Pagi itu adzan shubuh berkumandang, Bergema keseluruh sudut kota hingga membangunkan orang-orang untuk melaksanakan sholat shubuh.
"Mat-Mat! Bangun nak bangun"Perintah halus dari perempuan 35 tahun.
Rahmat bangun dari tidurnya, Dan langsung pergi ke kamar maandi untuk mengambil air wudlu. Walaupun masih usia 7 tahun, Rahmat selalu diajarkan oleh ibunya supaya sholat 5 waktu.
Walaupun tidak di mushala atau surau karna jauh dari gubuk reyot nya.
Rahmat cepat menyerap (memahami) apa yang diajarkan ibunya, Sekarang Rahmat sudah bisa tata cara shalat seperti Takbir, Rukuk, Sujud dan gerakan-gerekan sholat lainnya. Walaupun masih kurang lancar bacaannya,
Diusianya yang sangat muda dia termasuk anak yang pandai dibanding anak seumurannya. Setelah selesai mengambil air wudlu dia segerakan sholat dengan diimami oleh ibunya.
karna bapaknya sudah meninggal 7 tahun silam ketika rahmat umur 5 bulan dalam tragedi kebakaran yang diakibatkan konsleting listrik, Pada tragedi itu, Sijago merah melahap semua harta benda dan juga bapaknya rahmat. Tanpa hitungan. Untungnya Rahmat dan Ibunya selamat dalam tragedi itu.
Setelah sholat, Rahmat rajin membantu Ibunya membersihkan rumah seperti menyapu, Mencuci piring, Membereskan kasur lantai yang sering digunakan rahmat dan ibunya tidur.
mengepel? tidak rumah rahmat beralaskan tanah.
Walaupun kecil, Berdinding anyaman bambu, Reot tapi Rahmat dan Ibunya selelu bersyukur dan berterima kasih pada Allah SWT.
Karena masih di berikan tempat berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya angin angin malam.
Rahmat adalah anak yang patuh dan tidak manja. Tidak seperti anak kecil seumurannya. Namun pernah Rahmat sesekali merengek ingin dibelikan mainan seperti teman-temannya,tapi ibu hanya bisa bilang "nanti" atau "besok"
karena tak sanggup membelikan nya.
selesai membantu Ibu, Rahmat ikut Ibu bekerja mengumpulkan sampah botol plastik atau bisa disebut rongsok.
Pekerjaan ibu biasanya disebut PEMULUNG.
"Ma!,teman-temen rahmat ko kalo pagi berangkat sekolah, Rahmat kapan berangkatnya ma?"Tanya Rahmat dengan polos.
"iya nak nanti, Rahmat sekolahnya dilantai lima, Besar sekolahnya terus banyak temen-temen disana" Janji Sang Ibu sembari membendung air mata yang selalu memaksa keluar.
Sang ibu selalu menyalahkan dirinya karna tak sanggup menyekolahkan Anaknya. Yang tak seperti orang-orang tua lainnya.
Beralas kaki kan sendal yang giceng. Sendal itu nemu pas nyari rongsok, Rahmat berangkat bersama Ibunya menuju pasar yang biasanya banyak sampah botol plasik bersehrakan.
"Ma!,kok harus jadi PEMULUNG sih,kan jadi pengemis cepet dapet uang" Tanya Rahmat dengan polos.
"Nak,ingat! PEMULUNG itu pekerjaan yang mulia, Walaupun banyak yang memandang rendah pekerjaan PEMULUNG. Tapi jika sampah ini tidak ada yang membersihkannya atau dibiarkan bersehrakan dimana-mana, Kan bisa mencemari lingkungan. Sampah plastik itu tidak terurai oleh tanah, Terus kalau dibakar bisa jadi polusi udara yang bisa mengikis lapisan ozon, Terus rongsok yang kita kumpulkan bisa di jual dan dapet uang,
Lingkungan jadi bersih dan mengurangi pencemaran"Jelas Sang Ibu dengan panjang lebar, Namun Rahmat hanya mendengarkan dan memahaminya walau Rahmat tidak tau apa itu ozon atau kosakata sulit lainnya.
"Kalau jadi pengemis gimana Bu?kan dapat uangnya cepat gak capek lagi"tanya Rahmat dengan rasa penasaran.
"Ingat nak!, Tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah. Kita memang miskin tapi kita tidak boleh minta-minta atau mengharap pemberian orang lain. Selagi ibu masih kuat dan sehat, Ibu akan mencari penghasilan yang halal dan bermanfaat bagi orang lain" Jawab Sang Ibu sembari jalan mencari rongsok.
Ibu selalu menasehati Rahmat dan menanamkan nilai-nilai kebaikan, Karna ibu paham bahwa orang tua adalah teladan bagi anak. Karena Rahmat tidak punya Bapak, Maka Sang Ibu harus jadi pengasih sayang, Tulang punggung keluarga sekaligus jadi guru dan contoh bagi Rahmat.
