Ku terdiam di sudut kamar ku, pikiranku kosong hanya kegelapan yang kurasakan. Ada perasaan entah apa itu, ada keinginan yang tiba tiba muncul, ada hasrat yang datang begitu saja menghampiri ku. Hmmmm aku tersenyum penuh arti, ku lihat sekeliling kamarku yang ada hanya kegelapan saja.
"Ada yang kurang, ada yang salah, ada yang tak beres disini. " gumannku sendiri.
Aku berdiri dan keluar kamar, ku lihat sekeliling ruangan tampak sepi dan gelap.
"Hemmm ternyata aku sendirian. " ucapku.
"Ahh..... kenapa ini, kenapa rasanya ada yang kurang ya? " Aku berguman sendiri, ku turunin tangga setapak demi setapak, selangkah demi selangkah dan kemudian ku terdiam tak bergeming.
"Aaiisss.... perasaan ku kacau lagi. " Aku pun terduduk di lantai yang dingin. Ku amati sekeliling ku yang ada hanya kegelapan dan kehampaan. Entah ada yang berbeda dengan diriku sendiri, ku lihat disudut ruangan ada bayanganku yang tersenyum senang, akupun meringis pelan. Dia bangkit dan menghampiri ku, meraih tanganku dengan lembut dan berkata "sekarang giliranku". Aku terdiam membisu dan duduk disudut ruangan. Aku hanya mampu melihat diriku yang satu lagi, ya dia adalah aku, dan aku adalah dia. Aku mulai tersenyum sendiri. Senyum yang sudah lama aku tinggalkan, senyum yang penuh dengan kedengkian, kelicikan, amarah, dan dendam. Senyum yang sudah lama aku lupakan, senyum yang sudah lama tak pernah hadir di saat dia ada disampingku.
Aku pun beranjak dari duduk ku, berjalan pelan ke pekarangan belakang dimana ada beberapa binatang lucu yang sengaja di pelihara oleh Nevan. Kuambil sebuah wortel, ku dekati kandang yang tak kunci. Aku pun tersenyum senang, Ku gendong seekor kelinci dan ku beri makan dia.
" Lucu dan lembut. " ucapku lirik sambil ku elus bulu putihnya yang ber bersih.
Lagi lagi aku tersenyum penuh nafsu.
"Hmmmm.... Kelinci Nevan sungguh sangat menggemaskan. " gumanku dingin.
Ku bawa kelinci itu masuk kedapur, dia hanya diam dan sibuk makan tanpa tahu apa yang akan terjadi dengannya. Aku hanya tersenyum dingin. Senyum yang penuh dengan rasa ingin menyakiti hadir kembali, menghiasi bibirku. Rasa yang telah lama tertidur mulai bengkit kembali, rasa yang telah lama aku lupakan mulai menguasaiku lagi.
"Hmmmm.... sudah lama aku rindu dengan saat saat yang seperti ini. " aku tersenyum penuh arti.
ku ambil sebilah pisau di sampingku, kuletakan kelinci itu di atas meja dapur.
"hihihihi.... " aku mulai tertawa kecil melihat tingkah kelinci yang tak tau apa apa itu.
"Hemm.... manis ayo kita mulai. " ucapku yang mulai berubah dingin, tatapanku mulai kosong, tanpa pikir panjang ku arahkan pisau itu ke lehernya, entah karena sakit atau terkejut kelinci itu mulai meronta. Aku pun semakin ke girangan.
"hehehehe....merontalah sepuas mu sayang. " ucapku senang.
semakin ku perdalam sayatan di lehernya darah mulai berceceran kemana mana karena mulai berontak. Aku hanya tersenyum senang.
"hahahaha.. "
" heheheh.. " tawa ku kegirangan.
ku alihkan pisau ku ke perutnya, tak ku pedulikan rontahannya, ku robek perutnya dengan kencang darah segar mulai mengalir dan tercecer kemana mana. Aku mulai menggila, ku raih organ tubuhnya dengan paksa, darah berserakan kemana mana, lantai, dinding dapur, meja, baju, tangan serta wajahku tak luput dari darah. Kuletakkan semua organ dalam kelinci itu di meja dapur. Kembali ku sayat lebar tubuh kelinci itu, dan kembali pula darah mengalir dengan bebas. Ku pisahkan kulit dengan dagingnya serta kepalanya. ku tusuk tusuk daging tanpa kulit itu dengan penuh nafsu. Setelah puas ku lirik seonggok organ tubuh yang masih merah penuh dengan darah. Kutatap penuh nafsu, ada hasrat ingin memakannya, kuambil daging itu, saat hendak ku masukkan ke dalam mulut tiba tiba.
"ALEX.. " bentak seseorang yang tiba tiba muncul di belakang ku. Aku berbalik arah dan menatapnya serta tersenyum senang.
"Hubby.. " ucapku sambil memiringkan kepala dan tersenyum sinis.
"Mau?? enak lo.. " tawar ku sambil tersenyum dingin.
Dia menghampiriku dan mendekat
Plakk.....
Aku terdiam sejenak.
"Dia menamparku, Dia menamparku. " gumanku lirih sambil ku usap pipiku dengan tangan ku yang penuh dengan darah. Kutatap wajahnya dengan tajam dan penuh amarah.
