Dini hari ini cukup dingin, aku dan adik ku yang baru saja turun dari bis memilih beristirahat sebentar karena merasa kelelahan. Yang kebetulan aku melihat laki-laki paruh baya dengan topi koboi nya sedang duduk sambil memainkan pematik korek api, kami pun berinisiatif untuk berjalan mendekat dan memilih untuk beristirahat sejenak didekat laki-laki paruh baya tersebut.
"Misi pak kami numpang istirahat sebentar." Ucapku meminta izin lalu duduk tak jauh dari nya, ia hanya mengangguk tanpa berbicara, aku juga tak bisa melihat wajah nya karena separuh wajah nya terhalangi oleh topi besar yang ia pakai
"Terima kasih pa.." balasku dan memilih untuk langsung duduk saja tanpa mempermasalahkan hal tersebut
Lalu aku yang ingin menghangatkan diri ku merogoh saku celana untuk mengambil rokok dan setelah kudapat aku malah tak menemukan korek api milik ku didalam sana, yang biasa aku simpan bersama didalam bungkus rokok milik ku agar tidak berceceran.
"Li tadi pake korek ga?" Aku bertanya pada adik ku Ali
"Udah dimasukin lagi, masa gaada sih?"
"Gaada." Balasku sambil meraba-raba saku celana ku yang lain
Namun tiba-tiba bapak bertopi koboi itu menyalakan pematik korek api nya tepat dihadapan rokok ku yang sedang ku simpan pada mulut ku.
Dengan cepat aku langsung membakar rokok ku karena api nya sudah menyala, "Ehh makasih ya pak." Balasku setelah rokok ku menyala
Lagi lagi bapak tersebut hanya mengangguk lalu mematikan korek nya. Aku hannya bisa melihat bagian bibir bapak tersebut yang sedikit tersenyum padaku.
Aku pun menghisap rokok ku, menikmati sejenak waktu istirahat ini karena cukup kelelahan.
Tak terasa aku sudah menghabiskan waktu sekitar 15 menit duduk disini, jam pun sudah mau menunjukan pukul 4. Mungkin beberapa menit lagi sudah mau masuk waktu subuh. Aku pun bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah eyang agar bisa melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Aku pun berdiri dan sedikit merapikan barang bawaan ku, dan berniat pamit juga berterima kasih pada bapak yang sudah mengijinkan kami beristirahat sejenak.
"Pak kami pamit ya, terima kasih.." saat sedang berpamitan tiba-tiba adzan berkumandang dan aku sedikit terdiam sambil sekilas melihat jam di tangan ku, dan berfikir sejenak karena ternyata adzan nya lebih cepat dari dugaan ku
"Mari p.." aku tersentak dan mundur beberapa langkah karena saat aku ingin pamit ternyata bapak tersebut sudah tidak ada disana
"Li.." aku memanggil adik ku sedikit gemetar, ku lihat dia yang sudah pucat tak berani mengatakan sepatah kata pun, karena bapak yang sedari tadi duduk bersebelahan dengan ku tiba-tiba menghilang dan yang tersisa hanya 2 batu besar bertumpuk dengan lilin putih menyala tepat disamping batu tersebut.
Aku lalu menarik koper ku dan bergegas pergi dari tempat tersebut. Berlari sekuat tenaga agar segera sampai di rumah eyang.
Sesampai nya di rumah eyang, aku pun menceritakan semua kejadian yang baru saja kami alami. Dan usut punya usut ternyata semua warga desa tak ada yang berani keluar rumah sebelum adzan subuh berkumandang. Karena beberapa hari lalu baru saja terjadi kejadian yang cukup mengenaskan yang menimpa warga desa ini.
Pak Karyo seorang marbot masjid, harus meregang nyawanya karena tak mampu menahan belasan luka tusukan dari warga yang mengamuk pada nya, karena ia tak sengaja menyenggol anak orang kaya dari desa sebelah. Saat dini hari saat semua orang masih terlelap dari tidur nya Pa Karyo di arak lalu ditikam tanpa ampun oleh keluarga dari anak yang dia senggol dan pada akhirnya harus kehilangan nyawa nya di tempat karena hal sepele tersebut. Warga desa pun cukup berduka atas kehilangan Pak Karyo, seseorang yang sudah sangat berjasa mengurus masjid di desa ini tanpa pamrih, beliau sangat ramah dan bertanggung jawab maka dari itu warga desa pun memberikan persembahan terakhir untuk selalu mengingat Pak Karyo dengan menyimpan batu besar juga lilin disana, sebagai tanda terakhir dari perjuangan nya.
Sejak kejadian itu semua warga desa sangat berhati hati satu sama lain, mereka pun mengurung diri dirumah selama hampir berbulan bulan karena masih sangat trauma terhadap kejadian yang sudah menimpa Pak Karyo. Belum lagi Tante ku yang hendak pergi ke pasar untuk berdagang saat itu malah mendapati mimpi buruk nya dan mengalami trauma parah juga sakit yang tak berujung sampai sekarang ini, karena tak sengaja sudah menjadi saksi saat kematian Pak Karyo malam itu.
Tamat~