Namaku Sarah aku adalah gadis yang mempunyai kemampuan yang tak bisa dimiliki oleh manusia biasa. Aku bisa melihat masa depan atau masa lalu seseorang, hingga pada suatu hari aku menyesal tidak melihat masa depan Ibuku.
"Sarah bangun Nak, ini sudah hampir mau siang." Kata Ibuku, Melda namanya.
"Bentar lagi Bu, ini kan masih pagi." Sahutku ketika melihat jam di dinding dengan mata yang masih buram hingga tak jelas kupandang itu sudah jam berapa.
"Ini sudah jam 07, udah bangun sana nanti kamu bisa terlambat lagi." Ucap Ibuku berusaha menarik selimut yang masih membungkus tubuhku.
Ibuku terus saja membangunkanku akhirnya aku mengalah, aku sontak kaget ketika melihat wajah Ibuku yang penuh dengan lebam serta luka dan cakaran dibagian lengan dan tangan serta dileher.
"Wajah Ibu kenapa kok bisa lebam-lebam kayak gini, terus tangan Ibu kenapa kok ada cakaran, dan luka di lengan ini kenapa?" Tanyaku pada Ibu.
"Udah gak apa-apa Nak Ibu tadi jatuh makanya lebam seperti ini terus Ibu dicakar kucing luka di lengan Ibu ini akibat benturan karena berusaha menghindar dari Kucing liar itu." Ucap Ibuku beralasan, Ibu berusaha menghindar dariku.
"Tapi Ibu.."
"Sudah sana aahh beres-beres kamu hampir mau telat nih." Ucap Ibu lalu segera pergi.
Aku sedikit curiga dengan tingkah Ibu hari ini. Tak lama aku memikirkan Ibu aku hampir lupa kalau aku hari ini ada ujian di sekolah aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersikan diri lalu segera mempersiapkan diri untuk pergi kesekolah.
Sesampai disekolah aku merasa sedikit tidak enak, sampai aku tidak bisa fokus dengan pelajaranku, pikiranku terganggu. Aku terus saja memikirkan Ibuku mengapa wajahnya bisa Lebam seperti itu terus cakaran di tangan Ibu seperti bukan cakaran dari seekor kucing melainkan cakaran Manusia, aku berusaha mencari tahu akhirnya aku berniat mencari tahu apa yang membuat wajah Ibuku bisa lebam. Aku segera pergi ketempat yang sepi tanpa ada seorang pun biar aku bisa fokus melihat apa yang terjadi pada Ibuku.
Ketikaku Menutup mata dan mulai melihat.
"Aaaoowwugggg aarggg, sakit aduhhh kepalaku sakit apa yang terjadi kenapa aku tidak bisa melihat apapun." Jeritanku ketika aku berusaha melihat masa lalu Ibuku.
"Ada yang tak beres aku harus segera pulang aku harus memegang tangan Ibu untuk melihat masa lalunya agar aku bisa mengetahui lebam diwajahnya serta luka dan cakaran disekujur tubuhnya." Ucapku lalu segera pergi.
"Sarah kamu mau kemana?" Sahut seseorang dari belakang yang ternyata adalaha Pak Guru Vinsen.
"Yaa Pak, aku harus pulang Ibuku dalam bahaya." Kataku dengan Ngos-ngossan.
"Tapi hari ini masih ada ujian Bahasa-Inggris." Ucap Pak Vinsen.
"Pak maaf aku harus buru-buru nanti aku nyusul Pak, soalnya Ibuku dalam bahaya Maaf pak aku harus pergi." Kataku lalu segera pergi, aku mengayu sepedaku secepat mungkin agar bisa sampai dirumah dengan cepat, jantungku berdebar sangat kencang, dag dig dug.
"Ibu, Ibu dimana?" Teriakanku memanggil Ibu.
Sesampai di rumah ternyata Ibuku tak ada, aku terus mencari Ibuku dan bertanya pada tetangga dimana keberadaan Ibuku.
"Ibu Sarah pulang Bu, Ibu dimana?" Kataku terus mencari, aku melihat foto perkawinan Ayah dan Ibuku Jatuh cincin perkawinan mereka berdua pun berserahkan di atas lantai entah apa yang terjadi tapi perasaanku tak enak. Aku meraih telefon dan menelfon Ayahku aku berfikir Ayahku bersama Ibuku.
