Soemantri Soekrasana mendadak terhenyak. Pecahan kabut menyelip memasuki ruangan di rumah itu melalui pelataran dengan tanaman meranggas tak terawat di atasnya, perabotan kuno tak terawat serta lantai ubin Belanda yang mulai kusam dikunyah sang kala.
Kuntilanak merah merayap di punggung sang dukun muda ini. Wajahnya putih pucat, bukan pasi, namun mati. Kedua bola matanya tertutupi genangan darah yang perlahan mengalir turun ke pipinya. Wajah penuh penderitaan dan dendam itu menempel di sisi Soemantri Soekrasa. Mulut sang kuntilanak membuka perlahan, membisikkan sesuatu dengan lirih nan magis di telinga sang pemuda.
Wajah Soemantri Soekrasana menegang sejenak, kemudian keningnya mengernyit. Ia memandang semua anggota keluarga Girinata yang masih menatap balik ngeri padanya. Hantu sang nenek masih terlihat berdiri bungkuk di sela-sela keremangan, begitu pula arwah Kinanti yang tak lagi menempel erat di punggung sang bapak. Kinanti kini merangkak mundur perlahan, terus sampai menempel di dinding bagai seekor laba-laba jahanam, masih berjalan mundur dan berhenti di tengah.
"Gerbang gaib telah terbuka. Penjaga terakhir telah gugur," ujar Soemantri Soekrasana lirih. "Itu sebabnya dusun ini membutuhkanmu, Wardhani," lanjut Soemantri Soekrasana. Air mukanya menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Chandranaya, sang kuntilanak merah baru saja memberitahukannya dengan suara gaib bahwa seorang penjaga empat situs keramat Dusun Pon baru saja wafat.
"Tunggu, maksudmu apa, nak Soemantri?" ujar Girinata, sang bapak.
Soemantri Soekrasana berdehem. "Penjaga satu-satunya dusun ini dari aktifitas gaib baru saja wafat."
"Mbah Darmo? Maksudmu Mbah Darmo, nak Soemantri? Beliau satu-satunya tetua dusun ini yang masih melakukan upacara dan pembersihan tempat-tempat keramat itu," kali ini Marni, sang Ibu, yang urun bicara.
Soemantri Soekrasana mengangguk mantap.
"Sementara kuntilanak merah yang ada bersamaku ini bisa menahan arwah Kinanti dan simbah, namun tak akan lama. Mereka kelak akan sangat terpengaruh oleh beragam jenis mahluk asikodrati yang datang menyergap dusun ini. Belum lagi energi jahat teluh, guna-guna, santet atau sihir lainnya yang akan semena-mena melewati tempat ini. Wardhani hanyalah satu-satunya tokoh yang tersisa untuk bisa membangun kembali benteng pertahanan Dusun Pon dari kegiatan magis tersebut," ujar Soemantri Soekrasana memandang tajam ketiga anggota keluarga Girinata tersebut.
Udara malam langsung terasa dingin menusuk, menembus dinding, menyusur menyisir genteng, menyelip udara, menumpang angin dan menelisik masuk memenuhi ruangan-ruangan dalam rumah besar nan dahulu megah itu. Ketiga anggota keluarga Girinata kini merapat bagai anak ayam berlindung dari hujan.
"Bapak ... Apa yang harus kita lakukan?" ujar sang istri. Wardhani, putri mereka juga melihat ke arah sang bapaknya, namun dengan pandangan mata kosong.
"Aku akan menuruti Mas Soemantri," ujarnya lirih.
Kedua orangtuanya saling pandang. Girinata yang pertama protes, "Kau yakin, nak? Ini bukan perkara gampang. Bapak sudah paham sekali rasanya. Selama lebih dari dua puluh tahun Bapak menyimpan rahasia tentang arwah mbakyu mu yang menempel di punggung Bapak karena rasa menyesal, bersalah dan bertanggungjawab atas perilakunya semasa hidup," ujar Girinata kemudian memandang sosok hantu yang menempel di dinding dengan posisi terbalik. Rambut sekaku ijuk kemerahan jatuh ke bawah dengan aneh.