Ketika mereka mencari rongsok di pasar yang ramai, Ternyata ada keributan orang-orang yang sedang memukuli pencopet. Ibu dan Rahmat mempercepat jalannya supaya terhindar dari urusan orang lain.
"Lihat nak! Jangan sampai kamu menjadi pencopet kaya orang tadi" Hardik Sang Ibu sembari memegang tangan rahmat untuk menuntun nya supaya tidak terjatuh.
"Emang nya pencopet itu apa?" Tanya Rahmat.
"Pencopet itu sama seperti pencuri, Yaitu mengambil benda milik orang lain tanpa izin atau dengan paksa. Nah kalo jadi Pencuri memang cepat dapet uangnya. Tapi ingat nak Allah maha melihat apa yang di perbuat oleh hambanya" Jelas Sang Ibu dan menasehati rahmat supaya tidak mengambil apapun benda milik orang lain tanpa izin.
Jika rongsok sudah penuh dan siap dijual ke bos rongsok dan uang itu untuk sarapan rahmat dan ibunya. Walaupun matahari sudah mulai naik. Nasi bungkus adalah makanan sarapan rahmat dan ibunya sehari-hari.
Walaupun murah tapi tidak pernah sampai membuat rahmat dan ibunya sakit perut. Jika selesai sarapan Rahmat dan Ibunya lanjut mencari rongsok hingga waktu sebelum Sholat Dhuhur dan menjualnya untuk kebutuhaan sehari-hari walau jauh dari kata cukup.
Rahmat dan Ibunya pulang dengan membawa uang Rp.20,000 hasil rongsok hari ini. Ibu ingin segera sampai dirumah karna ingin menunaikan Sholat Dhuhur. Ibu memilih Sholat dirumah walau beralaskan karpet.
Karena jika shalat di mushala pasti banyak yang menggunjingkannya karna baju yang di pakai begitu lusuh. padahal Allah tidak pernah memandang pakaian hambanya entah bajunya sobek,sarungnya berlubang,baju paling mahal sekalipun.
Namun Allah hanya memandang hambanya yang beribadah khusu' dan hati yang ikhlas, Pakaian yang terpenting menutup aurat,suci dan bersih.
Ketika sampai di rumah, Rahmat dan Ibunya langsung mengambil air Wudlu dan mengsegerakan Sholat digubuknya yang sempit. Aktifitas yang dilakukan Rahmat setelah Shalat adalah belajar dengan sang Ibu. Bermodalkan buku bekas ,kapur dan papan hitam yang tidak sengaja Ibu temukan saat mencari rongsok. Ibu sudah satu tahun mengajarkan Rahmat seperti Membaca, Menulis, Menghitung dan lain sebagainya. Walaupun tidak ada buku bacaan ,ibu biasanya menggunakan koran bekas untuk latihan membaca dan batu kerikil untuk latihan menghitung. ibu memang tak sanggup menyekolahkan Rahmat, Tapi ibu bisa mengajarinya seperti apa yang di ajarkan di sekolah.
Jika ibu ingin istirahat atau memasak, Barulah Rahmat pergi bermain dengan teman-temannya, Walaupun tidak banyak yang mau berteman dengan Rahmat. Ketika bermain pasti ada saja yang menjaili atau mengejek, Tapi Ibu pernah bilang
"Jangan nakal kalo gak mau dinakalin,terus kalo ada yang ngeledek lebih baik diam atau pergi dari situ" Rahmat selalu ingat nasehat itu. Semua teman-teman Rahmat sudah masuk Sekolah Dasar.
Hampir semua orang tua temannya Rahmat kasihan pada Ibu dan Rahmat, Terlebih pada Rahmat yang harus hidup prihatin dan ditinggal oleh bapaknya di usia anak-anak.
Jika Adzan Ashar berkumandang, Rahmat bergegas pulang kerumah untuk melaksanakan Shalat.
Ibu pernah bilang "Jangan pernah menunda-nunda waktu shalat, Nanti Allah marah" Rahmat pun sampai rumah.
"Assalamualaikum" Salam Rahmat sembari mengetuk pintu rumah.
"Waalaikumusalam" Jawab Sang Ibu sembari membukakan pintu rumah, Dan rahmat pun masuk.
Sang Ibu selalu membiasakan rahmat untuk mengucapkan salam atau mengetuk pintu sebelum masuk rumah atau bertamu kerumah orang lain.
Rahmat dan Ibunya langsung mengambil air wudlu dan segerakan shalat supaya tidak menunda waktu. Jika sudah selesai maka rahmat makan yang sudah dimasakkan oleh ibu,walau seadanya ia tetap bersyukur pada Allah karna masih diberikan rizki dan nikmat.