Sial, Ponsel Ayah tidak. Berulang-ulang ku telfon tapi tetap sama saja ponsel Ayahku tak aktif, aku makin takut dan khawatir keringat membasahi sekujur tubuhku perasaanku makin menjadi-jadi, tanganku bergetar keringat dingin keluar dari pori-pori wajahku.
Aku terus saja berjalan mencari Ibuku hingga aku nekat masuk kekamar Ayah dan Ibuku, karena dari dulu Ayah dan Ibuku tidak mengizinkan aku masuk kekamar mereka.
Aku sontak kaget dengan kamar Ibuku yang sangat berantakan sepertinya ini disengaja, dibalik tirai jendela aku melihat ada seseorang yang berdiri siapakah Itu? Aku penasaran perlahan aku berjalan dan melihat siapa itu dan ternyata itu...
"Ibuuuuuuuu.... Ibuuu kenapa Ibu melakukan ini, Ibuuu hikkss hiksss, Ibu kenapa, Ibu bangun." Teriakanku yang melihat ternyata itu Ibuku, Ibuku bunuh diri dengan cara gantung diri lehernya, apa yang terjadi sekujur tubuh Ibu penuh dengan lebam dan kenapa Ibu bisa melakukan hal ini?
Ketikaku berusaha menarik mayat Ibuku tak sengaja aku menyentuh tubuhnya dan aku bisa melihat masa Lalu Ibuku.
"Mas kenapa kamu tega melakukan ini padaku Mas apa salahku." Kata Melda berusaha mencari tahu jawaban dari suaminya.
"Siapa perempuan itu mas." Tanya Melda pada Roni
"Itu bukan siapa-siapa." Jawab Roni yang sedari tadi mempersiapkan dir untuk pergi.
"Tapi kamu mau kemana Mas, kamu bawa semua baju kamu emangnya kamu mau kemana." Tanya Melda.
"Aku mau pergi, dan aku sekarang menalak kamu, jadi jangan halangi aku." Ucap Roni.
"Jangan pergi Mas kumohon jangan pergi, kasihan Sarah Mas tolong pikirkan anak kita." Ucap Melda dengan memohon.
"Lepaskan." Bentak Roni mendorong Melda hingga jatuh.
Tenggg nongggg. (Suara Bel)
Roni segera turun dari tangga dan membawa sekoper bajunya sedangkan Melda terus mengikuti suaminya, di teras Melda melihat selingkuhan Roni untuk menjemput suaminya, Melda segera turun.
"Ohh jadi kamu selingkuhan suamiku, Dasar pelakor." petassss tamparan mendarat di pipi selingkuhan Roni.
"Aaawwuggh Mas, apa-apaan ni Istrimu main tampar wajahku aku gak terima Mas." Ucap selingkuhan Roni.
"Melda.. Kamu benar-benar keterlaluan, sini kamu." Ucap Roni menarik Melda masuk ke dalam rumah.
Buukkkkgggg Wajah Melda dipukul sangat keras oleh roni berulang-ulang, bibir Melda Pecah matanya Biru dan bengkak.
"Aaarrghh auuugggg Mas sakit Mas, kamu tega sama aku Mas." Jeritan Melda kesakitan.
Buukkkgg, petasss.
Pukulan mendarat lagi di perut Melda serta tamparan berulang-ulang.
"Ini akibat kamu berani menampar Pacarku." Ucap Roni lalu memanggil kedua pengawal Selingkuhannya.
"Eehh kalian sini, mau enak-enakkan gak? ni istriku gratis kalian bisa bersenang-senang dengannya aku mau pergi dulu dengan Bos kalian." Ucap Roni menginjak tangan Melda.
"Apa Mas jangan pergi Mas jangan lakukan ini." Ucap Melda berusaha mengejar suaminya tapi dirinya dihalangi oleh pengawal selingkuhan Roni.
"Mau kemana kamu sini ikut kami." Dua pria bertubuh besar dan botak itu membawa Melda kekamarnya, Melda berusaha memberontak. Hingga tubuhnya melemah dia kehabisan tenaga melawan dua Pria itu.
