Nama Ku Donghyuk, Kim Donghyuk. Aku memiliki keluarga utuh, ada eomma, appa (tiri), dan Noona. Keluarga ku sangat berkecukupan, karena kedua orang tua ku memiliki perusahaan besar. Namun bagiku itu tidak cukup. Aku kehilangan sesuatu...yaitu kasih sayang.
Di malam yang gelap, aku hanya bisa terduduk kesakitan. Aku terus menunduk sambil menahan rasa sakit di punggung ku. Bukan, bukan hanya punggung ku, namun semua bagian tubuh ku. Rasanya ini sakit, sangat sakit.
//CTARRR//
" DASAR KAU ANAK TAK TAU DI UNTUNG! BERAPA KALI AKU BILANG, JANGAN PERNAH MEMBUAT SUARA BISING DIRUMAH INI!"
" M-maaf eomma."
//CTARRR//
" MAAF KAU BILANG, HAH?!"
//CTARRR//
" KAU TAU, EOMMA LELAH BEKERJA DAN KAU MALAH SEENAKNYA MEMAINKAN MUSIK JELEK MU ITU?!"
//CTARRR//
" DAN KAU TIDAK MEMBIARKAN EOMMA MU INI BERISTIRAHAT, HAH?!"
//CTARRR//
" Akhh."
" DASAR ANAK TAK TAU DIUNTUNG!"
Tubuhku sekarang sangat sakit dan perih. Aku hanya bisa menerima perlakuan eomma kepada ku, tidak berani melawan. Eomma meninggalkan ku begitu saja?
Dengan berjalan tertatih, aku menuju kamar ku yang untungnya tidak terlalu jauh dari situ. Rasa sakit ini hampir membuat ku mati rasa. Aku anak yang kuat, namun apa yang aku lakukan sekarang? Menangis sesegukan di balik pintu.
" Hiks hiks eomma apa salah ku hiks. Kenapa eomma berubah."
Memori ingatan ku muncul, mengingatkan disaat dulu eomma dan appa kandung ku sering bermain dan bercanda tawa dengan ku. Itu saat aku memasuki taman kanak-kanak. Aku tersenyum saat mengingat itu, namun wajahku kembali tertekuk. Disaat umur ku yang ke 8 tahun, appa (kandung) mengalami kecelakaan dan meninggalkan kami. Disaat itu lah sikap eomma benar-benar berubah, bahkan aku sampai tak mengenali eomma ku saat ini. Ditambah lagi dengan adanya appa baru itu.
Aku berjalan ke arah kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air penuh. Setelah itu, aku langsung masuk ke bathtub tanpa melepas sehelai pun baju yang ku kenakan saat ini. Saat kulit ku merasakan air dingin, memang sangat perih.
" Hiks appa, Dongi ingin ikut appa. Dongi gak kuat lagi. Mungkin hiks mungkin dengan Dongi pergi, eomma akan tenang."
Perlahan demi perlahan, senyum ku mengembang. Tangisan getir antara bahagia atau sedih ku tumpahkan. Mulai ku lelapkan semua tubuhku di air, termasuk kepala ku hingga tak terlihat sehelai pun rambut ku.
Rasa sakit dan perih yang tadi menjalar seketika hilang, dan aku juga tidak merasakan dinginnya air lagi.
" Appa, tunggu Dongi."
~Selesai~