Suasana sore begitu indah, Waktu itu digunakan Rahmat dan Ibunya menggambil air di sumur. Walaupun agak jauh, Tapi ibunya selalu bersemangat namun lelah dihati. Air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan minum,Walaupun harus dimasak dulu untuk diminum.
ibu biasanya menyuruh Rahmat mandi terlebih dahulu karna Ibu ingin istirahat sejenak, Lalu Ibu mandi terakhir. Jika selesai mandi, Ibu membiasakan rahmat untuk mengambil air wudlu selesai mandi untuk menjelang Sholat Maghrib.
Rahmat harus sudah menggunakan sarung jika ibu sudah selesai mandi. Karena supaya tidak menyia-nyiakan waktu sholat maghrib terlalu lama. Jika Adzan Maghrib berkumandang maka mereka langsung melaksanakan sholat maghrib bersama.
Mengaji, Suatu aktivitas yang dilakukan Rahmat dan Ibunya setelah Sholat Maghrib. Dengan lampu yang redup dan Al-Qur'an yang agak lusuh termakan oleh waktu, Al-Qur'an didapati oleh ibu ketika mengungsi saat musibah 7 tahun silam.
"Coba ini huruf apa" Tanya Ibu sambil menunjuk huruf Hijaiyah.
"Huruf qaf" Jawab Rahmat dengan benar.
Rahmat selalu mengaji setiap selesai Shalat Maghrib hingga Adzan Isya berkumandang. Jika sudah masuk waktu nya maka mereka langsung Sholat Isya jika wudlunya belum batal. Jika selesai Sholat Isya mereka segera pergi tidur.
Dan siap melalui hari esok yang semoga lebih baik dari pada hari ini.
1 tahun kemudian
hari-hari rahmat sama seperti biasanya, Kini Rahmat telah beranjak 8 tahun. Rahmat tetap patuh pada ibunya dan tetap menjadi anak yang shaleh. Tapi tetap saja belum sekolah dan untungnya ibu mengajari banyak hal.
Mungkin pada zaman sekarang bisa disebut home schooling.
Pada suatu hari saat Rahmat dan Ibunya mencari rongsok, Rahmat menemukan selembar brosur yang tertulis.
"BEASISWA SEKOLAH GRATIS" Rahmat lalu mengambil dan memberikannya pada ibu.
"Bu, ini sih maksudnya apa?" Tanya Rahmat sembari memberikan brosur tersebut.
"Oh,ini brosur sekolah gratis dari Erlangga"jelas sang ibu.
"Kalo Rahmat ikut beasiswa, Ntar Rahmat bisa sekolah?" Tanya Rahmat.
"Iya, Tapi sebentar Ibu mau baca semuanya" Ibu membaca brosur.
Ternyata pendaftarannya gratis, Dan hadiah nya adalah sekolah di sekolah gratis hingga lulus, Seragam gratis dan lerlengakapan alat tulis gratis, Cara daftarnya kesekolah terdekat.
Usai menjual Rongsok itu, Rahmat dan Ibunya bergegas ke SD terdekat untuk mendaftarkan beasiswa sekolah gratis Erlangga.
Ketika sampai, Rahmat memang diremehkan. Namun Rahmat menawarkan diri untuk melafalkan perkalian 1 sampai 10 dengan lancar. Dan guru disitu terkesima.
Karna Rahmat belum pernah sekolah namun ia sudah bisa melafalkan nya. Berbeda dengan anak yang lain. Pada saat itu juga Rahmat mengikuti test.
1jam sudah dilalui, 50soal yang sudah dijawab
Doa Sang Ibu selalu menyertai Rahmat, Ibu ingin sekali Rahmat sekolah. keesokan harinya Rahmat diberitahu bahwa ia
LULUS
hati Sang Ibu langsung bergetar dan air mata ibu leleh tak bisa di bendung lagi. Ibu langsung Sujud Syukur ditempat.
Rahmat sangat bahagia bisa sekolah dan dia langsung loncat kelas ke kelas 3 SD, Mereka pulang dengan membawa berita bahagia, Alat tulis dan seragam sekolah.
pada keesokan harinya Rahmat mulai sekolah seperti anak-anak lainnya dan dia paham bahwa ia lulus karena Allah SWT. Allah selalu memberikan jalan bagi hambanya yang berusaha. Rahmat beruntung memiliki Ibu yang sabar, Baik dan pantang menyerah.
kini Rahmat berangkat sekolah setiap pagi dan pulang siang. Walaupun tidak bisa menemani ibu mencari rongsok. Tapi Ibu tidak masalah yang terpenting Rahmat ia kini senang karna bisa sekolah dan memiliki masa depan yang cerah.
•Apakah kalian tetap tak mau bersyukur?
•Ambil Baik nya ingetin kesalahan nya.
•masih mau males-malesan ga belajar?