Dua pria itu segera melakukan aksi mereka, Mereka menyetubuhi Melda dengan tama dan rakus, sesekali mereka melakukan dengan kasar hingga membuat Melda kesakitan.
"Aarrhhhhh sakit, tolong hentikan sakit." Jeritan Melda menahan sakit.
Setelah kedua pria itu selesai melakukan niat jahat, mereka berdua segera pergi meninggalkan Melda dikamarnya sendiri.
Hikkkssss hikkkkssss hikkkss
"Jadi ini yang terjadi sama Ibu, kenapa Ayah setega itu padamu Bu, ini semua salah selingkuhan Ayahku siapa wanita itu beraninya dia masuk ke tengah-tengah keluarga kami hingga membuat Ibuku begini." Kataku dengan tangis yang pecah.
"Jadi semalam aku tak tahu sama sekali kejadian ini berati aku tidur pulas kenapa aku bisa tertidur sangat pulas sampai aku tak tahu sama sekali kejadian semalam, ya Tuhan ada apa denganku, hikksss hiksss hiksss."
Aku memeluk tubuh Ibuku dan aku melihat sebelum kejadian itu.
"Jadi Mas Roni akan pergi dari rumah ini aku harus cega Mas Roni, tapi aku gak mau kalau Sarah sampai tahu tentang ini aku harus memberinya obat tidur biar dia tidak akan tahu aku bertengkar dengan Roni." Ucap Melda mengambil obat tidur dan memasukannya ke dalam Susu Sarah.
"Maafkan Ibu Nak, kamu gak boleh sampai tahu tentang Ayahmu dan Ibumu ini." Gumam Sarah dalam hati.
Hikksss hikssss hiksss
"Ibu tega padaku ternyata aku semalaman tidur karena di kasih obat tidur sama Ibu." Kataku merengek dan melihat lagi apa yang terjadi.
"Ibu Aku mau berangkat kesekolah dulu yaa." Kata Sarah lalu memberi salam pada Ibunya.
"Iya Nak hati-hati dijalan semoga ujianmu berjalan dengan lancar." Ucap Melda tersenyum pada Sarah, Melda melihat sarah sudah pergi akhirnya dia bisa melakukan Rencananya yaitu Bunuh Diri.
"Hhaaaaaa." Teriakan Melda.
Bruuuaaakkkkkk cccekkkkgg suara bingkai foto yang di banting Melda segera pergi kekamarnnya dan membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya sesekali dia menepis alat make up nya dengan kasar, Melda mengambil cincin pernikahannya dan melempar ke arah luar.
"Aku akan pergi Mas, kamu bersenang-senanglah dengan selingkuhanmu Karmamu akan menjemputmu." Ucap Melda sambil mengaitkan tali dilehernya dia naik ke atas jendelah dan berlombat kebawa hingga lehernya tercekik oleh tali.
"Karmamu adalah Sarah Mas, lihatlah Anakmu akan memberimu Karma, aargghhh." Ucapan terakhir Melda lalu dia menutup matanya yang terakhir kalinya.
"Hikksss hiksss Ibuu kenapa melakukan ini, Ya Tuhan aku sungguh menyesal tak melihat masa depan Ibuku kalau dia bakal bunuh diri seperti ini betapa bodohnya aku, maafkan aku ibu aku tak bisa mencegahmu hikksss hiksss." Ucapku berderai air mata.
Sehelai kertas terbang dan mendarat kearahku didalamnya bertuliskan kata Ibuku untuk diriku.
"Sarah Ibu minta Maaf, Ibu mau pergi Nak, Ibu tak tahan lagi untuk hidup lebih lama lagi jaga dirimu dengan baik sayang, kamu cari selingkuhan Ayahmu dan balaskan dendam Ibumu ini Nak, kalau perlu kamu berikan Karma juga pada Ayahmu Karma yang tak perna dia lupakan, tolong berjanjilah kalau kamu akan melakukan semua itu demi Ibu, kamu adalah Karma Sarah berikan Karma itu pada orang-orang yang telah menyakiti Ibu."
"Aku janji Ibu suatu saat itu akan terjadi
Bersambung.
Ada yang suka dengan cerita ini gak, kalau suka silakan berikan komentar.