"Fan, aku berhasil haha. Ternyata temen kelas yang aku suka itu loh yang aku pernah ceritain, dia juga suka sama aku." Ucap Yuna dengan suara yang antusias dari sebrang telpone
"Ehh serius, wahh ko bisaa.. aku juga baru aja mau curhat, soal temen kelas yang aku suka. Kita kan lagi chatingan dan dia bilang suka sama aku." Balasku tak kalah antusias nya
"Ohh iyaa? Haha kenapa sih kita sama terus kalo apa apa." Ucap Yuna lagi sambil tertawa
Kalian para cewe pasti merasakan hal yang sama juga deh sama teman dekat kalian. Saking dekat nya, kalian bisa ngerti satu sama lain meski hanya bertatap mata. Mungkin hal itu lah yang menyebabkan sesuatu yang aku atau Yuna lakukan selalu sama. Meski sekarang kita sudah tak satu sekolah, aku sama Yuna masih sangat dekat. Jadi masih sering mendapati hal hal serupa yang terjadi di kehidupan kita sehari hari.
"Aku kerumah kamu deh pulang sekolah nanti, kita curhat curhat yaa haha.."
"Oke nanti kabarin aku kalo kamu udah pulang."
"Siapp.."
Setelah mengakhiri panggilan, aku kaget karena ternyata Mufti sudah ada di samping ku. Iya Mufti itu orang yang baru saja aku bicarakan tadi.
"Dari kapan kamu disitu?" Aku bertanya karena khawatir dia mendengar percakapan ku
"Emm baru ajaa ko." Balasnya singkat
"Terus mau apa kesini?"
"Gapapa pengen aja deket deket sama kamu."
"Dihh.." aku mendelik sebal padahal sejujur nya aku cukup berdebar debar, semoga wajah ku tak memerah yaa karena rasanya aku ingin meledak
"Aduh kenapa aku lebay banget sih," aku merutuki diriku dalam hati
Ya begitu lah kira kira. Saat dikelas Mufti selalu dekat dekat dengan ku, dia juga tak pernah absen soal menggoda ku. Sedangkan aku? Yaa aku diam saja karena kegirangan haha tapi aku juga harus tetap jaga image dong karena aku tak mau begitu menunjukan kalau aku suka padanya.
Sepulang sekolah aku langsung kerumah Yuna sesuai janji ku. Setelah sampai dan bertemu dengan nya aku memilih untuk mendengarkan curhatan nya lebih dulu.
"Aku seneng banget gila, kemarin kan pulang sekolah bareng. Nah aku bingung kenapa tas aku jadi berat, terus waktu mau aku cek si Irvan malah nahan gitu dan bilang jangan buka tas nanti aja kalo udah dirumah.. ehh tau nya diem diem dia masukin kado ke tas aku, dia kasih aku mug gitu ada tanda hati nya terus yang lebih gila nya lagi dia ngasih surat gitu, ahhh gila banget sih baru kali loh aku dapet surat cinta." Yuna mencerita kan semua itu dengan semangat, dan kalau di simpulkan sepertinya hubungan Yuna dengan teman sekelasnya itu berjalan dengan mulus.
"Kalo kamu gimana sama si Mufti Mufti itu?" Tanyanya setelah ia selesai dengan cerita nya
"Ahh kalo aku sih kayanya belum sejauh itu, meskipun si Mufti udah bilang suka sama aku tapi udah cuma sampe disitu aja dia kaya gaada action apa apa lagi gitu. Aku kan jadi bingung dia bilang suka tapi ga nembak nembak." Ucapku sedikit mengeluh
"Ahh ko gitu sih? Padahal kalian deket juga udah lama, dia nunggu apa lagi sih.." cerocosnya tak sabaran. Itu lah Yuna anak nya sangat tidak sabaran dia tak bisa menunggu keputusan yang terlalu lama, yaa tipikal orang yang kalo suka harus bilang suka kalo tidak ya tidak. Kalo suka ayo lanjut kalo tidak udah berhenti aja gausah main main kelamaan.
"Aku juga bingung sebenernya, padahal di sekolah dia nunjukin banget kalo dia suka sampe anak kelas tau semua. Belum lagi kalo lagi chatingan.."
"Aneh banget sih.. kamu ga niat buat nanya lebih gitu ke si Mufti soal hubungan kalian?"
"Gamau lah gila, aku juga harus jaga harga diri aku dong." Aku mengelak mentah mentah
"Ya itu terserah kamu, kalau kamu tetep keukeuh sama harga diri kamu ya siap siap aja di gantungin kaya sekarang." Yuna sepertinya sedikit kesal padaku
"Maafkan aku Yuna aku cukup tau diri ko, soal aku yang selalu minta saran sama kamu tapi aku gapernah dengerin semua saran kamu." Aku hanya bergumam sambil memperhatikan Yuna dengan wajah sedih ku, karena untung nya aku tau betul kalau Yuna sangat mengerti soal perbedaan sifat kita yang bertolak belakang ini jadi dia tak pernah benar benar kesal atau marah padaku, huhh beruntungnya aku.
Yah begitu lah singkat nya, dan tahun demi tahun pun sudah berganti. Aku dan Yuna yang saat itu suka pada seseorang diwaktu yang bersamaan, ternyata memiliki akhir yang tak sama lagi. Yuna yang sudah menjalani hubungan dengan Irvan selama bertahun tahun, sedangkan aku yang masih menghabiskan tahun tahun ku dengan ketidakjelasan ini.
Fanny~
Selesai.