"Beraninya kau menamparku, berani sekali kau tampar wajah ku" desis ku marah.
"YA.. Aku berani kau mau apa. " bentak Daniel.
"Aku adalah Raja, dan kau tak seharusnya menampar Raja. " ucapku penuh amarah dan mencengkram krah bajunya
Tiba tiba. Bughh....
Di pukul nya perutku sambil berkata
"Kau bukan Raja tapi Kau adalah Alex!! " ucap Daniel
"Uhukk.. uhukk.. uhukk.. " aku tersungkur di lantai sambil memegang perutku.
"hehehehe.... " aku tertawa senang.
"hahahaha.... " aku tertawa lepas.
"Aku adalah Raja, apa hanya ini kekuatanmu" ucapku sambil berdiri dan memiringkan kepala ku dan kembali tertawa kecil.
"ALEX SADARLAH.. " bentak Daniel.
"Hubby... " teriak beberapa orang di belakangnya yang sedari tadi hanya diam mengawasi.
Kulihat mereka ternyata Nevan, dan Ezra
"Mau ikut main? " tanyku sambil melirik kearah mereka.
"Jangan ada yang mendekat.? " perintah Daniel.
"Alex sadar lah. " pintah Daniel.
"Alex sudah sadar kok. Tapi perut Alex sakit sambil memegang perut.
Bughh...
" Ahkkk.... " sekali lagi aku tersungkur.
" Uhukk.. uhukk.. uhukk. " Aku terbatuk sambil memegang perut lagi.
Bughh..
"Ahkk. .. " kali ini tengkuk ku yang terasa sakit. Tiba tiba mataku menjadi gelap, semua tampak gelap dan gelap dan semakin gelap.
Aku pun jatuh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama ku tertidur
"ughk.... sakit. " rintihku lirih.
"Sudah bangun. " ucap seseorang di sampingku.
"emmmm... " gumanku lirih, ku lirik orang tersebut
"Hubby, apa yang Hubby lakukan disini? " tanyaku terkejut.
"Membereskan kekacauan yang kamu perbuat semalam. " jawab Daniel dingin.
"Ada yang tak beres. " guman ku lirih.
"Aku berbuat apa lagi Bby? " tanya ku lirih.
"Bangun." perintahnya.
Sambil keluar dari kamarku Aku menurut dan
mengikuti nya dari belakang, ternyata Hubby menuntunku kearah dapur, kulihat bercak darah di mana mana. Aku syok melihatnya. Kulihat bungkusan kantong hitam.
"Apa itu Hubby? " tanya ku curiga.
"Kau lihat saja sendiri. " jawabnya masih dingin.
Mulai kubuka kantong itu dan aku pun memucat.
"Sudah sadar apa yang kamu perbuat? " tanya Daniel dingin.
Nevan dan Ezra hanya diam menantapku.
"Maaf." ucapku lirih.
"Alex, apa yang membuat mu seperti ini lagi? " tanya Ezra.
"Alex, kami ada disini, kamu gak sendiri sayang. " ucap Nevan.
"hiks hiks hiks. Maaf. " Aku hanya mampu terisak
"Cerita sekarang. " tanya Nevan lagi.
"Entah pikiranku kacau tadi. " jawab ku di antara Isak tangisku.
"Kenapa kamu biarkan pikiran setan itu menguasai kamu lagi. " hardik Daniel
"Apa kamu mau seperti dulu lagi!! " bentak Daniel.
"Hubby sudah lah. " ucap Ezra menengahi.
"Maaf Hubby, maaf. " ucap ku lirih.
"Bee, aku ada disini, kalau kamu rindu dia lampiaskan kepada Hubby, apa itu susah buat kamu. " ucap Daniel lembut sambil memelukku.
"Maaf maaf maaf. " hanya itu yang kamu keluar dari mulutku.
"Ya sudah ayo minum obatnya dan istirahat. " perintah Daniel sambil membawa ku ke kamar.
"kalian cepat bereskan lagi, mumpung Kyla belum kesini. " perintah Daniel pada Nevan dan Ezra.
Didalam kamar ku minum obat yang di berikan oleh Daniel dan mulai mengantuk. Daniel berbaring di sebelah ku dan memeluk ku, ku balas pelukannya.
"Maaf Bby, maaf. " ucapku lirih.
"Sudah tidurlah jangan seperti ini lagi ya. " ucap nya lembut dan mencium kening ku.
Aahh... kamu terlalu baik Hubby, bisakah hati ini menerima mu. Maaf kan aku Hubby.
"Kenapa nafsu ku muncul lagi di saat dia pergi, Kenapa sisi gelap ku hadir di saat kau tak ada disisi ku. Daddy aku sakit lagi. Please, datanglah hanya kau obatku buka Hubby". ucapku dalam hati.
Akupun mulai tertidur dalam tangis, ku rasakan seseorang menghapus air mata ku. dan samar samar terdengar.
" Alex, tak bisakah aku menggantikan sosok Nathan di hatimu. Alex bukalah pintu hatimu untuk ku. Aku benar benar mencintaimu. Sama seperti Nathan mencintaimu. " ucap nya dan mengecup kening ku.
_________________&&& T A M A T &&&_____________
Ini hanya hiburan semata selamat membaca