ada di dalam benakku. Desiran angin menggetarkan buku kudukku, suara gesekan terdengar seiring kaki ku melangkah.
Jatuh beberapa kali bukan masalah. Aku akan berusaha keluar dari hutan terkutuk ini dengan nyawa di raga.
Kuuk kuuk
Suara burung hantu dari dahan pohon, membuat ku seperti mati rasa. Jantungku berdetak lebih kencang, tubuh ini terasa dingin. Hitam pekat dunia ini, tak ada cahaya setitik pun di sini. Sampai, setitik cahaya berwarna putih muncul dari balik pepohonan.
Sebuah rumah berdindingkan papan kayu yang telah kelihatan reyot itu tampak dengan jelas. Aku mempercepat langkahku menuju ke rumah itu. Tak perduli apapun yang ada disana, aku akan tetap melangkah menghampiri cahaya itu, melepas kurungan hitam tanpa bayangan.
"Vin... Vina... Vina?!" Sebuah suara tiba - tiba muncul memanggil nama ku, entah dari mana.
Rasa takut semakin menyelimuti ku, cahaya itu adalah kunci untuk membuat diri ku merasa lebih tenang. Aku berlari dengan cepat mengarah ke rumah tua itu. Tiba - tiba lampu itu mati, harapan mulai hilang. Aku menghentikan langkahku dan....
Brukk
Raga ku terjatuh, darah merah keluar dari empat Indra ku.
"Vina!!!" Sura itu kembali muncul, namun kali ini terdengar lebih keras.
"Iya!!!" Teriakku sambil membuka mata dengan cepat.
Gelap, pandangan ku tetap gelap. Akan tetapi kini terlihat sedikit jelas namun samar, susunan pepohonan yang sudah tak berdaun dan rumput hijau yang terlihat sedikit kuning seperti mengering.
Seseorang berdiri di depan ku, dengan wajah pucat dan bola mata berwarna hitam pekat. Aku bergidik ngeri melihatnya, tapi kaki ku tak bisa bergerak sama sekali. Bahkan rambut pun tak bisa bergerak. Tak ada angin yang berhembus, tak ada suara sedikitpun. Cairan merah mengalir indah diwajahnya.
Merinding, bulu kuduk berdiri, tubuh sedikit demi sedikit terasa dingin. Makhluk yang sedang berada dihapaku, tiba - tiba membuka mulutnya perlahan. Kemudian dia berjalan menghampiri ku dengan langkah kecil namun kokoh.
Srakk srakk srakk
Suara desiran rerumputan yang menyantuh kaki pucatnya menambah kengerian yang kurasakan sekarang. Aura dingin yang dipancarkan oleh makhluk itu membuat seluruh tulang-tulangku meresa menggigil. Keringat dingin bercucuran ketika bola mata hitam itu menatap mata ku dengan tajam.
"Vina..." Ucap Makhluk itu memanggil namaku.
Aku terperangah mendengar satu kata yang terucap dari bibir biru miliknya. Mulutku terkunci rapat, mataku terbelalak melihat makhluk bertubuh pucat Pasih itu semakin dekat.
"Vina..." Kata itu kembali keluar dari dalam mulutnya.
Satu langkah lagi, maka dia akan mencapai tubuh ku. Aku tak tahu apa yang akan dia perbuat ketika berada tepat diahapanku. Dia berhenti, Makhluk itu berhenti melangkahkan kakinya. Dia kemudian menundukkan kepalanya.
Tes tes tes
Suara tetesan cairan merah yang menyentuh tanah itu semakin lama semakin cepat. Tiba - tiba makhluk itu berkata."Vina, kau sudah mati. Aku adalah kau, kau adalah aku". Perkataan makhluk itu membuat dia tertegun tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh makhluk itu. Aku tak percaya dengan apa yang ia katakan, aku masih hidup, dan jiwaku masih ada diragaku. Dia adalah inlis yang hanya ingin menyesatkan ku.
"Kau mungkin tak percaya pada ku, tapi kau mungkin percaya dengan wajah ini" ucap nya sembari mengangkat kepalanya perlahan.
"Tidak, tidak mungkin, Ini tidak mungkin terjadi. Aku masih hidup, aku masih bernafas jiwaku ada di raga ku. Kau bukan aku, BUKAN!!!!" Aku tak menyangka, jika yang berdiri dihapanku sekarang ini adalah diriku, aku yang berlumuran darah. Cairan yang berwana merah itu mengalir di empat Indra ku.
Tidak, ini pasti ilusi, ini pasti mimpi. Aku akan menggentayangi kalian yang sedang membaca cerpen ini, dengan darah yang mengalir dari telinga, hidung, mata, dan mulut ku.
"AKU AKAN MENGAMBIL RAGA MU!!!!!!"
End
Piww...
Hallo para pencinta horor!!!
Jangan lupa like ya, karena mengetik cerita tak semudah menyentuh tombol like:)
Sehat selalu
Arigato🙏
Sayonara.....