Perang.. Pembunuhan...Kejaman..Darah..
mayat,bangunan yang hancur lebur,teriakan dari orang yang tidak bersalah.
Aku sudah melihat itu semua di saat aku masih kecil.
Asap dan abu menutupi wajahku.
Jeritan kesakitan selalu terdengar di sini, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
Aku hanya mencoba untuk bertahan.
Gloria.. Gloria merupakan tempat asalku tempat di mana aku di lahirkan dan di besarkan.Tempat yang indah dan damai.
Semuanya berubah saat perang di mulai.
Bagunan hancur, jalanan yang berubah menjadi tanah, pecahan kaca berhamburan dimana-mana.
Aku hanya bersembunyi, berlari! Bersembunyi, berlari ,bersembunyi lalu berlari lagi. Hanya itu yang bisa aku lakukan, sampai aku menemukan mayat pejuang yang mati terbunuh.
Di sebelahnya terdapat sebuah sabit besar.
Aku mengambilnya dan menjadikan sabit itu sebagai pertahanan sekaligus senjataku.
Aku juga mengambil jubah milik pejuang itu.
Aku melangkah ke luar bangunan dan melihat ke arah orang yang sedang bertarung dan membunuh orang tidak bersalah.
"hei lihat ada anak kecil!"
Aku berjalan lurus mendekati mereka.
"sini nak!paman orang baik kok!"ucap orang itu dengan wajah penjahatnya.
Lalu... Aku menebas leher orang itu.
"a-ah ..."
Mereka terdiam sesaat lalu mulai menyerangku.
Tiba-tiba tubuhku seperti memiliki pikiran sendiri, tubuhku bergerak dan menghabisi semua musuh yang mencoba menyerangku.
"akh!! Monster!! Lari!"
Seorang dari mereka berhasil lari dan kembali ke tempat teman-temannya berada.
Aku menyeret sabitku dan berjalan menghancurkan tubuh musuh-musuhku yang sudah mati.
Habisi... Bunuh... Habisi... Bunuh...
Di tengah kota aku berjalan mencari keberadaan penduduk kotaku ini.
Langkahku terhenti di bawah lampu jalan yang rusak.
Lalu aku melihat ada gadis kecil sepertiku yang selamat... Rasa bahagiaku seketika berubah menjadi amarah karena gadis kecil itu di bunuh di depan mataku.
"Bunuh... Habisi... Balas dendam"
Suara misterius berbisik di telingaku.
"Bunuh mereka... Siksa.. Habisi dia... Jangan beri ampun... Lakukan lah!"
"Gloriaaa.."
"Gloriaa.."
"Gloria"
Suara yang terus berbisik kata Gloria, dan memberiku petunjuk dimana keberadaan musuh.
Musuh yang bersembunyi langsung aku bunuh tanpa belas kasihan.
Ujung tongkat sabit ini sama seperti tombak, bahkan ujung sabitnya bisa melengkung atau lurus sesuai keinginan pengguna. Benar-benar senjata yang mematikan.
Di malam itu aku telah menjadi seorang pembunuh.
Darah dari orang yang aku bunuh sudah menutupi jubahku.
Di malam itu pula aku berkeliling kota menghancurkan setiap kamp musuh dan mengambil makanan milik mereka.
Aku sudah seperti monster.
Kurang!.. Kurang!!.. Butuh lebih!.. Lebih!...
"ya! Benar! Lebih!... Pagi nanti semua yang kau inginkan akan terpenuhi"
Aku tidur di atas tanah di samping sabitku.
Hujan turun membasahi tubuhku, air hujan berubah menjadi lautan darah karena perang ini.
A-aku.. Aku... Harus menghentikan..... Semua ini.
Pagi harinya suara teriakan kembali terdengar di telingaku.
Suara ledakan, jeritan,tangisan semua itu bercampur padu.
Air mataku menetes karena kesedihan.
Mengapa... Mengapa! Mengapa kami mengalami ini semua!.
Apa salah kami...
"ya benar! Kalian tidak bersalah!. Karena itu habisi mereka semua,dan kau akan membebaskan jiwa mereka yang tidak berdosa"
Aku berdiri dan berjalan ke arah benteng musuh.
Musuh melihatku dari celah bangunan.
"jendral! Ada gadis kecil di bawah!"
"habisi gadis itu!"
"baik jendral!"
Tekad ku!... Dosa ini!... Amarah!...
Kesedihan ini.
Aku akan membalas semua yang telah kalian perbuat pada kotaku!
Mereka menyerangku namun tidak ada yang dapat menyentuhku.
Semua musuh yang terjatuh langsung aku bunuh dengan menusuk kepala dan jantungnya.
"j-jendral... Dia bukan gadis biasa!"
"cih... Pakai senjata utama! Habisi dengan satu serangan!"
"baik!"
Mereka menembakku dengan senjata mematikan mereka, aku merasakan rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Ahh... Apa ini alam kematian?..