Marni, sang ibu, memeluk bahu anak gadisnya. Sambil terisak ia menatap lekat wajah anaknya itu seraya berkata, "Oalah, nduk. Entah bagaimana takdir memperlakukan kita. Mungkin semua adalah salah kedua orangtuamu ini, harusnya kau tak perlu ambil bagian."
Wardhani balas menatap kedua wajah orangtuanya dan tersenyum, "Kita tak memiliki cara lain, Bapak, Ibu. Bila memang ternyata jalan hidupku memang digariskan sebagai pemegang tanggungjawab gaib atas dusun ini, aku tak mengapa. Bapak terlalu lama menderita oleh karena perihal mbak Kinanti; Ibu terlalu lama tak mengetahui; aku terlalu lama takut dan menolak, menyangsikan dan menyangkal kemampuanku. Waktunya sudah tepat hari ini. Malam Rabu Pon, malam dimana kejadian-kejadian aneh selalu melanda dusun kita, termasuk kehidupan kita di dalamnya. Aku akan ikut mas Soemantri," ujar Wardhani mantap.
Soemantri Soekrasana mengangguk. Ia hendak berdiri ketika tubuhnya doyong. Ada hembusan angin yang datang tiba-tiba. Soemantri Soekrasana menyeimbangkan tubuhnya. Keningnya berkerut. Si kuntilanak merah terkikik pelan, air mata darahnya mengalir turun sama pelannya. Tak lama tubuhnya memendar dan menghilang, disusul Kinanti yang merayap mundur terbalik di dinding dan sang simbah putri yang menyelinap dalam gelap.
"Apa ini?" ujar Soemantri Soekrasana lebih kepada dirinya sendiri.
Mendadak tubuh dukun muda itu tersentak, kemudian terlempar bagai daun kering. Ketika ia hendak berdiri kembali, tubuhnya terseret sampai tiga kali di lantai ubin oleh kekuatan yang tak terlihat.
Wardhani dan Girinata, bapak beranak itu, berteriak kaget. Namun keduanya hampir tak dapat berkata apa-apa ketika mendadak mereka menyaksikan badan Marni, ibu dan istri mereka, terangkat ke udara. Kedua lengannya terentang dan tungkai kaki mengangkang.
Wajah perempuan setengah abad itu memutih bagai kapas, namun dengan mulut membentuk seringai. Sepasang matanya melotot, menciptakan pandangan orang yang sama sekali berbeda. Ada 'yang lain' merasuk ke dalam tubuh Marni.
Angin dingin masuk menampar lidah jendela dan daun pintu. Tirai berkibaran, tikar beterbangan.
Marni tertawa keras memekikkan telinga. Membuat bapak beranak di bawah sosok ibu dan istri mereka yang sedang mengambang di udara itu menutup telinga.
"Segera menjauh dari sana!" seru Soemantri Soekrasana kepada Wardhani dan Girinata. Yang diperintah merangkak berdua-dua, saling berpegangan, untuk menjauh. Tak ada waktu untuk tak percaya apa yang mereka lihat serta memikirkan ada apa tentang ini semua.
"Dimana kau? Segera kembali!" seru Soemantri Soekrasana dalam bentuk suara tertahan. Ia kembali memanggil kuntilanak merah yang tadi mendadak raib.
Tapi nampaknya Soemantri Soekrasana harus mengatasi masalah ini seorang diri. Marni memandang ke arahnya. Tawa perempuan yang sedang kerasukan itu hilang, begitu juga seringainya yang berubah menjadi wajah penuh amarah.
"Lancaaang!!!" teriak Marni. Kesepuluh jarinya membentuk cakar dan tubuhnya melayang turun menderu ke arah Soemantri Soekrasana.
***
Nama lengkap gadis itu adalah Seomarni Nataprawira. Keluarganya bukan dari Dusun Pon, melainkan dari kampung sebelah. Gadis berwajah mungil beraura polos itu ternyata bengal. Ia selalu pergi bermain ke Dusun Pon setiap ada waktu. Tujuannya sederhana, ingin bertemu kekasih hatinya, Girinata, anak orang terkaya di dusun miskin itu.