"bukan! kau benar-benar menghiburku!. Sebagai hadiah dariku ku beri sedikit kekuatanku, kau harus tetap hidup dan menghiburku"
T-tunggu kau siapa!
"berikan tanganmu!"
B-baik.
Aku mengulurkan tanganku padanya dan dia menggenggam tanganku.
"sekarang bangun dan balaskan dendammu!"
Aku terbangun dan melihat ke arah tanganku.
Aku masih hidup.
Ahkk... Ahh!!!
Tangan dan pengelihatan sebelah kananku menghitam.
Aku bisa melihat darah musuh yang bersembunyi di balik dinding tebal.
Lalu tangan kananku melempar sabit dengan kekuatan yang luarbiasa.
Sabit itu menembus dinding tebal dengan sangat mudah dan membunuh jendral musuh.
Pasukan musuh mencoba mundur melarikan diri dari kota ini.
Tapi! sekarang aku bukan manusia biasa, mereka tidak bisa bersembunyi dariku.
Satu persatu dari mereka aku bunuh dan aku siksa.
"bagaimana? Apa cukup?"
Kurang!.. Butuh lebih!... Lagi.. Lagi!.
"hahaha~ luar biasa!!, kuberikan kekuatan lagi dan bersenang-senanglah"
Ahk...
Kepala ku... Sakit!
S-sakit... Sekali...
Aku melihat semuanya,darah,nafas,detak jantung,bahkan.
Aku melihat dosa mereka.
Semakin merah... Semakin indah!.
Aku berubah menjadi sesosok monster. Bersayap... Bertanduk.. Dan memiliki ekor layaknya naga.
Aku terbang menghampiri orang yang memiliki warna merah yang terang.
"haa!!! Monster ampuni aku!!"
Merah!.. Merah! Merah!.
Aku menebas kepala orang itu..., warna merah yang indah! Semua itu terbebas sekarang.
Bebas! Kalian terbebas dari penjara ini.
Hiduplah di sana dengan tenang.
Di malam hari aku membunuh semua prajurit,jendral,kelompok pasukan kawan ataupun lawan.
Aku membunuh mereka yang memiliki warna merah!.
Hhh... Indah! Merah yang indah!.
Suara itu bertanya padaku.
"apa cukup?"
Ya aku rasa cukup...
"ingin berhenti?"
Ya.
Aku terbang dan berhenti di atas tebing tinggi.
Saat duduk melihat langit Airmataku terjatuh ke bawah.
"kenapa kau menangis? Bukankah kau sudah puas?"
Puas katamu!... Aku..aku membunuh semuanya.
"mereka pantas mati bukan?"
T-tapi Aku merasa kosong sekarang.
Apa aku salah? Apa aku benar?.
Aku tidak tau...
"kau membebaskan mereka bukan?"
Ya aku membebaskan mereka... Namun aku merasa sendiri sekarang.
"kau tidak sendiri! Tempat ini penuh dengan jiwa yang kau bebaskan!"
Lalu sekarang apa..
"kau bisa menjaga area ini! Jaga semua jiwa itu di sini! Apa bisa melakukan itu semua?"
T-tapi.. Sampai kapan?
"sampai dunia pulih, suatu hari nanti harapan akan datang, sampai saat itu jaga tempat ini baik-baik karena aku akan pergi... Selamat tinggal. Gloria!"
Kau mau pergi kemana!! Jangan tinggalkan aku!
"kau sudah cukup kuat... Sekarang aku bisa tenang dan beristirahat"
Tunggu!. Jangan pergi!!.. Aku mohon!
"ingatlah mulai sekarang kau adalah Pembebas dosa dan menyelamat jiwa. Dan namamu adalah 'Gloria' ,selamat tinggal Gloria!"
Jangan pergi!!...
Di malam itu aku benar-benar benjadi sendirian. Tidak ada suara yang terdengar dari manapun.
Aku mulai menangis dan aku mengeluarkan semuanya...semua yang aku rasakan saat itu.
Kesedihan... Rasa sakit... Kebencian... Amarah... Dan rasa bersalah.
Semua yang aku rasakan keluar.
Lalu tiba-tiba angin kencang bertiup dari timur.
Airmataku tertiup angin itu. Air mataku yang jatuh ke tanah membuat tanah itu subur dan kembali hijau seperti semula.
Sejak saat itu Aku menjaga daerah ini dari para pendosa sekaligus menghijaukan daerah ini.
Namaku Gloria, Pembersih Dosa dan pembebas Jiwa.
Aku akan menjaga tempat ini tetap suci dan hijau.
Mereka yang memiliki niat buruk sedikit saja akan langsung mati ketika memasuk daerah ini.
Lalu muncul sebutan untuk daerah ini sebagai "Dead Zone".
Zona kematian.
Sedikit dari mereka yang berhasil selamat menyebut diriku sebagai...
Malaikat pencabut nyawa dari tanah Gloria.