Sang ayah, Sapar Nataprawira, yang merupakan seorang dalang terkenal di kampungnya, kerap melarang anak gadis bengalnya untuk bertingkah semacam itu.
"Mereka orang kaya, Rama. Kelak kalau aku kawin dengannya, nama keluarga kita tetap akan terjaga, bukan? Jangan khawatir," ujar Marni kepada ayahnya. Saat itu Marni padahal baru berumur enam belas tahun.
"Wedhok macam apa kamu ini?!" Sapar Nataprawira berseru di depan Marni. "Kamu itu perempuan dari keluarga baik-baik dan terhormat, bukan sekadar kaya. Rama mu ini adalah dalang, tokoh yang menjadi panutan, omongannya didengar orang lain. Tiap ndalang, Rama selalu menyelipkan pesan moral, falsafah hidup, dan lelaku orang yang benar hidupnya. Lah, kamu kok seenaknya main ke rumah laki-laki, seumur ini lagi. Tidak elok, Marni," ujar sang dalang.
Marni terkikik. Seberapa berusaha garangnya sang dalang, tawa Marni, anak perempuan satu-satunya selalu meruntuhkan segala amarah dan murka yang ada padanya. Begitu cintanya ia pada sang gadis, sehingga ia tidak mengacuhkan bisikan-bisikan gaib setiap ia melakukan ritual wajibnya sebagai dalang. Selalu ada sosok samar perempuan berkebaya merah dengan rambut sebagian disanggul dan sebagian terurai acak-acakan datang kepadanya menepis lapisan kabut dan berbisik parau, "Dusun ... Pon ... Sihir ...."
Sapar Nataprawira selalu mencoba tidak mengacuhkan kata-kata yang misterius hampir tanpa makna itu. Padahal, ia jelas-jelas hidup akrab dengan kegaiban. Dunia pedalangan yang ia tekuni tidak jauh dari lelaku. Namun, cinta mengaburkan segala.
Suatu saat, Marni belum pulang sampai petang. Ia sudah meminta para pembantunya mengelilingi kampung untuk mencari anak gadisnya itu, walau jauh di dalam hatinya, ia tahu pasti kemana Marni pergi.
Maka, seorang diri, berjalan kaki dengan sepasang selop yang berbunyi khas memukul-mukul tumitnya, Sapar Nataprawira pergi ke Dusun Pon. Entah bagaimana, ada petunjuk gaib yang mengarahkannya ke satu tempat di pinggir sungai. Kali ini ia mengacuhkan apa yang suara gaib itu berusaha sampaikan dan kedatangan sang dalang tak terlihat penduduk dusun tetangga ini.
Jantung Sapar Nataprawira hampir berhenti berdetak menyaksikan pemandangan di depannya. Marni, sang putri, setengah telanjang, dihimpit di bawah tubuh seorang laki-laki muda, Girinata, sang kekasih, di samping sebuah tunggul kayu berkain putih kuning di tepi sungai.
"Lancaaang!" seru Sapar Nataprawira. Kemarahannya membeludak keluar bagai lahar gunung berapi, meski ucapannya tak jelas lebih diarahkan kepada laki-laki muda atau anak perempuannya itu sendiri.
Namun, tetap saja ia mendepak tubuh Girinata, menginjaknya beberapa kali dan menggunakan selopnya untuk menampar wajah sang pemuda. Ketika Marni berteriak-teriak menahan laju sang ayah, Sapar Nataprawira menarik lengannya, menyeret sang anak pulang. Celana dalam Marni masih tertinggal di tepi sungai itu. Girinata menghapus darah di bibirnya, mengambil celana dalam kekasihnya yang kumal oleh tanah, kemudian memandang penuh benci ke arah perginya sang dalang beserta putrinya itu.
Sesampainya di rumah, Sapar Nataprawira mengurung Marni di kamar sampai si gadis degil itu berhenti berteriak-teriak.
Dua hari kemudian, malam hari, rumah sang dalang heboh dan kisruh. Sang dalang ditemukan emban pembantu telah tewas dalam keadaan mengenaskan. Ia diduga muntah darah disertai paku dan gotri. Hari itu adalah malam Rabu Pon.